Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA37. Keputusan yang terburu-buru


__ADS_3

"Aku cuma ngeluarin apa yang jadi pendapat aku." Ardi membusungkan dadanya begitu sombong. 


"Kau pulang aja, Di! Abang kau cinta damai." Ghifar bergerak untuk memisahkan mereka. Ia lebih utama membawa tamu tersebut untuk keluar dari rumah kakaknya, sebelum hal besar terjadi. 


"Ya tak bisa gitu dong! Nasib anak Saya gimana?!" Rohan tidak terima dengan pengusiran yang Ghifar berikan. 


"Kalau begitu, Saya atur untuk berkunjung. Nanti keluarga Saya bawa saksi lain juga, biar masalah ini selesai." Menurut Ghifar, kehadiran Hadi dan Ceysa begitu penting di sini. 


"Tak usah, Pak Cek. Udah cukup keluarga Pak Cek ini mempermalukan Saya." Sekar bangkit dan meninggalkan ruang tamu. 


"Kenapa begitu, Dek? Bapak tak terima." Rohadi bingung dengan sikap anaknya. 


"Tak apa, Pak. Biar mereka dapat karmanya." Sekar menunggu ayahnya keluar dari ruang tamu tersebut. 


Kini, ketua RT hanya bisa menggaruk kepalanya. Ia kebingungan di sini, apalagi Sekar yang menjadi korban seolah menolak untuk mendapat keadilan. Menolak kesakitan Hadi dan Ceysa, sama saja seperti berpasrah diri dengan keadaan menurut ketua RT tersebut. 


"Saya mau ngomong dengan Anda, Pak." Atensi Givan menahan ketua RT tersebut untuk pamit. 


"Gimana, Bang?" Ketua RT yang lebih muda dari Givan tersebut tentu sangat menghormati Givan. 


"Untuk kasus anak Saya yang minum minuman keras di luar daerah ini, bahkan di luar negara ini, mohon tidak diperpanjang," tegas Givan kemudian. 


"Tapi kalau kasusnya benar-benar terjadi, maksudnya Bang Chandra benar-benar menodai dek Sekar tadi. Ya pastinya tentang minuman keras itu tetap terbawa, Bang." Ketua RT tersebut berbicara apa adanya. 


"Iya, Pak." Givan mengangguk mengerti. 


"Kalau begitu Saya permisi dulu, Bang. Maaf mengganggu kenyamanannya, Saya terus terang aja kaget kedatangan pak Rohan." Ketua RT tersebut tersenyum canggung. 


"Tak apa, Pak." Givan mengantar ketua RT tersebut keluar rumahnya. 


Chandra menghela napasnya, kemudian menyandarkan punggungnya. Pantas saja kekasihnya sempat menanyakan keperjakaannya tadi, ternyata Sekar sudah menyampaikan hal yang bukan-bukan pada Izza. 

__ADS_1


"Yah, aku izin nginep di sini," ucap Izza, kala Givan kembali masuk ke dalam rumah. 


Givan mengangguk. "Tidur sama Biyung, Ayah banyak perlu juga." Givan memijat pelipisnya, kemudian duduk di sofa single. 


"Kok aku ngerasa gadis itu punya permainan." Ghifar masuk ke dalam rumah kakaknya, dengan menutup pintu rumah tersebut karena udara begitu terasa dingin. 


"Jelas, Far. Dia kiranya kek di novel-novel lain, yang datang perempuan minta dinikahi, terus langsung terjadi pernikahan di atas perjanjian." Givan memijat-mijat kepalanya. 


"Ini kan cuma novel juga, Bang." Ghifar duduk di sofa lain. 


"Tapi tak umum novel ini sih." Givan menaikan satu kakinya ke atas lututnya. 


"Jadi gimana ini, Yah?" Chandra merumit memikirkan tuduhan itu. 


"Tak gimana-gimana, betul kata Papa kau. Kita harus ke sana, dengan bawa Hadi dan Ceysa. Tak usah bawa ketua RT, takutnya malah dihakimi." Givan takut anak-anaknya merasakan sensasi hukum cambuk sepertinya. 


"Biarin aja, Yah."


"Kenapa?" Pertanyaan itu datang dari Chandra. 


"Dia cuma cari keberuntungan. Tak beruntung dengan Hadi, pasti nyari keberuntungan di pihak yang ada saat kejadian itu. Khawatirnya kalau sering ketemu, keluarganya ngerencanain sesuatu sengaja untuk jebak Abang. Entah kenapa, aku berpikirnya begitu. Aku udah stress betul, Bang. Udah cepek, udah lelah, kek udah habis sabar ini. Tapi pengen penantian dari sabar ini bahagia, bukan sia-sia kek ketakutan aku." Izza berbicara dengan pandangan kosong. 


"Ya udah, Yah. Besok nikahin kita aja, daripada aku dipaksa nikahi Sekar nantinya." Chandra mengambil keputusan begitu terburu-buru. 


Saat di rumah Izza tadi, ia mengambil keputusan untuk mengkhitbah Izza lebih dulu. Ia menjanjikan dalam obrolannya, paling lambat untuk menikah di tahun depan. Namun, mendapat permasalahan seperti ini. Ia langsung memutuskan untuk mengambil langkah menikah secepatnya saja. 


"Tak bisa gitu dong, Bang." Givan tidak mau anaknya menikah terlampu terburu-buru juga. 


"Papa sih khawatirnya kalau kau nikah di masa urusan kau sama Sekar belum beres, malah nantinya Sekar ganggu pernikahan kalian. Baiknya, urusan sama Sekar diselesaikan dulu. Nah, barulah kalian menikah. Asal Izza bertahan dan percaya aja, pasti akhirnya kalian bersama. Nikah itu dua orang, kalau Sekar maksa kau itu tak bisa. Kecuali, kau menghendaki juga. Kalau kau tak mau nikahi Sekar, sampai kapanpun tak akan terjadi pernikahan. Kecuali…" Ghifar menggantungkan kalimatnya, ia teringat kisah cinta almarhum orang tuanya. 


"Digrebek," tambah Givan kemudian. 

__ADS_1


"Untuk menghindari hal itu, kau tak boleh sok pengen selesaikan masalah kau sendiri dengan Sekar. Karena bisa jadi, dia sengaja jebak kau. Kek yang Izza bilang tadi," terang Ghifar kemudian. 


Izza mengangguk-angguk samar, inilah yang dirinya maksud. 


"Aku takut, Yah, Pah. Sirikan aku sama Izza dulu aja, Yah. Sambil kita selesaikan masalah ini, biar aku terikat dengan Izza." Chandra terlalu takut jika dirinya dipaksa untuk menikahi orang lain. 


"Sekalipun status kau suami siri Izza, masa kau digrebek dengan Sekar ya kau dipaksa untuk nikahi Sekar. Itu tak bisa jadi benteng kau, untuk tak nikahi Sekar. Kek yang Papa bilang, kau tak boleh sok selesaikan masalah kau sendiri dengan Sekar. Khawatirnya, keluarganya sengaja jebak kau." Givan ingin anaknya mengerti. 


"Aku tak mau nikah sama perempuan lain, Yah. Duh, udah merinding aku bayanginnya." Chandra menggaruk kepalanya frustasi. 


"Udah sih nikahin aja resmi, Mas. Nikah KUA aja dulu besok tuh, resepsi bisa nanti. Mau tak, Za?" Canda mencoba memberikan jalan tengah. 


Sayangnya, hal itu tidak berkenan di hati Izza. Ia khawatir ketika mereka sudah menikah, mereka terlalu nyaman dengan keadaan sehingga lupa dengan resepsi pernikahan mereka. Memang hal sepele, tapi ia memiliki pernikahan impian di dalam harapannya selama ini. 


"Udah nampak Izza tak mau, Canda." Givan memahami raut wajah calon menantunya. 


Izza langsung menjadi pusat perhatian, ia langsung tertunduk saat menjadi perhatian mereka semua. 


"Iya kah, Dek? Kenapa?" Chandra memandang lekat wajah kekasihnya. 


"Maksudnya, biar sekalian capeknya, biar sekalian repotnya. Sekalian nikah, sekalian resepsi aja." Izza mencoba menyampaikan dengan pemahaman yang masuk akal. 


"Tapi waktunya mepet, laki-laki kau mau buru-buru untuk nyelamatin kau untuk masa depannya." Canda mengusap lengan Izza. 


Izza melihat foto-foto pernikahan Ceysa yang sederhana tapi terlihat begitu meriah. Ia jadi berpikir, apa pesta pernikahan seperti itu hanya untuk anak perempuan saja. Karena anak laki-laki dari mereka, malah diminta untuk nikah KUA saja dulu. Ia berpikir, keluarga ini tidak bisa memuliakan seorang menantu perempuan. 


"Dia anak perempuan dari orang tuanya, Canda. Tak pantas betul kau sarankan dia untuk akad dulu." Givan membayangkan bahwa hal itu terjadi pada putrinya, jelas ia keberatan jika putrinya merayakan hari kebahagiaan mereka di KUA saja. 


"Maksud Kakak Ipar baik, Bang." Ghifar bukan mendukung Canda. 


"Besok nikah, setelah masalah Sekar beres, akh janjikan resepsi mewah. Kau mau kan, Dek?" Permintaan dari Chandra langsung menuntut Izza untuk segera mengambil keputusan. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2