
"Kata pemadam tuh, katanya kek ada yang sengaja nyalakan kompor. Penyebabnya kemungkinan itu kata mereka. Sedangkan ayah kau bilang, tiga rumah itu kosong dan satu rumah diisi. Asal kejadian itu di rumah Jasmine, terus tiba-tiba ayah kau minta pemadam panggil kepolisian. Makanya mereka cepat datang tuh, terus langsung ngobrol-ngobrol begitu pas api padam. Ngeri betul loh, Bang. Duh, api udah nyala besar betul." Papa Ghifar sampai geleng-geleng kepala.
Apa ayah mencurigai sesuatu?
"Sini, Bang. Bisa jalan tak?" Ayah melambaikan tangannya padaku.
"Sini aja, Yah. Susah jalan." Aku menunjukkan telapak kakiku yang diperban rapat.
Aku jadi trauma dengan rumah yang diteralis begini. Bisa-bisa kami terbakar di dalam rumah, jika semua akses keluar diteralis dengan sengaja.
Ayah berbicara dengan salah satu polisi yang ada di sampingnya, tak lama mereka berdua langsung berjalan ke teras rumah ini. Ini tengah malam, tapi sudah seperti pagi hari. Tidak ada rasa mengantuk, dengan aktivitas yang begitu ramai.
"Kami permisi ya, Pak?" Para warga pamit dengan tersenyum pada kami semua.
"Iya, iya. Makasih, Pak." Ayah tersenyum ramah.
Jika biyung, pasti beranggapan bahwa dirinya kurang sedekah. Kemalangan apapun, biyung pasti beranggapan bahwa dirinya itu kurang sedekah.
"Sama-sama," sahut semua orang beramai-ramai.
Meski kejadiannya tengah malam, alhamdulillah banyak warga yang datang membantu. Aku yakin mereka tengah beristirahat, kemudian rela meninggalkan ranjang mereka untuk membantu tetangganya ini.
"Kau di luar aja kan dari tadi?" Ayah langsung bertanya.
"Sebentar, Pak. Saya aktifkan perekam suara dulu." Polisi yang ikut dengan ayah tadi langsung merogoh ponselnya.
__ADS_1
"Awal kejadiannya gimana, Pak Chandra?" tanya polisi itu kemudian.
"Awalnya tak ada apa-apa, Saya duduk di teras ini lumayan lama, sejak kakak ipar Saya bilang mau ambil barang-barangnya di rumah. Kebetulan, kakak ipar Saya mengembalikan kakak Saya ke Ayah Saya sebelum kejadian itu. Saya masih duduk di teras, sambil cek email dan dengarkan musik. Sampai kakak ipar Saya keluar dari rumah dengan bawa tas ransel, dia pun sudah pakai helm dan jaket. Dia permisi pergi setelah itu, dengan bawa motor miliknya sendiri. Lepas itu, ada bau plastik terbakar. Ada sekitar lima belas menit bau plastik terbakar itu, Saya pun celingukan cari sumber bau itu. Pas Saya mah jalan ke halaman sebelah, di tengah langkah langsung ada ledakan diikuti getaran kuat sampai kaca-kaca itu bergetar dan ada yang pecah. Ssya bingung, panik, tapi Saya ingat kalau dua adik bungsu Saya ada di rumah itu dengan dua pengasuhnya. Itu atap rumah udah nyala, ledakan itu berbarengan sama nyala api yang kek ada di dalam ruangan. Nyala gitu, nampak terang pas ada suara ledakan itu. Entah apa itu sebabnya, Saya tak cari tau karena Saya panik untuk nolong adik-adik Saya dulu. Keadaan rumah yang ditempati adik Saya pun begitu hancur, plafon rumah runtuh, barang-barang yang di dinding pada jatuh. Kek televisi tempel, sama beberapa bingkai foto. Tapi memang, setelah ledakan itu langsung padam lampu empat rumah itu." Aku bercerita apa adanya. Mungkin dengan diketahuinya kakak iparku mengembalikan kakakku itu, polisi bisa mengumpulkan hal itu.
"Kakak ipar Anda, rumahnya yang di rumah sumber api utama itu berarti?" Mata polisi mengunci sempurna, seperti mata mangge Lendra dan Ceysa.
Tapi aku yakin, polisi memang tugasnya mengintimidasi seperti itu. Berbeda dengan Ceysa dan mangge Lendra yang sepertinya sudah bawaan lahir.
"Betul, Pak." Aku mengangguk cepat.
"Perceraian ya, Pak Givan?" Polisi tersebut menoleh pada ayah.
"Betul, Pak." Ayah pun mengangguk pada polisi tersebut.
"Saya pengen su'udzon jadinya." Polisi tersebut terkekeh kecil.
"Bapak ada luka apa aja? Gimana adik-adik Bapak dan pengasuh juga?" Polisi memandangku dengan tatapan elang lagi.
Aku takut sebenarnya. Seharian ini, aku berurusan dengan polisi terus.
"Saya ada luka jahit di tangan, karena berusaha buka pintu rumah yang ditempati adik Saya. Semua rumah jendelanya diteralis besi, jadi Saya tak bisa masuk dari jendela. Di kaki ada beling masuk, terus potong di dalam. Jadi dikorek gitu, untuk diambil pecahannya. Salah satu pengasuh namanya kak Wati ada tertimpa lemari plastik, tapi dia tak dibawa ke rumah sakit. Satu pengasuh lainnya dibawa ke rumah sakit, karena terkena pecahan beling parah di bagian kaki juga. Udah seperti tari piring gagal kebal." Aku memperjelas agar mereka bisa membayangkan dengan jelas. "Salah satu adik perempuan Saya ada luka sobek di bagian kepala, pendarahan ringan, sudah dijahit, tapi besok akan discan. Menurut pengasuh, katanya terkena reruntuhan plafon kamar. Salah satu adik perempuan Saya tak terluka, tapi dia ketakutan dan trauma."
"Ya Allah…." Ayah nampak shock saat aku menceritakan keadaan mereka.
"Salah satu adik yang terluka namanya siapa? Usianya berapa?" tanya polisi tersebut kemudian.
__ADS_1
"Calandra, usia sembilan tahun. Untuk sekarang, rawat inap di rumah sakit," jawabku langsung.
"Baik, Pak. Besok sekiranya bisa ya, Pak? Kalau misal ada pihak kami yang jemput untuk diminta keterangan lebih lanjut."
Aku mengangguk. "Siap, Pak." Entahlah, semoga tubuh ini tidak drop saja.
Pusing otak memikirkan pekerjaan. Keluarga ditimpa musibah, ditambah belum dengan problema dari Izza.
Huft…. Cobaan tunai setelah pernikahan.
Polisi tersebut mematikan perekam suara, kemudian ia berbicara dengan ayah untuk minta diantarkan ke pusat kontrol CCTV. Tadinya setiap rumah memiliki kontrol CCTV masing-masing, tapi tidak pernah terkontrol.
Hingga akhirnya abi Ghava mengusulkan untuk membayar orang untuk mengatur kontrol CCTV, agar tidak longgar pengawasan. Karena pernah kejadian kemalingan bergilir, hewan peliharaan yang menjadi incaran terus. Pelakunya sudah ditangkap dan diserahkan ke desa. Kami tidak tahu menahu, karena abi Ghava yang mengurus dan bolak-balik ke kantor desa.
"Jadi maksud kau, Vano pelakunya?" tanya papa Ghifar dengan berbisik-bisik.
"Aku tak mau su'udzon, Pa. Tapi menurut Zio itu mungkin teledor dan disengaja, karena Zio punya mengalami kasus serupa. Ya cuma kejadian Zio itu karena lupa, teledor itu. Untungnya, keburu ketahuan sama sopir lainnya katanya." Aku berbicara dengan nada rendah.
"Memang gimana kejadiannya? Teledor gimana sampai mau kebakaran gitu?" Papa Ghifar sepertinya begitu penasaran.
"Jadi gini, Pa. Kemungkinan itu kompor nyala, bukan gas bocor. Karena tak ada bau gas, Pa. Kalau gas bocor, mestilah bau gas. Sedangkan tadi itu tak begitu. Kompor nyala, tak ada barang yang dimasak, jadi begitu panas kan objek di atas kompor itu." Kami cenderung berbisik-bisik.
Bukan apa-apa, aku khawatir disangka menuduh tanpa bukti. Jika sudah ada bukti jelas, mungkin aku akan berani menuduh.
"Abang….
__ADS_1
...****************...