
"Hah?"
Suara kaget Hema terdengar jelas.
"Gimana kau mau nuntun anak Saya, Hem? Gimana kau mau didik anak Saya? Gimana kau mau urus anak Saya?" Pakwa menepuk-nepuk pundak Hema.
"Aku butuh waktu dan proses, Pak. Aku tak bisa janjikan setelah aku pinang, Bunga langsung berubah jadi sholehah. Apalagi keadaan aku pun masih tahap pengobatan, masanya aku kambuh, aku pasti kacau dan butuh orang terdekat juga untuk bawa aku ke psikiater secepatnya. Intinya, kita sama-sama memperbaiki. Aku tak mempermasalahkan minuman keras, ini itu, karena aku takut keburukan aku diungkit juga. Aku sadar diri siapa aku, ngaji diri itu penting. Yang jelas, aku paham bahwa Bunga harus aku bimbing. Aku tak bisa merubah hidupnya sembilan belas tahun kemarin, aku pun tak bisa merubah hidupku dua puluh dua tahun kemarin, tapi aku berusaha untuk merubah masa depan kami agar masa lalu tak berkepanjangan."
Aku ingin bertepuk tangan mendengar kalimat terakhir Hema. Kami manusia, tidak bisa merubah masa-masa yang sudah terlewat. Tetapi kita bisa memperbaiki kehidupan kita di masa depan, dengan perubahan menjadi pribadi yang lebih baik.
"Kalau kau serepot itu urus diri kau sendiri, apa kau akan buat susah hidup anak Saya?" Mulut pakwa tajam sekali.
"Namanya partner hidup, inginnya pun aku tak mau buat susah dia. Tapi kalau aku kenapa-napa, Bunga juga bakal menderita. Aku tak mau repotin siapapun, tapi nyatanya aku butuh bantuan orang lain. Gimana? Kita makhluk sosial, Pak." Hema berhadapan dengan pakwa di depan rak tanam.
"Datangkan keluarga kau malam nanti abis Isya." Pakwa menepuk pundak Hema sekali, kemudian ia berlalu pergi keluar dari kamar.
"Loh? Yah?" Bunga nampak bingung melihat ayahnya pergi.
"Nanti tiap hari bakal mandi besar, cuci baju, nyetrika baju, buat sarapan, beres-beres rumah, nyapu, ngepel, ng****t jangan lupa." Ayah menepuk pundak Bunga sembari tertawa renyah, ayah pun perlahan turun dari ranjang dan keluar dari kamar.
Namun, sebelum ia pergi. Ayah sempat mengeluarkan suaranya kembali.
"Temani pemuda pemudi itu, Bang. Terus ajak pulang laki-lakinya," ucap ayah tanpa menoleh ke arahku.
"Iya, Yah." Aku memilih untuk merebahkan tubuhku.
Penatnya hari ini, kapan aku akan berbicara dengan ayah mengenai Ra? Aku melihat Hema membuka kembali lemari pendingin tersebut, kemudian memperhatikan isinya.
Aku ingin mengecek ponselku, membuka aplikasi chatting dan melihat orang-orang yang membuat status di sana. Jessie menjadi orang teratas yang membuat story di aplikasi tersebut, aku pun tertarik untuk melihatnya.
Indahnya pusar bertahta permata itu. Ehh, tapi kenapa ia memajang dirinya di storynya?
"Siapa, Bang?" Bunga melongok ke arah ponselku.
"Ehh, tak apa." Aku langsung buru-buru menarik ponselku.
Bunga lebih dulu melihat sepertinya, ia terkekeh geli dengan menunjuk wajahku. "Coba ah lihat dulu." Ia mengambil ponselnya di bawah bantal.
__ADS_1
"Ehh….. Dia ngirim PAP ke Abang kah? Kok statusnya tak ada di aku? Apa aku di hide?" Bunga menunjukkan layar ponselnya.
"Status siapa?" Hema berjalan kembali ke arah ranjang.
"Itu, Jessie." Bunga memandang Hema sekilas, kemudian memperhatikan layar ponselnya kembali.
"Coba lihat lagi statusnya masih ada tak, Bang? Udah dihapus kah rupanya?" Bunga menunjuk ponselku.
"Masih ada kok." Kali ini aku menunjukkan story Jessie pada Bunga.
"Wah, aku di hide berarti." Bunga geleng-geleng kepala.
"Bisa jadi statusnya sengaja dibagikan ke Bang Chandra aja, kan bisa begitu juga." Hema duduk lagi di tempatnya semula, yaitu ujung ranjang.
"Betul, bisa jadi." Bunga menjentikkan jarinya.
"Atas dasar apa dia begitu?" Aku mengerutkan keningnya.
"Atas dasar incaran," jawab Hema dengan terkekeh geli.
"Ehh, aku bener pengen tau. Sebenarnya, dia di sana jual diri tak?" Aku menaruh ponselku di depanku, kemudian memandang Hema yang berada satu meter di hadapanku.
Aku reflek menoleh ke arah Bunga, aku ingin tahu bagaimana responnya mendengar hal itu. Namun, aku malah mendapatinya tengah menyalakan rokok. Ia seperti santai saja, mendengar calon suaminya menawar perempuan begitu mahalnya.
"Tahun berapa?" tanya Bunga kemudian, dengan menghembuskan asap rokoknya.
"Apanya?" Hema mengerutkan keningnya.
"Nawarnya tuh," ujarku kemudian.
Bunga menepuk lenganku. "Bukanlah, Bang. Tahun keluaran mobil Avanzanya, tahun berapa? Kan beda harganya matic, manual, tipe G, Veloz, kan ada macemnya."
Detik itu juga, aku dan Hema saling memandang dan tertawa terbahak-bahak.
"Dih, malah ngakak?" Bunga geleng-geleng kepala, dengan lanjut merokok kembali.
"Terus, pas kau tawar seharga Avanza tuh dia mau tak?" tanyaku pada Hema.
__ADS_1
"Tak mau dia, Bang. Dia itu sama managernya terus, katanya juga sih managernya sih bapaknya sendiri." Hema mengambil bungkus rokok Bunga, yang berada di hadapan Bunga.
"Bagi ya?" ujar Hema dengan memandang wajah Bunga.
"Heem." Bunga menganggukkan kepalanya.
"Bapaknya jadi manager anaknya sendiri gitu?" Aku masih tidak percaya dengan ucapan Hema.
"Betul, katanya itu juga. Bapaknya juga b****r besar sih, Bang. Lagian kau tak ada perempuan lain kah, Bang? Aku tak suka sendiri, dengar kau tanya-tanya soal Jessie. Siapa kek, janda pirang kek, janda kembang, janda beranak kek, gadis penuh misteri kau kepoin. Bukan apa-apa, Bang. Mulutnya ini manis betul waktu narik user dulu, aku trauma sendiri dengan perempuan kek gitu. Kalau nanti serumah sama Abang, terus dia jualan barang haram lagi di belakang Abang, gimana? Karena omsetnya bukan main, dia pasti tergiur daripada capek ngemis pendapatan ke suami." Hema nampak terpancing emosi dari raut wajahnya.
"Gara-gara kau tak dapat dengan dia seharga mobil Avanza itu, kau jadi benci ke dia kah, Hem?" Logika sekali pertanyaan Bunga.
Laki-laki ditolak cintanya maksudnya begitu.
"Tak juga, nawar juga iseng. Masa-masa itu, aku tak gila s**s. Rasanya tuh lebih candu dari barang itu, ketimbang dengan perempuan. Pergaulan, kehebohan, tawaran nyaman yang diberikan, ngerasa ganteng dan rileks, itu lebih memabukkan dari rasanya perempuan. Menurut aku, di masa itu." Rokok pun mengepul dari mulut Hema.
"Kau hilang perjaka umur berapa, Hem?" Bunga menanyakan hal seperti itu pada calon suaminya di depanku.
Agak tidak waras perempuan ini.
"Berapa ya? Tujuh belas tahun keknya, sakit, jadi kek kapok gitu. Jarang lah, bisa dihitung jari."
Hema juga sama saja, bisa-bisanya ia menjawab jujur.
"Satu sampai seratus pun bisa dihitung jari kali!" Bunga melirik sinis.
"Lagian untuk apa sih kau tau, Dek? Kau pun s**s udah berkali-kali juga kali." Aku merasa Bunga tidak sadar bagaimana dirinya sendiri.
"Aman aku, Bunga." Hema berbicara dengan lembut.
"Aman! Aman! Tau-tau nanti tiba-tiba ada yang DM, gimana Hema, masih enak kan." Nampak sekali Bunga seperti cemburu.
Begini ya sifat perempuan?
"Masih enak kok." Hema tertawa geli dengan memperhatikan ujung rokoknya.
Jessie dibayar seharga Avanza tidak mau, apa semahal itu tarifnya? Atau memang ia tidak menjual dirinya? Lalu, kenapa ia terkesan banting harga padaku?
__ADS_1
...****************...