Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA259. Ketakutan Nahda


__ADS_3

"Adek bilang kalau capek masak, sesekali tak apa makan di luar." Aku yakin ia suntuk dengan aktivitas rutin itu. 


Ia masih baru mengemban tugasnya, aku yakin dirinya kaget. 


"Tak juga, memang iri aja. Keknya, dia itu lebih spesial ketimbang aku." Ia memandang mataku. Namun, ia langsung mengalihkan pandangannya ketika aku balik memandang matanya. 


"Spesial karena?" Aku menaikan satu alisku. 


Aku tidak mengerti cara pandang Nahda terhadap Jessie. 


"Ya karena perkenalan singkat, tapi dia banyak foto berdua bareng Abang." Ia memeluk dadaku kembali. 


Bahkan aku tidak tahu jika Jessie mengambil foto kami bersama. Mungkin, masa itu aku tidak sadar keberadaan kamera. 


"Jangankan foto, video mesum pun ayo kita buat sekarang." Aku langsung membanting tubuhnya sampai pasrah di ranjang. 


"Tak lah, lagi tak mood aku. Masih kepikiran aja."


Tumben, dia tak mood nges**s. Mungkin semua perempuan jika hatinya tengah sensitif, tak mood untuk digauli rupanya. 


"Gimana? Gimana? Sok cerita biar plong." Aku berbagi bantal dengannya. 


Aku memeluknya dari samping, sedangkan dirinya menatap kosong plafon kamar kami. 


"Abang sebenarnya masih cinta sama Jessie tak sih?" Ia langsung menoleh dan menodongkan pertanyaan konyol padaku. 


Jadi, cemburu begitu? 


"Memang cinta itu gimana sih?" Aku ingin tahu perasaannya padaku. 


Konyol ya? Sudah suami istri, tapi perasaan cinta seolah begitu penting. Tapi aku penasaran saja sebetulnya. 


"Cinta itu, mungkin begini." Ia dadakan memelukku. 


Jadi, kita saling berpelukan. 


"Nyaman betul kalau udah dekat begini. Aku tak suka dengar Abang ada spesialkan perempuan lain, aku yang ngurusin Abang, tapi kenapa Abang kasih perlakuan spesial itu ke perempuan lain? Abang tak tau terima kasih tak sih? Aku capek loh, Bang. Jadi anaknya mama sama papa, tak mesti capek, aku tetap dapat uang dan kasih sayang. Jadi istrinya Abang, udah mana capek, dapat uang jatah tak seberapa, harus patuh dan melayani, ditambah harus mendoakan pula."


Wow, menikam sekali kejujurannya. 

__ADS_1


"Maaf ya, masih tak seberapa ngasihnya?" Aku mengusap-usap kepalanya. 


Istriku, bahkan ingin tidur pun aku memikirkan langkah untuk menjayakan masa depan kita. Jika terus di titik ini, kau harus lebih banyak bersabar menunggu jatah uang kau bertambah. 


Maaf, aku tersinggung. 


"Abang tak pernah spesialkan perempuan lain, Jessie datang sendiri ke rumah. Abang tak pernah ajak dia jalan, Abang tak pernah jemput di rumah orang tuanya secara sopan dan izin ke orang tuanya. Tak pernah Abang kasih uang, tak pernah Abang kasih dia sentuhan Abang sein*** ini. Masalah tempat makan, itu spontan aja karena kami pergi tanpa tujuan jelas. Abang menghindari tempat ramai, karena malu bukan muhrim tapi sedekat itu. Abang menghindari tempat yang terlampau sepi juga, untuk menghindari kegilaan Abang yang Abang tumpahkan ke Adek ini." Aku membingkai wajahnya, menatap dalam mata sayunya. 


Bibirnya bergetar, matanya basah dan air matanya menembus paksa membasahi pelipisnya. 


Kenapa ia menangis? 


"Kenapa tak bilang kek gini dari episode sebelumnya?" Ia langsung bersembunyi di dadaku. 


"Ya mungkin, biar dapat feelnya. Tapi ini lagi serius loh, Dek. Masalah episod, kita serahkan pada author aja." Aku mengusap-usap kepala belakangnya. 


"Ya tapi kan aku nungguin kata-kata penenang Abang." Tangisnya menjadi. 


Begitu ya yang perempuan inginkan? Kalimat penenang. Aku harus banyak lebih memahami tentang perempuan, semoga pun Nahda lebih banyak memahami perasaan dan ego laki-laki juga. 


"Tak suka dengar pengakuan Jessie tentang interaksi kalian." Nahda menggosok hidungnya yang berair. 


"Abang tak bisa kendalikan itu, kan Abang tak pernah cerita apapun ke Adek masalah Jessie. Karena selain tak sebaiknya diceritakan, Abang ngerasa dia bukan seseorang yang pantas diceritakan juga." Aku mengusap air hidungnya dengan dasternya sendiri. 


"Kenapa tak Abang bagi sama aku? Apa kenangan kalian begitu berharga?"


Kenapa sih Nahda drama sekali? 


"Ya kan, apa sih yang harus diceritakan? Yang Abang tau, ya aib dia semua. Kenangan apa? Ng***** kemarin lebih mengesankan, ketimbang kenangan sama yang lain." Iyalah, aku menang. 


Nahda tertawa kecil, ia meraup mulutku. Aku jadi teringat biyung yang suka meraup wajah ayah atau mencomot mulut ayah. 


"Yuk? Abang kan udah kasih kalimat penenang juga. Abang kerja untuk masa depan kita, Abang keluyuran untuk wawasan usaha kita. Abang cari uang, Adek bantu kumpulkan dan jaga menjadi aset untuk masa depan kita dan anak-anak kita." Aku mengusap perut datarnya. 


Seksi sekali pemilik body jam pasir ini. 


"Abang butuh modal? Pakai tabungan aku aja." Ia menyelaraskan kepalanya sama tingginya denganku, kemudian ia mengusap leherku. 


"Tak usah, ayah cover. Abang pinjam ke ayah, do'ain semoga hutang terlunaskan, usaha lancar, bisa bakti ke orang tua kita, bisa berbuah usaha baru yang tak kalah berhasilnya lagi." Aku ingin mencontoh panutanku. 

__ADS_1


"Aku tak bisa dengar hutang, aku udah stress nih. Hutang berapa? Kita jual emas-emas aja." Ia nampak frustasi seketika. 


"Hutang ke orang tua, Dek. Bukan hutang ke Bank, Adek tenang aja. Ini tak berjangka waktu, tak berbunga juga." Hutang di Bank pun ya aku tak berani. 


Lagian apa yang harus menjadi jaminan? Tanah rumah ini? Kan berdiri di tanah milik ayah, hanya bangunan yang menjadi milikku. Mobil baru itu, paling seberapa jika disekolahkan. Atau motor second itu? 


"Dicicil gitu kan?" Ia mewek kembali. 


Benarkah setakut itu ia pada hutang? Keren sekali. Saat Izza wafat, aku sempat menyelesaikan pembayaran pay latternya. Ya tidak besar, hanya beberapa ratus. Tapi Izza yang jelas memiliki tabungan saja, ia menggunakan pay latter begitu. Ini anak sultan, malah benar-benar takut hutang. 


"Ya yang penting lancar aja dulu usahanya, bisa diomongin nanti. Kek waktu tambak aja, ayah biasanya ambil sendiri berapa persen yang ia mau. Karena ayah pun bantu mengelola tambak Abang," terangku agar ia mau tenang. 


"Nanti kalau Abang wafat sebelum hutangnya lunas, kan aku yang nanggung."


😲


Pemikirannya begitu? 


"Berapa banyak hutangnya? Gimana caranya nanti aku lunasin?" Ia mencubit pelan dadaku. 


Nahdaku, Ya Allah. Jauh sekali pemikirannya, ia takut dibebankan membayar hutang itu. 


"Itu kemungkinan terburuknya. Kemungkinan yang buat was-was lagi, kalau usaha Abang mangkrak atau hasilnya tak sesuai. Bukannya kita untung, kita malah terlilit hutang." Ia membingkai wajahku, kemudian menarik-narik pipiku. 


Seperti itu ya kegelisahan seorang istri yang takut dengan resiko suaminya? 


"Berdoa yang baik, Sayang." Aku mengecup sekilas bibirnya. 


"Pasti, Abang. Pokoknya aku selalu berdoa, biar Abang bisa lunasi hutang-hutangnya sebelum wafat."


Mulutnya membuatku ingat dosa. 


"Ngomong yang baik coba, Dek. Abang takut tuh." Aku ingin menjitaknya saja rasanya. 


"Ya maksudnya tuh, pokoknya hutang kita harus cepat lunas. Jangan sampai anak ikut terbebani melunasi hutang-hutang orang tuanya yang udah wafat. Kasian, belum tentu mereka mampu. Ehh, udah dibebani hutang warisan aja." Jauh sekali pemikiran Nahda. 


"Iya, Sayang. Kita berdoa, berusaha agar hutang cepat lunas juga." Sepertinya lebih baik mengajak Nahda berhubungan suami istri, ketimbang mengobrol begini. 


Aku yang malah ingat mati jadinya, moodku sendiri yang hancur karena obrolan ini. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2