
"Ke mana, Bang? Bang, Abang bisa ikutin mobil aku untuk pastiin Bunga benar aku antar," ujar Hema, saat aku berjalan kembali ke arah motorku.
"Terserah kau mau lanjutin atau mau antar langsung." Aku hanya pura-pura tidak peduli.
Yang jelas, jika ia sampai sana lebih lama berarti mereka melanjutkan kegiatan mereka. Tak masalah, akan aku tambahkan laporan aku meski hanya tentang mengantar saja.
"Tenang, Bang. Aku antar dia langsung sekarang juga."
Hema benar-benar dengan ucapannya, aku merasa motorku diikuti oleh mobil Hema keluar area ladang. Tujuanku hilang, yaitu mencari Ra. Tujuanku sekarang adalah pulang ke rumah, memastikan juga jika benar Hema mengantar Bunga ke rumah.
Aku akan menyusun banyak aduan tentang Ra pada ayah, aku pun sudah menyusun banyak laporan untuk pakwa tentang anak perempuannya. Mungkin ayah pun perlu tahu tentang Bunga, tapi aku akan mengutamakan tentang fakta yang aku tahu tentang Ra.
Aku berhenti di depan pagar rumahku. Aku berusaha membuka pagar rumah, tapi pandangan mataku terarah pada mobil Hema yang berhenti di depan pagar rumah megah itu.
Tak cuma Bunga yang keluar, Hema pun turun dan berjalan ke arahku dengan langkah cepat. Entah apa tujuannya untuk menghampiriku di sini, aku tidak tahu pasti dan aku tidak berpikir untuk menebaknya.
"Bang, ikut ke rumah dulu. Aku pengen ada sedikit ngobrol sama Abang," ungkapnya cepat, ketika jaraknya mulai dekat denganku.
"Bentar, aku taruh motor dulu." Karena tanggung, gerbang sudah terbuka.
__ADS_1
"Oh, oke. Aku tunggu di teras rumah yang Bunga tempati." Hema mengangguk, kemudian ia berbalik badan dan pergi.
Rumahku cukup sepi, karena adik-adikku masih berada di sekolah mereka masing-masing. Aku kembali keluar dari halaman rumah, begitu selesai memarkirkan motorku dengan aman.
Hema ada di teras rumah, ia duduk berselonjor kaki dengan Bunga berjongkok memberikan gelas tinggi yang berwarna. Sepertinya itu es, dengan warna oranye yang kemungkinan adalah rasa jeruk atau mangga.
"Aku ke dalam dulu, kau nanti langsung pulang aja tak apa," ujar Bunga pada Hema, dengan memeluk nampan.
Ternyata ada dua gelas es oranye tersebut.
Hema hanya mengangguk, ia menyodorkan es tersebut persis di depanku duduk. Kami duduk beriringan, dengan jarak satu meteran.
Ingin apalagi sih si Bunga ini? Ia ingin tetap melakukan kegiatan dosa tersebut, begitu?
"Sejujurnya, untuk apa kau berniat lamar dia?" tanyaku kemudian.
"Sebagai tanggung jawab aku, Bang. Tadi aku bilang ke Abang, hamil atau tidaknya Bunga, aku tetap akan bertanggung jawab. Tapi memang hal ini belum Bunga ketahui, Bunga baru tau tadi pas jalan pulang. Terus gimana sekarang, Bunga nolak untuk aku kasih kepastian?" Hema menyeruput esnya, setelah selesai berbicara.
"Kalau kau langsung datang dengan keluarga, gimana? Kan orang tuanya yang mutusin juga." Aku melakukan hal yang sama dengan es oranye ini.
__ADS_1
"Eh, Bang. Ini perempuan yang mau aku kasih komitmen, dia tak mau. Aku ini kasih komitmen untuk dia, bukan untuk orang tuanya. Kalau tau akhirnya dia sesulit ini, tak akan aku mau-mau begini-begitu. Kepikiran aku, Bang. Resiko ini, tak main-main. Tadi kami tak pakai pengaman, aku tau aku belum selesai. Tapi ada namanya air prae********, yang kemungkinan bisa aja ngandung benih aku. Nah kalau kebetulan Bunga lagi subur, bisa aja dia hamil meski aku belum selesai kek tadi. Kalau udah begini, ini bukan malu dan pusing lagi. Bisa pecah kepala aku, Bang." Hema mengetuk-ngetuk lantai dengan ujung jarinya, kemudian ia membuang napas panjang dengan meraup wajahnya kasar.
Ini kenapa laki-lakinya yang panik? Adik perempuan si gila itu, malah cenderung santai.
"Kenapa kau tak jelaskan hal kek gitu ke Bunga?" Agar Bunga ada berpikirnya.
"Udah aku jelaskan, Bang. Udah aku bilang ke dia juga, Bang. Dia tak respon, dia cuma diam aja. Maksud aku, dia bilang oke aja nih. Aku pulang, aku cerita ke kakak perempuan aku tentang aku naksir Bunga dan segala macam yang baik-baik aja. Entah ditunangkan dulu, atau langsung lamaran dan nikah, itu apa kata nanti setelah ketemu orang tua Bunga. Bagaimana mintanya pihak mereka gitu kan? Yang jelas, aku berani berkomitmen dan ambil resiko penuhi kebutuhan hidup dia."
Matang juga ini laki-laki.
"Sombongnya!" Aku meliriknya sinis. Berbicara kebutuhan hidup, ini tidak bisa ditebak tentang kebutuhan hidup seseorang.
"Bukan aku sombong, Bang. Aku punya tanggung jawab, pasti aku ada berpikir untuk penuhi kebutuhan istri aku. Entah aku mulai belajar usaha yang diwariskan orang tua aku, entah aku mulai kerja di sini, nyambi apa kan gitu, yang penting bisa kasih nafkah ke istri aku."
Aku akui caranya bersikap cukup dewasa, pikirannya luas dan ia laki-laki yang bertanggung jawab. Tapi kenapa ia melakukan hal terlarang di awal, jika memang ia memiliki pemikiran yang cukup hebat seperti itu?
"Kau sadar dengan segala konsekuensinya, kau paham resiko dan tanggung jawab, tapi kenapa kau lakukan itu di awal? Apa karena ketahuan aku, jadi kau sepanik ini?" Tetap saja aku memiliki pikiran buruk tentangnya.
"Sejak aku datang ke sini, terus jadinya ngobrol bareng di rumah pakcik Gavin itu. Malamnya, aku ngobrol serius sama Bunga lewat panggilan telepon. Aku bilang, aku suka sama dia dan aku cinta sama dia. Bunga jawab, jalani aja dulu. Aku paham nih, Bang. Aku ngerti dia mau nolak itu tak enak hati, tapi dia belum ada pikiran ke hal serius. Berubah, aku pastinya, Bang. Aku gencarin dan aku fokus ke pengobatan aku, biar bisa benar-benar lepas dari sensasi candu itu. Biar apa? Biar Bunga tak mandang buruk tentang aku, aku pun pengen hidup normal, sehat tanpa ketakutan begini-begitu. Terus datang keadaan tak terduga, namanya laki-laki, aku tak bisa nolak. Abang paham sendiri, laki-laki kalau udah tegang ya tak bisa mikir dua kali. Aku tak minta Abang maklumin kesalahan aku, karena memang dosanya bukan main, aku ngerti itu meski tak begitu paham tentang agamaku. Panik wajar, Bang. Kita sangka tempat itu sepi, tapi tiba-tiba kaca jendela diketuk masa tak berbusana. Tapi keputusan aku tak main-main, Bang. Dari hari itu, aku memang udah kepengen punya komitmen sama dia, tapi aku tak sangka responnya tetap sama aja setelah kejadian itu. Aku juga mikirin gimana keadaannya, perasaannya, malunya. Tapi dengan tolakannya, aku malah jadi insecure sendiri dengan keadaan fisik aku dan kondisi ketergantungan aku. Apa dia nolak aku, karena fisik aku yang tak semenarik laki-laki lain? Atau lebih buruknya, karena dia tak merasa cocok dengan punya aku. Aku tersinggung, Bang." Ia tertunduk memandang gelas esnya.
__ADS_1
...****************...