Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA183. Emosi naik


__ADS_3

"Tak juga, Bang. Lagi meriksa rekam medis yang minta rujukan ke rumah sakit." Ada map hijau dengan sampul keras di tangannya. 


"Ya udah selesaikan dulu aja, Pakwa. Barangkali udah ditunggu surat rujukannya." Aku khawatirnya ini menyangkut nyawa. 


"Oke, sebentar ya?" Pakwa kembali memeriksa map tersebut. 


Aku mengangguk dan melihat-lihat ruangan beliau. Tidak seperti kamar bekerjanya, ruangan ini seperti ruangan dokter pada umumnya. 


Tak lama kemudian, pakwa izin keluar dan kembali dengan segera. Mungkin, ia hanya memberikan surat rujukan saja.


"Gimana, Bang? Tumben ke Pakwa, biasanya kasih kabar dulu." Pakwa menyalakan rokok di ruang yang harusnya bebas rokok. 


Ia dokter, man. Tapi merokok di ruang tugasnya. Setahuku memang tidak boleh, tapi aku tidak paham juga aturan menjadi seorang dokter. 


Exhaust menyala, ventilasi yang dipikirkan juga rupanya. 


"Mau ngobrol tentang Bunga, Pakwa. Tapi aku mau buat perjanjian dulu sama Pakwa." Aku duduk di sofa yang berada di depan jendela yang tidak bisa dibuka. 


Pakwa menarik kursi putar yang berada di depan meja kerjanya, kemudian membawa kursi tersebut untuk lebih dekat dengan posisiku. 


"Perjanjian gimana?" Pakwa mengetuk batang rokoknya di pot bunga besar yang berada di sebelah sofa single yang aku duduki ini. 


"Ya aku mau buat perjanjian sama Pakwa, ini serius." Aku tidak mau pakwa menganggap aku hanya bercanda. 


Pakwa memperhatikanku, diam dengan asap rokok yang berhembus. "Pakwa bisa kau percaya, Bang. Perjanjian gimana yang kau mau?" 


Benar, pakwa bisa dipercaya. Yang tidak bisa dipercaya itu ayah, sulit diajak kongkalikong. 


"Aku tak mau Bunga tau kedatangan aku ke Pakwa, aku tak mau Bunga tau kalau segala kabar yang datang tentangnya ke Pakwa itu berasal dari aku." Aku menyorot serius wajah dokter spesialis bedah umum ini. 

__ADS_1


Pakwa terdiam kembali, wajahnya datar seperti tengah mencari pemikirannya sendiri. Cukup lama, mungkin ada sampai tiga menit ia terdiam. 


"Kau punya masalah pribadi sama Bunga? Hubungan kau sama Bunga bermasalah kah?" Pakwa malah melontarkan pertanyaan, bukan malah mengiyakan janji yang aku pinta. 


"Pakwa pikirkan janji aku dulu, baru aku mau cerita semuanya, termasuk tentang yang Pakwa tanyakan barusan." Aku membuang napasku perlahan. 


"Oke." Pakwa menarik napasnya dalam. "Pakwa setuju, Pakwa janji jaga identitas kau dengan kabar yang kau bawa tentang Bunga." Pakwa berbicara mantap. 


"Oke, aku percaya dengan kesanggupan Pakwa. Jadi gini, Pakwa…." Aku mencari kalimat awal pengaduan yang ramah di jantung orang tua ini. 


"Terus terang aja, tak usah sembunyikan apa-apa tentang Bunga. Pakwa sadar diri gimana anak Pakwa." Pakwa mengusap bahuku. 


Aku mengangguk, aku berharap pakwa tidak terkena serangan jantung. "Sebelumnya, Pakwa harus tau kalau aku udah di titik capek nasehatin Bunga. Aku kecewa dengan pembelaannya, aku marah dengan caranya menyikapi nasehat aku. Aku mutusin untuk tak banyak bicara untuk nasehatin dia, tapi aku bakal jadi pengkhianat untuknya yang segala sesuatu yang tak sesuai dengan hati aku, aku bakal laporin ke Pakwa selaku orang tua kandungnya yang lebih hak."


"Kalau abangnya begitu, nanti dia sama siapa lagi?" Pakwa mengetuk kembali rokoknya ke pot bunga. 


Benar, aku jadi kasihan memikirkan fakta itu. Nanti Bunga dengan siapa lagi, kalau tidak dengan aku? Siapa yang akan peduli dan menasehatinya lagi, jika aku begitu? 


"Tapi Pakwa, aku capek dengan sikapnya. Jujur aja, aku lebih suka dia yang nangis-nangis ngakuin kesalahannya dan kebodohannya. Ketimbang, dia yang cari pembelaan dengan kesalahan yang udah dia perbuat. Dia seolah bangga, bukan menyesal karena ketahuan aku." Jika adik kandungku sendiri, aku tak akan segan menyeretnya dan menguncinya di kamar mandi. 


Sayangnya, Bunga bukan adik kandungku. Aku khawatir orang tuanya tidak terima, jika aku bertindak tegas pada anaknya itu. 


"Memang Bunga buat kesalahan apa sampai kau semarah itu?"


Oke, mungkin sudah waktunya membuka semua aib Bunga. Semoga Yang Kuasa melindungi aibku, aku tidak bermaksud mengumbar aib orang lain, aku hanya bermaksud untuk menyampaikan ke orang tuanya tentang bagaimana Bunga. 


"Dia melakukan hubungan suami istri, di dalam mobil, di dalam ladang kopi yang baru siap peremajaan. Di dalam ladangnya, mobilnya turun dari jalanan panen," ungkapku kemudian. 


Sorot mata pakwa seketika kosong menatap jendela ruangan yang terpasang paten tersebut. Wajahnya datar dengan tatapan kondisi muka yang membingungkan. Aku tidak bisa menebak suasana hatinya sekarang. 

__ADS_1


"Jangan kasih tau Pakwa siapa laki-lakinya. Tapi yang jelas, itu bukan kau kan?" Telapak tangan pakwa seketika mengepal erat. 


Pasti pakwa sekarang emosi tak terkira. 


"Bukan aku lah, Pakwa. Kalau aku laki-lakinya, ya mungkin tak akan sampai ke Pakwa juga kabar ini."


Sungguh aku panik seketika, pakwa tiba-tiba langsung menarik kerah bajuku. Matanya melotot-melotot di depan wajahku, aku khawatir ia malah cekat-cekat terkena serangan jantung. 


"Maaf, Pakwa. Salah bicara kah aku ini?" Aku tidak bisa meraba kesalahan mulutku sendiri. 


"Ampun anak Cendol!" Pakwa melepaskan cekalan tangannya di kerah bajuku, dengan sedikit mendorongku. 


Buat panik saja! 


Aku membenahi bajuku, agar rapi dan tidak nampak kusut. Kasihan asisten rumah tangga di rumah, ia sudah lelah bekerja ditambah harus mengurus pakaianku dan harus menyetrikanya juga. 


"Terus gimana lagi ceritanya?" tanya pakwa kemudian. 


Pakwa tak ingin tahu laki-lakinya, kenapa ya? Jadi, bagaimana caranya aku bercerita tentang Hema? 


Apa aku menyebut Hema sebagai 'laki-lakinya Bunga' saja? Agar aku tetap menyampaikan etika baik Hema, tanpa memberitahu siapa Hema sekarang ini. Namun, cepat atau lambat pun pakwa akan tahu siapa Hema. Untuk apa aku menjaga identitas Hema, jika akhirnya akan diketahui juga? 


Suka tumpul pikiran jika di suasana tegang seperti ini, baiknya bagaimana ya? Masa menyudahi laporannya? Kan belum apa-apa, baru pokok permasalahannya saja itu sih. 


"Terus gimana lagi, Bang?" Pakwa bangkit dari duduknya, kemudian ia berdiri di depan jendela paten itu. 


Tangannya bersedekap, tapi mengepal kuat. Pakwa seperti akan menghancurkan barang untuk menuntaskan emosinya, atau ia akan menghancurkan aku? 


"TERUS GIMANA LAGI, BANG?!!" seru pakwa di atas kepalaku. 

__ADS_1


Ya ampun, aku sampai tersentak bukan main kagetnya. 


...****************...


__ADS_2