Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA77. Menunggu pemeriksaan


__ADS_3

Aku diminta menunggu lagi, karena anggota keluarga dilarang masuk ke ruang pemeriksaan. Untungnya, ponsel dan dompetku selalu ada di saku celana. Jadi, aku tidak bosan hanya menunggu saja. 


Aku hanya menunggu seorang diri, tidak ada anggota keluarga lain yang ke sini. Bang Vano pun, belum menghubungi anggota keluarganya. Katanya sih, akan diperiksa selama dua jam. Bisa lebih lama, bisa lebih cepat juga. 


[Harus berapa jam aku nunggu, katanya sebentar? Ayah pun udah di dalam rumah, pintu udah dikunci.] isi pesan yang serupa, terkirim sebanyak lima pesan. 


Sepertinya Izza tidak tahu, jika kak Jasmine sedang mendapat musibah. Ayah pun sepertinya tidak mengatakan apa-apa pada Izza. 


Tidak pikir panjang, aku langsung mengirimkan foto selfie dengan bingkai khas isi kantor polisi. Aku tidak mau banyak berbicara padanya, aku takut keceplosan ini itu dan segalanya. Nanti ia sakit lagi, aku yang kena. 


Apa begini kah perasaan pada istri? Apa semua suami di dunia merasakan hal seperti ini? Maksudnya, seperti jemu dan seperti percuma jika mengatakan maksud hati kita pada istri. 


[Siapa yang kecelakaan?] balas Izza kemudian. 


[Bang Vano, lagi ada masalah.] lagi pun ia tahu untuk apa? Tetap aku yang ditekan dan dinasehatinya agar jangan sampai seperti yang salah dilakukan. 


Aku sudah hafal bagaimana dirinya. 


[Jadi tak tidur sama aku? Rela ninggalin aku?]


Ya ampun, aku takut salah bicara. 


[Tak, sebentar.] mungkin aku sekarang lebih simpel dari sebelumnya. 


[Yang benar? Jangan lama-lama ya?] aku tahu caranya mencintaiku itu seperti itu. Tapi, aku yang seolah kehilangan cara caranya aku mencintainya. 


[Ya.] aku hanya membalas singkat. 


Apa harapan pada rumah tanggaku? Entahlah, aku hanya menjalani saja. Biarlah mengalir seperti air. 


Aku khawatir dengan kak Jasmine, ia adalah dewi penolongku setiap aku jatuh di masa kecil. Entahlah, kak Key terbuat dari apa. Ia selalu membuatku terjatuh dengan terjangannya, ia tidak bisa berjalan, ia bisanya berlari terus. Aku masih ingat sekali, aku sering ditabraknya sampai terjengkang dan tersungkur sampai kelas empat SD. 


Iya, sekuat itu hantamannya. 


Aku menelpon biyung saja lah, sepertinya biyung berperan jadi tukang usap saja kala ayah menasehati anaknya. 


Aku senang jika menelpon biyung, karena cepat diangkat. 


"Hallo, Biyung cantik." Biasanya ada ke-absurdan beliau. 


"Ayah ini, Biyung udah molor. Kenapa kau butuh biyung kau? Minta GO-FOOD kah?" Ayah mampu membuatku tertawa juga rupanya. 

__ADS_1


"Pengen diperhatiin." Aku masih tertawa renyah. 


"Ck…. Udah pada tidur semua. Ayah nanti besok mau liburan ya? Mau ke Kalimantan aja, di daerah tambang biasanya susah sinyal."


Memang apa hubungannya? 


"Ya jangan ke sana." Aneh sekali ayah ini. 


"Justru itu, Jasmine susah hubungi Vano dan sebaliknya juga." Ayah memiliki maksud tersendiri ternyata. 


"Nanti aku gimana hubungi Ayah?" Pasti tugasku banyak. 


"Nanti Ayah yang hubungi, kalau dapat sinyal bagus. Tapi Ayah kepikiran, gimana kalau Jasmine tau yang sebenarnya?" 


Kalian tahu tidak, jika kak Jasmine cinta berat para manajer mall tersebut? Saat menikah saja, ayah yang keluar uang banyak untuk memenuhi biaya pernikahan mereka. 


Saat kak Key menikah, benar-benar dicover oleh bang Fa'ad. Bang Fa'ad bukan dari kalangan berada, tapi sampai jual tanah ayahnya bang Fa'ad untuk resepsi anaknya. Ayah pun mau membantu, tapi ayahnya bang Fa'ad mengatakan agar ayah tidak merendahkan pihaknya. Jadi, secara halus keluarga bang Fa'ad tidak mau ayah mengganggu mereka mengusahakan pernikahan anaknya. 


Bang Vano tidak mau menikah cepat, dengan alasan baru lulus kuliah satu tahun. Sedangkan kak Jasmine, sering ia ajak keluar. Ini menurut cerita ayah, aku di Singapore jadi tidak tahu pasti. Jadi bang Vano seperti mendapat tekanan, untuk bertanggung jawab karena sering mengajak kak Jasmine pergi. 


"Kasih tau perlahan, Yah. Dia pasti hancur, kalau tau dari orang kalau keadaan rumah tangganya hancur." Aku yakin ia akan menyalahkan ayah. 


Aku pun baru dengar obrolan polisi tadi yang menemaniku duduk di ruang tunggu. Katanya, menuntut suami seperti ini harus disertakan surat gugatan cerai. Persyaratannya seperti itu, jika ingin menuntut suami di pengadilan. 


"Katanya tuh, Yah. Tak bisa tuntut suami, kalau tak disertakan surat gugatan cerai." Aku melirik kiri kanan kala mengatakan hal itu. 


"Baru tau Ayah, Bang. Undang-undang baru keknya ya?" 


Jangankan ayah, aku pun baru tahu dari cerita polisi tadi. 


"Iya, Yah. Nitip Izza, Yah. Barangkali aku tak pulang, atau nginep di sini." Aku tahu Izza adalah tanggung jawabku. 


"Oke. Udah dulu, Ayah mau ngobrol sama papa sama abi, biar bantu kau urus urusan di sini." Aku yakin ayah tidak mungkin setega itu padaku. 


"Iya, Yah. Assalamu'alaikum." 


"Wa'alaikum salam."


Aku langsung mematikan panggilan telepon ini. Apa ini? Ada pesan masuk? Izza lagi? 


[Online terus, dalam panggilan lain. Keren!] isi pesan yang sama pun, diulang sampai empat kali. 

__ADS_1


Mulai. 


[Za, aku lagi di kantor polisi. Aku butuh keluarga aku, aku butuh informasi untuk ini itu. Aku tak akan selingkuh! Aku tak akan keluyuran tak jelas! Kau tau aku anak baik-baik dari dulu, jadi jangan berpikir macam-macam tentang aku!] 


Coba, aku mendapatkan laporan apa dari ayah. Atau mungkin, Izza langsung sakit saja? Karena aku perhatikan selalu begitu, ketika aku sedikit tegas padanya. 


[Abang juga harus ingat, kalau aku istri Abang! Keluarga terus diutamakan! Aku ini tanggung jawab Abang! Keberhasilan Abang tergantung keridhaan istrinya. Meskipun surga Abang ada di telapak kaki biyung, tapi kunci surga ada di tangan aku.]


Bukan support yang aku dapatkan, bukan? Bukan canda tawa, bukan perhatian. Tapi, ya begitulah. 


Aku ingin memblokir kontak teleponnya. Tapi, aku khawatir terjadi apa-apa padanya dan aku menyesal karena tidak tahu. 


Apa aku harus mengalah, membujuknya dan meminta maaf padanya? 


Sudahlah! Aku lelah. 


Biarkan saja, aku tidak berniat meresponnya untuk menghindari kata-kata keramat. Laki-laki pun punya batas emosi, itu bukan sepele jika dilakukan berulang. 


Ceklek….


Aku menoleh cepat ke arah pintu pemeriksaan. Aku tidak tega melihat wajah kakak iparku itu, ia terlihat begitu frustasi. 


"Minum nih, Bang." Aku langsung menyodorkan air mineral kemasan gelas yang disediakan. 


Ia menggeleng, kemudian duduk di sebelahku. Tatapannya kosong, sepertinya pikirannya masih berada di ruang pemeriksaan tadi. 


Aku takut ditunjuk-tunjuk lagi, aku cinta damai seperti biyung. Aku menghindari pertanyaan untuknya, padahal aku penasaran sekali. 


Aku membiarkannya terdiam cukup lama, aku melihat sekeliling ruangan saja daripada rohku tertukar dengannya karena ikut melamun. Mengagumkan memang jika melihat foto-foto kebersamaan polisi, tapi aku tidak berniat menjadi polisi sejak dulu. Bukan karena gigiku tidak rapi, atau bagaimana. Tapi, mentalku mudah terguncang dan tersinggungan. 


Kruyukkkkk….


Ya ampun, kasihan sekali. Aku meninggalkannya, untuk mengambil bekal di mobil. Semoga berkenan di hatinya, maksudku baik sebenarnya. 


"Ini, Bang." Aku kembali dengan tepak makan berwarna cerah ini. 


Ia melirik tepak makan tersebut, kemudian memandang wajahku. Aku yakin, ia pasti masih ingat jika wajahku ini yang ia lihat saat tukang bakso mengetuk pintu kostan wanita simpanannya. 


"Kenapa, Bang?" Aku duduk kembali di sebelahnya. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2