Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA263. Perasaan Hema


__ADS_3

"Dari awal kau tau ceritaku gimana, Bang. Dari awal pun aku tak pengen kok nyalahin Bunga. Jadi tak usah dan tak perlu aku terangkan dan cakap jujur, kenapa kejadian itu bisa berulang. Effort aku dari awal untuk dekati dia, tak berlebihan kok. Aku pun tak ganggu kehidupan dia, usik kehidupan dia dan hancurin dirinya. Aku masuk ke kehidupannya sebagai teman, aku sadar dan aku tak bisa nolak kalau memang akhirnya sejauh ini. Masa jadi temannya, aku memang ingin jadi pasangannya. Tapi aku tak terlalu berusaha keras, aku cuma usahakan agar posisi aku selalu ada untuknya. Kau tau cerita aku, kau tau kisah aku dan kau paham kek gimana aku dari awal. Kalau aku laki-laki jahat, laki-laki kurang baik, bisa aja aku hilang gitu aja setelah ketauan kau kalau aku gagahi Bunga masa di ladang waktu itu. Mungkin, tak akan sejauh ini kisah aku dan Bunga kalau aku bukan laki-laki yang bertanggung jawab. Terang aja, Bang. Aku kasian sama dia, aku tak bisa bayangkan kalau dia kehilangan TEMANNYA ini." Ia menegaskan kata itu, dengan menunjuk dadanya sendiri. 


"Aku tak berbangga diri, atau menganggap diriku amat penting untuknya, sampai-sampai aku ngelunjak pun, bakal diusahakan Bunga. Aku tak beranggapan seperti itu sama sekali! Cuma aku berpikir, kalau bukan aku yang kasian sama dia, yang sayang sama dia, yang cinta sama dia, yang perhatian sama dia, yang nerima dia dengan kerumitan hubungan keluarganya, yang nemenin dia, siapa lagi?! Kalau bukan aku, siapa lagi, Bang?!! Kau??? Terang sekali dari awal pun, kau hanya sebatas kakak angkatnya. Ayah kandungnya??? Kasih sayang berbatas pada anaknya, apalagi dengan kondisinya yang punya keluarga baru. Dia selalu punya banyak alasan, untuk mengesampingkan apa yang menurutnya kuat dan mampu. Ayah Givan, gitu??? Apa bedanya dengan ayah Ken? Dia pun punya keluarga sendiri, punya banyak anak sendiri, punya kerepotan sendiri." Hema mengetuk-ngetuk meja cafe berulang kali dengan ujung jarinya. 


"Jangan kau bandingkan dengan ayah aku, Hem. Halah, kau terlalu merasa kasian karena dengar nasehatnya. Dia tak terlalu menyakitkan kek yang dia ceritakan ke kau, Hem. Kau beranggapan kami kek gitu, karena kau dengar cerita darinya." Aku yakin Hema hanya mendengar keluh kesah Bunga saja, hingga ia mengambil kesimpulan yang seperti ini. 


"Kau salah, Bang. Sekalipun aku teman dekatnya dan partner ng*****nya, tapi dia tak pernah cerita banyak tentang kehidupan keluarganya. Aku ambil kesimpulan kek gini, karena tau dari apa yang aku amati." Hema menyentuh dadanya. 


"Apa coba? Tentang dia milih untuk tinggal sendiri? Itu keinginannya, dilihat dari kebiasaannya ya dia memang pengen bebas dan hidup tanpa aturan yang baik. Banyak opsi kok yang pakwa tawarkan, tapi dia milih sendirian." Aku tiba-tiba teringat tentang koleksi minuman beralkohol miliknya. 


"Aku dan keluarga aku datang ke rumah orang tuanya, aku lihat dengan jelas gimana interaksinya dengan ibu sambungnya. Bang…. Di mana pun orangnya, ibu sambungnya terlalu berisik dan menyalahkan kek gitu, ya pasti tak betah. Aku yang kemarin akur damai sama kakak ipar, terus gara-gara masalah aku nidurin Bunga, kakak ipar aku kek musuh ke aku, tak betah aku, pergi aku dari rumah."


Pemikiran Hema terlalu sempit sepertinya. 


"Kakak ipar kau berubah aja, itu karena kau buat kesalahan. Berarti kan sama?" Coba ia paham tidak dengan kalimat ini. 


"Kesalahan apa yang Bunga buat?"

__ADS_1


Ternyata peka juga dirinya. 


"Merokok di rumah, itu kesalahan fatal yang buat dia ribut besar sama ibu sambungnya. Kedua adiknya itu punya keterbatasan, mereka sama-sama punya masalah penyakit dalam. Di mana orang tuanya pun pasti ngamuk, Hem. Itu yang aku tau, entah apalagi selain itu." Aku teringat permasalahan yang membuat Bunga kabur dari rumah. 


"Dia backstreet ngerokok itu?" Hema menyatukan alisnya. 


Ia pikir bagaimana? Nanda saja ngepod pun backstreet. Semisal aku memiliki kesempatan menjadi pacarnya pun, akan aku marahin dia. Untungnya langsung menikah, ia pun nurut melepas pod begitu sah. 


Nahda begitu karena pergaulan, karena katanya keren dikalungkan di leher. Tak paham ia, jika keren menurut matakuitu berkalung emas meski gramnya kecil. Apalagi, jika emasnya dariku. 


"Ya iyalah, Hem! Minum pun cuma ayahnya yang tau, join bareng malah mereka. Friendly pakwa terlalu berlebihan menurut aku, Hem. Ayah aku friendly pun, dijitaknya aku ini kalau keterlaluan juga. Mana pernah aku diajak minum bareng ayah, sekali-kalinya pun aku karena terpaksa menghormati saudara datang dari jauh." Biarpun gaya hidup luar negerian, tapi aku sibuk di perusahaan. 


"Hidup kau lurus betul, Bang?" tanyanya dengan ekspresi wajah tidak percaya. 


"Tak juga sih. Aku bilang temenan, nyatanya aku janjikan pernikahan juga." Bahkan aku dulu sering menyosor ke pipi Izza.


Setelah dewasa apalagi, aku bahkan mengajaknya beradu mulut dengan aksi nyata terus. Bahkan melunjak ingin pegang ini dan itu, mengajaknya hubungan suami istri pun pernah juga meski ditolak terus. Aku bukanlah laki-laki yang lurus sekali dan taat pada agamaku juga. 

__ADS_1


"Ish, itu sih biasa. Maksudnya, kau tak minum, tak narkotika, kau tak beli perempuan tiap malam, gitu?"


Aku sampai kaget mendengarnya. 


"Mana ada aku begitu! Terpikir pun tak pernah aku ini." Hal-hal seperti itu tidaklah menarik. 


Apa aku bukanlah laki-laki normal? Aku lebih suka mengoleksi parfum mahal, ketimbang jajan perempuan. Aku lebih suka membeli sepatu dengan merek ternama, ketimbang membeli obat-obatan terlarang. Aku lebih suka tidur tepat waktu, lalu bangun saat adzan Subuh, ketimbang begadang dan menikmati dunia malam. 


Aku selalu teringat nasehat ustadz yang pernah menghukumku di pesantren dulu. Katanya, biarpun begadangmu tidak melakukan dzikir, tahajud, ataupun yang lainnya dalam hal ibadah. Tapi niatkan begadangmu untuk Tarkul Ma'ashi, atau meninggalkan maksiat. 


Gara-gara aku ketahuan nobar film dewasa. Bukan ponselku, bukan keinginanku, aku hanya ikut menonton saja. Entah ponsel siapa, aku pun tidak tahu juga video itu datang dari mana. Tapi teman satu kamarku memiliki video tersebut, sialnya lagi malah aku menonton juga. 


Alhasil, hal itu membuat ayahku datang dan memindahkan aku ke asrama lain. Jadi, satu pondok pesantren itu memiliki beberapa asrama dengan pemilik yang berbeda. Ayahku tidak memarahiku, tidak mencecarku juga. Ayah hanya bilang, video dewasa membuat otakku bodoh. Ayah hanya memberitahu hal itu saja. 


Saat aku dewasa dan memiliki pendidikan dan pengetahuan lebih luas. Memang benar informasi dari ayah itu, video dewasa lebih bahaya dari narkotika dan minuman keras. Malahan, s**s jauh lebih aman daripada menonton video dewasa. 


"Dah yuk? Pulang yuk? Nahda nelpon nih." Aku memandang nama kontak yang muncul di layar ponselku. 

__ADS_1


Ada apa ya? Tumben sekali. 


...****************...


__ADS_2