Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA49. Permohonan maaf


__ADS_3

"Ya Allah, kau ini, Nak." Rohan merasa dirinya berada di titik terendahnya. 


"Bukan Saya jahat, atau memanfaatkan anak Bapak. Tapi Saya atau Hadi benar-benar tak melakukannya." Chandra mencoba membuat ayah dari Sekar percaya padanya. 


"Tapi kan buktinya kau punya klise bayangan itu, Di. Juga keadaanku jadinya begini!" Telunjuk Sekar terarah ke arah Hadi. 


"Ada korban sebenarnya, dari tindakan kau. Kau bisa dikenakan sanksi dalam hukum, kalau kau ketahuan kasih obat ke minuman aku. Terus tentang keadaan kau, kaun harusnya terung terang aja kalau keadaan kau memang udah kek gitu dari kemarin. Kenapa kau minta tanggung jawabnya ke aku? Kenapa kau minta tanggung jawabnya ke Bang Chandra? Bukannya kau udah kek gitu, dari sebelum kenal aku?" Hadi bergerak maju sedikit, kemudian ia menurunkan telunjuk tangan Sekar yang terarah ke arahnya. 


"Dek, ngomong aja yang jujur. Bapak udah banyak malu, Dek. Bapak capek karena ternyata apa yang kau bilang itu selalu tak benar." Kadar kepercayaan Rohan pada anaknya langsung berkurang. 


Sekar menoleh ke arah ayahnya dengan tatapan kaget. "Pak, ini putri Bapak. Putri Bapak yang jadi korban!" Sekar menunjuk dadanya sendiri. 


"Tapi kenapa tentang kejadian semalam kau bohong? Chandra jelas tak datang jemput kau? Terus siapa yang jemput kau? Kenapa tak terus terang aja ke orang tua, kalau kau dijemput lelaki lain? Apa harus keluarga teungku haji ingin kau? Tak Hadi, kau tarik Chandra. Mereka bahkan tak merasa, Dek." Emosi Rohan meluap, ia amat begitu kecewa karena ternyata anaknya membohonginya. 


"Jadi Bapak lebih percaya ke mereka? Mereka orang kaya, mereka dari kalangan atas, wajar kalau mereka menindas kita orang bawah." Sekar membuat keluarga Riyana geleng-geleng. 

__ADS_1


"Sekar, ini bukan tentang si kaya dan si miskin. Gini aja, kau mau kah ini di bawah ke pengadilan aja? Jujur aja, kita semua ini muak loh. Kau selalu beranggapan, kita ini buka fakta bohong dan kau korban terbesarnya. Kalau harus terus terang, Saya berpikir kau bakal buat tambah ribet masalah ini. Tapi kita pun punya kebenaran, bahwa kau orang pertama yang ngajak untuk datang ke club malam. Kau pun orang yang kasih obat ke Hadi, sampai Hadi lepas kontrol. Hukumannya tak main-min, Kar. Kau bisa kena kurungan penjara, kau pun bisa kena denda. Apalagi, secara tidak langsung kau adalah orang yang buat keadaan Ceysa jadi begini." Penuturan Givan membuat keluarga Sekar bertanya-tanya. Ada apa sebenarnya? Kenapa keluarga Riyana tersebut begitu ngotot untuk di bawah ke hukum negara saja? 


"Kau udah salah betul, Dek. Dengan kau memperpanjang masalah ini dan terus tak jujur, Bapak bakal bertambah malu betul." Rohan sudah benar-benar hilang percaya pada anaknya. Bukan karena kejadian semalam saja, tapi tentang kebenaran club malam dan obat di minuman Hadi tersebut. 


"Loh? Bapak gitu? Bapak tak percaya sama aku?" Sekar tidak mengerti kenapa bapaknya lebih memihak pada keluarga Riyana. 


"Terus terang yang sebenarnya gimana, Di? Bang Chandra? Saya yang tak tau apa-apa, ngerasa serba bingung kalau kalian terus menyudutkan Sekar. Tapi, pokok permasalahan terbesarnya tidak begitu gamblang. Kalau memang Sekar yang ajak ke club malam, terus kasih obat ke minuman Hadi. Saya selaku orang tua minta maaf yang sebesar-besarnya, alhamdulillahnya tak terjadi sesuatu yang buruk ke Hadi. Untuk fitnah semalam, Saya pun mohon maaf. Tolong, jangan diperpanjang masalah ini. Saya tau apa hukuman untuk tukang fitnah di sini, Saya tau apa hukuman untuk seseorang yang mengajak untuk menikmati miras. Saya mohon maaf, Saya berjanji juga untuk menata kembali pribadi Sekar." Samia cukup takut, karena sadar anaknya bersalah. Ia teringat dengan seseorang yang bermain fitnah dengan keluarga tersebut, lalu diberi hukuman terbanyak sepanjang sejarah kampung tersebut. Ia tidak mau, selanjutnya adalah anaknya. 


"Saya juga mohon maaf atas nama anak Saya dan keluarga Saya, Saya berharap ini tidak dibawa ke hukum daerah atau hukum negara." Rohan menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dadanya. 


Ia tahu anaknya merasa dirugikan, tapi ia merasa akan lebih tersakiti jika sampai anaknya terbawa dengan hukum. Ia masih begitu bingung, apa cerita sebenarnya. Tapi, ia merasa cukup takut karena jelas tidak hanya satu kesalahan yang anaknya lakukan. 


Givan sudah menduga, bahwa anak daeng tersebut akan berlaku nekat. Padahal, ia sudah mewanti-wanti agar kebenaran itu tidak perlu diungkapkan jika keluarga Sekar sudah menyadari kesalahannya. 


"Mari." Samia langsung mengajak Ceysa ke ruang kamar Sekar. Hanya mereka berdua, tidak ada orang lain yang ikut mendengarkan. 

__ADS_1


Givan sudah menebak, tentang apa yang akan anaknya katakan. Ia tentu khawatir, akan kehidupan anaknya yang semakin terusik. Ia harus benar-benar bisa mengontrol keluarga Sekar, agar tidak semakin menyandung kehidupan mereka. 


"Bu, Ibu tak boleh ceritakan ke siapapun. Semisal suami Ibu ingin tau, pastikan suami Ibu tak membeberkan ke siapapun. Anak Ibu pun tak boleh tau, cukup Ibu aja. Karena kalau sampai hal ini didengar oleh orang lain, ayah Saya jelas pasti akan lebih murka dari kali ini." Ceysa menggenggam tangan Samia, dengan sorot matanya yang langsung mengunci dan membuat lawan bicaranya patuh dengan ucapannya. 


"Iya, Dek Ceysa. Dek Ceysa bisa pegang kata-kata Ibu, dari awal pun Ibu tak pernah mendukung bapak untuk datang ke rumah kalian. Tapi adik iparnya, Ardi itu. Dia dukung dan semakin memanas-manasi hati bapak. Makanya, Ibu tak pernah mau ikut datang." Samia berkata jujur, sesuai fakta keluarganya. 


Ceysa mengangguk. "Ibu harus bisa kondisikan mulut suami Ibu, jika memang Ibu pengen cerita juga ke suami Ibu."


Samia menggeleng. "Saya tak berniat ceritakan ke beliau, Saya tau dia sama kek anaknya dan keluarganya. Saya juga udah capek betul hidup sama dia, tapi malu untuk berpisah karena udah tua." Samia sedikit mengeluarkan tentang apa yang ada di lubuk hatinya. 


"Saya mulai cerita ya, Bu?" Ceysa tidak ingin turut campur dalam permasalahan rumah tangga orang tua Sekar tersebut. Menurutnya, itu bukan masalahnya. 


Anggukkan dari kepala Samia, diikuti dengan tarikan nafas panjang dari Ceysa. Ceysa bersiap untuk menceritakan semua hal, yang menjadi bagian terbesar dari kehidupannya ini. 


"Masa liburan tiba, Sekar dan Hadi datang ke Singapore. Mereka masih berteman, Saya pun memahami ketertarikan Sekar pada Hadi. Bukan Saya ingin mengklaim bahwa Hadi adalah milik Saya sejak kecil, tapi Saya lebih berhak karena Saya yang menanggung resiko dari tindakan Sekar." Perlahan-lahan, Ceysa mulai mengupas sedikit tentang fakta pahit itu. 

__ADS_1


Samia mengerutkan keningnya. Pertanyaan mulai muncul di kepalanya, karena nama anaknya sudah ditarik oleh anak juragan di kampungnya tersebut dalam ceritanya. 


...****************...


__ADS_2