
"Ya di rumah sana, kan tak ada orang," jelas Izza begitu lirih.
"Di rumah sini juga kan kalian di rumah sendiri, tak bareng Biyung sama ayah. Chandra anak laki-laki yang paling berhak, tertua dan paling dewasa. Dia tak boleh pergi, kecuali untuk usaha." Canda tidak mungkin mengatakan bahwa Chandra anak laki-laki satu-satunya dengan nasab suaminya dan Chandra lah pewaris yang memiliki banyak bagian dari mereka. Bahkan, bagian Chandra besar dari nenek dan kakeknya. Karena, Givan menolak pembagian tersebut karena merasa kurang berhak.
Chandra tersenyum samar, karena ia memiliki pemikiran bahwa Izza ingin melakukan kegiatan dewasa dengan bebas tanpa canggung dengan orang tua. "Bisa dikontrakin, kita tinggal di rumah yang terpisah." Senyumnya mengarah ke kekasihnya.
"Iya, Bang." Izza tidak mau banyak komplain, ia tidak mau kekasihnya berpikir ia terlalu banyak menuntut.
"Gimana rasanya malam pertama sama ayah dulu, Biyung?" tanya Chandra dengan memperhatikan aktivitas ibunya.
Canda menoleh ke belakang, ia tersenyum geli. Bukan saat pemerkosaan yang ia ingat, melainkan saat suaminya datang dari tempat rehabilitasi.
"Canggung, orang calon kakak ipar ayah tuh dulunya." Pengakuan Canda membuat Chandra tertawa lepas.
"Serius kah, Biyung?" Mata Izza melebar kaget.
Canda mengangguk, ia melirik sekilas pada calon menantunya. "Serius, nikah sama calon kakak ipar. Canggung dan serba malu, tapi tak yang kek mana gitu. Tetap paham, kalau diri ini udah haknya suami. Kau sih ada pacarannya sama Chandra, Biyung sama ayah kan tak ada pacaran sama sekali. Mana menyesuaikan diri itu kaget banget, dikomen terus pas tah ngelakuin kegiatan apapun. Ospek kalah sadisnya, tapi akhirnya berbuah manis." Canda tersenyum lebar.
Ia tidak mungkin menceritakan kedukaannya selama berumah tangga, ia khawatir anaknya dan calon menantunya malah takut untuk berumah tangga.
"Tapi sama papa Ghifar, Biyung akur ya? Ayah juga tak berjarak gitu." Izza menyimak cerita Canda dengan baik.
"Akur, alhamdulillah." Canda tidaj mengatakan fakta sebenarnya sebelum mereka rukun dan hidup berdampingan.
"Nanti kan enak di sini kalau dekat Biyung, kau tak kesepian, ada temen ngobrol. Tak usah kerja lagi, jadi ibu rumah tangga aja. Biar fokus ke aku, biar fokus ke anak kita." Dengan Chandra membahas anak, Canda terpikirkan tentang sejarah kehamilannya dulu. Ia begitu sulit untuk mendapatkan Chandra di rahimnya, butuh waktu, doa dan kesabaran yang begitu menguras waktu.
Satu yang menjadi ketakutannya, Canda takut Chandra pun mendapatkan ujian kesulitan memiliki anak seperti awal pernikahan mereka. Meski awalnya ia tidak memiliki ketakutan seperti itu, tapi tiba-tiba ia terpikirkan hal itu terjadi pada Chandra.
__ADS_1
"Siap, Bang." Izza tersenyum lebar pada Chandra.
"Gaya hidup sehat, makan sayur, daging dan olahraga yang cukup. Karena pengantin baru, rawan kurang darah karena begadang." Canda teringat gangguan kesehatan dulu saat baru menikah dengan suaminya.
Chandra langsung paham, ia laki-laki matang yang memiliki pemahaman khusus tentang hal yang berbau dewasa. "Memang harus begadang kah, Biyung?" tanyanya setelah menyelesaikan sarapannya.
"Ya tak harus, tapi karena belum saling memahami satu sama lainjadi prosesnya lama. Kalian pun pasti bakal ngerasain sendiri. Adegan kek gitu, gak ada hubungannya sama hobi, kebiasaan dan sifat. Bisa jadi, malah berbanding terbalik dengan sifat. Kau dan Izza saling tau sifat satu sama lain juga, bisa jadi kalian belum memahami keinginan satu sama lain di malam pertama." Canda hanya ingin menyampaikan, bahwa di malam pertama mereka pasti tidak sesuai bayangan mereka.
"Apalagi, Bang Chandra tak pengalaman. Maklum ya, Dek? Ini bujang kramat kami." Givan muncul dengan langsung mengusap bahu Chandra.
Celetukan Givan, membuat mereka tertawa bersama.
"Memang udah selesai kah ngurusnya, Yah?" Izza mengeluarkan pernyataan pertama untuk Givan.
"Udah, bang Nando yang urus selanjutnya." Givan mengangguk samar. Givan duduk di samping anaknya, kemudian memperhatikan kedua wanita yang sibuk dengan pekerjaannya itu.
"Cie jadi pengantin, nanti pas resepsi udah hamil." Givan tertawa meledek anaknya.
"Heem, tapi mamah sih hamil muda. Tapi tak apa, unik, udah dah juga." Givan menerima teh buatan istrinya yang terlalu terasa mewah di mulutnya.
"Makasih Biyungnya anak-anak." Givan tersenyum lebar pada istrinya.
"Sama-sama." Canda kembali ke meja kesibukannya.
"Jadi Ceysa sama Hadi di sana udah berdua aja kah, Mas?" Canda bertanya tanpa mengalihkan perhatiannya.
"Heem, udah berdua. Uang dapat resepsi dikasih ke mereka semua, untuk sekarang ekonomi mereka aman. Agak kepikiran sama susu untuk Dayyan, mana susunya susu mahal."
__ADS_1
Izza langsung menoleh, ia bertanya-tanya tentang siapa Dayyan. Ia benar-benar tidak tahu apa-apa, bahkan ia pun tidak datang untuk memberikan kegembiraan untuk Ceysa pada resepsi pernikahannya. Kini, ia memiliki pemikiran akan Ceysa yang marah padanya.
"Hadi belum bisa kerja lagi, gimana mereka mandirinya?" Canda ikut memikirkan cucunya yang masih merah.
Ia bahkan berencana untuk membawa seorang pengasuh untuk Ceysa, agar Ceysa bisa mengurus suaminya dan sedikit tanggung jawabnya pada usahanya sendiri. Ia tidak tega melepaskan anaknya yang masih begitu muda untuk mengurus anak sendiri.
"Abu tak mungkin lepas tangan, Yah. Abu sayang betul ke Ceysa, Ceysa kek anaknya sendiri. Tak mungkin dia tak mikirin cucunya sendiri, apalagi liat anak-anaknya yang belum mandiri."
Izza mengerutkan keningnya mendengar ucapan kekasihnya. Cucunya? Berarti Ceysa dan Hadi sudah memiliki anak? Izza bertanya-tanya dengan keberanian yang belum ia miliki.
"Ada Biyung yang mikirin, tenang." Canda menghampiri suami dan anaknya, kemudian duduk di kursi yang tersisa.
Izza sudah menyelesaikan pekerjaannya, ia ikut menimbrungi meja makan tersebut. "Mikirin apa, Biyung?" Ia memperhatikan calon ibu mertuanya.
"Mikirin Dayyan dong." Jawaban Canda tentulah semakin membuat Izza bingung.
"Dayyan siapa?" Pergerakannya terhenti, ia menantikan informasi yang jelas.
"Kok Dayyan siapa? Kau tak tau kah? Chandra tak cerita kah? Masa iya kau tak tau apapun? Rasanya aneh aja." Canda hanya menoleh sekilas pada Izza yang memperhatikannya penuh.
"Cerita apa?" Izza melirik kekasihnya yang masih menikmati makanan yang tersaji di meja makan. Padahal, nasi yang berada di dalam piring Chandra sudah habis. Tapi, Chandra terus mencari makanan untuk ia hancurkanhancurkan di mulutnya.
Semua yang berada di situ memperhatikan Izza, Izza pun memandang mereka satu persatu karena merasa diperhatikan. "Ada apa?" tanya Izza pada semua orang.
"Kau dari dulu tak cerita soal Dayyan ke siapapun, Bang?" Pertanyaan Givan pada Chandra menimbulkan kecurigaan baru pada Izza.
Chandra menggeleng, ia tetap terlihat santai meski Izza menuntut pertanyaan dan penjelasan dari sorot matanya. Ia tidak tertekan sama sekali.
__ADS_1
Chandra memandang Izza, kemudian ia menggigit tahu goreng yang berada di tangannya. "Dayyan itu…" Ia menjeda ucapannya saat mengunyah.
...****************...