
"Yaa, bisa-bisa Hema diputar lehernya kalau Pakwa cerita jujur. Hema sama Bunga maunya tak usah buka aib tuh, jadi kek pacaran biasa dan ambil keputusan untuk nikah gitu." Pakwa menginginkan dirinya yang ke sana, itu bukan jalan keluar terbaik, yang ada makin panik keluarga Hema.
"Ohh, gitu. Oke, oke. Ya udah ditunggu keputusan jangka seminggu gitu, Bang."
Nah, begini lebih baik.
"Oke, Pakwa. Aku sampaikan ke Hemanya."
Oke, amanah untuk ke Hema langsung aku sampaikan. Karena belum ada balasan, aku merilekskan tubuhku dengan bersandar. Bandara sudah dekat, tapi sejauh ini kami belum ada percakapan.
Tante Nina pun lebih dekat denganku, di perjalanan udara pun ia duduk di sebelahku. Setelah sampai di Pulau Sulawesi pun, tante Nina membahas tentang makanan bersamaku.
Aku merasa ayah terlalu memaksakan kehendak, padahal semua orang seperti tak ingin untuk mendatangi istri siri om Vendra. Tapi bagaimana lagi, ayah kadang berkehendak itu terlampau memaksakan.
"Kau pernah ke Sulawesi?" tanya tante Nina, kala kami tengah menunggu travel yang akan mengantar kami ke rumah yang ditempati oleh istri siri om Vendra.
Tante Nina terlihat seperti tegang.
"Pernah, Tan. Tapi ke Palu sama Makassar, tak sampai ke sini." Waktu itu ada urusan bisnis milik kak Jasmine.
Kan pusatnya ada di Makassar.
"Ohh, Ceysa ya yang orang Sulawesi tuh?"
Aku tidak sengaja menyenggol jemari tante Nina, benar-benar dingin. Tante Nina seperti tegang, atau grogi mungkin.
"Iye, anak Daeng." Ayah yang menyahuti hal itu.
Aku terkekeh mendengar sahutan ayah, karena ayah berusaha meniru logat orang sini. Ketika mengatakan iya, memang menggunakan bahasa iye. Cuma kan logat ayah lebih ke ujung Sumatera, langsung loncat logat Sulawesi kan jadi seperti lemper isi terasi.
Kedengarannya saja sudah aneh, apalagi rasanya.
"Gimana rasanya istri udah nikah sama orang terus dirujuk balik, Bang?" Tante Nina tersenyum pada ayah, ia seperti menunggu jawaban ayah.
"Enak-enak aja, laki-laki sih rakus kali. Cuma ada susahnya di awal, karena dia kan terbiasa dengan permainan ranjang suami barunya, terus balik ke aturan lama pas rujuk, jadi ya ada cekcok sedikit." Ayah menyeruput teh manisnya.
Kami di rumah makan padang dua puluh empat jam.
"Bukan rasa begituannya, Bang." Tante Nina tertawa lepas.
Ayah terkekeh geli. "Eh, rasa apa sih?"
"Ya apa ada rasa cemburu, atau berpikir buruk bahwa dia mikirin suami barunya gitu?" Tante Nina mancing-mancing permasalahan sepertinya.
__ADS_1
"Ohh, Cendol sih memang sengaja buat cemburu buat panas. Tak ada angin tak ada hujan, rebahan di ranjang, tiba-tiba ngomong kangen caranya bang Daeng gituin aku, curhat ini itu kepayangnya dia karena si Daengnya. Tapi tak sadar dia buat aku panas, dikiranya aku bestienya yang mau dengerin curahan kangennya sama laki-laki yang udah tiada itu. Aku tak pernah berpikir buruk tentang dia, karena dia mikirin sesuatu itu pasti diomongin langsung. Yang ada, si Cendolnya yang mikir aku begini begitu. Ya sadar sih, pernah buat salah jadi sulit dipercaya. Tapi justru itu yang buat kangennya, ditanya ini itu, dicecar, disuruh buktikan bahwa tujuan pergi itu memang untuk kerjaan."
Aku tak bisa membayangkan jadi ayah. Aku orangnya baperan, bisa-bisa aku menangis jika pasanganku mengatakan dirinya merindukan mantannya. Aku tak pernah merasakan, tapi sepertinya mengerikan.
"Nyaman memang digituin, Bang?" Om Vendra sepertinya tertarik untuk mendengarkan pengalaman ayah.
Bisa jadi, ia ingin mendapat gambaran kala dirinya diperlakukan seperti itu oleh istrinya.
"Nyaman-nyaman aja, orang sama istri sendiri. Sama istri orang, mungkin aku malas jelaskan juga. Lagipun orangnya Canda, tak diladenin ya heboh keluarga besar. Ngadunya ke mana-mana, mending dia ngadu ke suami sendiri." Ayah sudah sreg dengan biyung, apapun sikap biyung tetap nyaman untuk ayah.
"Udah yuk?" Dehen bangkit dari kursinya.
"Iya." Om Vendra berjalan ke arah pedagangnya.
Waktu yang cukup sopan untuk bertamu, pukul setengah tujuh pagi kami semua sampai di rumah sederhana dengan rolling door di sampingnya. Mungkin itu yang dimaksud toko sembako yang dikatakan om Vendra, masih tutup dengan pagar rumah yang rapat juga.
Om Vendra diam di tempat, kakinya seperti sulit untuk melangkah masuk. Aku yakin, ia pasti takut.
"Ya, Kak. Assalamu'alaikum." Keluar seorang anak perempuan dengan memakai seragam merah putih, lengkap dengan kerudung dan perlengkapan sekolah.
"Wah, Papah." Anak itu berlari ke arah kami, setelah menutup pintu rumah tersebut.
Ia kesulitan membuka pagar, om Vendra bergerak cepat membantu anak perempuan tersebut. Aku yakin, itu anak perempuannya.
"Berangkat sekolah, Dek? Kakak tak antar Adek? Berani kah?" Om Vendra berhasil membukakan pagar, kemudian langsung menggendong anak perempuan tersebut.
Ia persis mirip om Vendra, tidak seperti Dehen dan Balawa. Tapi kulitnya seperti kulit orang bule, matanya pun berwarna coklat terang. Bukan kulit albino, jadi seperti bersih dengan warna putih pucat.
"Salim, Dek. Ini Mamah." Om Vendra langsung menghadap istrinya.
"Mamahnya siapa, Papah?" Anak perempuan itu langsung mengulurkan tangan kanannya.
Tangan mungil itu menggantung, tidak lekas disambut oleh tante Nina. Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Beberapa saat kemudian, tangan kecil itu disambut diikuti dengan senyuman dan air mata tante Nina.
Pasti ini sakit sekali.
"Udah salim?" Om Vendra menurunkan anak tersebut.
"Udah, Papah." Anak perempuan tersebut memiliki sopan santun yang cukup menurutku. Tanpa disuruh kembali, ia mencium tangan ayah, aku, Dehen dan Balawa secara bergantian.
"Bener tak bisa nyebrangnya tuh?" Om Vendra menggandeng anak perempuan tersebut.
"Bener, Papah. Kan aku udah diajarin sama Papah, kata Papah kan jalanan kecil juga, bukan jalan Raya. Kalah jalan Raya, ya harus sama orang tua." Anak itu mendongak menatap ayahnya dengan tatapan bahagianya dan senyuman lebarnya.
__ADS_1
Terlihat sekali bahwa om Vendra adalah cinta pertamanya.
"Ya udah, hati-hati ya?" Om Vendra melepaskan tangannya.
"Ya, Papah. Assalamu'alaikum." Salam ia ucapkan kembali, seperti pada saat ia menutup pintu rumahnya.
Aku jadi teringat kelakuan Dehen, yang nyelonong masuk hingga membuat Cani kalap. Andaikan, dua laki-laki yang sudah baligh itu bisa mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam." Kami semua menjawab dengan lirih.
"Usia berapa dia?" Ayah masih memperhatikan anak perempuan yang berjalan sendiri.
"Enam setengah, baru mau masuk tujuh. Dia baru masuk SD tahun ini, dia bungsu." Om Vendra memperhatikan anaknya juga.
Oh, bungsunya usia enam tahun.
"Yuk, masuk." Om Vendra bergerak untuk melebarkan pintu gerbang.
Rumah terlihat masih sepi sekali, seperti tidak ada aktivitas seseorang. Ya begitulah juga seorang ibu dalam rumah tengah sakit, rumah seolah berubah menjadi rumah kosong.
"Assalamu'alaikum…." Om Vendra membuka pintu rumahnya.
"Waalaikumsalam." Remaja perempuan muncul dengan celana jogger berwarna putih, dengan tanktop berwarna hitam.
Ia bule.
Ya, kulitnya sama dengan si bungsu tadi. Namun, rambutnya berwarna pirang terang dan mata coklat terang juga.
"Bajunya, Kak." Om Vendra mempersilahkan kami semua untuk duduk.
"Ya, Pah." Ia langsung meninggalkan ruang tamu.
"Pah…." Giliran anak laki-laki muncul.
Ia orang indo nih, campuran. Rambutnya hitam, kulitnya sepertiku. Berwarna kuning cerah khas Indonesia, tidak putih pucat seperti dua anak perempuan tadi.
"Ini sulung, Bang. Yang perempuan tadi, anak kedua." Om Vendra memperkenalkan pada ayah.
Gila, anak-anaknya good looking semua. Pasti ibunya wow nih, aku jadi menerka-nerka.
"Ya, Bang." Om Vendra mengusap punggung anaknya, ketika anaknya membungkuk mencium tangannya.
Si sulung itu tetap membungkuk, mencium tangan kami satu persatu dengan tersenyum ketika memandang wajah. Sopan santunnya sama rata, cukup bagus. Bahkan Cala dan Cali kalah, mereka pemilih untuk mencium tangan seseorang. Seperti tergantung moodnya saja, atau tergantung rupa orangnya menakutkan atau tidak. Karena sampai kami pergi tadi, Cala dan Cali tetap takut dan tidak mau mencium tangan Dehen dan Balawa.
__ADS_1
"Ibu mana, Bang?" tanya om Vendra kemudian.
...****************...