Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA111. Yang akan dirasakan Izza


__ADS_3

"Ayah hubungi ya orang asuransi, data Izza besok disiapkan. Biar orang asuransi datang, Ayah bisa langsung ajukan. Kemungkinan tuh, satu bulan baru bisa dipakai, tak langsung aktif dan tak langsung bisa digunakan. Jadi, kau pakai uang Ayah dulu nantinya." Ayah tak mengatakan seperti ini di kamar tadi. 


Aku semakin tidak enak hati pada ayah, aku terlalu merepotkan ayah. Kapan aku bisa mengganti jasa-jasa beliau? Aku sejak kecil merepotkan orang tua melulu. 


"Iya, Yah. Nanti dihitung aja, Yah. Aku secepatnya ganti." Aku harus bertanggung jawab dengan hutang-hutangku. 


"Tak usah dipikirkan, fokus penyembuhan istri kau aja. Ayah waktu temani biyung berjuang karena penyakit sejenis itu, masa mengandung Cala itu. Support mentalnya luar biasa, karena dia pikirannya udah mati aja. Kemungkinan pun, Izza pasti mikirnya buruk ke sana. Tentang gimana kau nanti kalau dia meninggal, gimana kau kalau tanpa dia lagi. Ngaco aja deh pikirannya, bikin kita tambah khawatir berlebihan. Satu yang Ayah pesankan ke kau. Kau harus punya pemikiran positif, biar dia merasakan hawa positif kau. Kau yakinkan dirinya, bahwa kau cuma miliknya, bahwa kau cuma ingin dirinya. Agak lebay sedikit tak apa, yang penting tersampaikan ke Izza. I love you, I miss you, Ayah keluarkan semua ke biyung kau. Karena pada dasarnya, perempuan tuh butuh kata-kata dari kita. Ibaratnya, bohong pun tak apa yang penting dia bisa yakin itu. Tapi kau jangan bohong juga, kasian Izza. Ayah pun telat nyadarinnya, untung masih bisa menyampaikan ke biyung. Biyung dulu keadaannya lebih parah, Bang. Hamil besar, perut besar betul. Urat-urat perut sampai kelihatan semua, badan kurus. Pipi biyung kau segitu cabinya, sampai kempot. Mata cekung dalam, bibir pucat terus. Kebanyakan dibawa tidur untuk ngelawan sakitnya tuh, mata sampai kuning warnanya. Kek kena penyakit yang amat fatal. Itu semua, demi nunggu Cala siap di dunia. Dia ini dilahirkan paksa lah kasarnya, untuk menyelamatkan nyawa biyung kau. Selepas kelahiran Cala, Ayah fokus ke biyung karena biyung tak bangun-bangun. Yang adzanin Cala papa Ghifar, yang urus administrasi Cala, kebutuhan Cala ya papa Ghifar juga. Ayah cuma yakin, Cala yang sebesar botol air mineral kemasan botol lima ratus mili itu pasti kuat dan sehat."


Ah, iya. Aku tahu, aku tahu. Aku ada di sana, waktu Cala dilahirkan. Anak itu benar-benar kecil, hanya sebesar air mineral kemasan botol sedang. Tulang-tulangnya begitu menonjol, hanya perut Cala saja yang terlihat besar. 


"Kau harus punya kepercayaan tinggi, bahwa Izza bisa dan mampu melewati itu semua. Kau pun harus yakin, kalau Izza bisa sehat lagi." Ayah tersenyum menenangkan. 


Ia tertunduk melihat ponselnya, mungkin ia tengah menghubungi orang asuransi itu.

__ADS_1


"Apa Ayah waktu itu pun amat percaya kalau biyung bisa sehat lagi?" tanyaku hati-hati. 


Ayah menjentikkan jarinya. "Ayah tak cuma percaya, tapi Ayah kasih pilihan biyung biar biyung langsung sembuh dalam segera. Yaitu, biyung tak usah hamil lagi masa itu."


"Maksudnya?" Aku mengerutkan dahiku. 


"Ada pilihan, di mana kista itu diangkat, dioperasi. Tapi pastinya, bayi biyung juga terangkat." Ayah menurunkan suaranya. 


"Sebegitu inginnya Ayah biyung sehat seketika, sampai Ayah tawarkan pilihan itu. Ayah tak mau biyung kenapa-kenapa. Pikir Ayah, Yang Kuasa pun pasti tahu kalau Ayah rela kehilangan anak Ayah yang masih di dalam kandungan itu, demi kebaikan istri Ayah. Pilihan yang sulit, amat sulit. Tapi kalau biyung kenapa-kenapa, Ayah pun pasti kenapa-kenapa. Sedangkan, anak kami banyak. Tanggung jawab Ayah besar, tanggungan Ayah besar. Kalau Ayah sampai kenapa-kenapa, gimana nanti dengan anak-anak Ayah? Itu yang ada di pikiran Ayah. Dari awal Ayah ini, Bang. Ayah rela diceraikan, daripada ditinggal mati. Karena diceraikan masih bisa melihat keadaan biyung kau kek gimana. Biyung kesusahan, Ayah bisa bantu. Suami baru biyung bermasalah, Ayah bisa ikut ngerecokin dan kawini biyung kau lagi." Ayah terkekeh kecil. Itu hanya gurauan kecil agar susana rileks, aku mengerti dan aku ikut tertawa. 


"Ayah bakal kenapa-kenapa juga, karena Ayah tak siap akan hal itu. Biyung itu, hidup Ayah. Ayah hidup setiap harinya lihat siapa, selain lihat anak-anak Ayah? Ya lihat biyung dari buka mata, sampai molor lagi. Terus, apa yang harus Ayah lihat kalau sampai biyung tiada?" Jakun ayah naik turun. 


"Kau kan tak punya pilihan terberat itu. Tapi…." Ayah menggantungkan kalimatnya. 

__ADS_1


"Tapi apa, Yah?" Aku menunggu lanjutan kalimat itu. 


"Tapi, kalau keadaan Izza udah parah. Kemudian kau disarankan agar Izza angkat rahim, dengan catatan kalian tak akan bisa punya keturunan. Ya, kalau Ayah pasti ambil keputusan untuk setuju dengan saran dokter itu. Karena Ayah mikir, anak itu tak harus kandung. Ya pikiran Ayah saat ini, bukan masa dulu."


Ayah seolah merefresh otakku. 


"Karena berarti, ujian terbesar kalian untuk menerima pasangan apa adanya itu di situ. Ayah dulu yang merasa sulit punya keturunan, ya kan posisi Ayah, bukan posisi Biyung. Sekalipun biyung ngomong beribu kali, tak apa. Tapi Ayah sedih, Ayah kecewa sama diri Ayah sendiri. Karena hakikatnya laki-laki itu menghamili istrinya. Ayah, seorang jantan, tak bisa menghamili istri, rusak tuh harga diri Ayah. Pikir Ayah begitu masa dulu. Karena Ayah di pihak tak suburnya, di pihak sakitnya, bisa dibilang di pihak Izza saat ini. Nah, sudut pandang Izza ya kurang lebih seperti yang Ayah rasakan. Tugas kau, bisa tak membangun kepercayaan diri untuk Izza? Bisa tak, untuk mengambil keputusan besar tanpa nyakitin Izza? Bisa tak buat mental Izza aman? Bisa tak lindungi Izza dari mulut-mulut orang yang tak bisa bertanggung jawab itu? Biyung mampu, dengan cara selalu ada di samping Ayah. Tersinggungnya Ayah, karena biyung terbiasa mengolah masakan yang pas matangnya agar gizinya tak hilang, yang terbiasa masak sayur setengah matang agar gizinya tak rusak karena pemanasan. Ditambah lagi, mata biyung kau sering lirik ke papa kau aja. Mental aman, tapi dirusak dengan kecurigaan. Nah, kau jangan contoh opsi biyung kau. Udah terjadi rahim diangkat, ya kau tak perlu kasih pantangan untuk Izza. Kau yang bisa jaga mata, karena kami yang memiliki kekurangan ini pasti sensitif betul kalau pasangan kita melirik ke mereka yang sempurna. Kau tak akan mengerti sulitnya kami, jadi biasakan diri kau sesuai ekspektasi kami. Minimalnya, jaga diri dan jaga perasaan kami." Setelah mengatakan hal itu, ayah berbicara dengan ponselnya. 


Seiring percakapannya dengan seseorang yang sepertinya orang asuransi. Pikiranku memutar ulang sudut pandang ayah tadi. 


Sekarang pun, Izza ada di pihak yang lemah dan ia pasti begitu sensitif. Untungnya, Bunga sudah dijemput pak wa sejak tiga hari belakangan. Salah lirik sedikit, bisa fatal Izza mengartikan. 


Aku harus banyak mengertikan Izza lagi, aku jangan banyak menuntut karena keadaannya tak memungkinkan untuk dituntut ini dan itu. Izza sehat pun, aku harus bersyukur banyak untuk itu. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2