
"Waduh, Papa dicium. Bang Chandra udah dapat cium belum, Dek?" Papa Ghifar enggan melepaskan tangan Nahda, yang baru saja menciumnya.
Wangi sekali istriku, wanginya sampai mengisi seisi ruangan.
"Belum, Pa. Malu, Pa." Nahda duduk di sebelah papa Ghifar.
Ia langsung menuangkan air putih dari dalam teko, kemudian meneguknya sedikit.
"Malu, kek sama siapa aja?" Papa Ghifar geleng-geleng kepala.
"Yuk?" Aku mengajaknya untuk bergegas.
"Jangan lupa nanti Abangnya di cium dulu tuh, Dek," ledek Kal, ia tertawa dengan menutup mulutnya.
"Eh, pakai apa, Bang? Bawa mobil Papa aja, Nahda tak biasa motoran. Takut nanti masuk angin." Papa Ghifar meletakkan kunci mobil di hadapanku.
Kenapa ya? Kok sedikit sesak, seperti tersinggung dan tertikam? Aku sadar, bahwa aku tidak memiliki mobil sendiri. Tapi dengan diserahkannya kunci mobil padaku, aku merasa direndahkan.
"Tak usah, Pa." Aku mendorong kunci mobil itu, untuk berada di depan papa Ghifar.
"Kenapa?" Papa Ghifar memandangku dalam.
"Mobil ayah aja." Setelah ini, aku harus memiliki sebuah mobil.
Aku merasa harga diriku diinjak. Memang papa Ghifar seperti orang tua sendiri, tapi dengan ia mengatakan bahwa Nahda tidak terbiasa naik motor, seolah ia menyadarkan bahwa aku memang hanya memiliki motor dan tak memiliki mobil.
Memang itu fakta, tapi harga diriku tergores dengan informasi seperti itu. Ya sudah, sebentar lagi pun mungkin akan redam sendiri perasaan sesak ini.
"Ayo, Dek." Aku turun dari kursi dan mendahului Nahda.
Aku tidak mood untuk basa-basi pamit. Toh mereka pun sudah tahu bagaimana aku, harusnya tidak perlu diberitahu bagaimana Nahda dan aku harus memfasilitasinya.
Ah, buat kesal saja.
"Yah, pinjam mobil ya? Besok nanti tolong carikan mobil, uangnya dari tambak aja tuh." Aku menghampiri ayah yang tengah menggendong Kaleel.
Entah ayah mau membawa cucunya itu ke mana.
"Pakailah." Ayah mengangguk samar.
"Kakek, Dayyannya?" seru seseorang, yang baru muncul dari pintu samping.
Anak Daeng.
__ADS_1
"Bentar, gantian. Sama biyung dulu tuh, kak Key lagi mandi ini." Ayah lanjut melangkah ke arah pagar.
"Pagarnya biarin kebuka, Yah." Aku bergerak untuk masuk mencari kunci mobil.
"Aku juga mau mandi, Yah. Hadi keluyuran aja, ma lagi masak. Abu belum pulang, Yah." Ngenes sekali aduan Ceysa.
"ABANG! Pegang Dayyan bentar." Ceysa bukan lagi berseru, ia sudah berteriak.
"Abang mau keluar, Dek." Aku lanjut masuk ke dalam rumah.
"Ya Allah, tak ada yang kasian sama aku. Punya suami, keluyuran terus tak bilang-bilang, punya keluarga pada sibuk sendiri."
Drama juga ini anak Daeng.
Aku sudah mendapatkan kunci mobil. "Sana cepat mandi, sini Dayyannya." Aku menghampirinya yang lunglai di ruang tamu, dengan memangku anak laki-laki yang lehernya seperti ular kobra yang siap menyerang itu.
"Baru sehari nikah, Abang udah gitu ke aku." Ceysa malah mewek.
Permasalahannya dengan suaminya, tapi tumpah karena hal sepele begini.
"Udah tuh." Aku yakin Ceysa memahami kesibukanku, hanya saja sekarang ia tengah sensitif.
"Abang…." Ada suara istriku memanggilku di teras rumah.
"Sini, Dek. Bentar." Aku menoleh ke arah teras.
Ceysa tengah memelukku dari samping, jadi aku sulit untuk bergerak. Nahda perlahan terlihat di pandanganku, kemudian ia tersenyum saat melihatku dengan Ceysa.
"Lah, kenapa?" Senyumnya hilang, mungkin ia menyadari kesedihan di wajah Ceysa.
"Lagi sensitif," jawabku dengan membenahi posisi Dayyan yang celingukan itu.
"Sini, Dayyan sama Tante. Omnya susah tuh gendongnya." Nahda menurunkan tasnya, kemudian mengambil alih Dayyan.
Respon Nahda terlihat berbeda dengan cara Izza. Izza tidak suka aku dekat dengan adikku, sedangkan Nahda tersenyum senang, sebelum ia ikut sedihnya seperti keadaan Ceysa. Tidak berniat membandingkan, tapi nampak beda aku merasakan.
"Bukan tante, Dek. Dayyan panggil Abang itu Ayah, panggil Adek ya ibu. Ibu Nahda dan Ayah Chandra, ayah dan ibu." Karena aku tidak mau sebutan biyung ditiru oleh menantunya.
Nanti malah bingung lagi aku memanggilnya.
"Boleh kah begitu?" Nahda mengayunkan tubuhnya pelan.
"Boleh lah, papa Ghifar Abang panggil papa, bukan om." Aku mengusap-usap kepala Ceysa.
__ADS_1
"Abang! Hadi tuh dimarahin sana! Masa gitu ke aku?!" Ceysa memukul pahaku nampak kesal.
Aku jadi pelampiasan.
"Kerja kah gimana Hadinya?" tanyaku lembut.
"Tak taulah! Kesal aku tuh sama Hadi." Ceysa masih memelukku erat.
"Hadi naruh dagangan di kantin fakultas aku kok. Roti tuh setiap hari Senin, laris betul itu roti. Ada roti tawar, roti isi, roti kering, roti sobek. Kalau roti, belum juga ditaruh ke ibu kantin, dia udah diserbu tuh. Jadi beli langsung dari tangan dia, tak lewat ibu kantin. Hari biasanya, dia antar es batu kristal, risoles, pastel dan gorengan gitu macam-macam isi. Kalau es batu kristal, dia sehari tuh datang dua kali, termasuk hari Senin juga. Kau tak tau memang, Sa?" Nahda berjalan mondar-mandir, sebelum duduk di sofa yang berada di depan kami.
Napasnya terlihat ngos-ngosan, ia kelelahan menggendong Dayyan yang gendut itu. Tidak terlalu gendut seperti obesitas, tapi ya cukup berisi.
"Hah? Serius?" Ceysa melepaskan pelukannya padaku.
"Iya, serius. Kata Ra juga, naruh kok di kantin kampus dia. Pakai buff, pakai topi, rapat lah. Kalau tak sempat tengok dia minum waktu itu, mungkin aku pun tak kenal." Nahda akrab dengan Ceysa, mungkin karena sebelumnya memang mereka sepupuan.
"Ya Allah, suamiku. Udah mana capek, di rumah aku ajak ribut aja. Untungnya dia diam aja, tak main langsung talak aku." Ceysa memandang lurus ke depan, pikirannya seperti sedang ke mana-mana.
Hadi kok mau ya? Dulu aku sarankan untuk jualan sarung, ia tak mau. Sekarang, ia malah menjadi kurir pengantar ke kantin kampus. Aku yakin bukan di kampus saja, tapi di sekolah lainnya juga. Sepertinya ia terdesak, mungkin ia memiliki pemikiran atas rasa tanggung jawabnya.
"Nanti ngomong baik-baik sama Hadi, Dek. Kasian dia, mungkin dia pun lagi stress sekarang. Dia anak orang kaya loh, terus harus terjun jadi buruh begitu. Dengan cara dia berpakaian, mungkin dia itu gengsi, dia nutupin identitas dirinya. Mungkin juga keluarganya tak tau loh tentang pekerjaannya, buktinya aja kau tak tau." Aku mengusap-usap punggung Ceysa.
"Setau aku, dia jadi sopir travelnya Hadi." Ceysa masih nampak melamun.
"Hadi lama tak cerita sama Abang. Tadi di pesta pun, dia jalan-jalan gendong-gendong Dayyan aja," tambahku kemudian.
"Dia berubah, Bang. Tak kek Hadi yang dulu, Hadi sekarang itu banyak diam dan bersuara kalau ditanya aja. Bantuin aku di rumah juga, dia tak banyak omong. Langsung kerjain aja, tak disuruh juga dia gerak."
Wah, aku teringat saat Hadi mendapat masalah dengan Sekar. Hadi berubah sikap, karena ia memiliki masalah.
"Lagi ada masalah, nanti Abang kalau ada waktu bakal ajak dia ngobrol. Gih cepat mandi, mumpung kita belum berangkat." Aku bangkit dan memberi jalan untuknya lewat.
"Ya, Bang." Ceysa lewat di depanku. "Nitip ya, Kakak Ipar? Aku mau mandi bentar." Ceysa mengusap bahu Nahda, kemudian ia berjalan cepat masuk ke dalam rumah.
"Oke." Kepala Nahda berputar, melihat Ceysa bergerak menjauh.
"Bang, berat betul. Aduh, gimana nanti aku punya anak?"
Overthinkingnya kumat.
Terlalu banyak berpikir, bagaimana, bagaimana, bagaimana. Hmm, seorang Nahda ternyata begini. Panikan di awal, ia bukan orang yang tenang dengan hal baru.
...****************...
__ADS_1