Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA170. Hermawan


__ADS_3

"Bunga?" Aku sampai memastikan nama seseorang yang ia cari. 


"Ia betul, Saya pernah antar dia sampai minimarket. Kata orang yang di sana, rumahnya di sini. Saya tak bermaksud buruk kok, Saya hanya ingin berkunjung saja." Bahasanya cukup sopan. 


"Betul, tapi baiknya menunggu di rumah Saya saja ya? Nanti Bunga dipanggilkan." Tante Ria menunjuk rumahnya yang berada di sebelah kanan Riyana Studio. 


"Oh, baik." Hema melirik mobilnya. 


"Udah cukup minggir kok, tak apa ditinggal aja." Aku memahami kekhawatirannya, karena mobilnya mobil mahal dan keluaran terbaru. 


Mungkin harganya sekitar tujuh ratus dua puluh jutaan. 


"Memang rumah Bunga sebenarnya di mana ya?" Senyumnya cukup manis. 


Wajahnya tidak kriminal seperti ayah, tidak nampak banjingannya. Namun, siapa tahu ada faktor yang membuatnya krempeng ini. 


"Ya di sini semuanya rumah Bunga, suka-suka dia mau tinggal di mana."


Aku yakin tante Ria tidak memberikan alasan jelas, karena tidak mau Bunga terus didatangi laki-laki ini tanpa izin. Aku dulu butuh waktu berbulan-bulan, baru berani berkunjung ke rumah Izza. Tapi laki-laki ini, hanya butuh waktu satu mingguan, sampai akhirnya ia berani datang menemui Bunga. 


"Jadi, Saya harus ke mana?" Hema mengusap tengkuknya. 


"Oh, mari ikut Saya." Tante Ria melangkah lebih dulu, sampai akhirnya Hema mengikuti.


Tin……… 


"Hai, Bang. Mau ke mana?" Sapa Jessie yang mengendarai motor bersama ibu Niken dan adik kecil. 


Itu adalah anaknya ibu Niken dengan pak Darmaji, usianya mungkin masih di bawah lima tahun. 


"Mau ke pakcik," jawabku ramah. 


Pandangan Jessie terarah pada Hema, Hema pun berani menatap Jessie. Namun, setelahnya mereka saling membuang pandangan mereka. Apa mereka mantan kekasih? Mereka sama-sama orang kota, mungkin Jakarta dan Bekasi tidak terlalu jauh untuk pertemuan. Bisa saja mereka memang memiliki kenangan, kemudian Hema tahu tentang keberadaan Jessie di sini.


Ah, entahlah. Pikiranku terlalu jauh, mungkin Hema hanya pernah melihat Jessie. Atau, mereka dalam satu pekerjaan yang sama? Di ruang lingkup hingar bingar dunia malam? Atau jaringan gelap?


"Oke, duluan ya?" Jessie menarik gas motornya perlahan melewati kami. 


Ibunya hanya tersenyum ramah, saat motor yang ia naiki melewati rombongan kami yang tengah menyebrang. 


"Maaf, Bang. Dia orang sini kah aslinya?" Hema mendekatiku. Arah tangannya menunjuk ke arah perginya motornya Jessie. 


Aku menangkap sinyal saling kenal dari pertanyaan itu. "Ibunya nikah sama orang sini," jawabku kemudian. 

__ADS_1


Hema manggut-manggut, kami terus melangkah bersama sampai ke rumah pakcik Gavin. Pakcik Gavin memandang kedatangan kami, dengan dua anak gendongannya. Balita itu merengek dan memukuli pundak pakcik Gavin, meski ayahnya hanya diam memperhatikan kami yang melangkah masuk. 


"Yang, tak bilang-bilang pergi tuh. Perang bazaar ini." Pakcik Gavin menurunkan kedua anaknya itu. 


"Apa perang bazaar?" Aku heran mendengar perang satu itu. 


"Perang pasar, lempar-lempar makanan keknya ini." Tante Ria menggandeng kedua anaknya itu. 


"Siapa itu?" Pakcik Gavin bertanya pada tante Ria ya melewatinya dengan menggandeng anak-anak mereka tersebut. 


"Oh, ya. Dia temannya Bunga." Tante Ria menoleh ke arah Hema. "Ditemani, Yang. Aku buatkan teh dulu." Tante Ria masuk ke dalam rumahnya, dengan kedua anaknya.


"Silahkan duduk." Pakcik Gavin mempersilahkan Hema untuk duduk. 


"Oh ya, terima kasih." Hema tersenyum ramah dan duduk di kursi teras. 


Pakcik Gavin melipir, kemudian ia datang dengan satu kursi plastik berwarna hijau. Aku langsung duduk di kursi itu, pakcik Gavin hanya tertawa kecil dan menepuk bahuku. 


"Pakcik mau duduk, kau duluin." Pakcik Gavin memilih untuk duduk di kursi teras yang berada di sebelah Hema, yang hanya disekat meja bundar berukuran kecil. 


"Dari mana ini?" Pakcik Gavin mulai memperhatikan Hema. 


"Dari Blang Ujong," jawab Hema ramah. 


"Teman kuliah kah?" Pakcik Gavin pasti tidak tahu apa-apa. 


"Betul, Pak. Ehh…." Hema seperti bingung untuk memanggil sebutan yang benar. 


"Ya, boleh. Saya juga ayahnya Bunga." Pakcik Gavin menunjuk dirinya sendiri. 


"Loh? Iya kah? Banyaknya." Dahi Hema sampai berkerut. 


Aku terkekeh kecil, ekspresinya lucu sekali. "Kau yang orang Bekasi itu?" tanyaku kemudian. 


"Heh?" Ia memandangku. "Oh, iya. Betul, Saya asli Bekasi. Tapi di sini, tinggal di Blang Ujong." Barulah ia tersenyum ramah. 


Seperti orang mabuk. 


"Oke, nama aslinya siapa?" Aku teringat dengan Hema Candra, tokoh film layar lebar bergenre romance. 


"Saya Hermawan, cuma waktu Saya kecil cadel dan bisa nyebut nama sendiri Hema aja." 


Benar kata Bunga, kantung matanya terlihat  menghitam. Matanya keruh, seperti kuning kemerahan. Ia seperti tidak sehat, tapi lebih tepatnya seperti pecandu. 

__ADS_1


"Pendidikan atau gimana nih? Kok bisa ada di Blang Ujong?" Pakcik Gavin mulai seperti kereta api baru bara, asapnya mengepul dari mulutnya. 


"Saya ikut kakak perempuan di sini, lanjutin pendidikan juga. Sempat kuliah dulu, ngambil sarjana pendidikan. Tapi ada rasa kurang cocok, jadi satu semester itu berhenti. Terus ada jeda sekitar dua tahun di rumah, barulah sekarang lanjut ambil kuliah lagi. Tapi beda fakultas, sekarang satu fakultas sama Bunga dan satu kelas juga."


Oh, dia tidak seusia Bunga. 


"Dua puluh tahun berarti sekarang?" Pakcik Gavin meletakkan bungkus rokoknya di meja. 


"Sekarang, dua puluh satu tahun. Ikut tahun ajaran baru, jadi ya sekitar dua tahun setengah di rumah aja." Ia tersenyum lebar. 


Ia pasti khawatir ditanya di rumah ngapain saja. 


"Oh gitu, dua bersaudara kah?" Pakcik Gavin seperti menyeleksi seorang laki-laki untuk anak perempuannya. 


"Iya betul, Pak. Saya bungsu, dari dua bersaudara." 


Bunga sulung, ia bungsu. Seperti ada kecocokan, meski terbalik posisinya. Karena sulung harusnya laki-laki, karena cenderung memimpin. Tapi ya sudahlah, belum tentu jodoh juga. 


"Siapa kakak kau di Ujong Blang? Barangkali aku kenal." Izza pun dari Ujong Blang, tapi mungkin saja beda gang. 


"Kakak Saya namanya Nur Hikmah, suaminya namanya bang Wildan."


Seperti familiar dengan nama tersebut. "Bang Wildan yang punya gudang pupuk bukan ya?" Aku membeli pupuk di sana. 


Hema menjentikkan jarinya. "Betul. Almarhum papah Saya yang punya pabrik pupuknya, sekarang apa-apa digantikan bang Wildan dulu karena Saya belum bisa apa-apa."


Aish, benar-benar pewaris. 


"Wildan yang semalam jadi kiper futsal kita bukan sih, Bang?" Pakcik Gavin segala bertanya padaku, itu kan temannya. 


"Iya, kan aku kenal dia dari Pakcik ajak beli pupuk suruh di sana aja." Aku memandang Hema, berniat menunjuk foto bang Wildan. 


"Ini kan?" Aku menunjukkan foto profil nomor WhatsApp bang Wildan. 


"Nah, iya betul. Itu yang perempuan kan istrinya, kakak Saya si Nur Hikmah. Ini dua keponakan Saya, sekarang kak Hikmah lagi hamil anak ketiga." Hema menunjuk foto tersebut. 


"Semalam Bunga ada di tempat futsal loh, kau tak diajak sama abang ipar kau?" Pakcik Gavin menepuk lengan Hema. 


Kita bisa jadi satu team futsal nih sepertinya. 


Hema tersenyum kecil. "Saya mana boleh keluar selain kegiatan kuliah, ini aja aku alasan mau ambil tugas kampus. Ya bukan alasan juga sih, karena mau ambil tugas kampus. Bunga yang pegang soalnya, tapi udah tiga hari katanya belum dikerjain. Jadi semalam aku bilang, ya udah dibantu aja daripada tak dikerjakan, bukan dia aja nanti yang kena, kita satu kelompok kena imbasnya juga."


Pakcik Gavin tertawa lepas. "Bunga pun sama, dia mana dapat izin pergi kalau tak dibawa kakaknya. Eh, tapi kok aneh sih anak laki-laki tak dapat izin keluar. Kau ada masalah ya?" Pakcik Gavin terlalu buru-buru bertanya. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2