Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA50. Mencurahkan dari hati ke hati


__ADS_3

"Resiko apa? Perbuatan Sekar yang mana?" Samia semakin serius menyimak cerita Ceysa. 


"Malam itu, Sekar merengek ingin tau yang namanya club malam. Selain karena di provinsi kita memang tak legal dan tak ada, dia bilang karena ingin tau juga. Feeling Saya udah tak enak, karena Sekar penuh persiapan. Di sana luar negeri, tentu bebas berpenampilan. Tapi, dia sana terasa aneh bahkan dilarang kalau bertudung masuk ke club malam. Di sana kan kami minoritas, bahkan ada beberapa orang dari mereka yang memandang ilfeel kalau lihat muslim di sekitar mereka. Khususnya, di lingkungan kita tinggal, kita adalah minoritas. Dia rela lepas tudung, demi masuk ke situ. Saya pakai. Hoodie, jaket yang ada kupluknya itu. Jadi, rambut Saya tetap aman tertutup kupluk jaketnya." Ceysa menghela nafasnya, mencoba menarik nafas lebih banyak lagi. 


"Sekar buka hijab?" Samia begitu tidak percaya dengan penuturan anak juragan tersebut. 


Ceysa mengangguk. "Demi Allah, yang Saya ucapkan ini bukan dusta. Saya pasti dapat hal yang setimpal, kalau Saya berkata dusta." Ceysa mengangkat tangannya. 


Samia menarik tangan Ceysa yang tarangkat. "Maaf, Dek. Bukan Ibu tak percaya ke Adek, tapi Ibu kaget dengar Sekar lepas hijabnya." Samia menggenggam tangan Ceysa. 


"Tapi begitu kenyataannya, Bu. Memang dia tak pakai baju yang terbuka, tapi dia lepas tudungnya di sana." Ceysa tidak mau disangka mengada-ngads. 

__ADS_1


Samia mengangguk. "Terus selanjutnya gimana, Dek?" tanyanya kemudian. 


"Kita pesan minuman, ngobrol dan ketawa bersama. Beberapa saat kemudian, Sekar pamit ingin ke kamar mandi. Terus terang aja, Bu. Saya khawatir dia nyasar, atau ditarik laki-laki hidung belang. Saya ikutin Sekar, berniat temani dia ke kamar mandi club tersebut. Sayangnya, Sekar tak benar-benar ke kamar. Dia singgah di meja pemesanan minuman, terus dia pesan beberapa minuman dalam gelas. Kek semacam campuran, biar rasanya tak begitu pahit. Setau Saya begitu, Bu. Aku tambah tak percaya, kala Sekar ambil sesuatu dari tasnya dan dengan cepat kasih sesuatu ke minuman dalam gelas tersebut. Saya terus mastiin, gelas yang mana yang dia kasih. Ternyata, dia cukup cerdas. Dia kasih tanda di gelas yang ada obatnya itu, dengan menaruh sendok kecil di dalamnya. Sampai akhirnya, sampai ke meja kami lagi. Saya masih diam dan pura-pura tak tau tentang gelas bersendok tersebut. Rupanya, gelas itu diarahkan ke Hadi. Tanpa curiga pun, Hadi langsung minum. Saya tak berpikir, bahwa obat tersebut adalah racun untuk bunuh Hadi. Karena Saya paham bahwa di mata Sekar ada ambisi. Saya berpikir lagi, bahwa itu adalah obat tidur. Ternyata Saya salah, Bu. Setelah bang Chandra mabuk parah, Hadi dan Sekar juga, Saya pesan kamar dan berniat antar Hadi karena kamar hotel kami satu koridor. Sedangkan Sekar dan bang Chandra, mereka di koridor bawah dan diantar petugas club pakai kursi roda. Sampai di kamar hotel Hadi, Saya bantu Hadi untuk pindah ke ranjang, tapi dia malah kelabakan. Saya pun tak tau, bahwa obat itu adalah obat perangsang. Yang menjadi korban dari Hadi, sebenarnya bukanlah Sekar. Alhamdulillah, anak Ibu selamat dan tidak dinodai oleh siapapun malam itu. Karena dari tindakan anak Ibu itu, Saya harus melahirkan dengan cara sesar masa bulan puasa kemarin." Ceysa menyibakkan bajunya, hingga terlihat bekas luka di perutnya. 


Samia tidak bisa mencerna semuanya secara keseluruhan, ia berkedip beberapa kali dan memandang bekas luka tersebut. Ia tidak percaya, bahwa Ceysa yang menjadi korban Hadi dari obat yang Sekar campurkan dalam gelas bersendok tersebut. 


"Saya mengandung dan melahirkan tanpa suami, Bu. Dalam usia Saya yang begitu muda, tujuh belas tahun. Saya takut sama orang tua, Bu. Saya pun khawatir Hadi tak percaya, karena dia melakukan dalam kondisi mabuk berat dan pengaruh obat. Apa yang bisa Saya lakuin? Tak ada, Bu. Saya serba takut untuk melangkah membawa kebenaran ini." Ceysa terisak, ia teringat deritanya yang takut dengan pemikirannya sendiri. Ia dipaksa kuat oleh keadaan, ia pun dipaksa untuk bisa melahirkan malaikat kecil dari perbuatan dosanya di usia yang begitu muda. 


"Ya Allah, Nak." Samia langsung memeluk erat Ceysa. Ia tidak menyangka, jika perbuatan anaknya merugikan orang lain. 


"Anak kami laki-laki, Bu. Dia diasingkan dari masyarakat sini, karena orang tua Saya menyayangi Saya dan menutupi aib Saya sedemikian rapatnya. Anak kami belum empat puluh hari, Saya pun belum selesai masa nifas. Do'ain kami bahagia, Bu. Saya ingin keadilan dari tindakan anak Ibu itu, maaf Saya merebut ayahnya anak Saya tanpa permisi." Ceysa menangkupkan telapak tangannya dan menundukkan wajahnya. 

__ADS_1


"Ya Allah, Dek. Tak perlu minta maaf, Dek. Kami yang lebih pantas meminta maaf, karena Sekar udah buat keadaan kau begini." Samia langsung menurunkan tangan Ceysa. 


"Saya ingin kedamaian, Bu. Saya ingin ayahnya anak Saya bertanggung jawab penuh pada kehidupan dan pertumbuhan putranya. Do'ain kami bahagia, Bu. Do'ain Hadi yang bisa memberikan kecukupan materi, karena dia benar-benar belum bisa untuk menafkahi kami. Kami masih terlalu muda untuk menjadi orang tua, kami masih terlalu muda untuk menjalani rumah tangga, mohon doa restunya agar kami bisa menjadi panutan yang semestinya untuk anak kami, Bu." Ceysa merendahkan kepalanya dan mencium tangan Samia. 


"Iya, Dek. Iya, Ibu minta maaf yang sebesar-besarnya. Mohon maaf, pernah berprasangka buruk tentang Adek." Samia mengusap kepala Ceysa dan mencium kepala anak tersebut. 


Air mata mereka membasahi wajah mereka, mereka saling memaafkan dari lubuk hati mereka.


"Mohon dengan sangat, untuk halangi Sekar jika dia mau mengusik kebahagiaan kami, Bu. Bukan kami beranggapan, bahwa Sekar ini menjadi perusak kebahagiaan kami. Tapi biarkan anak Saya merasakan kasih sayang ayah kandungnya dengan seutuhnya, biarkan Saya menikmati kasih sayang ayahnya anak Saya yang tak pernah aku rasakan di masa Saya mengandung dan melahirkan tanpa dirinya. Itu masa-masa tersulit untuk Saya, Bu. Itu benar-benar sulit untuk Saya bagi dengan orang lain, karena Saya masa itu adalah seorang gadis yang tak bersuami tapi melahirkan seorang anak." Ceysa mengusapi air matanya, ia tidak bisa mengungkapkan semua agar semua orang mengerti penderitaannya. 


"Kau berhak bahagia, Dek." Samia memegangi kedua lengan Ceysa dan tersenyum lebar, dengan air matanya yang masih membasahi wajahnya. 

__ADS_1


"Terima kasih, Bu." Ceysa mencoba menahan air matanya saat menarik garis bibirnya ke atas. 


...****************...


__ADS_2