
"Bang, jangan banyak wawancara sama aku, Bang! Aku emosian orangnya, jari udah gemes betul bawaannya pengen nyentil mulu." Ia meraup wajahnya kasar.
"Kau ditanya calon kakak ipar, jawabannya tak ramah terus." Aku membuang puntung rokokku ke halaman rumah.
"Apa kata nanti lah! Mati kena hipertensi dulu aku, yang dijelaskan tak paham-paham begini. Aku jelas loh ngomong tadi, Abangnya aja yang lola." Hema memijat pelipisnya.
"Masa iya? Aku bingung tapi." Aku menggaruk pelipisku.
Gelak tawa renyah sekali, si p*****l besar ada di punggung ayah kandungnya. Hema nampak tegang, saat rupa Bunga semakin jelas berjalan mendekat digendong ayah kandungnya.
"Ayah, udah turun." Tawa Bunga semakin datang mendekat.
"Aduh, padahal kau minta uang aja tak minta makan. Tapi berat juga ya ternyata?" Pakwa menurunkan Bunga di teras rumah pakcik.
Sialan, aku dihadiahkan p*****l besarnya.
"Minta uang lagi, Yah. Yang Jum'at Ayah kasih kemarin, udah habis." Bunga sama manjanya seperti Kirei saat meminta uang.
"Ayah transfer ya? Tadi diminta adik kau." Pakwa mengatur napasnya.
"Boleh." Bunga celingukan, sempat-sempatnya ia berdadah pada Hema. Kemudian, ia mengambil secangkir teh yang hampir aku teguk.
"Untuk Ayah ya?" Ia meminta dengan tidak sopan.
"Hmm." Padahal mulutku sudah bersiap meneguk.
"Nih, Yah. Bekas Bang Chandra, aman kok, bersih dia." Bunga duduk di ujung teras bersama ayahnya.
__ADS_1
Pakwa melirikku, kemudian ia mengambil teh tersebut dari tangan anaknya. "Makasih ya, Cantik?"
"Yah, hari Rabu free kan? Bobo sama aku ya?" Bunga bergelayut di lengan ayahnya.
Ia butuh kasih sayang ayahnya. Miris melihatnya, aku jadi ingin menumpahkan kasih sayangku padanya. Tapi aku yakin, kasih sayangku tidak akan profesional sebagai seorang kakak.
"Kau bisa jaga Hana? Ayah khawatir, Cantik." Pakwa menyentuh ujung hidung anaknya.
"Apa aku bisa jadi Hana aja?" Suara Bunga begitu mengiris.
"Maaf ya?" Aku ingin menangis mendengar permintaan maaf pakwa, karena aku membayangkan bagaimana perasaan Bunga.
"Gini deh, secara pribadi dan penuh dengan rasa hormat. Ayah undang Bunga ke rumah, kita kenalan sama Hana dan Hua, jangan cuma kenal Elang aja. Hana dan Hua itu warisan untuk Bunga juga, bukan cuma untuk Elang. Bunga harus kenal adiknya, harus paham karakter dan kebutuhan medis adiknya, biar adiknya selalu tertolong dan panjang umur terus. Kalau Ayah udah tak ada, mamah tak ada, tante Ahya tak mampu jaga, Elang mulai berkelana, siapa yang bakal mikirin Hana sama Hua kalau bukan sulungnya. Mereka bukan makhluk aneh kok, Bunga. Air liurnya tak beracun, Bunga cukup usap pakai tisu bagian tubuh Bunga yang kena air liur adik-adik Bunga. Mereka normal, maksud hati mereka ingin bersosialisasi, tapi mereka tak tau caranya. Mereka tak ngerti, kalau interaksi mereka itu kasar, mereka hanya butuh perhatian dari orang yang ada di sekelilingnya. Hua habis operasi jantung, Bunga tau tak? Bunga tak tau pastinya. Napas Hua belum stabil, Ayah bingung betul bawa dia pulang. Sampai Ayah bawakan satu dokter khusus, yang paham tentang penyakit Hua. Dia ada di rumah, untuk selalu kontrol keadaan Hua." Penjelasan pakwa lembut, tapi membuat napas Bunga gusar dan tertahan seperti ingin menangis lepas.
"Ayah, aku anak Ayah juga. Ayah harus tanggung jawab dengan sulung Ayah juga." Nyata, suaranya sudah bergetar hebat.
"Ayah tanggung jawab kok, sesuai porsinya. Bunga yang ingin jauh dari Ayah, apa yang Ayah bisa kasih agar nama Ayah bermakna? Ya hanya uang, perhatian terbatas karakter jarak. Telepon seseorang mungkin, nyatanya cuma buat Bunga terganggu dengan Ayah. Ayah ke Kirei juga berusaha untuk tanggung jawab juga, dengan keadaan Kirei yang udah punya keluarga baru. Apa yang bisa Ayah kasih, uang, kebutuhan kecilnya dan sedikit candaan. Kasih sayang yang didapat keluarga barunya, ngalahin kebutuhan kasih sayangnya dari seorang ayah kandung. Gimana dong Ayah? Ya terima, porsinya memang harus segitu. Bunga pernah Ayah telponin setiap waktu sholat, setiap waktu makan, bangunkan Bunga, ingatkan Bunga untuk mandi. Gimana respon Bunga? Ayah, aku terganggu dengan Ayah. Sakit hati loh Ayah, Dek. Ya gimana lagi? Bunga anak Ayah, sakit hati ke anak bukan berarti harus benci anaknya. Setiap malam datang, Bunga keluyuran aja ke biyung ke kak Ria. Ayah tak enak datangi rumah kak Ria, ada suaminya. Ayah tawarin antar jemput kuliah Bunga, Bunga bilang udah besar dan mampu sendiri. Gimana Ayah harusnya? Ayah bingung, Sayang. Hana butuh Ayah lebih dari Bunga, karena kondisinya yang lain dari Bunga. Jangankan dia memahami orang lain, dia memahami diri sendiri pun sulit. Bagaimana dengan Hua? Jantungnya tak baik-baik aja, satu kali operasi nyatanya tak buat hasil yang berarti untuk kehidupannya. Ayah berusaha adil ke anak-anak Ayah, Ayah berusaha bertanggung jawab untuk anak-anak Ayah."
"Ayah tidur sama aku hari Rabu nanti!" Bunga terkesan memaksa.
"Oke, Ayah sanggupi." Pakwa merangkul anaknya dan mencium pelipis anaknya.
"Ayah tak diajak kah, Beb?" Pakcik Gavin keluar rumah dengan membawa anak paling kecilnya.
"Tak, repot kena balitanya." Bunga melirik sinis pakcik Gavin.
"Heem, kalau di rumah ditangisi terus ini." Pakcik Gavin menciumi pipi anak laki-lakinya itu.
__ADS_1
Anak-anaknya mix, ada perempuan ada laki-laki.
"Yang ngandung itu ibu kau, bisanya kau mirip ayah kau lagi?" Pakwa menggelitiki perut anak laki-laki yang baru turun dari gendongan pakcik Gavin.
"Kan Gue yang buat." Pakcik Gavin selalu bisa sombong.
"Siapa ini namanya? Lupa Pakwa." Pakwa berusaha mengajak anak laki-laki tersebut.
"Siapa ya ini? Ayah lupa juga keknya." Pakcik Gavin membawa wajah anaknya menghadap padanya.
"Ayang Apin hafal tak nama anak-anaknya?" Bunga bertopang dagu menghadap pakcik Gavin.
Hema seperti tengah merekam informasi yang ia dapat hari ini tentang Bunga di otaknya. Diamnya bukan sembarang diam, ia tengah memilih informasi tentang Bunga.
"Hafal dong. Sulung, Chalinda. Kirei, Ghani, Ghina, Ghania, Elzan, Ezza, Galena, Gabriel. Ini Gabriel ya? Atau Jibril?" Pakcik Gavin menaikan anaknya ke pangkuannya.
"Abing." Anak satu tahunan itu bersuara.
Pakcik Gavin memasang wajah kaget. "Apa? Kambing? Kambing satanic?"
"Abing!" Bentak anak laki-laki berkulit hitam manis itu, dengan memukul lengan ayahnya.
"Gabriel, Yah. Adek Gabriel gitu," jelas pakwa mencoba mengajak Gabriel.
Gabriel langsung melirik tajam pakwa, ia mengusap tangannya yang barusan ditarik oleh pakwa.
"Sombong amat!" Pakwa geleng-geleng kepala melihat respon anak laki-laki itu.
__ADS_1
Aku jadi geli sendiri, Hema pun mencampuri dengan tawa ringan saja. Ia cukup pandai beradaptasi, dengan tidak banyak suara.
...****************...