Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA255. Menjemput istri


__ADS_3

"Bedanya apa?" Aku memicingkan mataku. 


Aku tidak boleh tidur saja, karena malah bertambah lemas. Aku kembali untuk duduk, kemudian mengulurkan tangan untuk mengambil teh manis di nakas. Papa Ghifar dengan cekatan membantuku, ia menyeimbangkan teh manis yang aku ambil dengan satu tangan itu. 


"Speak ratu, dia lebih suka didominasi, dilayani, diservis, tau beres lah. Kalau speak selir, dia lebih suka mendominasi, lebih aktif, memberikan servis terbaiknya, melayani, agresif ibaratnya. Nah, Nahda yang mana? Kau harus bisa menyeimbangkan, biar rumah tangga kau awet. Misal dia ratu, kau harus paham kalau kau harus bisa memberikan pelayanan terbaik untuknya di ranjang. Kalau misal dia selir, setidaknya kau harus bisa menerima yang dia berikan." Papa Ghifar mengambilkan piring sarapanku. 


"Dah, nih. Makan dulu, Bang. Kau mau jemput Nahda tak? Adik kau Cani, pulang setengah satu katanya. Nahda bubar kelas jam satu prediksinya. Ra udah bilang, dia ada tugas, pulangnya Ashar kalau udah selesai. Nanti telepon ayah katanya, dia bilang ke Papa juga pas antar pagi tadi." Papa Ghifar menyodorkan piring sarapanku. 


"Ya nanti aku jemput, Pa." Tenaga sih ada, hanya saja lesu seperti orang kurang darah. 


"Malam nanti kita urut bareng, biar lutut tak sakit-sakit lagi." Papa Ghifar merebu teh manis yang sudah aku minum, ia menaruhnya kembali ke nakas. 


"Urut, Pa? Aku tak pernah." Aku diurut ketika jatuh dari pohon saja. 


Itu pun, ketika aku masih SD sepertinya. 


"Cobain dulu, sebulan sekali aja. Kita para laki-laki banyak kewajibannya, tak cuma di kerjaan aja. Ayah kau pun sesekali ikut, kalau udah susah tidur tuh, langsung ajak pijat."


Kok aku curiganya pijat plus-plus ya? 


"Perempuan kah yang mijit?" tanyaku dengan menyuapkan makananku. 


Ayam serundeng. Entah Nahda dapat resep dari mana, entah juga membeli. Setahuku, ia belum bisa memasak lauk pauk yang pengolahannya lama. 


"Laki-laki, Bang. Tabib, Papa udah ke sana sejak nikah sama tante Novi. Saran dari kakek kau, kakek kau juga yang bawa Papa ke sana. Tapi sekarang udah pindah ke anaknya, tabibnya udah meninggal. Di situ Papa dapat bahan rebusan juga untuk di rumah, karena Papa pengobatan biar bisa berdiri itu dulunya." 


Papa Ghifar yang sulit berdiri, bisa kuat berumah tangga lama dengan mama Aca. Masa aku yang normal, sudah menggap-menggap begini? 


"Terus, sembuh?" Karena papa Ghifar sampai rutin sampai sekarang. 

__ADS_1


"Lebih ke l***** aja kata Papa sih, lebih menggebu-gebu pas minum itu terus badan rasanya hangat kek minum jahe gitu. Papa tuh bukan im*****, sekalinya bangun juga kuat lama, cuma permasalahannya kan sulit bangun. Setelah minum itu, kan l***** naik, jadi cepat respon kalau dapat bahan."


Lah, beliau enak sebanding. Ia kuat lama, aku tak kuat lama. 


"Ya mungkin aku perlu coba." Masalahnya, olah raga pun kacau karena setelah sholat Subuh kan ditahan Nahda di kamar. 


"Iya, pijat pegal pun bisa. Kalau kau tak sanggup jemput, biar Papa aja. Kau istirahatlah setelah makan nih."


Yang ada aku bertambah lesu, jika tidak gerak sama sekali. 


"Bisa, Pah. Nanti setelah makan, aku mandi dan siap-siap."


Alhamdulillahnya, setelah diguyur air tubuhku perlahan segar. Kelopak mata rasanya tebal, mungkin karena aku kebanyakan tidur. Untungnya kendaraanku transmisi matic, bisa dibilang otomatis. Jadi, tidak terlalu banyak tenaga untuk mengendarainya. 


Ayah memilihkan Mitsubishi Xpander Ultimate, kendaraan yang disetel khusus jalanan perkotaan. Untungnya cukup didukung oleh jalanan kampung yang sudah dicor, rata meski bukan aspalan.


Ayah sudah pulang, ketika aku baru masuk ke dalam mobil. Hanya tegur sapa sekilas, karena waktu pun sudah menunjukkan lewat dari jam dua belas siang. 


Adikku yang manis sudah menunggu di depan pagar sekolahnya, ketika aku baru sampai. Aku langsung menuju ke universitas negeri, di mana tempat istriku menimba ilmu. Entah ilmu apa yang nantinya ia dapat, karena ia melakukannya dengan setengah hati dan keterpaksaan. 


"Jajan itu, Bang." Cali menunjuk pedagang yang berjejer di depan kampus Nahda. 


"Gih, buat dua." Aku memberikan uang dua puluh ribuan pada Cani. 


Barangkali Nahda mau juga pikirku. Jika ia tidak mau, ya biar aku yang menghabiskan. 


Jajanan umumnya di depan sekolah, otak-otak campur dan kentang goreng. Pedagang itu menggunakan gerobak, tapi gerobaknya full kaca seperti rumah makan padang. 


Masih sekitar dua puluh menit menunggu Nahda selesai jamnya. Aku hanya mengirimkan pesan chat, bahwa aku sudah menunggunya di depan kampusnya. 

__ADS_1


Ponsel Cani tergeletak di kursi sebelahku. Notifikasinya penuh, sampai layarnya menyala beberapa kali. Penasaran, seperti biasanya. Aku selalu mengecek isi ponsel adik-adikku secara berkala. Tidak ada yang membuatku marah sejauh ini, kecuali hasil screenshot adegan ciuman dalam film. Entah apa yang dipikirkan gadis SMA itu, bisa-bisanya menscrenshot saat adegan tersebut. 


Tidak ada yang berani mengganggu Cani, selain ketua kelasnya yang berani mengejar dalam diam itu. Saat ada aku, ia langsung lenyap menyerupai bayangan. Umum pikirku, cinta monyet mungkin. Toh, Cani pun tidak merespon. Padahal menurutku, laki-laki tersebut lumayan tampan dan gayanya cool. Seperti anak nakal, tapi tertutup dengan kemewahan barang-barang yang ia miliki. 


[Nanti ke dalam aja, aku bawa barang-barang banyak.] balas istriku, beberapa menit kemudian. 


[Ya, Dek. Nanti ke depan fakultas.] balasku kembali. 


Tak disangka, ternyata banyak kado dan buket bunga. Nahda mengatakan, itu hadiah pernikahan dari teman-teman yang ia kenal. 


"Amplop yang kita dapat di hari nikahan pun belum dibuka loh, Bang." Nahda membaca kartu ucapan yang berada di buket tersebut. 


"Iya, masih di tas Adek." Aku ingat tasnya yang warna abu-abu muda. 


"Jemput kak Ra kah, Bang?" tanya Cani yang anteng memakan otak-otak campur di sampingku. 


"Tak usah, ayah yang jemput nanti sore," jawabku kemudian.


Nahda yang di bangku belakang, dengan barang-barang hadiah itu. Ia tidak terkesan marah, ia juga tidak meminta Cani untuk pindah. Ia malah asyik dengan kartu ucapan yang ia dapat tersebut. 


Apa ia masih belum mencintaiku? Atau rasa cintanya, tak membuatnya cemburu hanya untuk hal kecil saja seperti ini? Karena Izza tidak seperti ini, sedangkan Nahda seperti ini. Terus terang aku khawatir istriku tidak memiliki perasaan padaku. Lebih-lebih, aku takut ditipu tentang perasaannya yang hanya dirinya yang tahu itu. 


"Banyak yang kasih sprei, Bang. Bagi-bagikan aja kali ya, koleksi sprei aku udah banyak." 


Aku melirik ke spion tengah, ya mungkin ada delapan tumpuk kado berbentuk seperti sprei yang dilipat rapi dalam bungkusnya. 


"Kan nanti di rumah sendiri, Dek. Barangkali untuk stok, kan kamarnya banyak juga." Bukan aku pelit, hanya saja aku berpikir sepertinya kami membutuhkan. 


"Udahlah, gampang itu. Pokoknya, Abang tau nyaman di kasur aja. Masalah sprei, Abang kan tak paham bahan juga."

__ADS_1


Aku jadi teringat tuxedo itu. Begini ya sifat keras kepalanya itu? Ia memilih keputusan, tanpa mendengar suaraku. Satu hal ini yang tak aku suka darinya, khawatirnya tentang segala macam hal ia mengambil keputusan sendiri jika dibiarkan. 


...****************...


__ADS_2