Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA71. Didikan dan pola asuh


__ADS_3

"Tanya ke google aja." Izza menjentikkan jarinya. 


"Ayah lebih pengalaman, pasti beliau pernah ngerasain hal yang sama dan pasti beliau tau cara mengatasinya. Memang mau jadi percobaan dari katanya itu? Kan kita tak tau bener taknya, takutnya salah dan efeknya fatal." Chandra tidak mau mendapatkan referensi yang salah. Karena tak semua informasi yang ia dapat, bisa dijadikan rekomendasi obat untuk Izza. 


"Belanja yuk? Cium ah, biar semangat." Chandra tidak mau terlalu lama memperdebatkan hal ini. 


Alhasil, akhirnya Izza mengalah kembali.


"Cium jangan banyak-banyak, nanti n****." Izza menghalau suaminya yang terus menghabisi pipinya. 


"Tak lah, aku bisa kira-kira. Kalau dari dulu tak bisa tahan diri, kau udah habis dari lama. Bersyukur dong, dapat suami yang kek Gue." Chandra memiliki kesombongan ayahnya yang sering dibuat-buat. 


Izza tertawa renyah. "Alhamdulillah." Izza mencium pipi suaminya dengan gemas. 


"Ayo sih belanja, lapar nih. Kita beli sarapan dulu deh, nanti biar tak panik masaknya. Masak daging ya, Dek? Terus masak tumis bambu muda tuh. Apa ya namanya?" Chandra mengusap-usap dagunya. 


Izza melongo saja, itu di luar kuasanya. Sedangkan, suaminya meminta dirinya untuk membuat masakan itu. 

__ADS_1


"Aku mana bisa." Izza langsung murung. 


"Kita masak bareng, kau tak sendirian." Chandra menarik tangan Izza. 


Senyumnya langsung terukir. "Oke deh." Ia mengikuti tarikan tangan suaminya. 


Izza sedikit canggung, bahkan ia melepaskan tangan suaminya beberapa kali kala disapa oleh beberapa warga. Ia merasa malu sendiri, mengumbar kemesraannya dengan suaminya. 


Tapi akhirnya, ia dibuat melongo oleh ayah dan ibu mertuanya. Mereka berpapasan di jalan, mereka berlainan arah. Namun, sama-sama berjalan kaki. Tanpa sungkan dan canggung, ibu mertuanya memeluk lengan ayah mertuanya sepanjang jalan. Canda tawa keduanya, terlihat mesra di mata Izza. 


Ia merasa kalah dengan ayah dan ibu mertuanya. 


"Udah tadi sih duduk di teras." Chandra melirik tentengan yang dibawa oleh ayahnya. 


"Dadah…." Canda melambaikan tangannya dengan meledek pada anak dan menantunya. 


"Dodol, Cendol." Givan tertawa dengan memegangi tangan istrinya yang menjuntai dari lengannya. 

__ADS_1


"Kalah sama yang tua." Chandra geleng-geleng kepala dengan menoleh memperhatikan ayah dan ibunya. 


"Berapa usia mereka?" Izza menoleh sekilas pada ayah dan ibu mertuanya. Kemudian, ia memperhatikan jalanan lagi. 


"Ayah lima puluh tahun, biyung empat puluh lima tahun. Cuma tak perempuannya, tak laki-lakinya pada rutin perawatan ke klinik kecantikan. Ayah ya rutin gym di rumah nenek sama saudara-saudaranya, biyung sesekali diajak aja. Karena biyung punya grup senam dengan sesama menantu nenek, seminggu sekali pun tak nentu, karena kadang instruktur senamnya tak punya jadwal untuk biyung. Pernah terjadwal tuh, bentrok terus sama kesibukan ibu-ibu rumah tangga, jadi instruktur senamnya tak enak sendiri. Udah dibayar, tapi tak dipakai jasanya. Jadi instrukturnya katanya sih, minta dibayar setiap jasanya dipakai aja, tak usah bulanan." Chandra tahu, karena ibunya sering melaporkan dan menceritakan hal apapun yang terjadi di rumah. 


"Tapi masih bergas aja lima puluh tahun." Izza sedikit tidak percaya dengan usia ayah mertuanya. 


"Soalnya pewaris, dia tak terlalu banyak kerja keras." Chandra sering meledek hal-hal seperti ini pada ayahnya. Karena ia tidak tahu pasti, bahwa pewaris sebenarnya adalah dirinya. 


"Apanya? Pak cek aku pernah bilang, ayah itu pernah jadi buruh cat." Izza mendongak menoleh pada suaminya. Tinggi Chandra yang setara dengan ayahnya, sekitar seratus tujuh puluh lima sentimeter, membuat Izza yang hanya memiliki tinggi badan seratus enam puluh, harus mendongak untuk melihat wajah suaminya. 


"Iya, karena keras kepala. Pas dimodalin nenek sama kakek kembali kan, ekonominya mulai bagus kembali. Aku belajar dari situ, tak mau terlalu keras kepala, karena orang tua itu mau bantu tulus. Toh, hidup kita enak juga untuk diri kita sendiri. Orang tua sih udah kaya sendiri, tak butuh uang kita kasarnya. Cuma orang tua kan tetap orang tua, ingin anaknya berhasil dan tak hidup susah. Mereka, termasuk ayah juga. Tak ajarkan untuk kita nikmati uangnya percuma, ada pembagiannya jatah tiap bulan untuk kita sebelum menikah itu. Setelah mampu mandiri ya, diajarkan dunia kerja dan dunia bisnis. Tak ada ceritanya ayah ngasih surat kepemilikan perusahaan, dengan hasil langsung masuk ATM kita. Aku tau perusahaan yang di Singapore salah satunya milik aku, tapi aku bukan pemilik di sana, aku kerja dan pindah-pindah posisi terus. Awalnya buruh, makin naik, makin handal, dibawa meeting kerja sama segala macam, terus sampailah di posisi ini. Pengurus tetap bang Keith, aku tetap kerja dengan gaji yang telah ditentukan. Cuma kan, aku pas kuliah di sana dapat jatah uang dari ayah, jadi uang gaji aku dikumpulkan dan ada tabungan untuk beli ini itu. Dari dulu itu, terhitung uang jatah itu. Kek waktu yang saku sekolah, ongkos segini, jajan segini, dikasih secukupnya dan dilebihkan satu atau dua ribu. Dari uang sisa itu, aku kan bisa ngumpulin untuk ongkos kau. Jajanan aku pun, tak mesti habis segitu. Kadang cuma jajan dua ribu, minum bawa sendiri. Diajarin prihatin, diajari bagi uang, diajarin mandiri sejak dini." Chandra merasa bangga dengan didikan dan pola asuh orang tuanya. 


Meski kesehariannya cenderung lebih banyak bertemu dengan pengasuh, tapi pengajaran, ilmu, kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya tak ada kurang-kurangnya. Apalagi, tentang ayahnya yang bisa memprediksi bahwa ia memiliki masalah. Membuatnya tidak butuh seorang teman, yang ia jadikan sebagai sahabat ataupun teman curhat. Orang tuanya adalah temannya dan sahabatnya juga. 


"Memang tak sedih, Bang? Kan ngerasa kek kurang merasakan harta orang tua gitu." Izza merasa bahwa suaminya saat dulu seperti dari kalangan menengah ke bawah sepertinya. 

__ADS_1


"Sedih kenapa? HP aku bagus, ram juga internal besar dan kamera jernih pas di masanya. Kehabisan ongkos, tinggal telpon dan minta jemput. Makan enak tiap hari, jajan enak tak terbatas. Stok jajanan di kamar itu ada, ada kulkas kecil stok susu kotak dan susu UHT. Fasilitas komplit, TV udah bisa akses YouTube, bisa mandi air panas atau air dingin juga. Sepatu, tak minta juga pasti dibelikan meski tak butuh. Pakaian terbaru punya terus, jaket dan segala macam pun stylenya tak tertinggal. Kau ngerasain sendiri kan, tiap kali main ditawarkan baju kak Key dan kak Jasmine yang satu dua kali pakai. Pakaian kita rolling ke saudara muda, kita yang tua ya kebagian barunya terus. Kalau memang tak ada yang mau, barulah ditawarkan ke tetangga sebelum akhirnya untuk keset dapur. Tapi kalau pakaian tak layak atau tak pantas, memang langsung dimusnahkan. Itu didikan mereka, aku suka dan nyaman. Tak mengekang, buktinya support aku dari dulu untuk tetap berteman sama kau, meski lawan jenis. Meski waktu terjadwal, ditekan hafalan dan ngaji, tapi bukankah itu kewajiban kita sebagai anak yang harus menuntut ilmu? Aku paham kewajiban anak, jadi tak terlalu menuntut kebebasan. Toh di malam minggu, semuanya libur termasuk aturan jam sembilan malam harus udah tidur. Aku pengen kita didik anak-anak kita keras-keras manja gitu. Didikan dan aturan keras, tapi dibuat betah dan nyaman dengan fasilitas dan kasih sayang. Yang terpenting, nanti kita ajarkan anak-anak kita beradab dan berpikir luas. Biar tak berpikir negatif thinking, tak ngedumel di belakang. Apa-apa ngomong, kita dengarkan dengan baik, jadi anak pun tak cari tempat untuk curahkan pendapatnya dan ngedumel di belakang karena tak berani ngeluarin pendapatnya di depan orang bersangkutan." Izza merasa suaminya seperti menyindir dirinya, yang jelas seperti apa yang Chandra katakan. 


...****************...


__ADS_2