Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA129. Dicecar ayah


__ADS_3

"Bang ikut." 


Aku celingukan, untuk mencari sumber suara. Halaman rumah ini sepi, hari pun sudah semakin malam. Apa jangan-jangan hantu? Karena tidak ada orang di sekitar halaman rumah pakwa ini. 


"Ini di jendela, Bang." Suara tersebut diikuti dengan kekehan kecil. 


Aku langsung melihat ke arah beberapa jendela, sampai akhirnya menemukan jendela yang sedikit terbuka di paling ujung kiri. Itu Bunga, ia berada di sana dengan baju yang masih sama. 


"Bilang ayah dulu, kalau mau ikut." Aku tidak mau dituduh membawa kabur janda muda. 


"Tuh, tak jadi deh. Udahlah, tak usah ikut aku." Diikuti dengan suara jendela yang tertutup. 


Aku berjalan kaki, pulangnya pun aku mampir ke minimarket dulu. Hingga sampai rumah, aku mendapati ayah yang bertolak pinggang di teras. 


Ia marah padaku? 


"Darimana kau?" Nadanya tidak bersahabat. 


"Dari pakwa, Yah," jawabku lirih. 


Izza tidak tahu bahwa aku bertandang ke pakwa, bisa-bisa ia mencurigaiku lagi. Apalagi, jika esok jadi langsung tindakan. 


"Kau tak tau pakwa kau gimana, nanti diajarkan yang tak betul itu gimana?" Ayah sampai geleng-geleng kepala. 


Memang tadi ada bilang untuk melakukan sesuatu yang buruk kah? Perasaan tidak juga, paling diajarkan untuk buang luar untuk setelah Izza melakukan tindakan. 


"Ya tak mungkin lah, Yah." Aku duduk di teras rumah, kemudian mengeluarkan minuman rasa kopi dari dalam kantong plastik berlogo minimarket biru ini. 


"Istrinya ada ngomong apa?" Ayah duduk di sebelahku. 

__ADS_1


Dasar orang tua! Tadi marah, sekarang penasaran. 


"Tak ada ngomong, Yah. Kenapa sih sama istrinya?" Istrinya pun tak pernah main ke sini. 


"Ya barangkali ada ngomong. Abis ngapain kau ke sana? Ayah ketuk-ketuk kamar kau, yang keluar Izza. Katanya kau disuruh ayah untuk urus sesuatu di luar." Ayah mendelik tajam padaku. "Sialan kau memang, tak ada kompromi dulu! Main kambing hitamkan Ayah aja."


Aku terkekeh kecil. "Terus, Ayah bilang apa ke Izza?"


"Biar kau tak berantem sama dia, Ayah jadi ikut situasi aja. Eh, udah berangkat kah. Ayah pura-pura tak tau kau pergi, padahal memang tak tau kau pergi ke mana." Jadi tadi ayah marah, karena aku tidak memberinya aba-aba lebih dulu untuk berbohong pada Izza. 


Ayah pandai juga, aku langsung mengacungkan dia ibu jariku untuk ayahku yang pandai ini. Ia malah menepis tanganku, kemudian meraup wajahku. 


"Gimana? Ngobrol apa di sana? Kau tak diminta untuk ngawinin Bunga kan?" Pikiran ayah terlalu jauh. 


"Tak lah! Malah malu aku, soalnya pakwa ada bilang kata Ayah, aku turn on terus kalau ada Bunga di rumah sini." Eh ia malah tertawa lepas. 


Kemudian, ayah mencicipi minuman rasa kopi tersebut. "Gimana? Ngobrol apa di sana? Kadang Ayah sih takut kau diajarin jelek."


"Separah apa kalau Ayah boleh tau? Apa resikonya juga?" Ayah duduk lebih dekat padaku. 


"Dari luar rahim tembus ke dalam, itu satu yang terbaca di USG. Tapi kan tak tau nih, kalau itu sampai tembus kalau tak di MRI. Jadi permukaan yang menonjol di dinding rahim itu, yang terbaca masa USG. Terus ada juga yang bertangkai, jadi katanya ada tumbuh sebesar markisa di otot kecil yang berada di luar rahim. Tapi otot itu, termasuknya otot rahim juga. Resikonya tak ada kalau Izza tak stress. Jadi jangan sampai, Izza ini stress sebelum tindakan dan dia tak ada bilang ke kita atau ke dokternya." 


Pandangan ayah kosong, ia menghela napasnya dan memandang wajahku. "Kau pikir bagaimana perasaan orang yang akan masuk ruang operasi? Dia stress, Bang. Mereka akan deg-degan, pikirannya berkecamuk, mentalnya bergetar. Jadi sekalipun Izza tak stress mikirin fibroidnya, hatinya pasti kacau tengok ruangan yang terang benderang begitu. Keknya tak mungkin kalau tak stress, pasti dirasakan pasien lah stress kek gitu. Ayah orang normal aja, gemetaran nemenin biyung kau disesar. Biyung kolaps hilang sadar, Ayah histeris setengah mati. Mungkin bawaan sawan ruang operasi, yang menampilkan momok menegangkan. Tapi tengok isi dalam ruangannya pun ngeri, Bang. Harus steril segala macam, bikin tambah parno untuk orang awam kek kita."


Logika juga sih, ayah tak pernah meleset dari logika. 


"Terus gimana dong, Yah?" Aku meraup wajahku sendiri. 


"Tak ada gimana-gimana, stress itu pasti ada. Maksudnya, resiko apa yang terjadi masa operasi itu? Kek contohnya melahirkan, bisa pendarahan begitu."

__ADS_1


Oh, itu yang ayah maksud. 


"Iya, pendarahan juga. Makanya jauh-jauh hari tuh, dokter bilang untuk siapkan beberapa anggota keluarga yang golongan darahnya sama kek Izza." Aku masih ingat pesan dokter Fardan dulu. 


"Golongan darahnya apa? Kita sekeluarga ini banyakan A+, biyung kau juga keknya." 


Aku mengingat hasil cetak golongan darah Izza yang didapat dari IGD kemarin. "Keknya O deh golongan darahnya." 


"Wah, ya iya betul. Mana O jarang orang punya lagi." Ayah menggeleng berulang dengan menyukai rambutnya. 


"Betul gimana?" Terus terang aku panik. 


"Ya betul aja, dokter bilang untuk siapkan anggota keluarga yang darahnya cocok. Soalnya keknya O itu jarang orang punya." 


Sudah seperti aset saja, sampai jarang orang punya. 


"Heh, mau ke mana?" Ayah kadang kurang ramah menegur seseorang. 


"Ehh." Kaf cengengesan. 


Entah apa bumbu rahasianya, kadang aku merasa iri dengan senyuman yang dimiliki oleh Kaf. Karena apa? Karena aku yang laki-laki saja mengakui bahwa dirinya memang manis, dengan senyum yang membuat semua orang ingin membalas senyumnya. 


"Mau ke Gwen." Ia berhenti di depan teras rumah ayah ini. 


"Gwen, Gwen! Gwen masih kecil!" Mungkin ayah berpikir Kaf akan mengapeli Gwen. 


Gwen adalah adik bungsu Hadi. Hadi tiga bersaudara, ia memiliki dua orang adik. Yang pertama Fandi, yang kedua Gwen. Jaraknya tidak begitu jauh, mungkin hanya satu sampai dua tahunan saja. Kalau tidak salah, Fandi kelas dua SMA. Sedangkan Gwen, kelas tiga SMP. 


Kaf seusia Hadi, ia mahasiswa kedokteran di universitas yang sama dengan Hadi dan Zio. Hanya berbeda fakultas aja. 

__ADS_1


"Eh, Kaf. Abang mau nanya. Memang kalau darah O itu, harus dapat donor O lagi kah? Yang bisa masuk semua itu donor apa sih?" tanyaku langsung, sebelum Kaf berjalan ke rumah abu Zuhdi. 


...****************...


__ADS_2