Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA208. Bersiap perjalanan


__ADS_3

"Sulawesinya di mana? Kita selesaikan di sana aja, Ven." Ayah bangkit dan membenahi baju kemejanya. 


"Kota Sengkang, Bang. Tapi dia lagi sakit sekarang, pasti dia tak siap kedatangan Nina." Om Vendra menggosok wajahnya pelan. 


"Pesan tiket, Bang. Mana tau kita nengok, dia langsung sembuh." Ayah bergerak pergi ke dalam rumah. 


"Berapa kepala, Yah?" Aku langsung menuruti perintah ayah. 


"Enam, dengan kau. Ceysa sama Hadi suruh pulang, jagain biyung di sini." Suara ayah mengambang, sepertinya beliau sudah di ruangan lainnya. 


"Ya, Yah." Yang penting aku menjawab, entah ayah mendengar jawabanku tidak. 


"Jagain ayah kau, Bang. Tangannya ringan betul kalau tak didengar, dulunya tak begitu kok," ujar abu Zuhdi yang menggeser duduknya di sebelahku, ia memperhatikan layar ponselku yang tengah memesan tiket ini. 


"Iya, Bu. Abu telpon Hadi, aku pesannya penerbangan tercepat hari ini." Agar Hadi dan Ceysa datang malam ini juga. 


"Oke, Abu pulang ya? Abu telpon di rumah aja, tak bawa HP sekarang. Awasin ayah kau itu, meletup-letup terus itu orang." Abu setengah menggerutu, ia keluar dari rumah ini. 


Ya mungkin biyung sedang haid, ayah lama tak dikeluarkan. Jadi efeknya ngamuk terus, darah tinggian. 


Tiket sudah siap, sudah pembayaran dan sudah proses di email. Tinggal aku prepare, jaga-jaga barangkali di sana ada menginap beberapa hari. 


Om Nando, sopir dadakan andalan ayah yang kali ini mengantar kami ke bandara. Suasana di dalam mobil cukup mencekam, Pajero papa Ghifar penuh sesak dan amarah. 


Sepertinya, aku harus membeli mobil berukuran cukup besar. Agar keluargaku tidak meminjam mobil, ketika memiliki banyak penumpang. Tapi aku tidak terbiasa dengan mobil besar, aku pun naksir mobil berukuran sedang. Ya mungkin setelah memilikinya, aku akan terbiasa juga. 


Ponselku ramai berbunyi, selain balasan dari Jessie, ada juga pesan dari Bunga, Ra, Cani dan Nahda. Aku hendak membaca pesan dari adik-adikku dulu, tapi ada panggilan masuk dari Hema. 


"Siapa, Bang?" Ayah melirik ke arah ponselku. 


"Hema." Aku langsung menerima panggilan telepon ini. 


Detik sudah berjalan. "Hallo….," ucapku karena Hema tak kunjung bersuara. 


"Hallo, Bang. Bang, bantu ngomong ke kakak sama abang ipar aku." Suaranya lemas sekali. 


Bujang cungkring yang tak berdaya. Aku berharap Hema nanti cepat gemuk dan gagah, karena pasti ia akan menjadi kegemaran Bunga. 


"Kau dimarahi kah?" tanyaku kemudian. 

__ADS_1


"Bukan lagi, Bang. Kakak aku ungkit-ungkit semuanya, maki-maki aku habis-habisan, aku khawatir anaknya sawan aku, lagi hamil dia ini. Aku tak enak sama Bunga sama ayahnya juga, Bunga udah nanyain keputusan aku. Aku sih siap-siap aja, kakak aku sama abang ipar aku yang mempersulit." Suaranya memelas sekali, seperti Zio yang dimarahi ayah karena ketahuan memiliki pacar tanpa minta persetujuan orang tua. 


"Aku lagi tak di rumah, Hem. Nanti aku bilang ke pakwa deh, aku bantuin kau kalau udah sampai di rumah lagi." Rasanya tidak enak juga jika berbicara hal seperti ini tidak secara langsung. 


"Ya Abang telpon dulu ke ayah Bunga, biar tak nungguin aku aja. Abang janji ya datang ke rumah bang Wildan, lepas Abang udah selesai urusan di luar. Tapi kapan nih, Bang? Malam nanti kah, besok kah?" Hema heboh juga, jadi geli sendiri aku. 


Aku paham sih, ia bingung dan panik. 


"Ya mungkin lusa deh. Iya aku hubungi pakwa nantinya, nanti aku ke kau deh kalau udah sampai rumah juga." Aku berkata demikian, agar Hema bisa tenang. 


P****du pasti memiliki kecemasan yang berlebihan. 


"Oke, Bang. Kabarin aku kalau ayah Bunga ada ngomong tentang aku, Bang. Sumpah, aku tak akan kabur." 


"Siap, Hem." Aku memperhatikan suasana di dalam mobil ini.


Ayah terus menatap keluar jendela. 


Panggilan disudahi, aku melihat pesan dari Cani. Ia minta dijemput, tapi karena aku tak merespon ia mengatakan dirinya dijemput oleh Ra menggunakan taksi online. Ra pun melaporkan bahwa ia pulang bersama Cani. 


Sip, begini yang aku inginkan. 


[Bang, akun sosmedku difollow semua sama Jessie.] diikuti dengan beberapa tangkapan layar, yang berisikan informasi tentang pemberitahuan bahwa Jessie mengikuti akun Nahda. 


[Ya udah biarin aja, tetap pada rencana kita.] balasku kemudian. 


Jessie mudah sekali menemukan akun sosial media milik Nahda. Aku jadi berpikir, bahwa dengan mudah juga nantinya Jessie mengetahui bahwa Nahda dan aku memiliki hubungan saudara sepupu. 


Pesan dari Bunga. Begitu sederhana, hanya menanyakan keberadaanku saja. Aku membalas sesuai kenyataannya, bahwa aku tidak ada di rumah untuk beberapa hari. 


Kemudian, pesan dari Jessie. 


[Pacarnya begitu?]


[Terlihat seperti duda alim, bergerak mengalahkan angin 😶]


Maksudnya apa emoticon begitu? 


[Calon istri.] balasku tanpa ragu. 

__ADS_1


Semoga aja semua orang tidak membaca pesanku, kemudian diberitahukan pada Nahda. Kan aku jadi malu sendiri, jika aku seolah berlebihan begini. 


"Kau sibuk, Bang?" tanya ayah dengan menyikut lenganku. 


Aku mematikan layar ponsel. "Tak, Yah." Aku khawatir ayah melihat jika aku bertukar pesan dengan Jessie. 


"Kirain lagi banyak kerjaan." Ayah menghela napasnya. 


"Mau nelpon pakwa, Yah." Ayah pasti memahami permasalahan tentang Bunga dan Hema. 


Ayah hanya mengangguk pelan. 


Aku menyalakan kembali layar ponselku, kemudian mencari nomor pakwa. Panggilan langsung tersambung, butuh beberapa waktu sampai diangkat. 


"Hallo, Bang. Kau tak ada di rumah kata Bunga?" Pakwa langsung melemparkan pertanyaan saja. 


"Ah, iya. Bunga minta aku antar kah? Soalnya, tadi dia chat aku juga." Aku tidak tahu ada keperluan apa Bunga padaku. 


"Iya, tapi barusan udah Pakwa antar. Kau lagi ke mana, Bang?" tanya pakwa kemudian. 


"Ada urusan sama Ayah di luar, Pakwa." Aku melirik ke arah ayah. "Oh, iya. Hema agak kesulitan untuk menyampaikan ke keluarganya, Pakwa. Tadi dia telpon, katanya dimarahin dan dimaki-maki sama kakaknya. Aku pulang dari sini, janjikan mau bantu dia ngomong." Aku menyampaikan dengan apa adanya. 


Aku tidak memberitahu tujuanku pergi, karena aku merasa ini masalah intern. Tak sepatutnya aku mengumbar, apalagi memberitahu orang lain tentang kabar yang beresiko untuk pangkat om Vendra. 


Ya, mungkin berpengaruh. Aku tidak paham pasti juga, tapi aparat negara biasanya hanya diperbolehkan memiliki satu istri saja. 


Pakwa terkekeh kecil. "Bocah betul Hema ini, salutnya berani jujur."


Apa pakwa merasa cocok dengan Hema? 


"Iya, Pakwa. Tapi kesabarannya setipis tisu, dia tak mau jelasin dua kali kalau aku tak paham maksudnya." Pakwa harus tahu juga tentang Hema yang cukup emosian ini. 


"Ya bukan Hema aja, Pakwa dan yang lain pun sama. Kau baru sadar kalau diri kau begitu, kalau orang lain bereaksi dengan sifat lemot memahami maksud aja. Itulah mengapa pentingnya sadar diri." Pakwa tertawa lepas. 


Ia meledekku? 


"Wah, Pakwa ini. Jadi aku bilang apa ke Hemanya nih? Dia orangnya cemasan, minta aku sampaikan ke Pakwa." Aku melirik ke jam tangan yang terpasang di pergelangan tangan kiriku. 


"Iparnya Wildan ya? Hmm, ya udah mending Pakwa….

__ADS_1


...****************...


__ADS_2