Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA278. Aksi Nahda


__ADS_3

"Panik, Nahdaku." Aku langsung menarik tangannya, setelah ia membuka pintu mobil. 


"Ya masa langsung kabur tanpa basa-basi, Bang. Nanti curiga dong mereka, nampak sekali aku ikuti seseorang." Nahda duduk dan membuka hijabnya itu. 


"Ayo jalan." Nahda bahkan membenahi cepolannya. 


Ia tidak menggunakan cepolan tambahan. Tapi rambutnya digulung karena panjang dan lebat juga, jadi yang cepolannya lumayan tinggi. 


"Udah dulu hari ininya, Dek. Tak bisa deh Abang kalau Adek nyamar begini, Abang tak tenang." Aku menggenggam kembali tangannya. 


"Tenang, aman kok." Nahda langsung mencium pipiku. 


"Adek tak diapa-apakan kan?" Aku langsung meraup bibirnya. 


Aku tak tega, karena penyamaran ini cukup beresiko menurutku. 


"Tak lah, lebay tuh." Nahda mengusap-usap rahangku. 


"Aku punya rencana, Bang. Kita ke tempat bahan baku jati, aku mau tanya-tanya dulu. Terus mau aku selipin tentang bang Dana, soalnya tadi aku direkomendasikan dia untuk ke tempat jati. Katanya, dia ngambil di sana juga." Nahda menaik turunkan alisnya. 


"Nanti Adek lagi yang turun, Abang mana tenang." Aku menghela napasku. 


"Tak apa, perjuangan kita sedikit lagi. Terus kita pesta di kamar." Ia memelukku. 


"Tiap hari juga bisa." Kami pasangan sah. 


"Ayolah, aku pengen pulang ke Aceh lagi sama Abang. Aku pasti bantuin kerjaan Abang, biar kita bisa nyaman di sana lagi. Aku ngerasa minoritas tau, Bang. Keknya asing tuh di sini." Nahda memeluk lenganku, ia menyandarkan kepalanya di sana. 


Ia ingin aku cepat selesai mengemban tugas ini, kemudian kumpul kembali di rumah sana. 


"Ya biar Abang yang berjuang dengan cara Abang." Aku merasa dirinya yang malah menyusun rencana untuk masalah ini. 


"Lemot, kurang sat set. Aku tuh tak sabar tuh, Bang." Nahda melepaskan pelukannya di lenganku, kemudian ia menghempaskan punggungnya. 


Ia membantuku, karena ia tak sabar dengan kinerjaku. Ya ampun, istriku. 


"Ya kan segala sesuatunya dipikirkan dan dirancang dulu, Dek. Abang tak diajarkan sat set dalam hidup, tapi mengamati dulu dan menyiapkan dulu." Ayah saja diam-diam bisa membereskan banyak usahanya. 


Aku yakin ayah mampu membereskan usaha ini, hanya saja sepertinya memang ayah inginnya memang aku yang datang mengurus. 


"Udah dirancang, tinggal ke lapangan. Abang ganteng ini ndut-ndutan, kek ragu untuk ambil gerakan." Nahda mengusap pelipisku. 


"Ya kan mengamati dulu, bukan ragu." Ternyata begitu penilaian Nahda. 

__ADS_1


"Tak lah, kita harus sat set. Aku tak bodoh kok, tenang aja. Aku ranking tiga dari SD, kemarin lulus SMA pun nilainya bagus makanya masuk universitas negeri dong." Nahda menata ulang hijabnya. 


Percaya sih, buktinya ia mampu menyamar seperti ini. 


"Ayo jalan, Bang. Kita langsung ke alamat ini." Nahda membiarkan hijabnya terbuka, sedangkan dirinya memperhatikan isi map lagi. 


"Iya, Sayang." Jika ia ingin agar ini cepat selesai, aku harus menyegerakannya. 


Istriku tidak betah di kota ini. 


Nahda turun kembali dari mobil, setelah datang ke tempat ulakan jati. Ia mengenakan style hijab yang sama seperti sebelumnya, mengenakan cadar. Seperti sudah janjian, bang Dana berada di depan tempat ulakan tersebut. Bahkan, ia menyambut Nahda yang turun dari mobil. 


Terang saja aku langsung menunduk, aku takut kaca film mobil rentalan ini kurang bagus. Bisa-bisa, bang Dana mengenaliku. Namun, sepertinya bang Dana tidak fokus memperhatikan mobil ini. Ia fokus menyambut Nahda dengan ramah, seolah dirinya tertarik dan ingin membantu Nahda. 


Aku yang takut selera Nahda pindah haluan, atau bisa saja Nahda terkecoh dengan mulut laki-laki itu. Ah, semoga Nahda tidak sampai dicolek apalagi dicium di dalam tempat ulakan jati itu. 


Penantian yang cukup panjang, aku menunggu sampai satu jam setengah di depan tempat ulakan ini. Aku tidak melihat motor bang Dana keluar dari tempat tersebut, saat Nahda sudah keluar dari tempat tersebut. 


"Alhamdulillah, Abang doa terus dari tadi." Aku menyambutnya dengan senang hati. 


"Makan yuk? Di tempat yang agak mahal tuh, mampu tak?" Nahda langsung melepaskan gaya hijabnya itu. 


"Adek tak apa-apa kan di dalam sana? Adek aman aja kah?" Aku membantunya menaruh tasnya di dasbor mobil. 


"Aku gerah, mau kipas-kipas dulu." Nahda mengambil map dan mengipasi wajahnya. 


Aroma parfumnya bertambah wangi ketika terkena keringat dan dikipasi begini. 


"Cerita dong, Dek." Aku menurunkan rem tanganku. 


Saat aku hendak melajukan mobilku, motor bang Dana keluar dan langsung ngebut putar balik. Sepertinya, ia menuju ke rumah mebel. Tapi ya aku tidak tahu pasti juga sih. 


"Nanti, makan dulu. Rumah makan seafood di H. Moel kata Google enak, Bang." Nahda tengah memainkan ponselnya sambil kipas-kipas. 


Padahal AC mobil menyala. 


"Arahnya ke mana, Dek?" Mungkin aku harus bersabar untuk mendengar ceritanya. 


"Dari sini lurus terus kok, Bang." Nahda menunjuk ke arah depan. 


Aku fokus mengemudi, ia anteng dengan ponselnya. Banyak pertanyaan yang ingin aku lontarkan, tapi aku sudah menebak jawabannya agar aku mau diam sampai ke tempat makan dan sampai selesai makan. 


Satu hal yang mengganjal di hati, apakah mereka membuat janji temu untuk ke ulakan jati itu. 

__ADS_1


"Hallo, assalamu'alaikum…."


Aku menoleh cepat ke samping kiri. Nahda tengah menghubungi siapa ya? 


"Ini Nahda, Om. Istrinya Bang Chandra, menantunya ayah Givan," terangnya di tengah ponsel yang menempel di telinganya. 


"Ohh, ayah udah telepon?" 


Apa Nahda menghubungi om Vendra? 


"Oh, iya. Nahda booking tiket dari sini ya, Om? Datang berapa orang? Biar disiapkan." Nahda melirik ke arahku sekilas, kemudian memperhatikan jalanan di depan lagi. 


Buat penasaran saja ini perempuan. 


"Siap, Om. Nanti dikirim alamatnya, Om." Nahda tersenyum manis. 


Apa isi pikiran perempuan berambut hitam dan lebat ini? 


"Iya, Om. Assalamu'alaikum." Nahda segera menurunkan ponselnya kembali. 


Aku menyentuh pahanya. "Siapa, Dek?" Aku mengusap-usap pahanya. 


"Udah, nanti aja ceritanya. Aku laper betul, Bang." Ia mengusap-usap perutnya. 


Penasaran setengah mati ya begini. 


"Adek bereskan semua?" tanyaku kemudian. 


Nahda anteng memainkan ponselnya begitu serius. "Udang asam manisnya enak, Bang." Ia malah menunjukkan layar ponselnya. 


Ampun. 


"Terserahlah." Aku penasaran malah jadi badmood sendiri. 


Nahda seolah tidak peduli dengan responku, sesekali ia hanya memberitahu arahan jalan ke arah rumah makan seafood tersebut. Selebihnya, ia fokus mengutak-atik ponselnya dengan aman. 


Ponselnya aman, ia tidak aktif kembali di grup mendaki. Sesekali, ia hanya membuka grupnya tanpa berinteraksi apapun. Bahkan, notifikasi dari grup tersebut tidak dinyalakan. 


Sampailah aku di tempat tujuan. Parkirnya lumayan penuh, mau tidak mau aku harus parkir di trotoar jalan agar Nahda bisa mencicipi makanan yang ia inginkan itu. 


Sepertinya, ia sudah mencari informasi secara lengkap. Benar-benar rumah makan yang memiliki kualitas dan harga yang keren, satu menunya saja bisa sampai setengah juta. 


Aku mampu memberikan, tapi semoga ia tidak mengungkit pasal aku pernah mengajak Jessie makan di tempat makan yang katanya mahal itu. Jurus perempuan adalah mengungkit, aku tidak suka serangan seperti itu. Karena semakin diungkit, akan semakin menyakiti hati mereka. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2