Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA204. Nahda


__ADS_3

"Siapa?" tanya suara wanita, saat aku mengetuk pintu kamar Nahda. 


Aku ingin memastikan bahwa Ra sudah tertidur. 


"Buka, Dek." Aku yakin itu Nahda, aku yakin ia mengenali suaraku. 


"Iya." Suaranya semakin dekat dengan pintu kamar yang tengah aku hadapi ini. 


Senyumnya merekah, ketika sudah tidak ada penghalang lagi di depanku. Pintu kamar sudah terbuka, rambut hitam lebat Nahda terpampang di depanku. 


Aku jadi ingat dengan rambut milik Izza. 


"Ra mana?" Aku mengalihkan pandangannya dari wajahnya, kemudian sorot mataku menyusuri isi kamar Nahda yang rapi. 


Tidak seperti kamar Ra dan Cani. Cani masih mending, hanya buku, tas dan beberapa lembar tisu yang berantakan. Sedangkan kamar Ra, bukan hanya buku, tas dan tisu. Tapi baju-baju juga, lemari yang setengah terbuka dengan susunan baju yang di dalamnya begitu acak-acakan dan tidak rapi. Kerudung yang baru atau yang sudah dipakai bertebaran di mana-mana, juga baju kotor bekas pakainya yang ditumpuk di satu pojok. Namun, baju kotor akan dipungut di sore hari dan hal itu berulang setiap hari. Ditambah selimut yang menggulung, juga sprei yang lepas dari kasurnya. Dengan keadaan kamar seperti itu, ia tetap bisa pulas dan mendengkur. Kamar mereka rapi hanya di hari Minggu saja, di mana mereka libur sekolah dan memiliki waktu banyak untuk bersih-bersih kamar dan rumah tinggalnya. 


"Masuk aja, Bang." Nahda memberiku jalan untuk masuk. 


"Aku udah download, seru filmnya. Film action, Da." Ra tengah tengkurap di tengah-tengah ranjang. 


Bocah bongsor, satu kasur isinya dirinya saja nampak penuh. Eh tapi, Ra dan Nahda seukuran badannya. Apa karena mereka diasuh oleh mama Aca yang bongsor, jadi mereka ikut bongsor? 


Kal pun sama bongsornya, tapi hal itu kan karena ibu kandungnya pun tinggi besar. Jika Kaf, aku kan memang wajar laki-laki tinggi gagah. Perempuan kan, umumnya imut dengan tinggi seratus lima puluhan saja. 


"Aku sukanya film romance," ujar Nahda diikuti dengan suara pintu yang tertutup. 


"Tak tidur cepat, ikut Abang pulang aja, Dek." Aku duduk di tepian ranjang sebelah kiri. 


"Bentar sih, Bang. Aku lagi kirim film ke punya aku." Ra tetap dalam posisinya. 


"Pulang kuliah nanti anterin aku, Ra." Nahda duduk di tepi ranjang sebelah kanan, dengan mengamati sesuatu seukuran korek api. 


"Iya." Ra tidak bertanya Nahda ingin diantar ke mana. 


"Ra Abang antar jemput, kau mau diantar ke mana?" Aku terus mengamati Nahda. 


Anak muda banyak tingkah juga ternyata, ia menggenggam sebuah pod rupanya. Ya semacam vape mod, dengan seukuran korek api. Gilanya lagi, ia benar-benar menggunakan barang itu. Sudah seperti kereta api jaman dulu, uap asap amat mengepul dari mulutnya. 


"Udah tak enak tuh, Ra." Nahda memperhatikan lagi ujung dari barang tersebut. 

__ADS_1


"Abang tak usah antar tuh, tak bisa kan bonceng dua?" Ra baru perpaling untuk memandangku. 


"Mau beresin pod itu?" Aku menunjuk barang yang berada di tangan Nahda. 


Aku paham, ia tidak menggantungnya di leher sebagaimana orang menggunakannya karena papa Ghifar pasti melarang hal itu. Kaf saja dilarang merokok, apalagi anak perempuannya. 


"Iya, Bang." Nahda memandang barang itu. 


"Awas, cepu dia." Ra menoleh ke arah Nahda. 


Mata satu Nahda langsung membulat dan bringas. "Hah? Serius?" Ia langsung menyembunyikan pod tersebut. 


Untuk apa disembunyikan, aku sudah tahu hal itu. 


"Dodol!" Aku terkekeh geli melihat ekspresi Nahda. 


Ia lebih menggemaskan, karena wajahnya lebih ekspresif. Wajahnya bisa berubah-ubah, sesuai kondisi dirinya.


"Romance-romance t** kau, Da. Memang adegan c******nya yang kau tunggu-tunggu." Ra terkekeh kecil. 


Aku reflek memperhatikan layar laptop Nahda, yang tengah dimainkan oleh Ra. Aku ikut tengkurap di samping Ra, dengan menonton cuplikan film yang baru diputar tersebut. 


"Nih, Bang Chandra aja. Jadikan dia bahan praktek kau, cabuli aja dia, udah tak suci ini." Ra menarik pergelangan tanganku, kemudian ia tertawa lepas. 


"Ihh!" Aku lekas melepaskan tanganku dari jerat tangan Ra. 


"Takut ya???" Nahda menunjuk ke arahku, tawanya gembira sekali. 


Cabul rupanya ini perempuan baligh. 


"Takutnya karena kau adik sepupu, Dodol! Buat emosi aja kau ini." Aku geleng-geleng kepala, setelah melihat beberapa adegan romantis dalam film di laptop Nahda. 


"Ayo pulang, Dek." Aku bangkit dan mengusap-usap punggung Ra. 


"Kalau dipegang laki-laki begitu, ser-seran tak sih, Ra?" tanya Nahda, dengan merebahkan tubuhnya di samping Ra. 


Ia memeluk sebuah bantal, mungkin sengaja untuk menutupi dadanya dari pandangan mataku. Aku suka nih yang seperti ini, tidak merusak mataku. 


"Sama Abang sendiri ya biasa aja kali, Da! Ngaco aja kau ini!" Ra bangkit, kemudian menata gelungan rambutnya. 

__ADS_1


"Oh iya ya? Kek aku sama bang Kaf gitu."


Aku curiga, jika Nahda memiliki gangguan telat berpikir. 


"Ya iya, Dadut! Abang aku buat risih, aku pulang aja." Ra mengambil bergo instannya, kemudian langsung mengenakannya. 


"Dih, katanya mau nobar film Thai bareng?" Nahda bangkit dan bersila, ia manyun saat aku berdiri dan Ra turun dari ranjang. 


"Film Thai? Aku bilang film action, film Thai buat rahim anget aja nantinya." Frontalnya mulut adikku. 


"Ya tak apa, pas kita ada yang nikahin kan kita udah punya ilmunya." Mulut Nahda terbuka saat tertawa lepas. 


Sukanya hal-hal mesum juga Nahda ini ternyata, aku jadi ingat pada Bunga. 


"Ck, di pesantren juga dikasih ilmu malah lebih detail lagi. Nyesel kan kau kabur dari pesantren? Huuuu…." Ra langsung merangkul pinggangku dan mengajakku keluar kamar. 


Aku reflek merangkul pundaknya, agar nyaman dalam berjalan. Tinggi badan kita hampir sama, aku dan adik perempuanku sudah seperti seumuran. 


"Aku tak suka bangun tidur langsung dihitung, kepala aku kliyengan tuh. Turunan kurang darah, bangun tidur langsung harus siap sholat, ya mabuk di tempat." 


Oh, jadi itu alasan Nahda sampai kabur dari pesantren. 


"Pulang dulu, Dek. Kunci nih pintu kamarnya." Aku membawa Ra keluar dari kamar dan menutup rapat kembali kamar Nahda. 


"Ya, Bang," sahutan Nahda terdengar pelan. 


"Kau tidur di kamar kau, atau di kamar Abang? Cani ketakutan sama Dehen dan Balawa." Ra pun pasti belum mengenal Dehen dan Balawa. 


Ra sudah melepaskan tangannya di pinggangku, tapi aku masih merangkul pundaknya. Kami tengah menuruni tangga. 


"Siapa mereka? Kenapa takut? Aku tidur sendiri aja lah, sempit sama Abang tuh." Ra mengedarkan pandangannya. 


"Ma, aku pulang." Ra melepaskan rangkulanku, ia berjalan ke arah dapur kembali. 


"Abang tunggu di teras, Dek." Aku keluar lebih dulu. 


Belum juga menjelaskan siapa Dehen dan Balawa, Ra sudah nyebut saja ketika memasuki halaman rumah kami. Ia memeluk pinggangku lagi, tubuhnya benar-benar mepet pada tubuhku. 


"Abang…." Suara cengengnya terdengar jelas di telingaku. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2