
"Oke, gini aja. Antar dia pulang dulu, nanti Abang temani kau ke papa." Aku malas berbicara dengan wanita ini.
Bunga yang tidak sopan saja, biasanya tidak berlebihan seperti ini kok. Ia terlalu berlebihan, terlalu menguasai pembicaraan.
"Iya, Bang." Kaf mengangguk, kemudian langsung bangkit dari duduknya.
Itu hanya kalimat penenang saja. Aku akan memberi pertanyaan mendalam dan lebih rinci dulu pada Kaf, sebelum aku benar-benar membawa obrolan ini ke papa Ghifar. Aku ingin tahu sudut pandangnya, agar aku tidak salah mengambil langkah. Karena barangkali Kaf yang dijebol, bukan perempuannya. Jelas beda kasus menurutku, jika perempuannya sudah jebol dan malah meminta Kaf yang menikahinya. Tentu pasti yang rugi adalah adik sepupuku, dia adalah laki-laki baik-baik, buktinya saja ia langsung mau bertanggung jawab menikahi perempuan tersebut karena kesalahannya jebol menjebol itu.
"Ditunggu di sini aja ya? Abang lagi rehat dulu bentar soalnya." Jangan sampai mencari kebenaran pada Kaf di rumah biyung, karena ada ayah yang pandai membaca situasi. Bisa-bisa bukan tersampaikan pada papa Ghifar, tapi malah dihakimi oleh ayahku.
"Ya, Bang." Kaf dan perempuannya keluar dari rumah pondok ini.
Sopan santunnya kurang sekali, masa begitu caranya pamit? Ngeloyor saja begitu, tanpa salam dan tanpa senyum ramah. Hal itu tidak pernah terjadi di keluarga Riyana, kecuali sedang marah.
Sekitar satu jam kemudian, Kaf datang kembali. Kebetulan, aku tengah membagi upah pekerja. Jadi, Kaf menunggu urusanku selesai terlebih dahulu.
Tujuh puluh lima ribu untuk mengolah tanah saja, itu bukan ketetapan dariku. Melainkan, sudah upah umum di sini. Kerjanya ringan, hanya saja memang kena sengatan matahari. Tapi aku selalu memberi tambahan uang makan senilai dua puluh ribu, karena aku tidak menyediakan makanan untuk mereka. Ini pun, atas saran ayah agar aku tidak repot.
Perbedaan kecil, tapi nyatanya sama saja. Namun, warga lebih suka bekerja pada keluarga kami hanya karena perbedaan uang makan saja. Jika pada yang lain kan diberi makan siang, tapi tidak diberi uang makan. Warga berkata, makanan yang diberikan bos mereka dulu tidak senilai dua puluh ribu yang keluargaku berikan. Lauknya seperti asal saja, dengan nasi yang tidak membuat mereka kenyang. Aku tidak tahu pasti, itu kata pengakuan mereka.
Ditambah lagi, beberapa dari mereka mengatakan bisa membawa bekal makan siang dari rumah. Jadi, uang makan dua puluh ribu itu bisa disatukan dengan upah kerja mereka. Itu lebih berguna, ketimbang makan dari bos tapi tidak kenyang katanya.
Namanya juga bekerja di lapangan, otomatis harus kenyang karena yang dipakai adalah tenaga. Memang kerjanya ringan, tapi siapa yang tahan perut dalam keadaan lapar dan bekerja sembari berjemur di bawah sengatan matahari. Sudah pasti mereka akan pusing nantinya.
"Udah selesai kah, Bang?" tanya Kaf, kala aku menghampirinya di ruang tamu rumah pondok.
"Udah, kau antar sampai rumah kah?" Aku memperhatikannya yang tengah memasukkan ponselnya ke sakunya.
Terlihat sekali bahwa ia tengah frustasi.
__ADS_1
"Depan pagar aja, aku tak pernah masuk ke rumah dia. Aku ini penakut, Bang. Aku tak pernah mau untuk dikenalkan, karena aku takut ditodong pertanyaan kapan khitbah dan kapan nikah. Tapi malah begini kejadiannya." Ia membuang napasnya gelisah.
"Dia perawan?" Inilah yang ingin aku tanyakan sejak tadi.
Kaf seolah heran dengan pertanyaanku. Ia menoleh padaku dan diam beberapa saat, dengan memandang wajahku.
"Iyalah, Bang. Kok nanya gitu?" Ia masih belum berkedip untuk beberapa saat.
"Kok berani petting sih? Anak perawan tak seberani itu." Ini hanya pendapat logikaku saja.
"Dia berdarah kok," akunya kemudian.
Sebenarnya, ada juga yang perawan tapi tidak berdarah.
"Tak lagi haid kan pas melakukannya?" Pikiranku ini terlalu konyol, tapi ini yang ada di pikiranku.
Aku mengusap-usap daguku yang ditumbuhi bulu halus. Jadi ia begitu ya? Pantas saja jika kuliah seolah sibuk sekali.
"Jadi sekalian ngamer gitu ya? Keluyuran gitu?" Salah berbicara tidak ya aku ini?
"Ya tak, Bang. Memang fakultas kedokteran itu ribet dan makan waktu. Aku memang banyak kegiatan, tapi memang kalau aku entah pergi ke mall atau ke mana itu ya sekalian pas keluar untuk kuliah. Jadi tak bolak-balik ke rumah aja, makan waktu juga di jalannya." Pembawaannya cukup santai seperti papanya.
Air tenang bukan berarti tiada buaya. Itu kata-kata yang pantas untuk papa dari biyung. Mereka adalah mantan pacar, tapi aku tidak tahu kenapa biyung bisa berbicara seperti itu padahal katanya pacarannya aman saja.
"Oke, dia perawan ya berarti? Terus, kok bisa jebol gawang begitu? Sebelumnya memang ngapain?" Aku kepo memang, tapi aku tidak mau Kaf tertipu wanita.
"Iya perawan, Bang. Ya lagi petting, aku kan biasa mainan punya aku ke permukaannya aja. Agak nekan memang, ditambah kondisinya memang begitu licin. Pas itu dia gerak biar part belakangnya naik ke bantal, otomatis tergelincir lah dan masuk. Pelipis rasanya kek pakai solatip, terus ditarik ke belakang gitu. Mantap kali pening dan mulesnya mata, jadi ya udah lanjutkan dulu aja. Udah berlanjut, aku tak bisa juga untuk ilmu buang di luar itu. Jadi ya panik sendiri setelah selesai, mau pakai obat pun takut efek sampingnya."
Aduh, gila. Aku yang gatal jadinya. Kenapa pula ia harus menceritakan sedetail ini? Aku duda, bray. Kan aku jadi ingin juga tergelincir yang seperti itu.
__ADS_1
"Licin karena gel pelumas?" tanyaku kemudian.
"Kena air liur aku, kan aku abis buat dia keluar. Abang tak paham petting kah? Mana ada di dunia petting pakai gel pelumas? Kek mau berhubungan aja."
Norak sekali aku ini, Kaf yang nampak diam pun nyatanya nakal sekali.
"Tak pernah aku petting, sama istri dulu paling pemanasan terus gas langsung. Mode slowly dan mode hard pun entah gimana, tak paham juga. Karena ikutin keinginan diri aja, pengen keluar ya cepat, baru main ya pelan dulu." Pengalamanku nol besar.
Kata siapa duda itu pengalamannya luas? Apakah duda sepertiku dikecualikan?
"Dih, Abang ngapain aja selama nikah?" Kaf malah menertawakanku.
Namanya Kafi, entah Kafi siapa. Ia dekatnya dengan Hadi dan Ceysa, dulu kecil pun sering menjadi bahan bully-an.
"Ya begituan. Izza perawan ting-ting, aku pun tak pernah macam-macam selain pegang dada paling parah." Duh, malah flashback.
"Ish, kocak." Kaf mengedikkan bahunya dan meringis mengejek.
Sialan memang!
"Tapi kau yakin kan dia perawan? Yakin kan, kalau dia cuma sama kau?" Sekali lagi, aku takut Kaf ditipu.
"Yakin, Bang. Dia sama aku dari kelas dua SMA, kelas tiga SMA kita sering petting dan baru OTW semester tiga ini aku kena sial. Gimana dong, Bang?" Ia mulai gelisah kembali.
Gila juga, pemain rahasia. Kelas dua SMA, aku tengah pusing mikirin hafalan kitab dan segala macam yang harus dihafalkan. Agak lain yang diam-diam begini, ketimbang aku yang jelas sering membawa Izza main ke rumah.
"Bang…..
...****************...
__ADS_1