
Aku melangkah beberapa langkah ke pintu samping. Namun, tiba-tiba ledakan besar terjadi. Getaran yang ditimbulkan, sampai membuat pecah beberapa jendela rumah. Ledakan tersebut, disertai dengan nyala api yang seketika membesar.
Beberapa material bangunan berhamburan, rumahku pun begitu parah dengan bagian belakang terbakar nyala api. Satu yang ada di pikiranku, kedua adik bungsuku yang baru berusia sembilan tahun.
Lampu rumahku dan rumah yang ditempati oleh Cala dan Cali padam. Rumah-rumah yang ayah bangun, memiliki instalasi listrik yang padam otomatis jika terjadi korsleting atau semacamnya.
Aku berlari cepat ke arah rumah yang Cala dan Cali tempati. Jendela rumah tersebut sudah pecah parah, dengan bangunan yang terdampak ledakan tersebut. Tangis dua anak tersebut terdengar kuat, aku begitu panik karena kakiku begitu terasa lama untuk sampai ke sana.
Aku melihat kobaran api di bagian atap rumah menjalar cepat. Meskipun pemadam kebakaran yang ada di pikiranku, tapi tubuhku berusaha sebisa mungkin untuk menyelamatkan adik-adikku dan dua pengasuhnya.
Hanya rumah mereka yang ditempati, meskipun rumah tersebut tidak terlihat berdampak kerusakan hebat. Tapi aku yakin orang-orang di dalamnya butuh pertolongan.
"TOLONG….," teriakan pengasuh adik-adikku membuat tubuhku gemeteran.
Sialan! Pintu ini terkunci.
Tanganku langsung masuk ke jendela rumah, untuk bisa membuka pintu yang terkunci. Aku merasa tanganku tergores. Itu pasti, karena pecahan kaca yang masih menempel di kusen jendela itu masih banyak. Aku tidak bisa masuk dari jendela, karena jendela menggunakan teralis besi.
"CALA…. CALI…." Suaraku bergetar hebat.
Aku tanpa alas kaki memasuki rumah yang hawanya sudah begitu panas ini. Pecahan perabotan rumah tentu melukai kakiku, tapi adik-adikku panik dan ketakutan di dalam sana.
"CALA, CALI…. INI ABANG…." Aku menemukan mereka yang baru keluar kamar digendong oleh pengasuhnya.
Pengasuhnya tidak sempat menggunakan hijab, penampilan mereka pun begitu acak-acakan dengan material plafon rumah yang mengotori kepala mereka.
"Sini, Kak." Aku mencoba mengarahkan mereka untuk keluar dari rumah dengan keadaan rusak berat.
"SAKIT…..," tangis Cala begitu lepas.
"Ini Abang, Sayang." Aku mengusap kepalanya, sayangnya kelembaban di dahinya ini kental.
Aku panik luar biasa, setelah sudah keluar dari dalam rumah. Cala bermandikan darah, ia langsung kugendong dan aku mengajaknya berlari ke mobil.
Gerbang sudah terbuka lebar, dengan banyak warga yang menyambungkan selang dan ada juga yang membawa ember.
"Cala…. Anak Ayah, ya Allah." Ayah berlari ke arahku, tangisnya sampai terdengar jelas.
"Cala, Nak…. Mana yang sakit, Nak?" Ayah mengambil alih Cala dariku.
"Adek…." Biyung terlihat begitu kacau, dengan hijab yang tidak rapat menutupi kepalanya.
__ADS_1
"Cali tak apa? Kak Wati, Kak Hindun kenapa-kenapa tak?" Aku berlari kembali ke arah mereka yang saling membersihkan diri.
"Nginjak pecahan kaca keknya." Kak Hindun memperlihatkan telapak kakinya.
Astaghfirullah, sudah bukan lagi menginjak. Tapi sudah seperti tari piring gagal kebal.
"Abang, tangan Abang kenapa?"
Aku langsung menoleh pada seseorang yang berlari mendekat.
"Bang, ikut aku. Abang berdarah," seru Zio dari dalam mobil yang sudah berputar arah.
Cala ada di dalam mobil dengan biyung. Biyung menangis lepas, dengan Cala yang berada di pelukannya.
"Tangan Abang berdarah." Izza menyentuh lenganku.
"Iya." Aku melirik ke arah lukaku.
Luka sobek karena beling. Aku ingat dan menyadari sakitnya, kala tanganku masuk dari jendela dan tengah berusaha membuka pintu rumah yang terkunci.
"Kenapa? Kok bisa? Abang di mana tadi?"
Pantaskah wawancara saat ini?
"Adek berdarah tak?" Aku memberikan Cali pada Izza.
"Tak, Abang. Kaget…. Takut…." Cali masih menangis lepas.
"Sama Kak Izza ya? Minta air putih ke kek Jasmine, Dek." Aku mengusap pelipis Cali dan Izza bergantian.
"Kak Wati kenapa tak?" Aku memastikan kembali.
"Aku tak apa, Bang Chandra. Sempat ketindihan lemari plastik, tapi tak apa." Ia menyentuh bahunya.
"Bisa digerakkan, Kak?" Aku khawatir ia mendapatkan luka dalam.
"Tak apa, Bang. Bisa gerak kok." Ia memutar bahunya.
"Besok aku bawa ke tukang pijat kalau memang tak parah. Aku ke rumah sakit dulu." Aku langsung masuk ke dalam mobil.
Aku, Cala dan kak Hindun yang terluka di sini. Aku baru menyadari, jika lukaku cukup dalam dengan darah yang terus merembes.
__ADS_1
"Cala…." Aku langsung melongok ke bangku depan.
"Abang, sakit," adu Cala kembali.
Syukurlah, ia masih bersuara. Aku khawatir adikku hilang kesadaran, karena lukanya itu.
"Cala kenapa ini, Bang?" tanya biyung dalam tangis.
"Kejatuhan plafon keknya, Biyung. Entah kena kayunya, kan ada plafon yang ada kayunya." Aku tidak tahu pasti.
Saat aku menemukan mereka, mereka sudah berada di pintu kamar.
"Nanti scan aja, biar tenang. Keknya lukanya dalam," timpal Zio yang tengah fokus mengemudi.
Ia melajukan kendaraan cukup kencang, dengan lampu segitu yang diaktifkan terus dan klakson yang berbunyi berulang agar diberi jalan. Tidak diragukan, jika usahanya bergerak pada bidang travel. Ia cukup lihai mengemudi.
"Suara ledakan tadi itu apa, Bang?" tanya kak Hindun kemudian.
Aku menoleh ke arahnya. Aku ingat, aku memiliki sebuah kemeja yang aku tinggalkan di mobil ini. Aku mencondongkan punggungku untuk mengambil sesuatu di bangku depan, di sebuah tempat yang berada di depan biyung.
Setelah aku mendapatkan kemejaku, aku langsung memberikan pada kak Hindun. Ia tidak bertudung, ia pasti malu dan aku tidak enak hati sendiri juga. Terasa tidak sopan jika tidak sengaja memandangnya. Apalagi, ia masih muda dan berstatus janda kembang lagi. Ia keponakannya kak Devi, pengasuh yang mengurus aku dulu.
"Pakai untuk tutupi kepala, Kak. Suara itu entah bom atau apa, tapi awalnya bau hangus barang plastik dulu. Terus tuh, kek ada nyala api di atas bagian dalam rumah kak Jasmine. Genteng rumah aku kan diturunkan, jadi genteng rumah kak Jasmine itu terlihat dari teras rumah ayah. Aku lagi duduk di teras rumah ayah, lagi dengerin musik sambil cek email." Aku menceritakan sedikit kejadian awalnya.
"Biyung kira gempa, soalnya getarannya kuat betul." Biyung melongok ke arahku.
"Sebelum getaran itu, ledakan kuat dulu. Kek suara…." Aku hanya terpikirkan bahwa itu bom.
"Ken ban mobil truk pecah tuh," tambahku kemudian.
Aku tidak menemukan objek yang mirip dengan suara tadi.
"Tapi Biyung tak dengar. Kerasa getaran aja, terus angin-angin kamar pecah."
Sebetulnya tidak heran biyung tidak mendengar, apalagi jelas ia tengah pulas. Aku tidak heran, tapi aku bersyukur dia bangun.
"Biyung, sakit kepala," rengek Cala kemudian.
Aku benar-benar lega, mendengarnya tetap bersuara.
"Bau hangus plastik, terus nyala api dan ledakan. Kek……
__ADS_1
...****************...