
"Izza minta ambil hasil MRI, Pakwa." Aku berjalan keluar kamar menuju balkon kamarnya mengikutinya.
"Oh, terus?" Pakwa malah merokok.
Aku sebenarnya risih, jika menemani orang yang merokok begini. Kurang nyaman, karena aku sendiri tidak merokok.
"Tak ada terusan, Pakwa. Gimana baiknya? Mau langsung tindakan, atau kita terangkan dulu gimana kondisi Izza?" Aku kurang ahli sebenarnya jika harus menjelaskan ulang pada Izza.
"Langsung tindakan aja, kalau dijelaskan dulu nanti dia stress lagi karena kepikiran. Cuma nih, Bang. Setelah tindakan jangan dulu langsung dibuat hamil. Nanti kan ada arahan, kapan kau boleh berhubungan lagi sama dia. Nah masa setelah hubungan kembali itu, tak boleh langsung dihamili, yang artinya kau buang luar atau gimana gitu, intinya jangan buat dia hamil dulu. Cek up juga jangan tinggal, cek up yang rutin sampai bener-bener clear. Tapi ingat loh, fibroid ini bisa kambuh. Yang artinya, dia bisa ada lagi di rahim Izza. Mungkin di tempat yang baru, mungkin jika di tempat yang sama." Pakwa berbicara dengan asap yang keluar dari mulutnya.
Kok bisa tidak tersedak ya?
"Lah, aku kira dia bakal sembuh total?" Aku menghela napasku.
"Bisa sembuh total juga mungkin. Tapi tak jarang kasusnya malah ada lagi dan ada lagi, tergantung pola hidup dan makanannya juga. Soalnya kan, Izza beresiko punya fibroid lagi karena dari keturunan gitu. Tapi kalau tak cepat diambil, takutnya tumbuh lebih besar lagi. Kau memang tak merasa kalau perut Izza besar di bagian bawah?" Pakwa mengusap perutnya.
Pakwa berdiri dengan bersandar pada pagar pembatas balkon, sedangkan aku duduk di kursi teras. Kursinya nyaman diduduki, membuat rileks.
"Yaaa, gimana ya? Dari dulu perutnya begitu, Pakwa." Bukan aku ingin menjelekkan istriku, tapi memang sejak SMP perutnya berlipat meskipun kurus.
Aku kan tidak pernah memandang fisik, yang penting hatinya dan kepatuhannya menurutku.
"Ya berarti memang lah itu, Bang." Pakwa menghembuskan asap rokoknya lagi.
"Terus, gimana caranya buang luar? Maksudnya, biar tak hamil itu loh." Aku pernah mendengar pembahasan ini dengan ayah, hanya saja aku tidak mendalami dan menyimak hal itu.
"Kau begituan sama istri buangnya di dalam terus?" Pakwa malah seperti terheran-heran.
Memang benarnya bagaimana?
"Ya memang gimana? Masa mau dicabut, kan lagi enak?" Pakwa malah tertawa lepas mendengar ucapanku.
Memang ada yang salah kah?
__ADS_1
"Kau belum tau rasanya buang di dada, buang di perut, buang di muka? Udah lama padahal kau nikah, masa tak macam-macam model kau pakai?" Pakwa menggelengkan kepalanya berulang.
Apa itu diperbolehkan?
"Ya nanti tak hamil-hamil dong, Pakwa? Masa buangnya di luar? Lagipun, aku tak tau caranya" Dibuang dalam pun Izza belum hamil juga.
Eh, beliau malah tertawa lepas.
"Untuk variasi, sesekali sih tak apa kali. Kalau kau mau keluar tuh cabut, terus urut pakai tangan sendiri sampai keluar."
Idih, aku pernah melihat memang di film dewasa. Hanya saja, aku akan skip jika memang filmnya seperti itu. Itu hal yang paling tidak menarik.
"Ya kan lagi di puncak loh itu, Pakwa. Mana enak kalau harus dicabut?" Aku tak bisa membayangkan rasa nikmat yang harus dicabut paksa itu.
"Nikmat juga, kan kita urut sendiri. Kau tak pernah main sendiri memang?"
Ish! Agak gila.
"Riset membuktikan, sembilan puluh persen laki-laki yang sudah menikah itu masih sesekali melakukan hal itu sendiri. Karena apa? Karena sensasinya beda."
"Ya aku golongan yang sepuluh persen itu berarti. Begituan aja kadang males, ngapain lagi harus ngurut sendiri?" Aku meregangkan otot leherku.
Aku tidak menyadari, jika pakwa menatapku lain. Aku pun baru tahu setelah peregangan selesai, jika pakwa memperhatikan begitu intens.
"Kau udah pernah obrolin sama ayah kau tentang hal ini?" Pakwa beralih ke mode serius.
Ia menghembuskan asap rokoknya, kemudian menekan puntung rokok ke pagar sebelum membuangnya. Pakwa kemudian duduk di sebelahku.
"Udah, kata ayah bosen suasana. Terus aku suruh berlibur, tapi tetap begitu juga. Ada sedikit perubahan waktu di rumah Izza, tapi di awal aja." Bahkan, frekuensi hubungan itu hampir tidak pernah jika Izza tidak meminta.
Aku bertambah kasihan padanya. Aku takut kegiatan kami, membuatnya kesakitan karena fibroidnya. Karena aku tidak bisa mengontrol lajunya, jika sudah terbuai dengan rasa yang diberikan.
"Menurut Pakwa, begitu karena apa?" Aku menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Aduh…." Pakwa memijat hidungnya. "Pakwa jadi inget sama paman kau, Ghifar. Dia ada masalah begitu tuh, sampai rutin psikiater." Pakwa menoleh ke arahku, kemudian ia menatap lurus ke depan lagi.
"Apa aku harus berobat juga? Aku bisa berdiri, tapi kadang sulit. Lebih seringnya, harus dimasukkan ke mulut dulu." Ini adalah jalan ninjaku.
Pakwa geleng-geleng kepala. "Padahal kau bukan darah daging Ghifar. Ayah kau masih kencang loh frekuensinya, kalau ngobrol di kedai kopi, kadang Pakwa sampai iri."
Memangnya beliau tak sama seperti ayah? Kelihatannya seperti yang rakus juga seperti ayah.
"Normalnya gimana, untuk laki-laki usia dua puluh dua tahun itu?" tanyaku kemudian.
"Belasan sampai di bawah dua lima, itu responnya cepat dan dia bisa lanjut berhubungan setelah dikeluarkan karena aliran darahnya masih kuat ke sana. Makanya ada penelitian, usia matang seorang laki-laki itu ya dua puluh lima tahun. Matang kondisi tubuhnya, bukan tentang pikirannya. Kalau durasi, tergantung kontrol. Tapi memang usia segitu tuh masih lama. Seusia Pakwa, tiga menit itu udah bagus."
Hah? Serius? Masa iya tiga menit?
"Tapi ayah kau bisa nyampe lima dan sepuluh sendiri, untuk permainan intinya aja. Bukan digabungkan dari pemanasan."
Ohh, aku kira tiga menit dengan pemanasan. Kan tidak mungkin juga secepat itu kan?
"Pakwa sama ayah kau beda dua tahun aja, tapi unggulnya banyak soal itu. Masa muda tak beda jauh, tapi rupanya pemeliharaannya beda." Pakwa terkekeh kecil.
"Aku gimana ini, Pakwa? Aku jadi mikirin. Kalau usia seaku, apa normal seminggu sekali melakukan?" Aku jadi kepikiran untuk berobat juga, karena mungkin aku tidak sehat untuk soal ranjang.
"Kalau seminggu sekali ya masih normal sebetulnya, soalnya menyangkut kebutuhan juga. Tapi seusia segitu, kebutuhan akan hal itu masih besar. Kecuali, kau pekerja lapangan yang bekerja dengan tenaga. Biasanya kan, mereka di rumah udah capek. Kau kan tak juga, kek cuma pusing otak aja kan gitu? Kerjan fisik, tak seberapa. Jadi pasti rakus ke kegiatan itu, karena laki-laki itu pasti tak enak badan deh kalau tak berkeringat. Ya bukan laki-laki aja, perempuan pun sama. Tapi pasti mereka butuh kegiatan itu lebih banyak, karena aktivitas fisiknya kurang. Seminggu dua atau tiga kali, seusia segitu normalnya menurut pengamatan Pakwa. Coba deh kau ngobrol ke Zio yang sama pengantin barunya juga, sharing kosong aja."
Jadi, dalam artian aku ini tak normal begitu?
"Terus, jalan keluarnya gimana? Pakwa tau solusi dari keadaan papa Ghifar?" Aku pun pernah mendengar tentang papa Ghifar yang memiliki disfungsi ***k*i.
"Pakwa tak tau pasti nih menurut ilmu itu, apa mau diarahkan ke psikolog atau psikiater juga? Kalau solusi dari paman kau, dia harus dapat perempuannya yang handal dan rakus sama dirinya. Karena bisa dibilang, dia ini seolah raja yang ingin dilayani dan dipuaskan. Apa mungkin kau pun punya keinginan yang sama?" Pakwa menunjukku.
Aku berpikir dengan mematok Bunga. Apa aku haus keindahan fisik perempuan? Atau, aku besar kasihan pada Izza?
...****************...
__ADS_1