
"Beda berapa tahun berarti kau sama Nahda?" Mama mereda tawanya dari lontaran tak berguna dari Ra.
"Seumuran Ra kan, Ma?" Anak perempuan itu doyan mendaki gunung, aku jarang bertegur sapa dengannya.
Tubuhnya pun tinggi gagah seperti Ra, tapi molek dan feminim. Beberapa kali ia keluar pulau, hanya untuk menaklukkan gunung-gunung bersama teman-teman komunitas mendakinya. Anehnya lagi, ia dibebaskan dan dibolehkan. Malahan, Kal yang dijaga oleh Kaf terus jika keluar kota untuk tugas dan keperluan.
"Tua Ra, tapi masuk SDnya bareng. Jadi ya bareng, baru masuk kuliah juga."
Hah? Ternyata yang kemarin selalu keluar kota, keluar pulau sendirian itu anak SMA?
"Mama tega betul." Aku geleng-geleng kepala.
Selera makanku hilang, aku tiba-tiba pusing jika teringat resiko memiliki anak perempuan dan adik perempuan. Aku pernah menonton video dewasa, di mana si gadis Asia ini dipakai ramai-ramai oleh komunitas pendaki gunung. Kebetulan sekali, perempuan itu pun satu-satunya perempuan di kumpulan itu.
"Dikekang malah jadi Kaf, ditekankan malah jadi Kal. Dibebaskan yang malah aman." Mama Aca mengambil satu udang dari piring lauk di hadapanku.
Aku benar-benar meninggalkan sendokku. Aku sudah dalam mode serius, karena Kal dan Nahda pun adikku juga.
"Kal kenapa, Ma? Laki-laki lagi kah?" Ada apa dengan calon dokter hebat yang tengah mengejar sertifikat itu.
"Laki-laki sih bukan, tapi judinya kenceng." Mama Aca mengunyah makanannya.
Ya ampun, aku baru tahu.
"Mama tau, kenapa tak marahin?" Aku mendorong piringku ke depan, tanda aku menyerah dengan makanan ini.
Makanannya enak, hanya saja aku sudah tidak selera.
__ADS_1
"Mama tak bisa meledak-meledak kuat, papa tau yang koit bisa Kal. Bukan Mama nanti yang kena marah papa, tapi si Kal. Jadi ya marahin, ngasih tau, nasehatin juga, kek ngobrol biasa, sengaja biar papa tak tau. Sebenarnya pakai sisa uang jajan dia, sisa uang kebutuhan dia, dia pun jualin baju bekasnya, tas bekasnya, preloved gitu, ya mungkin untuk modal judinya. Jadi tak nampak anak itu mabuk judi, karena ya dia biasa aja, kek tak kekurangan apapun karena bukan ambil uang untuk kebutuhannya." Mama Aca melirik ke sekeliling, kemudian ia berbicara dengan pelan.
"Mama bisa kan selesaikan masalah itu?" Aku cemas mendengar kabar tentang Kal.
Ya Allah, berikan hidayah untuk calon dokter keluarga itu.
"Diselesaikan? Biar apa? Nanti juga berubah sendiri, biarin aja. Judi pun online, bukan dia kumpul di tengah laki-laki." Mama Aca nampak santai saja, bahkan ia mengambil udang yang berada di piringku.
"Makanya kenapa nenek kau ngajarin jangan ngobrol pas lagi makan, karena obrolan yang serius dan sensitif bisa hilangin selera makan." Mama Aca memandang wajahku.
Jadi beliau paham, jika aku hilang selera makan?
"Gih ambil minum." Mamah Aca menolehkan kepala ke arah galon.
"Ya, Ma." Aku beranjak untuk melihat isi kulkas, aku ingin air dingin.
Aku duduk kembali dengan membawa segelas air dingin, sedangkan Ra bergerak untuk mencuci piring.
"Nahda gimana, Ma?" Aku masih memiliki ganjalan dengan satu nama gadis itu.
"Aman aja, pendidikan pun ambil yang tentang perhutanan begitu." Ia pun santai saja dalam menjawab.
Kenapa ya pikirannya bisa sesantai itu? Apa karena Kal dan Kaf bukan anaknya? Tapi Nahda anak kandungnya dan Nahda pun anak perempuan. Namun, ia seolah tidak was-was begitu.
Yang aku kira ayah akan marah besar tentang Ra yang hobi balap, ternyata malah bergerak menjadi teman Ra modifikasi mobil dan mengarahkan Ra untuk mengembangkan hobinya di wadah yang benar. Ayah mendukung, meski aku paham hobi tersebut tidaklah aman.
"Mama tak khawatir? Kenapa Mama tak ajak papa untuk kerja sama dengan tingkah anak-anak yang menurut aku tak baik itu. Mama bayangan aja, kalau misalnya Nahda di komunitas pendaki yang dia sendiri perempuannya, sisanya laki-laki semua. Di hutan gunung, dipakai bersama itu dia, gimana nanti, Ma?" Aku mengeluarkan pemikiran burukku.
__ADS_1
"Shttttttttttttt…. Ngomong yang baik-baik aja. Mama pernah ikut mendaki, Mama tau dia bukan satu-satunya perempuan di sana. Mama pun tak diam aja, Mama kontrol dan cari tau. Tetap tenang, bukan berarti tak peduli juga. Tapi namanya anak-anak, dikekang dan dibatasi itu makin berani. Kenapa Mama bilang begini? Karena Mama merasakan sendiri, Mama pun tak mau anak Mama tumbuh jadi orang yang kek Mama. Mama tau alasan anak-anak memaksa itu kenapa, karena larangan orang tua dan ego mereka besar. Waktunya insaf, waktunya dapat hidayah, semuanya pun bakal ditinggalkan. Mama bilang begini, karena Mama merasakan tahap itu juga."
Aku tertegun.
Dalam tanda kutip, aku memahami bahwa seorang mama Aca adalah anak yang melakukan hal yang dilarang oleh orang tuanya. Pikiran jelekku, malah menyangka bahwa mama Aca tidak jauh beda seperti ayah.
"Jadi Mama biarkan aja gitu?" Aku masih belum terima dengan keputusan mama Aca yang mengambil sikap demikian.
"Rangkul aja, tak dilepasliarkan juga. Kaf pun masih Mama pantau, karena khawatir malah berlanjut jajal selang****** yang lain." Mama Aca menarik selembar tisu.
"Mama tak takut anak-anak Mama hilang perawan sebelum waktunya?" Aku berbicara lirih, khawatir didengar Ra.
"Yang disebut perawan itu apa sih? Perawan itu bukan tentang s****** d***h, tapi tentang ia sudah melakukan apa saja. Yang namanya perawan itu, benar-benar tak paham apapun tentang cara menyenangkan laki-laki atau menarik laki-laki." Mama Aca pun berbicara perlahan.
"Ya pokoknya itulah, memang Mama tak khawatir kah?" Aku melirik ke arah Ra yang berjalan ke arah sini.
"Nasi sisanya taruh di plastik yang beda, Dek. Terus sana naik ke atas, ke kamar Nahda." Mama Aca memberikan piring kotor milikku tadi.
Memang masih ada nasinya.
"Iya, Ma." Ra kembali bertindak.
Ia cekatan, tidak lemot seperti Cani. Gerakannya lincah, meski badannya besar dan tinggi.
"Ma…. Tak khawatir kah?" Aku menyenggol punggung tangan mama Aca.
"Semoga tak terjadi yang bukan-bukan. Misalkan memang ada hal yang tak terduga, yang meleset dari semua pemahaman yang udah Mama kasih ke mereka. Ya mereka sendiri yang merugi, bukan salah Mama, apalagi Mama gagal jadi orang tua. Mama udah banyak jelasin, obrolin, kasih pengetahuan, kasih ilmu yang sekiranya bermanfaat untuk kehidupan mereka, tapi kalau pada akhirnya mereka memilih untuk berbuat ke hal yang salah, ya itu resiko mereka sendiri. Kek contohnya anak SMA yang tawuran. Mama yakin orang tua mereka, guru-guru mereka itu tak kurang-kurangnya nasehatin. Tapi keputusan mereka turun ke jalan untuk ribut dengan sekolah lain kan, itu ada di diri mereka sendiri. Buktinya, tak seluruh anak SMA itu ikut tawuran. Ada yang benar pulang ke rumah langsung, ada juga yang mojok dulu di pesisir pantai atau di warnet. Ya itulah pilihan mereka sendiri, macam-macam. Mama udah berusaha, udah mencoba jadi orang tua yang baik sesuai ilmu parenting dan pengalaman Mama sendiri. Tapi kalau hasil akhirnya tak sesuai harapan Mama, itu bukan salah Mama dan mereka pun tetap jadi anak Mama juga. Mama tak akan nyalahin mereka, biar mereka belajar dari pengalaman mereka, karena selama ini Mama udah coba menjadi yang terbaik." Di akhir kalimat, mama Aca tersenyum lebar.
__ADS_1
...****************...