
"Laki-lakinya mau bertanggung jawab, mau ngelamar. Tapi ditolak Bunga, tanpa alasan yang jelas. Laki-lakinya berpikir matang, berpikir luas dan berpikir ke depannya. Tapi Bunga yang terkesan tak mau berkomitmen, dengan seolah dirinya ingin fokus ke pendidikannya dan masa depannya. Aku tak tau pasti sih, Pakwa. Cuma dia ada bilang, kalau dirinya tak mau orang tuanya tau tentang dirinya. Sebaliknya, ia beranggapan orang tuanya akan bangga kalau orang tuanya tak tau bagaimana buruknya dirinya." Biarkan aku memberitahu semuanya, biar orang tuanya sekalian merantainya di rumah.
Brakhhhhhhhhh….
Aku mengusap-usap dadaku, tepukan telapak tangannya pada jendela paten itu membuat jantungku tak sehat secara mendadak. Sejak tadi pakwa membuatku kaget terus, tidak membentak, ia melampiaskan pada jendela.
"Kau pulanglah! Pakwa nanti datang ke rumah kau, untuk cerita yang lebih lengkapnya. Pakwa lagi sulit kontrol emosi sekarang, Pakwa butuh waktu sendiri." Giginya bergemeletuk, dengan bibirnya yang gemetaran.
"Intinya begitu aja laporannya, Pakwa. Kalau Pakwa nemuin aku di rumah, aku khawatir Bunga curiga." Aku segera bangkit dari sofa single ini.
"Aku pamit dulu, Pakwa. Aku minta maaf kalau cara penyampaian aku kurang berkenan, tapi aku bermaksud baik dengan niat tujuanku." Pakwa mengangguk mendengar ucapanku.
"Pulanglah ke rumah, hati-hati di jalan." Pakwa menatap keluar jendela paten tersebut.
Sorot matanya mengerikan, seperti akan membunuh seseorang. Aku jadi takut dihabisi olehnya, lebih baik aku menurut untuk segera pergi.
"Aku pulang dulu, Pakwa." Aku buru-buru keluar dari ruangannya.
Baru juga pintu ruangannya aku tutup dengan rapat dan pelan sekali, eh suara bantingan barang terdengar cukup keras. Kan jadinya aku yang malu, karena beberapa petugas klinik yang berada di sekitar ruangan pakwa malah memperhatikanku setelah mendengar bantingan barang itu. Pasti mereka berpikir, akulah penyebab suara barang jatuh itu.
Aku cepat-cepat pergi, karena tidak nyaman dengan pandangan para petugas klinik. Aku tidak mau disalahkan, apalagi disangka menjatuhkan barang dengan suara keras dan kencang. Menutup pintu saja, aku hati-hati sekali tadi.
Aku memilih ke rumah pupuk, tapi malah mendapat kejutan seorang wanita yang duduk di teras rumah pupuk. Ia tengah merokok di sana, merokok di sudut teras yang tidak langsung terlihat dari jalanan luar. Tepatnya, di depan pintu rumah pupuk.
Siapa lagi perempuan yang berani merokok, selain Jessie? Namun, kenapa ia malah memilih merokok di sini? Kamarnya tentu lebih aman untuk dijadikan tempat merokok.
"Akhirnya, Abang datang juga." Senyumnya mengembang, saat aku turun dari motorku.
"Ada apa?" Aku memandang ladangku dari posisiku.
Terlihat jelas dari sini, makanya rumah ini dikontrakan karena pemilik merasa ada peluang besar untuk dikontrak pemilik ladang. Padahal, rumah ini selepas direhab beberapa bagian.
"Aku butuh temen ngobrol, Bang." Ia menekan puntung rokoknya di sudut tembok.
"Hmmm, tapi patutnya tak datang ke tempat aku begini. Lagi sepi, takut orang salah mata ke kita." Intinya, aku takut difitnah.
Teringat bagaimana beraninya fitnah Sekar.
"Ya kan kita di luar aja." Ia menggeser kursi plastik dari depan pintu.
__ADS_1
Rupanya, rumah pupuk bukanlah pilihan yang tepat.
"Bentar lagi aku jemput adik aku di sekolah, aku tak punya banyak waktu." Aku tidak berbohong, jam dua belas siang aku akan menjemput Cani.
"Siapa? Ra ya, Bang?" Jessie menyusun tempat duduk berjejer dengan kursi yang ia duduki.
Maksudnya aku diminta duduk di sampingnya, begitu?
"Cani, Ra bawa mobil." Aku menarik kursi yang ia sediakan, untuk lebih berjarak dengannya.
"Ohh…." Jessie manggut-manggut.
"Kau udah lama nunggu di sini? Kenapa tak hubungi dulu?" Aku baru duduk di kursi plastik berwarna hijau ini.
Seperti kursi untuk di hajatan, tapi memiliki sandaran di tangannya.
"Lumayan, habis dua batang. Aku bingung aja sih mau ke mana, bosen di rumah terus. Eh ternyata di sini sepi, jadi lumayan untuk cuci mulut habis makan." Ia tersenyum lebar.
Merokok maksudnya. Memang paling enak merokok setelah makan, karena serasa tidak ingin makan yang lain. Bisa menjaga tubuh tetap ideal, karena tidak banyak mengemil setelah makan.
"Ohh gitu?" Aku tidak punya topik pembicaraan.
Physical touch tak ngotak mulai dilancarkan. Ia mulai dari mengusap pahaku dengan lembut.
"Ada di luar, biasanya lagi urus upah orang kerja." Bahkan aku menclok ke Riyana Studio, saat berusaha menghindari Jessie yang ada di rumahku untuk mengaji.
"Kok sore sekali? Biasanya waktu Ashar kan mereka pulang?" Ia kini mengusap lenganku.
Hmm, nikmati saja Chandra. Kuat-kuatkan iman jika sudah begini.
"Iya, kadang orang yang pentingnya kan belum dibayar. Semacam mandor, pengurus gitu." Mereka malah dibayar perbulan, aku tengah berbohong saja.
"Oh gitu ya? Bukan lagi hindari aku ya?"
Perasa juga wanita ini.
"Menurut kau?" Aku menoleh padanya.
"Menurut aku sih begitu, sejak Hermawan jadi teman Abang." Ia tertawa sumbang.
__ADS_1
Bukan karena Hema juga, karena ayah yang galak tentunya. Tapi jika dipikirkan, benar juga pendapat ayah dan Bunga. Aku terpaku dengan kalimat ayah yang mengatakan, aku bisa mendapatkan wanita baik-baik yang perawan, untuk apa aku mengusahakan wanita malam yang mengaku dirinya masih segelan.
Selain karena hal itu juga, dikarenakan aku sibuk mengurus adik-adikku. Sungguh aku kerepotan dengan drama Cani, aku sampai harus beberapa kali menemaninya tidur karena drama tangisnya. Hal kecil, sepele saja, tapi seolah begitu tersakiti. Ia pengungkit handal, jika sudah melow ingatannya membahas seluruh hal sedih di hidupnya.
Ampun dengan gadis satu itu, entah bagaimana yang jadi pendamping hidupnya kelak. Aku hanya berharap, jika aku mampu menjadi walinya sampai kapanpun untuk mengetahui problem hidupnya. Bisa stress itu anak dengan dramanya sendiri, labil sekali perasaannya juga.
"Kenapa bawa Hema? Kau kenal dia?" Tidak ada obrolan selama aku sibuk dan menghindar, bahkan pesan chatnya tertimbun dengan pesan dari Cani dan Ra.
Bang, jemput!
Bang, isi kuota.
Bang, angkotnya mogok.
Bang, jemput di jalan depan.
Bang, antar ke toko buku, aku di sekolah.
Bang, antar ke toko kosmetik, pelembab aku habis.
Bang, ayo ke minimarket.
Bang, disuruh biyung.
Bang, disuruh jemput kak Ra.
Serangkaian seperti itu, ditambah lagi mode spam. Satu kalimat yang sama, bisa dikirimkan ulang sampai tiga kali. Ditambah dengan panggilan suara juga, ditambah dengan voice note dan panggilan video terlewat.
Benar-benar remaja mode on.
Belum lagi dengan Ra. Aku selalu inisiatif untuk mengantar jemputnya ke kampus, saat ia ketahuan denganku ingin membawa mobil. Saat sudah diantar dan aku menunggu jam pulangnya di luar rumah sambil ngopi bersama teman, ia selalu mengatakan dirinya sudah berada di rumah dengan diikuti PAP terbarunya. Ia membuat waktuku sia-sia saja untuk menunggunya amat lama di luar rumah, tahu-tahu dirinya sudah sampai rumah saja.
Begitulah keseharianku yang diuji dengan emosi dan kesabaran, mungkin rasanya seperti ini memiliki adik perempuan di masa pendewasaan diri. Ini belum dengan Cala dan Cali, mereka sekarang masih SD dan masih suka gendong. Entah bagaimana mereka di masa remaja dan pendewasaan diri, semoga dramanya tidak lebih menguji dari Cani dan Ra.
"Abang jangan pura-pura bodoh, Hermawan pasti ada bilang sesuatu kan tentang aku?" Senyumnya lebih mirip menyeringai.
Ia menyeramkan seperti serigala lapar.
...****************...
__ADS_1