Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA216. Mencari kesepakatan


__ADS_3

"Sama Papah." Anak Bungsu om Vendra rupanya dibawa, ia juga tidak mau lepas dari om Vendra. 


"Sama Kakak tuh." Om Vendra menunjuk anak sulungnya. 


Dehen dan Balawa ikut juga. 


Panggilan ke abang ternyata kakak, bukan abang seperti biasanya. 


"Kenapa yang kecil dibawa juga?" Ayah nampak gemas pada adiknya. 


"Tak ada orang di rumah, Bang. Elin aku antar ke puskesmas, rawat inap di sana. Masa mau rebahan aja, bangun untuk buang air aja dia kliyengan tak tahan. Adri kuliah, Annek sekolah, masa Esmee nemenin ibunya?" Om Vendra duduk di tepi ranjang, dengan menurunkan Esmee. 


"Biasanya tuh gimana? Biasanya pun tak pernah kau ajak-ajak kan?" 


Kenapa ya, kok ayah nampak tak suka jika om Vendra membawa anaknya? 


"Ya biasanya sih sama ibunya lah, kan ibunya baru ngerasain gejala hamil, bukan hamil besar." Om Vendra sampai menegaskan alisnya, ia pun terlihat tidak menyukai cara ayah bertanya. 


"Bodohnya kau ini! Aku mepetin Canda rujuk, tak kubawa anak-anak. Yang penting kita dulu, anak bisa dibicarakan baik-baik." Ayah berjalan menjauh dan mendekati tante Nina yang duduk di sofa di samping jendela yang terbuka itu. 


"Bodoh!" Makian masih keluar dari mulut ayah. 


Pantas aku sering dititipkan ke nenek dan ibu. Aku masih ingat, jika biyung menempati kamar atas di ruko. 


"Udahlah, Bang." Tante Nina tersenyum masam. 


"Sini sama Kakak." Dehen menepuk tempat di sebelahnya. 


"Ck, kau lagi." Om Vendra melirik anak sulungnya itu. 


"Kenapa sih, kan udah baik aku ini." Senyum Dehen nampak stabil dan tulus. 


Tapi mana tahu kan di balik ketulusan senyum itu? 


"Anneke kalap, kau iseng betul geserin barang-barang pakai ilmu kau. Papah tau kau hebat, tapi tak perlu dipamerkan." Om Vendra meninggalkan Esmee di tepian tempat tidur tersebut, sedangkan dirinya mendekati tante Nina dan ayah yang duduk sofa. 


"Papah…." Esmee menatap pilu punggung ayahnya. 


Matanya berkaca-kaca, bibirnya terlipat rapat. Ia memainkan jemarinya sendiri, ketakutannya terpancar di matanya. 


"Kau pakai ilmu hitam?" Aku memandang Dehen, tapi kakiku melangkah ke arah Esmee. 


"Tak lah, ngapain mainan ilmu hitam?" Dehen merebahkan tubuhnya. 


Mataku mencuri pandang ke arah ayah, om Vendra dan tante Nina. Mereka sudah mengobrol dengan suara pelan, om Vendra pun senantiasa menggenggam tangan tante Nina. Tak terlihat ada perlawanan, saat tangan tante Nina tak kunjung dilepaskan. 

__ADS_1


Berbagi itu sulit, tapi melepaskan itu sulit ikhlas juga. Percayalah, aku tidak langsung bisa mengikhlaskan Izza. Butuh waktu dan butuh ketenangan, kesadaran pikiran, barulah aku memahami bahwa istriku itu adalah orang baik makanya dipanggil lebih dulu. 


"Namanya telekinesis, Bang. Pakainya itu kekuatan pikiran," jelas Balawa kemudian. 


"Iya kah?" Aku memilih untuk duduk di samping Esmee. 


"Sama Papah." Ia sesenggukan tertahan, kemudian menunjukkan ayahnya. 


"Sama Abang aja, Abang orang baik. Ganteng, bersih, tak tatoan, lembut tutur, alim kelakuan." Aku memasang senyum lebar pada Esmee. 


"Memang kalau tatoan kenapa?" Balawa melompat ke ranjang yang aku dan Esmee duduki. 


Kebetulan, mereka rebahan di ranjang sebelah. 


"Takut, Abang." Esmee memegangi lenganku. 


"Waw, menang dong." Aku melirik Balawa, kemudian membawa Esmee dalam pelukan. 


"Hei, Cantik. Ini pun abang, Kakak baik juga." Balawa mencolek pipi Esmee. 


"Abang…." Tangis Esmee pecah tak tertahankan. 


"Sayang, Sayang." Aku bangkit dan menggendong Esmee. 


Dia menangis lepas, dengan ayah, om Vendra dan tante Nina yang menatapku tajam. Pasti mereka menyangka bahwa aku yang membuat Esmee menangis. 


"Hish! Takut ya, Dek?" Aku menjauhi Esmee dari Balawa. 


"Abang orang baik, ganteng, bersih, tak tatoan, lembut tutur dan alim kelakuan." Dehen meledekku dengan wajahnya yang dipaksa agar terlihat imut. 


"Dudanya ini yang bikin serem," tambah Balawa kemudian. 


Om Vendra dan yang lain tidak menegur Dehen dan Balawa, apa menurut mereka itu adalah interaksi yang baik? 


"Sama Papah." Esmee menangis sambil menunjuk ayahnya. 


"Sini, Bang. Bawa sini aja." Ayah melambaikan tangannya padaku. 


"Iya, Yah." Aku melangkah mendekati mereka. 


"Cantik, sini sama Ayah." Ayah mengulurkan tangannya pada Esmee. 


Esmee mau berpindah pada ayah. Jadi, apa yang menakutkan dari Balawa dan Dehen? Esmee mau denganku dan dengan ayah, itu tandanya Esmee tidak takut dengan orang asing. Namun, ada sesuatu dari Dehen dan Balawa yang membuatnya takut. 


"Kenapa, Sayang? Siapa yang nakal?" Ayah mengusapi air mata Esmee. 

__ADS_1


Aku celingukan, kemudian melirik ranjang yang ditiduri oleh Dehen. Ranjang itu cukup dekat dengan tempat ayah, om Vendra dan tante Nina duduk berdiskusi. 


"Luntur tak?" Aku menunjuk lengkap Dehen yang penuh tato. 


Dehen memperhatikan lengannya dan menahan tawa. "Sialan kau, Bang!" Tawanya renyah. 


"Tato c***** paling menarik untuk Bang Chandra," tambah Balawa dengan tawa mengejek. 


"Memang kok, ya Yah?" Aku mencari massa untuk di pihakku. 


"Halah! Kek yang pernah aja." Ayah malah meledekku. 


Sialan, aku yang malah ditertawakan oleh semua orang jadinya. Untungnya, hanya keluarga sendiri. 


"Nanti ya, Yah. Nanti, pokoknya pasti pernah akhirnya." Aku mengacungkan jariku, kemudian merebahkan tubuhku di samping Dehen. 


"Abang, sini." Esmee menepuk tempat di sebelah ayah. 


"Abang sini!" Esmee nampak panik, ia seolah takut aku mengalami hal yang buruk jika dekat dengan Dehen dan Balawa. 


"Sini tuh, Abang." Ayah merapikan hijab Esmee, ayah seperti orang tua ketika anaknya tengah rewel. 


"Iya nih." Dengan berat, aku menurut saja untuk pindah ke samping ayah. 


"Abang sini aja." Esmee memegangi lenganku. 


"Iya, Cantik." Aku jadi teringat dengan Cala dan Cali. 


"Kalau kau mau ikut ke Sulawesi, aku janji lepasin Elin." 


Dari posisi ini, aku malah mendengar jelas obrolan om Vendra dan tante Nina. 


"Anak-anak gimana? Pikirkan!" Tante Nina menunduk menatap lantai.


Tante Nina itu sebenarnya cinta dengan om Vendra, ia pasti sulit melepaskan suaminya itu. Mungkin di satu sisi, ia merasa bersalah karena tidak patuh pada suami. Ya karena dalam agama pun, ya istri harus ikut di mana suaminya tinggal.


"Ya sama ibunya, aku kasih jaminan pendidikan. Aku pengen mereka jadi orang, itu harapan aku sejak dulu. Kalau bapak tak atur ini itu ke Dehen dan Balawa, mungkin tak sampai aku punya anak dengan orang lain." Om Vendra masih menggenggam erat tangan tante Nina. 


Romantisnya. 


"Abang namanya siapa?" Gadis cantik ini memperhatikan wajahku. 


"Namanya Chandra, panggil Bang Chandra ya?" Aku tersenyum ramah dan mencolek hidungnya. 


"Caitlin atau si Elin itu ninggalin kau, kau sampai susulin dia. Apa mungkin dengan cerai pisah dan anak tiga, masa kau nemuin anak-anak kau, tak akan terjadi apa-apa antara kau dan Caitlin itu?"

__ADS_1


Wuih, cerdas juga tante Nina. 


...****************...


__ADS_2