Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA249. Arahan untuk menantu ayah


__ADS_3

"Sayur bayamnya buat tuh, Dek." Istriku benar-benar order makanan dengan biyung. 


"Oke." Hanya jawaban, tanpa ia memandangku sama sekali. Karena ia sudah di samping biyung, sudah asyik dengan menu makanan di dalam ponselnya. 


"Abang keluar ya? Makan siang nanti pulang." Aku berniat meninggalkan ruang tamu penuh drama ini. 


Aku harus memiliki kegiatan yang berarti. 


"Ya, Bang. Ati-ati."


Ia tidak banyak bertanya tujuanku ke mana dan aku akan melakukan kegiatan apa saja, ia tidak cerewet dan tidak banyak tanya ini itu. 


"Minta kiriman hasil screenshot dari pakcik kau, Bang," pinta ayah, saat aku baru keluar rumah. 


"Baru pulang orangnya tadi." Aku berhenti sejenak dan berkacak pinggang. 


"Iya, telpon tuh!" Nadanya langsung tinggi saja. 

__ADS_1


"Iya, Ayah." Aku melangkah menuruni tangga teras, dengan memainkan ponselku. 


Setelah aku berbicara dengan pakcik Gavin di telepon, aku langsung duduk di samping ayah yang tengah fokus mengarahkan Hadi. Entah apa yang menantu itu butuhkan, karena aku belum menyimak dengan jelas. 


"Nanti ikut Ayah." Ayah menepuk pundakku. 


Aku mengangguk reflek. "Iya, Yah." Aku cari aman saja, banyak tanya nanti disemprot lagi dengan bentakan. 


"Tapi, Yah. Apa aku bisa konsisten? Kadang ada aja kesibukan yang tak terduga, kek kulkas bocor, mesin cuci rusak, atau Dayyan rewel." Hadi terus menunduk, menandakan bagaimana dirinya tak percaya diri.


"Mesin itu otomatis, kau cuma perlu mantau. Kau kenapa tak mau, pas Ayah bilang bawa asisten rumah tangga dari sini? Nanti biyung gampang Ayah carikan lagi ARTnya." Ayah seperti gemas ingin mengunyel-ngunyel Hadi. 


Loh? Nada bicara Hadi berani naik. Jika aku begitu pada ayah, ayah akan lebih keras lagi meladeniku. 


"Kalau kau tak terus terang, Ayah mana tau. Ayah ngerasanya jamin Ceysa tiap bulan, jadi taunya cukup aja." Ayah berkata jelas dan perlahan. 


"Uang Ceysa ya di Ceysa, Hadi ngerasa malu untuk minta rokok ke dia."

__ADS_1


Ohh, paham aku ini. Hadi bekerja untuk keperluan dirinya, istilahnya untuk rokok dan bensin. 


"Kan kau dijatah abu kau kan? Jadi, uang hasil kau jadi kurir es batu itu untuk foya-foya sendiri?" Pertanyaan ayah sedikit menusuk. 


Terbukti, dari Hadi yang langsung mencilak. "Tak, Yah. Untuk rokok, bensin, kalau jajan di luar, Ceysa tak pernah keluar uang. Pakaian Ceysa, pakaian Dayyan, sebulan sekali pasti aku belikan. Sensasi dia beli sendiri, sama aku kasih itu beda, Ceysa senang dapat hadiah dari aku, meski hanya baju setelan untuk sehari-hari aja. Aku pengen ngerasain ucapan makasih darinya, setiap aku bisa sedikit menyenangkannya. Aku tau dia mampu beli dengan uang jatah dari Ayah, tapi aku suaminya yang punya kewajiban untuk nyukupin dia. Aku berakal, Yah. Ayah tenang aja." Emosinya meletup. 


"Kenapa kau harus sombong nolak uang dari abu kau?!" Ayah ini tidak bisa mengademi hati menantunya. 


"Karena aku laki-laki, Yah. Sampai kapan aku harus terus disuapin???" Menantu yang gagah, berani dan melampaui batas.


Belum saja ia digeplak ayah. 


Ayah terdiam, menatap lurus ke depan dan mengatur napasnya. Ia seperti tengah mengingat sesuatu yang telah lampau. 


"Kau tau, Di? Ayah pernah bertindak kek kau, merasa laki-laki, merasa punya kewajiban untuk memenuhi kebutuhan istrinya, tapi tiga tahun ayah itu sia-sia. Capek tenaga, hanya cukup untuk makan-makan aja. Kalau memang kita sadar diri, kita tak menghasilkan, atau tak bisa lebih kuat untuk kedepannya, ya lebih baik minta bantuan orang tua. Bukan untuk hutang uang, tapi minta arahan dan pinjam modal. Kenapa bahasanya minjam, bukan minta? Sekalinya orang tua mampu kasih modal, tapi setidaknya kau harus ingat jasa orang tua kalau bahasanya meminjam. Kau ada etika baik untuk balas budi, melunasi hutang yang dicatat bisa jadi sedekah kau, karena orang tua sudah mengikhlaskan uang yang kau pinjam. Intinya, kau bakal selalu ingat peranan orang tua kalau kau pakai campur tangan orang tua. Biar tak naik dagu kau ke orang tua, masa kau udah kaya. Karena ada bahasanya, orang tua kaya, kau jadi raja. Kau kaya, orang tua jadi pembantu rumah tangga. Jadi, mau sampai kapan jadi kurir es batu? Ayah arahkan, karena ngerasain tiga tahun capeknya jadi buruh. Keturunan orang kaya, jadi buruh. Bukan karena gengsinya, tapi secara tidak langsung kita mempermalukan orang tua, karena kenapa kita tak bisa maju seperti mereka? Orang luar berpikiran, orang tua yang pelit ilmu, pelit modal, atau bahkan tak mau bersaing dengan anaknya. Orang tua susah hati besarkan kita, mereka senang kalau lihat kita maju. Kau jangan berpikir ego kau aja, ego laki-laki dan harga diri laki-laki. Pikirkan masa depan kau, anak kau, istri kau. Kau tak pengen beli parfum yang wanginya ketinggalan masa kau jalan? Kau tak pengen setiap hari kasih hadiah istri kau, biar dia bisa ngucapin makasih tiap hari? Kau tak mau tau girangnya anak kau, masa kau bawa dia main bom-bom car? Anak sekolah, lebih besar lagi biaya hidup kau. Anak udah ngerti dikasih paham, istri kau minat dandan dan perawatan lagi. Jangan targetkan penghasilan kau sepuluh juta atau dua puluh juta, kau harus bangga kalau kau bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga, tanpa kehabisan uang di akhir bulan. Tanggal lima belas, istri kau ngeluh uang habis, jangan kau tanya habis untuk beli apa aja. Sedangkan kau tau paketan datang tiap hari, barang-barang rumah tangga kau banyak yang baru, stok makanan di kulkas penuh, berarti kan kau tau arahnya ke mana uang habis itu. Kecuali, tak ada barang, makanan kosong, kurir paket tak pernah mampir, ya kau perlu tanya lembut ke mana arah uang yang kau kasih itu. Ayah pengen bantu, kepengen kau terus terang, karena merasakan tiga tahun jadi buruh itu capek. Sedangkan orang tua kita mampu untuk arahin kita, modalin kita, jadi tak perlu kau tinggikan ego kau. Orang tua tak akan injak-injak harga diri kau. Ayah kasih jatah ke Ceysa, karena Ceysa anak Ayah. Selain dia istri kau, dia anak Ayah. Ayah tak mau dong, anak perempuan Ayah kelaparan. Tuh, logikanya begitu tentang jatah. Kau suaminya, kau belum berhasil, Ayah tak keberatan kau makan uang jatah yang di tangan Ceysa itu. Kurang baik apa mertua kau ini, Di?!" Ayah menepuk-nepuk pundak Hadi, selama ayah menjelaskan. 


"Tanya abu kau, dia pun ngerasain sendiri capeknya jadi buruh. Bukan mau menyombongkan diri, tapi siapa coba yang bantu dia kalau bukan mertuanya? Orang tuanya? Masyik, abusyik kau itu? Pakcik dan makcik kau? Atau pakwa dan makwa kau? Hei, mereka malah minta shodaqoh rutin dan pekerjaan jalur keluarga. Kalau ayah kau masih jadi buruh, tak akan tuh kebeli Fortuner. Tak akan tuh rumahnya bak istana, bisa memperkerjakan orang, bisa shodaqoh tiap saat. Buruh kek Ayah masa itu, abu kau masa itu, hanya dibayar kurang lebih tujuh puluh ribu. Jadi kau bayangkan aja, kalau sepuluh tahun kemudian kau masih di posisi yang sama? Bukan maksud Ayah mengkucilkan masayarakat bawah, atau para buruh. Ya setidaknya mereka bekerja, memenuhi kebutuhan keluarga, meski tidak kaya. Tapi ini tentang kau, bukan tentang masyarakat luas. Kau Ayah jadikan objek, dengan berkaca dari pengalaman Ayah." Mata Ayah sampai memerah, aku yakin tensinya naik seperempat.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2