Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA70. Cek inti


__ADS_3

"Serius? Abang udah ngorok aja." Izza mencium suaminya yang langsung pulas, begitu sampai di tempat tidur. 


"Hm?" Kenyamanan Chandra sedikit terganggu, tapi ia langsung kembali pulas dalam sekejap. 


Izza memutar posisinya tengkurap, ia bertopang dagu dan memperhatikan wajah lelah suaminya. Bahkan suaminya tidak sempat berganti pakaian, rupanya suaminya benar-benar lelah beraktivitas ini itu. 


Ia jadi memikirkan, bagaimana jika nanti ditambah dengan aktivitas bekerja. Sepertinya, Chandra langsung tepar begitu sampai rumah. Ia sudah banyak mendengar nasehat dari Key, ia berpikir positif akan stamina Chandra.


Ia langsung merebahkan tubuhnya kembali, kemudian memeluk suaminya erat. Wangi suaminya benar-benar menenangkan, ia berharap bisa mencium aroma tersebut seumur hidupnya. 


"Dibangunin tak mereka, Bang?" Canda melewati ruang tamu rumahnya dan melintas di depan kamar Chandra. 


Ia diajak suaminya untuk berjalan-jalan santai di waktu setempat Subuh ini. Ia begitu bersemangat, karena suaminya mengatakan sekalian membeli makanan sarapan dan berbelanja sayur. 


"Nanti aja kalau ada kebakaran." Givan membuka grendel atas pintu rumahnya. 


"Heh?!" Canda bingung, Givah langsung menoleh dan tertawa saja. "Biarin aja, Canda. Mana tau malah ganggu," ujar Givan dengan melangkah keluar dengan mengulurkan tangannya mengajak istrinya. 


"Memang lagi ngapain?" Canda melangkah mengikuti ajakan tangan suaminya. 


"Ck…. Masa ngapain sih? Ngapa-ngapain pun tak masalah kalau di jalurnya." 


Pintu rumah itu langsung mengunci otomatis. Namun, jika semua orang berada di dalam rumah. Givan sengaja memasang grendel, karena ia khawatir ada seseorang yang sengaja mencokel pintu rumahnya. Karena beberapa rumah warga, pernah mengalami kejadian congkel pintu dan kehilangan beberapa barang di rumahnya. Meski keamanan di rumahnya terjamin, ia sering khawatir akan kejadian tersebut menimpanya. Karena beberapa kasus terjadi, melihat pelaku membawa sajam. Itu yang membuat Givan takut, karena bisa saja pencuri tersebut langsung melukai orang rumah. 


"Jalur apa?" Canda belum terkoneksi dengan baik. 


"Begitu syulit kalau ngomong sama Canda tuh." Givan merangkul istrinya, kemudian meraup wajah istrinya. 


"Rehan, bukan Canda," timpal Canda dengan mencekal tangan suaminya yang meraup wajahnya. 


"Rehan sih sulit dilupakan, Canda sih sulit diajak ngomong." Givan menyambar pipi istrinya di halaman rumahnya. 


"Aduh, Mas. Kumisnya kek parut." Canda mengusap pipinya, kumis suaminya yang baru tumbuh cukup menyakiti pipinya. 


Givan hanya terkekeh, kemudian ia membuka pintu pagarnya dan melakukan penguncian ulang ketika istrinya sudah keluar. Mereka berjalan bersama, dengan obrolan kecil dan tawa hangat yang menemani. Di usia pernikahannya yang semakin bertambah, perasaan Givan dan Canda tetap berlabuh pada orang yang sama. 

__ADS_1


"Memang harus ngaji ya? Aku biasa ngaji abis Isya." Izza melepaskan mukenanya, setelah selesai sholat berjamaah dengan suaminya. 


"Heem." Chandra keluar dari kamarnya. Ia berkeliling di dalam rumah, mencari keberadaan guru ngajinya. Namun, ia tidak menemukan siapapun di rumah. 


"Tak ada biyungnya." Chandra kembali ke dalam kamar dengan melepas pecinya. 


"Apa hubungannya sama biyung?" Izza bingung di pagi buta, suaminya mencari keberadaan ibunya. 


"Ngaji Fiqih, biasanya sama biyung. Tapi tak ada orangnya." Chandra mengedikkan bahunya. 


"Ohh, kirain ngaji biasa." Izza manggut-manggut mengerti. 


"Tak." Chandra mengintip di jendela kamarnya. Ia melihat Zio duduk di teras rumahnya sendiri, dengan masih menggunakan pakaian sholat lengkap, juga kitab di tangannya. Terlihat adiknya seperti menghafal sesutu. 


"Bang, Abang tuh tak ketagihan kah?" Izza langsung menanyakan masalah ranjang mereka. Karena ia mendapat obrolan bersama Key, kehidupan ranjang Key begitu berwarna tanpa memperhatikan waktu untuk melakukannya. 


"Ketagihan apa?" Chandra menutup kembali tirai jendelanya. 


"Ya ketagihan malam pertama." Izza malu untuk memperjelas. Tapi ia bertekad untuk membicarakan apapun itu, agar tidak banyak memendam sendiri. Saran itu pun, ia dapatkan dari kakak iparnya yang periang dan supel bergaul. 


"Bukan tak ketagihan, kencingnya sakit. Memang kau tak ngerasa pedih kah?" Chandra menggantung baju kokonya di kastok belakang pintu kamar. 


"Ya ngerasa kek bengkak, pedih gitu." Ia sembari beraktivitas membereskan tempat tidur mereka. 


"Pikir aku, kalau kejar tayang terus malah sakitnya tak udah-udah. Aku tuh pengen tanya sama ayah tuh malu, Dek. Nih, lihat sendiri." Chandra melepaskan sarungnya, kemudian ia berjalan ke arah istrinya. 


Izza cukup deg-degan, karena suaminya hanya mengenakan segitiga nyaman berwarna hitam dengan karet berwarna putih itu. 


"Lihat apa?" Izza duduk di tepian ranjang. 


"Ini loh, l***** kencingnya kek tambah besar. Pernah dengar cerita ayah sih katanya memang begitu, tapi aku khawatir sendiri." Chandra menunjukkan miliknya yang tertidur pulas. 


Izza melongo saja, melihat kelinci duduk itu ditunjukkan di depan matanya. "Memang dulunya gimana? Itu gara-gara aku?" tanyanya bingung.


"Gara-gara melakukan, laki-laki juga sama sakitnya kali kalau pertama sih. Dulunya tak besar deh keknya." Chandra memperhatikan sendiri miliknya. 

__ADS_1


Izza terkekeh geli, kemudian mendorong pelan perut suaminya. Ia tidak habis pikir, suaminya tidak menutupi apapun darinya. 


"Jadi baiknya gimana? Aku baru tau, kalau laki-laki bisa begitu?" Izza kembali merapikan selimut tebal tersebut. 


"Tak tau baiknya gimana. Cuma aku tuh orangnya, gimana ya? Kalau udah tau kau lagi tak baik-baik aja, aku tak nyaman juga. Malah tak ada pikiran mesum ke situ. Khawatir kau malah tak bisa dipake, karena lukanya tak sembuh-sembuh." Mendengar penjelasan suaminya, Izza malah bertanya-tanya karena milik suaminya tidak bergerak sedikitpun masa ia pegang tadi. 


"Tapi kok bisa tak keras? Dulu pas pacaran, sedikit nempel ke badan aja keras." Izza berjalan ke arah lemari, kala melihat suaminya tengah melipat sarungnya sendiri. 


"Ya lagi n**** ya begitu, sekarang tak ya tak. Dibilang, aku orangnya tau kondisi." Chandra pun tidak mengerti, kenapa dirinya tidak seperti kebanyakan laki-laki pada umumnya. 


"Kan setau aku, n**** laki-laki itu sulit dikontrol. Makanya kenapa perempuan disuruh jaga aurat benar-benar." Izza mengambilkan pakaian untuk suaminya. 


Chandra menerima dan langsung mengenakannya. "Hidup aku tak melulu isinya n**** kali." Chandra memasang wajah meledek. 


Izza terkekeh geli, dengan melanjutkan pekerjaannya. 


"Keknya ada salepnya deh, Za. Aku nanti coba cari informasi salep untuk kau, biar tak infeksi. Tapi coba aku lihat dulu, aku senterin." Chandra berniat baik, ia tidak berpikir macam-macam. Lagi pun, menurutnya mereka sudah saya jadi tidak ada jarak untuk tidak melihat aurat istrinya. 


"Malu lah, Bang." Izza menyusun bantal-bantal. 


"Disenter aja, tak difoto. Coba aku tengok dikit aja." Chandra sedikit memaksa, karena ia khawatir luka di bagian milik istrinya malah membuatnya berpuasa lama. 


"Tapi tuh." Izza tak kuasa menahan tenaga suaminya. Ia bertanya-tanya, kenapa suaminya memaksa ingin melihat. Padahal, tadi suaminya mengatakan tidak ingin melakukan karena keadaan mereka sama-sama merasa sakit di bagian inti. 


"Tengok aja." Chandra langsung mengarahkan senter ponselnya. 


"Ya ampun, memerah begini." Chandra langsung merasa iba. Pasti dalam posisi duduk pun, istrinya merasa tidak nyaman. 


Hatinya selembut itu, ia merasa amat berdosa karena telat membuat istrinya sampai seperti itu. Padahal, ia merasa sudah melakukannya dengan perlahan dan hati-hati. Tapi, nampaknya tetap melukai istrinya secara tidak langsung. 


"Nanti aku tanyakan salepnya deh. Di pintunya itu kek merah betul, merahnya kek bekas garukan tuh. Eh, ya memang digaruk juga sih secara tak langsung. Tapi ya kek lecet gitu tuh, Za." Chandra langsung membenahi rok yang dipakai istrinya. 


"Tuh, nanti tanya ke ayah lagi. Aku kan jadi malu kalau ketemu ayah." Izza bangkit dari posisinya, kemudian duduk dan memeluk lengan suaminya. 


"Terus, mau tanya ke siapa?" Chandra khawatir rahasia ranjang mereka tersebar, jika ia tidak bertanya pada orang yang terpercaya. Sedangkan ayahnya, ia yakin tidak mungkin menyebarkan aib putranya sendiri. Ia tahu aib Ceysa, sampai ditutupi begitu rapi dari warga. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2