
"Berangkat kuliah dulu, Kak." Hadi pamit pada Izza pukul setengah tujuh pagi ini.
"Oh ya, makasih ya?" Izza tersenyum ramah.
"Kau tak bawa tas, buku?" tanyaku kemudian.
"Di loker semua, Bang. Tiap hari juga aku berangkat orangnya aja, paling bawa tas untuk laptop kalau memang ada tugas." Ia menghentikan langkahnya sejenak, kemudian melanjutkan melangkah keluar ruangan.
Kami baru selesai sarapan bersama, dengan Hadi tentunya. Kasihan, masa iya tak diberi sarapan. Ia sudah menemaniku menjaga Izza semalaman di sini.
"Kapan aku bisa pulang, Bang?" Izza menurunkan ponselnya sejenak.
"Ya kalau sembuh. Kapan sembuhnya?" Aku tersenyum padanya.
Bagaimana ya caranya menyemangati dirinya?
"Memang aku bisa sembuh ya?" Dari pertanyaannya, seolah semangat hidupnya sudah habis.
"Kau tau tak, kalau lima dari enam perempuan itu memiliki fibroid. Pertambahan ukurannya itu butuh waktu yang lama, Za. Apa yang kau pikirkan, sampai sesetres ini?" Aku bertopang dagu dengan siku bertumpu pada tepian brankarnya.
Seputih ini kulitnya, tapi setelah menikah ia malah menjadi sekurus ini.
"Prosesnya menyakitkan, aku tak yakin kuat dengan prosesnya."
Proses yang mana yang menyakitkan? Aku menemaninya sejak awal, tapi tidak tahu proses mana yang menyakitkan.
"Sabar, biar kau tetap sehat untuk kita. Biar kau tak ngerasain lagi keluhan dari fibroidnya, biar kau enak di masa mendatang. Biar nanti kalau hamil pun tak ngerasain gak enak karena permasalahan fibroid itu." Aku memandangnya dalam.
"Sejak aku tau, kalau fibroid itu bisa menurun ke anak. Aku jadi tak kepengen hamil, Bang. Aku tak mau anak Abang menderita, karena aku mewariskan fibroid ke mereka."
__ADS_1
Aku tidak bisa berkata-kata lagi.
"Kau butuh psikolog, Za. Mungkin kau punya masalah besar dan tak mau cerita sama aku." Bukan aku menyerah menghadapinya, tapi aku tidak memiliki pilihan kata terbaik untuk menenangkan hatinya.
Kesabaranku setipis tisu. Aku sudah berusaha memberikan pemahaman untuknya, tapi ia yang menghancurkan pikirannya sendiri. Rasanya, sia-sia saja berbual banyak tapi ia tetap matang dengan pemikirannya sendiri.
"Jadi aku dianggap gila juga kah?" Air matanya menetes deras seketika.
Ya ampun, beginikah rasanya menghadapi jenis manusia terkuat di bumi?
Dasar, wanita!
"Kau mau aku gimana, Za? Aku udah ngasih pengertian ke kau, aku udah kasih pemahaman ke kau, aku udah kasih pencerahan dan semangat ke kau. Tapi nyatanya, kau punya pikiran ke mana-mana. Aku sebenarnya harus gimana? Coba kau kasih tau aku, baiknya aku ini harus gimana? Kau sendiri yang beranggapan bahwa penyakit kau begitu beratnya. Kau sendiri udah membayangkan, bahwa kau akan melahirkan keturunan yang tak sehat." Rasanya aku frustasi sendiri menghadapi dirinya.
"Abang tak ngerasain, Abang mudah ngomong karena tak tau rasanya jadi aku." Ia sesenggukan.
"Kau sendiri yang bilang, katanya kau tak merasakan gejalanya dengan kuat. Ngerasain yang bagaimana, Za? Penyakit kau bukan dikategorikan dalam penyakit berat, tapi kau kesannya udah sekarat duluan." Aku kurang pandai memilih kata, tapi aku ingin ia mengerti maksudku.
Mengertilah, Za. Aku hanya ingin kau baik-baik saja dan yang terbaik untuk kau. Aku tak mau kau tertimpa suatu kemalangan dan keburukkan, apalagi sampai nyawanya melayang. Aku belum bisa membahagiakanmu, jadi jagalah nyawa kau baik-baik.
Tangisnya semakin pecah, ia merengkuh tanganku dan ia dekap dalam dadanya.
"Aku tak anggap kau gila, tapi kalau kau berpikir bahwa aku tidak bisa menjaga permasalahan kau. Ya aku punya inisiatif, untuk kau ceritakan ke psikolog aja. Biar kau plong, biar kau tak punya unek-unek, biar tukak lambung kau tak kambuh terus. Fibroid kau tak buat kau kenapa-kenapa, tapi tukak lambung dan kurang darah kau buat kau selemah ini. Penyebabnya apa??? Pikiran, stress, kau pendam sendiri. Aku suami kau, aku teman hidup kau, untuk apa kau simpan unek-unek kau sendiri? Orang tua aku nanya, Izza ada masalah apa. Aku cuma bisa jawab, ya aku tak tau. Malu aku, pas mereka bilang suami kok tak tau masalah istrinya. Kau kenapa tak terus terang aja? Kenapa harus sampai begini? Kurang-kurangi beban pikiran kau, pikiran kau buat kau sampai kek gini loh. Kau harus happy terus, aku ngebebasin uang, kau tinggal beli apa yang kau ingin. Aku tak larang kau beli ini itu, aku tak larang kau melakukan apapun selagi itu bermakna positif." Tanganku yang lain mengusap pipinya.
"Maaf, Bang." Ia masih menangis.
Entah apa yang ia tangisi.
"Tak perlu minta maaf. Mulai sekarang, senangkan pikiran kau, hati kau. Tak perlu pikirkan penyakit kau, kita usahakan yang terbaik untuk diri kau. Jangan buat aku sedih, Za. Aku pengen kau sehat terus, Za."
__ADS_1
Ia mengangguk samar beberapa kali. Aku berharap, anggukkan adalah sebuah tanda bahwa ia benar-benar mengerti dan memahami maksudku.
"Permisi…."
Aku reflek langsung menarik tanganku.
"Ya, silahkan." Aku tersenyum pada perawat tersebut.
"Bu Izza, dibilas dulu ya? Boleh dibantu, Bapak." Perawat tersebut menutup rapat pintu, kemudian langsung ke kamar mandi. Mungkin ia akan mengambil air, atau semacamnya.
"Ayo, Za." Aku mengurus istriku dengan perawat wanita tersebut.
Ia cekatan dan tidak jijikan, mungkin itu sudah tugas yang biasa untuknya. Izza pun berganti pakaian lain, sayangnya diketahui ia tengah datang bulan kembali.
Bingung aku di sini, karena saat pemeriksaan MRI itu Izza baru selesai datang bulan. Hingga hari ini, kan belum ada satu minggu dari hari datang bulannya.
Sembari membereskan Izza, aku banyak bercakap-cakap dengan perawat tersebut. Aku pun menyampaikan, bahwa Izza baru selesai pemeriksaan MRI dan mendapat datang bulan kembali. Ia paham, kemudian ia berkata akan menyampaikan pada dokter yang menangani Izza.
Baru juga memenangkan Izza, kini Izza sudah murung kembali. Untungnya, saat siang hari ada kak Key dan kak Jasmine datang. Senyum dan tawa Izza, membuatku tenang. Mereka asyik mengobrol dan tertawa bersama.
Sampai kak Jasmine menghampiriku yang tengah duduk di sofa, dengan menikmati cemilan yang mereka bawa. Untungnya, Kaleel tidak dibawa. Jadi aku bisa santai, saat mereka tengah tertawa bersama.
"Waktu sidang Vano, kau tak hadir ya?"
Aku bisa apa, selain mengangguk. Karena memang aku tidak datang, saat itu aku menemani Izza periksa USG pertama yang dikira tengah hamil.
"Kau tau Ahyu?"
Bingung sudah aku menjawabnya.
__ADS_1
...****************...