
"Ya mungkin Saya minta ibunya kirim dia ke Pariaman aja, sebelumnya kan memang udah ikut bapaknya."
Karena adanya perkataan 'mungkin', pak Darmaji seperti belum mantap untuk melakukannya. Ia seperti menunggu persetujuan dari istrinya dulu.
"Kemungkinannya dia bakal dipertahankan ibunya untuk tetap di sini, kalau Bapak bilangnya mungkin sih. Bukan keluarga Saya lagi, nanti pasti dia incar keluarga orang. Mungkin paham dia kalau orang sini pada punya tanah luas." Mulut tajam ayah tak terhindarkan.
Pak Darmaji menghela napasnya. "Ya, Saya akan minta dia pulang ke bapaknya aja. Bapaknya pun gedein dia, bekal untuk urus bapaknya di masa tua. Dia udah besar, malah dia ke ibunya, itu jadi batu kecil di rumah tangga kita." Pak Darmaji menoleh ke arah teras rumahnya.
"Bukannya bapak kandungnya dipenjara ya, Pak?" Aku langsung menutup mulutku, karena sudah tidak sopan mencampuri urusan orang tua.
"Ya katanya, kalau Jessie tak kami tebus pun, dia tak bakal keluar juga."
Ohh, begini faktanya.
"Dia bilang, dia jalani masa hukuman." Aku melirik ayah, karena aku malah berbicara kembali.
"Terpaksa menjalani, karena masa diberitahukan tentang kabarnya kan, kami belum siap uang tebusan. Dia kami bawa ke sini pun, karena dia bilang bingung mau pulang ke mana, sedangkan bapaknya masih di dalam sel. Ibunya jelas tak tega dong, biar kek gitu juga, Jessie tetap anaknya istri Saya. Saya udah bilang juga tuh sama Niken, kembalikan aja ke bapak kandungnya, karena bapak kandungnya ini terlalu mengganggu nanyain si Jessie. Ya mungkin, bapak kandungnya itu sekarang udah pulang ke Pariaman. Saya baru pulang dari yang pertama, jadi belum tau lagi kabar selanjutnya."
Aih, aih, aih? Kok yang pertama? Jadi, ibu Niken ini istri kedua? Pantas saja ayah menyebut ibu niken istri siri, orang pak Darmaji punya istri sah ternyata.
"Jadi, bapaknya Jessie itu gangguin ibu Niken gitu? Kenapa bapaknya itu tak tanya langsung kabar Jessie ke Jessienya, itu anak udah dewasa, pegang HP sendiri." Sisi kepo ayah keluar.
__ADS_1
"Ya, betul. Jadi Saya sama Niken pun ada aja problemnya gara-gara itu, ibarat kerikil lah. Alasan anak, hubungi ibunya." Nampak sekali urat cemburu pak Darmaji.
Istri dua pun, benar ada cinta dan ada rasa cemburu kah? Ish, ngeri sekali bangsa laki-laki. Aku laki-laki loh ya? Tapi tak begitu pun.
"Saya sih minta ketegasan Bapak urus Jessie ya pokoknya!" Ayah mengarahkan telunjuknya ke bawah, pertanda harus dilakukan.
"Anak duda Saya, udah nikah lagi nih. Adik laki-laki Saya pun udah beristri nih. Saya tak mau tau tentang ibu Niken yang jadi istri kedua, lalu Jessie punya pikiran untuk jadi istri kedua juga. Saya tak mau menghakimi hal itu, Saya tak mau mengcap bahwa buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Intinya, diusahakan agar Jessie tidak tinggal di sini, biar dia tak ganggu anggota keluarga Saya atau masyarakat lain. Dengan dia perempuan, merokok di tempat umum di lingkungan yang seperti ini, Bapak yang kena coreng loh. Karena orang pasti menginfokan, bahwa anak perempuan yang merokok di depan umum itu anak Bapak."
Kok aku tidak tega ya berbicara setajam ayah? Rasanya, aku malah kasihan pada pak Darmaji.
"Kalau keadaan istri pertama Saya tak terbatas pun, Saya tak mungkin nikah lagi, Pak. Menikah lagi pun, atas saran istri Saya karena dia tak mampu memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri."
"Istri Bapak kenapa memang?" Kini giliran aku yang kepo.
"Lima bekas tahun yang lalu itu ada tragedi kecelakaan, yang angkot terguling itu, Bang. Kebetulan, istri Bapak di angkot tersebut. Setelah tiga tahun pengobatan rutin, istri Bapak dinyatakan dokter lumpuh permanen. Kaki dia utuh, tapi setiap digerakkan, apalagi 'maaf' direntangkan, dia menjerit kesakitan. Tak selesai Bapak ikhtiar, berobat lagi sampai akhirnya tau kalau ada syaraf yang terjepit dan ada juga yang patah katanya. Dari tiga tahun setelah kecelakaan, sampai dua tahun kemudian, Bapak bawa berobat rutin itu tak ada hasil. Lima tahun, dia tak memenuhi kewajibannya, Bapak pun udah kena migran tiap hari. Sampai mulutnya itu ngucap, minta Bapak nikah lagi aja, dengan syaratnya, dia tak mau diceraikan, dia pun mintanya Bapak nikah lagi pun secara siri aja. Bapak tak selalu di sini, kasarnya juga di sini kalau memang butuh pelepasan aja. Tapi Bapak jamin kebutuhan ibu Niken, agamanya Bapak perbaiki, Bapak pun punya anak sama dia, tapi nama ibu dari anak Bapak ya istri Bapak. Anak Bapak sama ibu Niken, ya tetap ibu Niken yang urus. Soalnya Bapak sama istri Bapak yang pertama, belum sempat punya anak. Kebetulan masa istri Bapak kecelakaan itu, itu tahun kedua pernikahan kami. Jadi masih dibilang, kami masa itu masih pengantin baru. Setelah enam tahun pernikahan Bapak dan istri pertama Bapak, baru Bapak nikah lagi. Sekarang Bapak udah sepuluh tahun sama ibu Niken, tapi anak kami masih kecil, masih balita." Pak Darmaji fokus m memandangku.
Duh menyedihkan, aku merasa senasib dengannya. Lebih pedih pasti melihat istri kesakitan setiap hari, daripada sepertiku yang ditinggal istri selamanya.
"Abang nikah sama saudara yang mana?" tanyanya kemudian.
Orang sini menghormati orang terpandang, dengan panggilan yang seperti dituakan.
__ADS_1
"Sama anak tirinya Ghifar, yang punya pabrik kopi itu." Ayah yang menjawabnya.
"Ohh, iya. Ghifar pun dulu sama ya, istrinya meninggal juga?" Sepertinya, pak Darmaji lama menetap di sini.
"Iya, meninggal juga. Ya mungkin udah klik kali, dapat menantu duda mati juga." Ayah tertawa sumbang.
Sudah redam, dilanjutkan obrolan ringan. Setelah setengah jam ngobrol ngalor-ngidul, aku kembali ke kedai kopi bersama ayah. Masih pagi, jam sepuluh saja belum. Masa iya pulang lagi, nampak sekali tidak bekerjanya.
"Aku mau roti kering ah, Yah. Enak, roti kering dicocol sama kopi." Aku meraih cemilan yang tertata rapi di depan ayah.
"Sok, memang pastinya jajan kau sih kalau keluar rumah." Ayah bertopang dagu, memperhatikan kedai kopi yang masih sepi ini.
"Yah, Hadi sama Jessie, katakanlah udah selesai nih ya? Tinggal, tentang adik-adik perempuan aku." Aku membuka pembungkus roti kering menggunakan gunting yang tersedia.
"Kenapa lagi? Ra kan kau antar jemput, dua hari yang lalu pun dia udah modif mobil pink sama Ayah. Nanti hari libur, ada rencana mau pinjam arena motor itu, buat jajal hobinya sesekali."
Waduh, sudah bergerak saja ayahku ini.
"Pakcik Gavin ada bilang, katanya….
...****************...
__ADS_1