
"Kok Abang yang jemput?" tanya calon istriku, dengan beberapa buku tebal di pelukannya.
"Heem, sekalian cek kesehatan sama vaksin." Aku membukakan pintu mobil dari dalam.
Aku diperintahkan ayah untuk vaksin dan cek darah di hari Senin siang ini, dengan secarik surat pengantar bahwa kami calon pengantin. Entah kapan ayah mendaftarkan dan mengurus pernikahan yang entah kapan akan dilaksanakannya, aku tidak tahu pasti tanggalnya.
"Abang? Sakit apa?" Nahda masuk dan duduk di sampingku.
Jadi ini calon istriku? Perawan yang dikira sudah aku nodai? Kenapa tidak aku nodai saja sekalian?
Aku mendekati pipinya, kemudian menghirup aroma kulit pipinya. Hanya menempelkan hidung, tapi Nahda langsung mengusap pipinya.
Sombong sekali penyebab salah paham ini.
"Abang!" Nahda memukul pahaku.
Aku tersenyum miring dan memalingkan wajahku ke arah lain. Aku tidak tahu penyebab jelasnya hingga aku dinikahkan kembali begini, meski baru rencana tapi aku merasa keberatan. Apalagi, harus menikah dengan sepupu sendiri begini.
"Abang kok jadi gitu sih? Katanya lagi sakit, nular nanti." Nahda malah mengenakan masker.
Kurang ajar!
"Siapa yang sakit?!" Jelas aku tersinggung.
"Abang sih, katanya mau cek kesehatan sama vaksin." Anak perempuan ini benar-benar.
Berapa usianya? Sekitar delapan belas tahunan.
"Kau tak tau kalau kita mau dikawinkan?!" Aku sulit mengontrol untuk tidak ngegas.
Ia malah terkekeh kecil. "Aku? Sama Abang?" Tawanya semakin renyah.
Ia pikir ini bercanda?
"Ini serius, Dek." Aku menekan suaraku.
Ia melirikku dan tersenyum manis. "Mimpi!" Senyumnya langsung berubah menjadi senyum jahat.
Apa otaknya isinya kriminal?
"Kau tak mungkin tak tau apa-apa kan?" Aku mengambil dompetku, kemudian menunjukkan secarik kertas yang terlipat rapih.
"Nih, calon pengantin." Aku membawa kertas tersebut ke depan matanya.
Ia mengambil kertas tersebut, kemudian membacanya dengan cermat. Setelah selesai melipat kembali kertas tersebut, ia menoleh padaku dengan ekspresi datar. Helaan napasnya terdengar panjang, kemudian ia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi.
__ADS_1
"Masa iya aku delapan belas tahun jadi ibu rumah tangga? Kapan aku naik-naik ke p***** gunungnya kalau begini?" Ia menatap lurus ke depan.
"Mimpi!" Aku membalikkan ucapan yang ia lontarkan.
Kini ia hanya mimpi untuk bisa naik-naik ke p***** gunung, karena kelak nanti aku tidak akan pernah mengizinkan.
Tangannya berada di atas pahaku, ia nampak melamun dengan pandangan kosong. Lalu, ia mengusap jakunku dan naik ke daguku.
Alahai, meremang sudah.
"Peluk, Bang." Ia langsung memelukku erat.
Kenapa gadis ini?
"Peluk aku!" Ia menepuk-nepuk punggungku.
"Iya." Di dalam mobil yang terparkir di depan halte bus ini, aku memeluk calon istriku yang membuat runyam pikiranku.
"Setelah haid, aku sulit rutin sholat lagi. Setelah sholat Subuh, aku terbiasa tidur sampai satu jam sebelum berangkat ke kampus. Aku tak bisa masak, masak nasi selalu gagal dan jadi bubur, aku pun kurang pandai nyetrika karena tak serapi hasil asisten rumah tangga. Kalau memang harusnya nikah sama abang sendiri, aku tak apa asal jangan dimarahin terus. Aku tak mau kuyup aku ngurusin suami sia-sia, karena suami malah kecewa dengan usaha aku dan marahin aku."
Kok jadi haru?
"Kenapa harus kuyup?" Kuyup adalah basah yang berlebihan.
"Karena pasti aku berdaster, lap tangan abis cuci piring dan cuci tangan ya di daster. Pagi-pagi udah repot, sampai abis mandi pun basah keringat lagi. Aku tak mau kuyup aku yang begini sia-sia nantinya, karena tak cocok dengan hati Abang." Ia masih memelukku.
"Terus Abang cari apa?" Ia kini memandangku.
Netranya begitu polos.
"Cari yang ada, Dek. Kantong kangguru, bebek berpelatuk, anak ayam mati seekor, si merah yang bisa ngomong 'percuma-percuma'." Aku mulai menyalakan mobilku lagi.
Ia terkekeh geli, menempatkan kembali tangannya di atas pahaku. "Itu sih burung titipannya temennya tok Dalang."
Rupanya ia tahu episode itu juga.
Setelah berpelukan dan bercanda sedikit, aku merasa hatiku lebih rileks menelan kenyataan ini.
Diam, Nahda hanya fokus pada ponselnya. Sepertinya ia tengah berkirim pesan dengan seseorang, senyumannya pun samar terukir seperti isi chatting itu menyenangkan.
"Ke tempat pod dulu, Bang. Aku tunjukin jalannya." Nahda memandang lurus ke depan.
"Iya." Aku belum berniat melarangnya berhenti, karena masih calon kan ada kemungkinan gagal.
Tapi kok ada ngenes-ngenesnya hati ini, saat sampai di tempat pod dan ada yang memanggil Nahda dengan sebutan sayang. Katanya, dia calon istriku? Tapi kok ada yang memanggilnya sayang? Tadi pun aku mengatakan bahwa calon itu masih bisa gagal, tapi kok sesak mendengar laki-laki memanggilnya sayang?
__ADS_1
"Free terus." Laki-laki tersebut tertawa renyah bersama Nahda.
Nahda meminta untuk digratiskan. Apa mereka berpacaran? Apa papa Ghifar tahu jika anaknya memiliki pacar?
Aku merangkulnya, menempatkan diriku lebih dekat dengannya. Laki-laki itu pun memandang kami, kemudian ia lanjut bekerja kembali.
"Ini ngurus pod terakhir, sebelum akad udah dibuang." Aku berbisik di dekat telinganya.
Nahda langsung bergidikan, kemudian ia mengusap telinganya yang terlapisi hijab. "Jangan napas di telinga, aku bukan kelomang." Ia melirikku.
"Ya kau paham tak?!" Aku menekan suaraku. Dadaku bersentuhan bahkan berdesakan dengan punggungnya.
Ia seperti ketakutan, mengangguk pun seperti dalam tekanan. Ia takut dengan laranganku, atau sikapku padanya? Tapi kok laki-laki tersebut diam saja? Ia tidak menegurku karena merangkul Nahda?
"Ini…." Pod tersebut telah siap.
Aku masih merangkul Nahda, seolah menjadikannya sebagai tawananku. "Bisa pakai debit?" tanyaku kemudian.
"Tak usah, Bang. Dia kawan sendiri kok." Ia tersenyum kaku.
Oh, kawan.
"Bisa pakai debit?!" Aku mengulang pertanyaan dengan penekanan.
"Bisa, bisa." Ia mengangguk-angguk cepat.
Aku melepaskan Nahda, kemudian mengambil kartu milikku di dalam dompet. Nahda melepaskan maskernya, ia nampak keringatan parah. Apa ia takut padaku?
Nahda menyimpan podnya, kemudian ia membelakangiku yang tengah melakukan pembayaran ini. Setelah selesai, aku merangkulnya dan menggiringnya ke dalam mobil kembali.
"Aku deg-degan, aku tak bisa dirangkul terus. Abang kenapa sih?" Nahda menyeka keringatnya dengan tisu, kemudian menghadapkan AC mobil ke wajahnya.
Aku terus memandangnya dari samping. Cantik juga gadis ini, penampilannya sederhana dan hijabnya menjuntai menutup dada. Pashmina biasa memang, tapi satu sisinya dimodel untuk menutup dadanya. Masih terlihat kekinian dan fashionable juga, ia keren dengan penampilannya.
"Cium boleh?" Aku tersenyum geli.
Niat isengku muncul begitu saja.
Nahda benar-benar begitu mepet dengan jendela mobil, bahkan wajahnya menempel di kaca jendela. "Aduh, Ya Allah." Ia berbicara pelan.
Namun, aku tetap mampu mendengarnya.
"Belum sampai aku ngerasain jadi anak muda di tahap nakal, badung, doyan keluyuran, udah mau dikawinin aja aku ini." Nahda tengah membatin seorang diri dengan masih begitu dekat dengan kaca jendela.
Aku tertawa geli, kemudian memeluknya dari belakang. Aku menariknya untuk berada di posisi semula, bukan begitu mepet di jendela.
__ADS_1
Sedikit kebersamaan, mampu mengikis rasa kesalku dengan keputusan orang tua. Tapi apakah benar diri ini benar-benar bisa menerima keputusan orang tua dan takdir yang sudah tertulis?
...****************...