Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA189. Datang ke Bunga


__ADS_3

"Atas dasar apa, kau bawa Bunga ke dalam ladang?" Pertanyaan pakwa cukup mengagetkan, setelah mendapat amunisi kopi panas ini. 


"Untuk apa Bapak tau? Aku kan udah mengakui kesalahan aku ke Bang Chandra, memang Bang Chandra tak cerita semua?" 


Hema membuatku ditatap ayah dan pakwa. 


"Aku tanya kau!" tegas pakwa kemudian. 


Hema melirik sekitar. "Bukan bermaksud menjelekkan Bunga, tadi pun aku udah coba nutupinnya. Tapi Bapak sendiri yang ingin tau kejadian awalnya, bahwa anak Bapak sendiri yang awalnya nantangin aku. Aku laki-laki, ditantang, pasti merasa tak jantan kalau melewatkan tantangannya," ujarnya pelan. 


Pakwa terdiam, ia menatap lurus kopinya dalam tatapan kosong. Tentunya ia shock mendengar ucapan Hema, bahwa Bunga yang menantang Hema untuk berhubungan suami istri. Aku tidak tahu pasti ceritanya, tapi rasanya Hema tidak mungkin berbohong. Ia saja tadi jujur tentang identitasnya, masa mau berbohong hal yang berurusan dengan anaknya pakwa. 


"Oke, apa kau jujur?" Pakwa menoleh ke Hema, dengan tatapan yang melambat melirik Hema. 


"Ngapain aku bohong? Bapak bisa tanya langsung ke Bunga, kalau Bapak rela buat Bunga malu di depan Bapak sendiri. Keburukan aku aja, aku jujur. Karena apa? Karena aku ingin kalian tau pasti siapa aku, bagaimana keadaan aku, biar kedepannya aku tak perlu pura-pura liburan, padahal datang ke psikiater." Hema menepuk-nepuk dadanya sendiri. 


"Kita habiskan kopi kita dulu, terus ayo kita ke Bunga. Kita tanya maunya gimana." Pakwa memandang Hema dengan mantap. 


Hema tersenyum lebar. "Siap." Ia langsung mengambil gelas kopinya.


"Itu bukan air putih, tak harus sekali habis. Kita sambil ngobrol dulu," ujar ayah dengan mencomot cemilan berbahan singkong. 


"Iya, iya." Hema tertawa renyah. 


"Kau kuliah, apa nganggur di rumah?" tanya ayah kemudian. 


Bapak-bapak bisa ngopi santai, aku yang jadi saksi malah tegangan tinggi. Keringatan aku melihat pembahasan ini, karena menurutku ini hal yang serius. 


"Aku teman kuliah Bunga, Pak. Kita satu fakultas, satu kelas juga. Tapi beda usia, aku dua puluh dua tahun sekarang. Baru bulan ini sih dua puluh dua tahunnya." Hema memasang senyum ramahnya. 


"Ohh, calon psikolog juga. Berarti kuliahnya kepotong masa tahan, rehabilitasi juga?" Ayah bisa menebak rupanya. 


"Betul, sama satu tahun sebelum kena tahan itu masa gila-gilanya. Tips selain game online, aku harus apa sih, Pak?" Hema terlihat lebih santai berbicara dengan ayah. 

__ADS_1


Sikap ayah itu friendly ke anak muda, entah ia yang merasa masih muda di usianya sekarang. Tapi hal itu membuat kita nyaman mengobrol, Hema pun sudah menikmati rokoknya juga di tengah seruputan kopinya. 


"Kawin, Ayah nikah sih waktu itu. Tangkap tangan, nikah, lanjut rehabilitasi. Formalitas aja tiga bulan, padahal masih sama rasa. Tapi di rumah bisa sembuh sendiri, gara-gara s**s rutin sama istri." Ayah sudah menyebut dirinya sendiri dengan panggilan kebanggaannya. 


"Pantas aku sampai setahun tak sembuh-sembuh, harus nikah rupanya." 


Tawa ringan menyelimuti obrolan kami. 


"Tapi jangan kaget, obat-obatan itu kadang ada yang berefek pada kesuburan kau. Pada masanya, sebenarnya bisa pulih sendiri dibantu gaya hidup sehat," ungkap pakwa membuat Hema seketika melamun. 


"Dulu aku gara-gara sering dikeluarkan, Bang. Jadinya malah kurang joss, rupanya karena obat-obatan itu juga?" timpal ayah kemudian. 


"Suami istri, rutin melakukan. Tapi suaminya tetap tokcer hamilin istrinya kok. Rutin tuh yang bagaimana? Kalau sehari kuras tangki bisa beberapa kali, mungkin iya bisa kurang tokcer." Pakwa terlihat santai di tengah keadaan ini. 


"Aku jadi kepikiran masa depan aku, sekarang pun aku mikirin bagaimana diri aku setelah ini." Hema bertopang dagu menatap kopinya. 


"Kalian masih sama-sama kuliah, tunda dulu untuk punya keturunan. Kalau memang akhirnya Bunga mau, kau harus datang segera bawa keluarga kau. Ini masalahnya anak perempuan aku yang gatal ini, untuk apa coba dia nantangin laki-laki?" Pakwa menghela napasnya. 


"Udah, tak usah dipikirkan. Akan punya anak pada masanya kok, sabar aja. Yang jelas, masalahnya ini ada di Bunga. Bagaimana Bunga nanti, bagaimana keputusannya nanti." Ayah menyeruput kembali kopinya. 


Aku pun mencoba kopi yang ayah pesan ini, tidak begitu buruk meski ini bukan kopi favoritku.


"Dia ini kenapa sebetulnya? Mau dianu, tapi tak mau dinikahin." 


Seketika itu, Hema langsung mendapatkan lemparan rokok dari pakwa. Untung saja, Hema bisa menangkisnya meski terkena apinya sedikit. 


"Betul loh, Bang. Panik loh perempuan tuh kalau dianu, ribut nikah. Bunga kebalikannya, Bang." Ayah mencomot singkong lagi. 


"Ya iya, paham! Tapi aku tak suka dijabarkan juga."


Intinya, pakwa tak mau mendengar komentar buruk tentang anaknya. 


"Maaf lah, Pak." Hema menduduk membersihkan bekas abu rokok di bajunya. 

__ADS_1


"Hmm." Pakwa menyugar rambutnya dan merilekskan punggungnya pada sandaran kursi. 


"Ayolah, Yah. Kok rasa ngantuk aku ini." Anginnya sepoi-sepoi, mataku terhanyut nyamannya sapuan angin. 


"Sabar sih, Bang. Lagi enak-enaknya nih kopinya, tinggal sedikit lagi." Ayah mengangkat gelas kopinya. 


Aku tidak berniat menghabiskan, rasanya tidak seenak kopi favoritku. 


"Diselesaikan hari ini, biar plong." Pakwa menghabiskan kopinya. 


"Bang, sana bayar." Ayah menepuk lenganku. 


"Aku juga." Aku bangkit dan berjalan ke kasir. 


Bisnis menjanjikan coffee shop ini, karena satu gelas kopi harganya bisa mencapai delapan puluh ribu. Tapi tentu modalnya pun tak sedikit, karena satu kilo kopi pun harganya ada yang mencapai jutaan. 


"Bawa mobil, Bang." Ayah melemparkan kunci mobilnya, ketika aku kembali dari kasir. 


"Aduh, Ayah…." Tidak tahu apa ya, bahwa aku sudah lemas karena kantuk. 


"Aku ikuti dari belakang." Hema menunjuk mobil miliknya. 


Terlihat sekali ayah dan pakwa memperhatikan mobil milik Hema, tentu karena itu bukan mobil murah. Harga mobilnya, tiga kali harga mobil pink ini. 


"Dia anak orang kaya, Bang?" tanya ayah, begitu kami sudah berada di dalam mobil. 


Aku mulai fokus mengoperasikan kendaraan yang seolah berjenis gender perempuan ini. "Iya, pewaris pabrik pupuk anorganik katanya sih. Bang Wildan pegang, karena Hema masih repot urus dirinya sendiri."


"Mikir juga sih Pakwa tuh, dia aja belum lepas rehabilitasi, gimana urus Bunga? Maksudnya, apa bisa ia jadi kepala rumah tangga yang bertanggung jawab? Sedangkan, dirinya sendiri pun masih belum bisa urus dan tanggung jawab sama dirinya sendiri. Pakwa tak yakin kasih tanggung jawab Bunga ke Hema, malahan nantinya Pakwa yang bakal jadi punya sulung dua, yang harus urus Bunga dan Hema juga. Tapi gimana kalau tak jadi, otomatis bakal terulang lagi. Pakwa tuh tak mau Bunga begini, kalau udah mantap sama laki-laki ya nikah, jangan nyari mantap-mantapnya terus. Jadi ingat diri sendiri dulu, ngerasa salah betul dengan kelakuan sendiri." 


Lah? Maksudnya bagaimana? Benar begitu jika pakwa pun ahli zina? Lalu bagaimana ayah? Apa anak-anaknya juga ada yang sepertinya nantinya? 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2