
"Hema di dalam aja." Ayah yang menjawab pertanyaanku.
"Jadi, sampai berantakan kek gini habis ada Hema?" Aku memutar kepalaku melihat sekeliling kamar.
"Ish! Cendol agam! Begituan tuh, Hema keluarin di dalam terus. Katanya udah KB, tapi Bunga positif."
Heh?
"Bukannya Hema tak boleh buat hamil dulu? Karena kalau hamil, anaknya bisa cacat?"
Seketika itu juga, Bunga dan ayah menatapku dengan bola mata yang hampir terlepas.
"Cacat? Mulut kau ngedahului kehendak Allah, Bang. Tak boleh loh ngomong asal begitu." Ayah geleng-geleng kepala, ia memeluk Bunga kembali.
"Takut Ayah…." Bunga melanjutkan sesenggukannya.
Ya iya sih, itu pun perkiraan.
"Kau udah telat berapa bulan? Ayah kau udah tau?" Ayah mengusap-ngusap kepala Bunga.
"Aku tak mau ayah tau, Yah. Aku simpan sendiri aja dari tau kemarin, aku baru telat tiga harian. Cuma kan memang aku peduli dengan jadwal haid aku, soalnya selalu lancar dan tak pernah telat haid."
Ayah langsung memandangku. Ish, ayah ini. Ia seolah menuduhku menghamili Bunga. Aku sensitif sekali karena hal-hal kecil begini, aku selalu mudah terpancing emosi jika dengan ayah.
"Coba USG sama Hema sana, Dek." Ayah masih menenangkan Bunga dengan mengusap punggungnya.
"Aku lost contact sama dia, setelah aku bilang kalau aku hamil. Pas aku lewat ke minimarket, sengaja pengen lihat kontrakannya dari depan sana. Ya aku lihat mobilnya selalu ada, kadang Hema pun ada di sana sambil ngerokok di teras. Yang biasanya ia selalu ada untuk anter kuliah pun, sekarang udah tak pernah stay di depan pagar lagi."
Ayah menoleh ke arahku lagi, setelah Bunga mengatakan hal itu. Maksudnya apa sih? Apa aku adalah Hema?
"Kau abangnya, Bang. Coba sana ke Hema," pinta ayah kemudian.
Bunga memandangku penuh harap, kemudian ia menunduk dan diam dalam pelukan ayah lagi. Arah pandang ayah itu, untuk mengambil kepekaanku kah? Aku kira, ayah ini menuduhku bahwa aku pelakunya.
Ish, pikiranku kadang melenceng. Suudzon saja bawaannya.
"Ngomong apa, Yah?" Melontarnya pertanyaanku, ayah malah menatapku tajam.
"Sana ke Hema! Terserah kau mau bilang I love you, atau aku butuh kamu! Baiknya gimana?!"
Si Bunga langsung menutup mulut, pasti ia menahan tawa. Adik-adikku memang selalu senang, jika aku dimarahi oleh ayah.
Tanpa menjawab, aku langsung balik badan dan berlalu pergi. Kadang aku ingin menjotos ayah, tapi ia orang tuaku dan panutanku.
__ADS_1
Aku memilih untuk berjalan kaki, toh tidak jauh juga. Aku sambil merokok dan memperhatikan sekeliling, hingga tak terasa sampai juga di kontrakan Hema. Mobilnya benar ada di parkiran, pintu kontrakan Hema pun terbuka lebar.
Belum juga mengucap salam, aku sudah bisa melihat Hema bersandar lemas di daun pintu yang terbuka. Ia seperti ganjal pintu, posisi duduknya pun tidak tegak.
"Hem, kau tak apa?" Ia tidak terlihat seperti mengantuk, tapi terlihat seperti sakit.
"Hm?" Lemas sekali suaranya, ia bahkan tidak merubah posisinya dan tidak membuka matanya.
"Hema?" Aku melepas sandalku, kemudian naik ke teras kontrakannya.
"Ya, Bang," sahutnya lirih sekali.
"Kau kenapa sih?" Aku langsung duduk di sebelahnya, kemudian mengguncangkan bahunya pelan.
"Ngurangin dosis, Bang. Badan rasanya sakit semua, mata berat." Ia mencoba menegakkan punggungnya, ia pun sampai meringis seolah benar-benar sakit sekali.
"Kau masih pakai? Katanya rutin ke dokter?" Aku mencoba membantu menyangga bahunya.
"Ke dokter juga, kalau obat habis ya tetap pakai sesuai anjuran dokter. Pas kemarin itu, kan obat belum habis juga udah disarankan untuk ke sana lagi. Udah jalan tiga bulan, jadi ke sana itu dijadwal uang." Suaranya lemas sekali. Bahkan hidungnya seolah tersumbat oleh cairan, membuat suaranya menjadi aneh dan ia seperti kesulitan bernapas.
"Kau tak kuat begini, ya gimana? Sejak kapan kau begini nih?" Aku menarik bantal, agar dijadikan sebagai sandarannya.
"Udah empat harian, Bang." Ia meringis kembali, saat aku menempatkan sandar di punggungnya.
"Tak tidur-tidur aku, Bang. Makan tak masuk, BAB sembelit." Matanya terbuka sedikit.
Jadi, seberapa besar kebutuhannya itu pada mariyuana?
"Kenapa tak telpon sih? Kenapa sampai nunggu empat hari begini?" Aku bingung bagaimana untuk membantunya.
Ke dokter mana harus kubawa?
"HP aku habis baterai keknya, Bang. Aku tak tengok HP beberapa hari ini, mata aku rasanya pusing betul." Ia menutup matanya dengan beberapa jemarinya.
Pantas saja Bunga mengatakan bahwa Hema tidak meresponnya.
"Bunga hamil ya, Bang? Udah keadaan aku begini, benar tak sih itu anak aku?"
Seperti terpukul mendengar kalimatnya. Emosiku yang sempat melonjak gara-gara ayah, kini seolah lebih tinggi mengambang di udara lagi.
"Kau yang pakai, Hem! Kenapa kau berpikir begitu?" Kalau keadaannya tidak seperti itu, rasanya aku ingin menarik kerah bajunya kemudian aku menyangkutkannya di paku jam dinding.
"Air aku mati semua, Bang. Lima persen loh yang hidup, itu pun lemah." Ia menarik napas dalam sekali.
__ADS_1
"Naikin dosis aja kah, Bang? Biar aku bisa hidup seperti biasa lagi?" Ia menggigit bibirnya sendiri.
"Tak paham aku, Hem. Ayo di antar ke dokter, di mana dokternya? Alamatnya? Biar kau tak sekarat begini." Hema seperti kakek-kakek terkena encok.
"Udah ke sana, Bang. Udah ke tempat terapi juga, tapi nyatanya tak merubah kondisi aku." Hema terbatuk.
Ia seperti tengah sakit keras.
"Aku hubungi pakwa ajalah, aku bingung kau sekarat begini." Aku malah dibuat bingung dengan keadaan Hema.
"Udah, Bang. Suruh bertahan, soalnya ini kali pertama terjadwal dari dokter. Mungkin aku belum adaptasi aja."
Ya gila aja, adaptasi sampai empat hari begini.
"Kau ambil barang itu di mana? Kau beli lagi aja kalau begitu, daripada kek gini. Bunga butuh kau, Hem." Aku ingin menjejalnya dengan mariyuana saja daripada sakau begini.
"Jadi sebenarnya dari awal pun, kau tak benar-benar lepas kan? Kau memang konsumsi obat pendamping dari dokter, tapi kau tetap lancar nikmati barang itu kan?" Aku jadi memiliki kecurigaan buruk, kecewanya lagi malah mendapat anggukan dari Hema.
"Kau ambil di mana? Biar aku ambilkan. Lepas kau stabil, kau urus Bunga. Bunga tak mau ayahnya tau kalau dia udah berbadan dua lagi, Hem." Aku memperhatikannya yang menyeka keringat dinginnya.
Badannya pun sampai dingin sekali.
"Hamil." Ia geleng-geleng kepala pelan.
"Ya memang! Makanya sana diurus, dibawa ke dokter."
"Ya udah, Bang. Aku minta tolong anterin aku ke ambil barang, biar badan aku agak enakan dan aku bisa urus Bunga." Matanya terpejam dan mulutnya meringis, saat ia berusaha untuk bangun.
Aku membantunya, sampai ia bisa masuk ke dalam mobil. Rupanya sudah langganan, Hema pun di kenal. Seperti warung kopi biasa, tapi ternyata di dalamnya menyediakan barang seperti itu. Letak tempatnya cukup jauh dari desaku, mungkin beda kecamatan. Cukup pelosok, mungkin juga aku baru memijakkan kaki di tempat ini.
"Kau pulang aja nanti, Bang. Radius sepuluh meter, asapnya tetap bisa buat kau mabuk nantinya," ujarnya saat kami dalam perjalanan pulang.
"Tutup rapat kontrakan, biar tetangga kau aman." Aku menoleh sekilas padanya.
Ia hanya mengangguk samar, kemudian memejamkan matanya seolah mengantuk. Setelah sampai di kontrakan kembali, aku pulang begitu selesai membantunya masuk ke dalam kontrakannya lagi.
Aku kembali ke Nahda, aku hanya mengirimkan pesan pada ayah bahwa aku sudah berada di rumah setelah dari tempat Hema. Aku malas ke tempat Bunga lagi, bukan malas dengan Bunganya, tapi aku tengah gampang emosian pada ayah.
Adik-adikku laris manis, sudah seperti berjualan. Syuhada sudah pulang, malah datang Fadli yang hanya ke sini untuk mengantarkan makanan untuk Cani.
Lihatlah, adikku yang satu itu langsung merah padam seperti akan menangis. Ia seperti takut dimarahin, ataupun malu dengan kedatangan Fadli yang hanya mengangantarkan makanan saja itu.
"Cieee…." Nahda mengisengi Cani yang sudah merapatkan bibirnya itu.
__ADS_1
"Abang…. Kakak iparnya gitu," adunya dengan menghampiriku.
...****************...