
"Sekarang gini aja, Dek. Dayyan anak siapa?" Givan tahu salah satu anak perempuannya ini lebih peka terhadap logika jika diajak berbicara.
"Anak aku, Yah." Ceysa menarik bibirnya ke dalam.
"Oke, anak kau. Berarti, kau yang urus kan?" Givan sengaja menjabarkan sedikit demi sedikit.
"Iya, Yah." Ceysa sulit menebak dan mengerti maksud pikiran orang tuanya. Karena menurutnya, pemikiran orang tuanya lebih rumit dari sebuah penjabaran pelajaran yang langsung ia pahami dan kuasai.
"Kau tak mau Dayyan disembunyikan di sini? Dalam artian, kau mau di sini?" Givan kembali mengupas maksudnya.
"Eummmm…." Ceysa mulai menyelami pemikiran ayahnya.
"Hadi belum kerja, Dek. Kalian harus kerjasama, untuk memperbesar usaha mangge Lendra untuk kau. Ayah hanya mampu memperbesar sampai di sini, Ayah udah lepasin ke kau beberapa hari yang lalu kita udah obrolkan itu kan? Kalau kau di sana, otomatis Dayyan juga di sana ikut kau. Kalau Dayyan harus di sini untuk disosialisasikan, ya harusnya Dayyan jadi anak Ayah aja. Terus, kalian tak usah menikah. Hadi lanjutkan kuliah dan fokus pada pendidikannya. Kau di sana lanjut besarkan dari mangge Lendra, tanpa tau apapun tentang pertumbuhan Dayyan." Givan yakin, dengan ini semua pemikiran anaknya terbuka dan mau untuk diberi saran terbaik.
"Tak mau, Ayah. Dayyan harus sama aku." Ceysa sampai mengayunkan lengan ayahnya.
"Ya berarti ikut saran, Ceysa cantik. Bukan apa-apa, biar urusan tak terlampau panjang harus musyawarah berkali-kali di balai desa. Ayah pernah dan Ayah trauma, Dek. Ribet luar biasa, satu permasalahan itu meluas jadinya. Bukan satu kali musyawarah aja, tapi beberapa kali sampai akhirnya permasalahannya begitu meruncing dan semakin kompleks. Sampai akhirnya, sanksi tegas dan berat harus diemban, karena pokok yang ingin diperdebatkan cuma satu, tapi akhirnya imbasnya ke permasalahan yang tidak ingin dikupas di sana. Jangan buat cerita Retak Mimpi, terulang di sini. Ini cerita perjuangan kakak kau, jangan buat dia ribet hanya di satu adik aja. Konflik-konflik untuk adik-adik kau belum naik. Kasian, pembaca nanti lelah dengan konflik kau aja." Givan berbicara lembut, agar tersampaikan di hati dan otak anaknya.
__ADS_1
"Tapi aku kepengen kek kak Key, yang besarkan Kaleel dengan bantuan Biyung dan Ayah." Ceysa merasa ragu bahwa dirinya mampu untuk mengurus anaknya sendiri.
"Ada Hadi, Ceysa." Hadi ingin mereka mandiri tanpa bantuan orang tua.
"Tapi…." Ceysa melirik ayahnya, ia ingin tetap berkumpul di dekat ayahnya.
"Dekat, Dek. Satu jam setengah perjalanan kan dari ladang sawit ke sini?" Givan hanya ingin anaknya semangat tanpa harus dihakimi oleh mulut warga.
"Tapi tetap aja jauh sama Biyung dan Ayah." Ceysa tertunduk lesu.
"Kau juga harus urus kuliah kau yang berangkat di hari Sabtu Minggu aja tuh, Di." Chandra lupa sebutannya.
"Gini, Van. Untuk kuliah Hadi, kami bakal tanggung jawab sama dia jadi sarjana. Tapi aku mohon kerjasamanya, biar Hadi bisa hasilkan uang sendiri. Dia masih kek bocah, dia belum punya pikiran kek Zio yang udah kepengen punya usaha sendiri, pengen mapan dan pengen beli ini itu. Kita tak akan lepas yang, kami pasti kasih jatah untuk biaya hidupnya dan Ceysa. Ya mungkin, cukup untuk makan-makan dan jajan-jajan aja. Cuma aku perlu kau, untuk didik Hadi biar bisa ngembangin usahanya sendiri." Zuhdi sudah memikirkan kehidupan anak-anaknya setelah pernikahan.
"Kau tenang aja masalah itu, Ceysa pasti bisa handle ekonomi mereka. Kau harus tau basic anak kau, Di. Aku tak bisa maksa dia untuk jadi owner pabrik minyak goreng, karena itu bukan keminatannya. Khawatirnya, dia bekerja setengah hati dan mau kerja hanya untuk mempertahankan perusahaan aja, bukan untuk memajukan. Aku tak tau keminatan anak kau apa, karena interaksi aku dan dia tak kek interaksi aku ke anak-anak aku. Beda Zio sukanya mobil, karena dari dia kecil dia naik mobil sama aku pun, dia udah penasaran kegunaan tombol di dalam mobil ini apa. Bahkan kemarin aku pun salah jalur untuk ngembangin dia, alhasil distro tak ada hasil biarpun bisa balik modal juga. Tapi kan, usahanya tak berkembang dan malah nyungsep karena dia sebenarnya tak minat. Lain Chandra, lain juga anak-anak perempuan. Kau tau, sulit betul ngembangin keminatan anak perempuan. Karena apa? Karena mereka lebih memimpikan jadi ratu di rumah mereka masing-masing. Key aja gimana? Mamah aja, mamah aja. Gitu terus, pas ibunya ngasih usaha. Ambil jalan tengah, karena memang udah diniatkan dari awal, ya jadinya ambil orang kepercayaan. Namanya orang, ada khawatirnya biarpun perjanjian hukum dan sumpah. Binatang peliharaan aja kadang gigit, apalagi orang lain yang diberi amanah besar untuk perusahaan kita. Beda Chandra kan, pengen ngembangin karena dia sadar kalau tanggung jawab terbesar ada di tangannya." Givan menurunkan suaranya di akhir ceritanya.
"Kau benar, Van." Zuhdi mengangguk berulang.
__ADS_1
"Iya, lain Hadi yang tak aku ketahui minatnya. Apa atlit kah? Tiap sore dia main bola terus soalnya." Givan mengarahkan pandangannya pada Hadi.
Gelak tawa bercampur mencairkan suasana.
"Nah itu. Sedangkan, Ceysa ini punya warisan usaha dari ayah kandungnya. Aku diamanatkan dan mampu mengembangkan sampai ya segitu. Aku pun berpikir, bahwa impian Ceysa pun sama kek Key dan Jasmine. Di mana, mereka cuma ingin jadi ratu di rumah mereka. Bukan ingin jadi bos untuk usaha mereka, atau bos untuk suaminya. Kalau Hadi tak bisa bawa ladang dan merintis perusahaan yang Ceysa mau bangun, masa mau pakai jasa orang kepercayaan lagi?" Givan sudah memikirkan masa depan Ceysa dan Hadi untuk menggerakkan usaha yang mereka miliki. Ia khawatir usaha yang ia perjuangkan selama ini, malah hancur di tangan menantunya.
"Dia bantu olah ladang kopi, Bang." Giska merasa bahwa putra sulungnya berperan besar untuk warisan yang ia miliki dari ayahnya.
"Kalau begitu, terus dalami. Kau kuliah ambil fakultas apa sih?" Givan menautkan alisnya dan memperhatikan Hadi.
"Teknik sipil," jawab Hadi kemudian.
"Ya jadi pemborong kek Abu kau lagi kalau begitu?" Givan tidak tahu pasti nasib membawa Hadi beruntung dalam usaha apa.
"Soalnya aku tertarik, waktu ikut Abu bangun jembatan di daerah kota. Jadi pikiran aku pas lulus SMA, pengen bisa bangun jembatan juga. Rumah gitu kasih jembatan di depan terasnya. Bayangan aku udah main, kalau tentang bangunan. Cuma ya, aku bisa berladang juga. Aku bisa ngolah tanah, komposisi pupuk aku paham, pembibitan segala macam ya aku ngerti. Aku dari bisa naik motor kan, selalu nyamperin kakek ke ladang. Untuk industri, kek pengolahan pabrik begitu, aku kurang tau. Aku tak pernah main ke pengolahan kopi milik papa, karena tak pernah diajak juga." Hadi jujur mengenai apa yang menjadi keminatannya.
"Menurut aku, itu bisa dibicarakan nanti. Sekarang, kapan mereka harus nikah? Aku tak mau mereka tinggal bersama atau sering berinteraksi karena Dayyan tanpa ikatan apapun." Canda membuka suaranya setelah sekian lama hanya menyimak.
__ADS_1
...****************...