
"Kau keknya kena peletnya suami kau, Dek." Papa Ghifar menutupi wajahnya dengan kaosnya yang ia lepas.
Kami baru sampai di rumah.
"Suami aku tuh ganteng betul, Pa. Pas dia olahraga, dia makin gagah." Nahda merengkuh leherku kembali.
"Digagahin tiap hari sih, gagah bilangnya." Papa Ghifar sepertinya malu melihat anaknya yang nyosor saja ini.
Pasti beliau baru tahu.
"Iya dong." Sekali lagi, Nahda mengecup pipiku
"Makan dulu tuh, Pa." Aku melepaskan rengkuhan mesra Nahda ini.
"Iya bentar, tunggu agak adem." Papa Ghifar menarik kaosnya dari wajahnya.
"Kita tak pernah makan sepiring berdua tuh, Bang. Kata biyung, dulu tradisi keluarga kita setelah akad itu makan sepiring berdua." Nahda membuka bungkus bakso di mangkukku.
"Adek makan sepiring sendirian aja, kadang nyomot punya Abang juga. Ya kali kenyang, kalau barengan." Aku meliriknya.
Alhamdulillah, ia doyan makan. Capek kerja pun, tak pernah mubazir makanan karena pasti habis setiap harinya.
"Dua bungkus ini, kita jadikan satu tuh, Bang." Nahda menaruh mangkuk baksoku di depanku, kemudian ia membuka kembali untuk dirinya.
"Tak muat mangkuknya, Adek Nahda." Aku ngelus dada saja.
Papa Ghifar menutup mulutnya tertawa geli.
"Abang tuh suka gitu tuh, Pa. Ke istrinya tak ada manis-manisnya. Adek Nahda, Adek Nahda," adunya pada papa Ghifar.
Ternyata begini ya ia ke orang tuanya? Pantas saja, aku sering kena tegur.
"Kena panggil 'kau', kau ngadu. Kena panggil 'adek Nahda', kau pun ngadu. Coba bayangkan jadi biyung, disebut 'kau' itu tiap hari. Belajar, Dek. Sedikit-sedikit, jangan diaduin semua. Boleh ngadu ke Papa, ke mama, kalau Abang kau mukul, KDRT, melecehkan dengan mulutnya, ngehina fisik kau." Papa Ghifar duduk dan mengambil sendok yang tergolek tak jauh dari mangkuk baksonya.
"Suka nyomot dada tiba-tiba, suka gaplok part belakang tiba-tiba, apa itu termasuk KDRT? Itu tiap hari, Pa. Nyapa di dapur, selamat pagi gitu. Ehh, tangannya sambil r**** part belakang aku."
Allahu Akbar, di mana tempat bersembunyi?
"Wajar, semua suami begitu. Kalau suami udah tak begitu, itu yang jadi tanda tanya. Misalkan s**s bukan di tempatnya kek di tempat pembuangan, boleh kau ngadu juga." Papa Ghifar terlihat santai mendengar celotehan anaknya, dengan mengaduk baksonya.
Permintaannya sederhana, hanya bakso. Bukan memintaku mengganti tiket Nahda dan dirinya, yang mengantar Nahda ke sini.
"Kek s**s di mobil gitu, Pa? Ya Allah, Bang Chandra pernah ajakin tuh, Pa."
__ADS_1
Tepok jidat.
Aku langsung menunduk saja, rasanya aku malu sekali.
"Tak apa, bebas. Asal jangan ketahuan orang aja, nanti bisa malu dan disangka pasangan tak halal. Maksudnya bukan di tempatnya itu, ya kek di tempat pembuangan kau itu. Itu tak boleh, resiko terkena penyakitnya gede, selain tak boleh dalam agama." Papa Ghifar menjelaskan dengan santai saja.
Malu aku ini.
Nahda manggut-manggut, ia sudah start makan bakso. Aku masih sulit menelan, karena malu dengan mulutnya itu.
"Udah, Bang. Makan aja, santai aja." Papa Ghifar ternyata memperhatikanku.
"Ya, Pa." Aku mengambil sisa sendok yang tak diambil oleh mereka.
"Maklum, masih baru betul. Arahin betul-betul, kalau ajak gila-gilaan, pastiin keamanannya."
Aku mendapat nasehat juga kan akhirnya.
"Ya, Pa." Aku menganggukkan kepala samar.
Kami lanjut makan dalam diam. Beberapa kali Nahda bolak-balik, untuk mengambil air minum dan gelas. Ia tak hanya mengurusku, ia bisa mengurus papa Ghifar juga.
Rupanya ia sangat kelelahan dalam perjalanan. Selepas Maghrib, ia langsung tertidur di pangkuanku. Aku masih mengecek laporan, memperhatikan statistik perusahaan yang di Singapore. Papa Ghifar pun masih di dalam kamar, ia baru sholat Maghrib karena baru bangun tidur saat Adzan Maghrib.
"Sholat belum, Bang?" Papa Ghifar membawakan sebuah bantal.
"Udah, Pa." Aku menerima bantal uluran darinya.
"Sini Papa bantu, biar nyaman Nahda tidur tak sakit leher." Papa Ghifar membantu mengganjal kepala Nahda dengan bantal yang aku selipkan dari bawah.
Papa Ghifar kentara sekali begitu sayang pada Nahda.
"Makasih, Pa," ucapku saat Nahda berhasil pindah ke bantal.
"Papa punya beberapa daftar alamat dan berkas titipan ayah kau. Ayah kau sih masih di Kalimantan, biyung kau yang bantu carikan. Gila, ayah kau sabar betul arahin biyung kau untuk cari berkas. Papa udah sesak betul tengoknya, makian tuh rasanya udah di ujung lidah dengerin arahan ayah kau yang tak dipahami biyung kau sampai berulang kali itu." Papa Ghifar berjalan ke arah tas jinjing yang lumayan besar.
Itu isinya pakaian milik Nahda, aku melihat Nahda mengambil barang-barangnya dari situ.
"Kalau tak ngarahin biyung, ayah mau ngarahin siapa lagi? Biar begitu, biyung tetap andalan ayah kalau di rumah tak ada orang." Aku terkekeh kecil.
"Betul, Bang. Kadang ada bersyukurnya, untung tak jadi sama biyung kau. Udah keknya kalau jadi tuh, rumah tangga kami bakal ribut terus. Sesabar-sabarnya Papa, kalau kalimat diulang terus ya emosi tingkat tinggi juga." Papa Ghifar membawa beberapa map dari tas jinjing tersebut.
Aku tertawa kecil. "Mungkin memang bukan jodohnya."
__ADS_1
Inilah yang menjadi alasan ayah malas berteman dengan papa Ghifar. Biyung dan papa Ghifar itu mantan pacar.
"Mungkin juga. Tapi menurut Papa sih, jodoh itu diusahakan kali. Mama Aca dulu usahanya jempolan, Papa yang lewat tangan orang tua terus." Papa Ghifar terkekeh kecil.
Dia padahal sulungnya kakek.
"Kenapa lewat orang tua aja?" Aku mengesampingkan laptopku, kemudian memperhatikan map yang dijejer oleh papa Ghifar.
"Papa tuh modelnya, kalau usaha tapi gagal, ya udahlah gitu. Tapi ngerasa bertanggung jawab, jadi ada ego yang mesti dipenuhi. Tak enak tuh kalau cuma diam, tapi egonya tinggi sekali. Jadi ya orang tua ikut bantuin, karena pasti ngerasa anaknya ada yang beda gitu." Papa Ghifar mengulurkan map yang paling atas.
Aku merasa ada sedikit kemiripan dengan papa Ghifar.
"Ini nih, Bang. Ini alamat ulakan kayu jati, ini alamat ulakan kayu mahoni. Papa coret-coret sedikit, biar inget soalnya." Papa Ghifar menunjuk bagian atas dan bawah dari map tersebut.
"Kenapa aku dikasih alamat itu? Aku udah dapat alamatnya kok." Aku membaca alamat tersebut.
Banyak daftar alamat di map tersebut.
"Tuh, ya? Ini udah ada keterangan ulakan apa-apanya. Ayah kau yakin, keknya kau butuh ini. Biarkan Chandra mau ngerjain apa katanya, ayah kau ingin tau beres." Papa Ghifar memandangku.
Lah, kok tahu beres? Kalau aku salah langkah bagaimana?
"Kau perhatikan ini." Papa Ghifar mengambil map kedua.
Aku mengangguk dan fokus memandang lembaran yang disegel materai tempel 10000 itu.
"Ini salinan perjanjian kerja Dana sama ayah kau. Kau pahami point-point perjanjiannya, kalau dia ada melanggar, kau ambil buktinya, terus kau datang ke pak Susanto. Ini alamat pak Susanto, hubungi dan buat janji dulu sebelum ketemu." Papa mengebet lembaran kedua.
"Pak Susanto ini, notaris ayah kau yang urus segala dokumen dan perjanjian usaha di Pulau Jawa. Dia orang Surabaya, makanya kenapa kau harus hubungi dan buat janji dulu. Bilamana dia lupa nama ayah kau, karena usianya udah sepuh. Terangkan kalau kau keturunan nenek Dinda, terangkan kalau kau cucu dari anak sulung nenek Dinda. Dia masih hidup, usianya mungkin sekarang udah enam puluh duaan katanya. Tapi masih segar kondisinya dan masih pegang tugas-tugasnya." Papa Ghifar menunjuk alamat lengkap dan kontak telepon dari pak Susanto di lembaran kedua itu.
"Iya, Pa. Terus apalagi amanat ayah?" Sebenarnya aku tidak tahu harus melangkah ke mana dulu.
Kenapa semua itu disiapkan untuk keperluanku di sini? Kenapa tidak cukup hanya lapor ke ayah saja?
"Ya ambil bukti, jangan cuma pendapat sendiri. Amit-amit, tapi contohnya kalau Nahda selingkuh nih. Kau ambillah foto dia dan selingkuhannya lagi jalan berdua, kau cari bukti bahwa memang mereka menjalin hubungan, kau cari juga asal-usul kedekatan mereka. Begitu contohnya, paham tak?" Papa Ghifar memandangku begitu serius.
Oke, aku mengerti. Aku mengangguk, menandakan bahwa aku paham dengan semua kalimat yang papa Ghifar ucapkan.
"Ayah kau ada imbalan besar untuk kau, jadi semangat ya untuk anak Papa?" Papa Ghifar tiba-tiba tersenyum dan menepuk pundakku.
Halah, paling cuma 'terimakasih'. Memang aku senang, ucapan itu cukup untuk sebuah penghargaan atas pekerjaanku. Tapi lebay sekali papa, segala semangat untuk Nahda lagi.
...****************...
__ADS_1