Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA54. Sungkan


__ADS_3

"Makasih nasehatnya, Yah." Ceysa memeluk ayahnya. 


"Maaf, Yah. Hadi belum bisa jadi menantu yang Ayah harapkan, Hadi janji untuk perbaiki semuanya." Hadi pun memeluk istrinya yang memeluk tubuh Givan. 


"Iya, yang akur, yang berkah, yang bahagia. Apa-apa sama-sama, ingat perjuangannya. Apapun itu, ingat perjuangannya. Kalian udah di titik ini, yakin mau mulai dari nol lagi? Lebih baik juga dilanjutkan, lanjutkan perjuangan kalian." Givan mengusap-usap kedua punggung anak muda tersebut. 


"Iya, Yah." Mereka tak bisa menahan rasa harunya.


Izza mengintip dari balik jendela. Ia melihat adegan haru tersebut, tapi ia lebih mencari di mana keberadaan suaminya. Ia ingin mengajak suaminya makan, karena ia sudah merasa perutnya panas. 


Namun, sudah lewat jam dua belas. Chandra tak kunjung terbangun dan memahami bahwa istrinya kelaparan. Izza tentu sungkan untuk masuk ke rumah mertuanya tanpa ajakan, apalagi untuk meminta sepiring makanan. Sayangnya, yang ditunggu Izza tak kunjung datang. 


Ia ingin memesan makanan secara online, tapi ia berpikir bahwa harus menghitung semua kepala. Sedangkan, uang yang ia miliki saat ini hanya berapa puluh saja. Uang cash yang ia miliki sudah habis untuk biaya tahlil mendiang ibunya, meski mendapat bantuan dari Chandra. 


Ia kembali ke kamar, merebahkan tubuhnya dan menunggu kedatangan suaminya. Karena percuma untuk menghubungi suaminya, karena ponsel suaminya tergeletak di sampingnya. 


Kepekaan Chandra, jauh dari yang Izza kira. Bahkan, setelah bangun tidur ia lupa sudah beristri. Ia langsung cuci muka dan berjalan ke arah dapur orang tuanya, untuk mencari makanan pengisi perutnya. Ia makan dengan lahap, sampai sapaan ibunya membuatnya baru ingat jika ia sudah menikah. 


"Kau makan sendiri aja? Istri kau ke mana?" Canda mengambil piring untuk dirinya sendiri. 


"Oh, ya ampun." Sayangnya Chandra sudah terlanjur menyelesaikan suapan terakhirnya. 


"Hallo…" Canda tidak memperhatikan anaknya yang buru-buru untuk mengunyah dan mencuci piring.


"Ada di mana? Makan belum, Mas? Nasinya mau diademin dulu tak?" Canda sudah fokus pada panggilan teleponnya. 


"Makanya cari dulu di sekitar rumah, aku ada di teras rumah. Ademin aja, nanti aku masuk." Mendengar jawaban suaminya, Canda fokus memperhatikan anaknya yang buru-buru keluar dari dapur. 


"Ke mana kau, Bang?" tanya Canda pada anaknya. 


"Bentar, Biyung," jawab Chandra dengan tetap melangkah. 


Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang, Chandra ingat istrinya itu memiliki penyakit lambung. Ia berharap istrinya sudah makan, tapi melihat keadaan ruang tamunya sepertinya memang istrinya belum makan sama sekali. 


"Za…" Chandra masuk ke dalam kamarnya. 

__ADS_1


Ia melihat istrinya tengah memeluk perutnya sendiri dan tertidur pulas. Chandra yakin, istrinya belum makan. 


"Za… Bangun." Chandra menggoyangkan lengan istrinya. 


"Makan dulu, Za," pintanya kemudian. 


Izza langsung membuka matanya, ia merasa perutnya langsung kram. Chandra menyadari ringisan istrinya, ia langsung menyentuh bagian perut istrinya yang disentuh oleh Izza sendiri. 


"Za, makan tuh tinggal makan aja. Sana ke biyung, nyadarin di rumah belum ada apa-apa. Kau sih sampai sakit begini." Jelas saja tutur kata Chandra tidak berkenan di hati Izza. 


"Aku tuh nungguin Abang." Izza menahan rasa kecewanya, karena respon suaminya malah seperti itu. Izza ingin Chandra menyadari kesalahannya, ia seperti ini pun karena menunggu kedatangannya. 


"Kalau aku kerja, apa nungguin aku pulang kerja?" Chandra membantu istrinya untuk bangkit. 


Kembali, Izza hanya memendam. Ia malas untuk berdebat dan membuat keributan bertambah, dengan ia mengatakan bahwa dirinya sungkan untuk meminta makanan pada mertuanya. 


"Jangan nangis tuh." Chandra langsung memeluk istrinya, ia tidak tega jika melihat Izza sudah berlinang air mata. 


"Di mana obat asam lambungnya? Ayo terus kita ke rumah biyung." Chandra mencari sesuatu di nakas sebelah ranjang. 


"Repot, Dek. Malu bolak-balik bawa piringnya." Mendengar tanggapan Chandra, Izza ingin melontarkan bagaimana pagi tadi ia membuat repot dirinya. 


Mau tidak mau, Izza mengikuti tarikan suaminya. Ia ingin terlihat patuh pada suaminya, meski ia yakin dirinya akan malu. 


"Nah, iya. Kenapa tadi makan duluan?" Canda berkomentar, saat Izza dan Canda masuk ke area dapur rumahnya. 


Izza cukup kaget, saat mengetahui Chandra sudah makan lebih dulu. Jelas saja, hal itu membuat suasana hatinya bertambah kacau dan asam lambungnya semakin menjadi. N**** makannya mendadak hilang, mual langsung menjalar ke kerongkongannya. 


"Hoekkkk…" Izza berlari ke arah kamar mandi. 


Givan dan Chandra tertegun, melihat Izza yang akan muntah kala mereka tengah makan bersama. 


"Makanya, laper tuh makan. Mesti aja nunggu sakit dulu." Chandra merasa kesal, ia langsung bergegas mengejar istrinya. 


"Kenapa lagi itu?" Givan memperhatikan punggung anaknya yang berlalu pergi. 

__ADS_1


"Entah, tadi makan sendirian Chandra." Canda mengikuti arah pandang suaminya. 


"Tadi pun, dia tidur siang di sini. Kenapa tak di rumahnya sama istrinya? Lagi haid kah istrinya?" Givan bertanya-tanya dengan memandang istrinya yang kembali makan. 


"Kenapa ya? Ribut terus kek kita dulu." Canda tetap melanjutkan sesi makannya. 


"Kita ngamer terus pas awal, jalan-jalan terus. Kaunya yang lari-larian terus ke mamah, aku tarik lagi." Givan mengingat kenangan mereka dulu. 


"Aku takut lah sama Mas." Mendengar jawaban istrinya, Givan malah tertawa geli. 


"Malu ya?" Givan ingat sekali wajah istrinya yang sering bersemu merah, ketika ia dekati. 


"Iyalah," jawab Canda cepat dengan mengangkat sayap ayam yang masih utuh. Kemudian, ia memakan sayap ayam tersebut tanpa malu di depan suaminya. 


Rumah tangga mereka sudah tidak memiliki malu lagi seperti dahulu. Apalagi jelas, mereka sudah memiliki banyak anak. 


"Kenapa kau, Dek?" tanya Givan, kala menantunya kembali dengan digandeng putranya. 


"Kambuh maghnya, Yah. Sungkan-sungkanan betul, udah sering main di sini juga. Lapar tinggal ke sini aja, mesti aja nunggu aku." Chandra membuat Izza semakin malu. 


"Kau bukan tamu, Za. Tinggal masuk, ambil makanan. Kau udah bagian dari keluarga ini, kau bukan orang lain lagi." Canda memandang menantunya duduk termenung dengan tetapan kosong. 


"Nih, aku suapin." Chandra menyuapi istrinya perlahan. 


Izza meloloskan air matanya, ketika sesuap makanan sudah masuk ke mulutnya. Ia merasa amat mual, ditambah dengan mulutnya yang terasa pahit. 


"Kau tak apa kah, Dek?" Givan merasa khawatir dengan keadaan menantunya yang terlihat pucat tersebut. 


Izza menggeleng, ia memejamkan matanya dan bersandar pada sandaran kursi makan tersebut. Ia tidak mengerti, kenapa rasanya begitu tidak nyaman berada di samping pujaannya dan di tengah orang tuanya. 


Ia merasa dirinya seolah tidak dianggap, karena perhatian mereka tidak seperti dulu saat dirinya masih menjadi calon menantu dan dirinya adalah tamu di sini. Ia mulai berpikir, apakah seorang menantu itu harus repot di rumah mertuanya seperti mencuci piring. 


"Telponin bang Ken, Canda. Dia tak baik-baik aja keknya." Givan panik melihat Izza yang tetap memejamkan mata itu. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2