
"Sini peluk." Aku mencoba menggantikan posisi mama Aca.
Capek mulutku membujuk Nahda yang dibantu dengan mama Aca. Tega sekali orang tua kami, menikahkan anak sekecil ini yang banyak membayangkan hal yang tidak-tidak begini.
Intinya, Nahda sadar diri bahwa dirinya belum siap. Dirinya pun, belum bisa melakukan aktivitas rumah tangga lainnya. Ia tertekan membayangkan bahwa dirinya akan menerima banyak perintah dariku, karena merasa ketidakmampuan dirinya mengerjakan tugas rumah tangga.
Sepertinya, aku pun harus banyak belajar agar tidak terlalu menuntut dan memberi perintah dobel-dobel dengan anak delapan belas tahun ini.
"Sok peluk Abangnya. Jangan lama-lama nangisnya, touch ulang make up, terus kita foto-foto bersama." Mama Aca membenahi hiasan mahkota di atas hijab Aca.
Benar-benar ideal resepsi dua jam itu. Karena kantongku jadi penuh amplop, juga foto-foto yang begitu puas. Dari foto berdua, sendiri, dengan keluarga, dengan mertua, keluarga komplit, sampai foto-foto nyeleneh lainnya.
Sungguh, sampai saat ini belum ada acara Nahda cium tangan dan aku mencium keningnya. Aku benar-benar terhanyut dengan kebersamaan dan kebahagiaan keluarga yang penuh canda tawa, adik-adikku yang kecil pun nampaknya begitu gembira berlarian di ruang terbuka dengan pelapis gaun tipisnya yang seperti kelambu melayang-layang ketika dirinya berlarian.
Masuk ke mobil dan duduk bersama dengan Nahda, tidak menjamin suasana hati tetap tenang. Masalahnya ada di ponsel, satu pesan nyeletuk dari Jessie membuat moodku berubah.
[Nikah sama saudara, biar harta warisan tak lari ke mana.]
Emoticon mengejek pun mengikuti pesan itu di baris setelahnya.
"Mau bawa mobil sendiri, Papa pindah mobil ini, Bang." Papa belum menjalankan kendaraannya, di saat mobil yang lain sudah bergerak.
Aku meluruskan pandangku, menyimpan ponselku di saku celanaku tanpa membalas pesan dari Jessie. "Pulang aja dulu, Pah. Barangkali Nahda capek, agak sorean aja ya cari rawonnya?" Aku menoleh untuk mencari persetujuan padanya.
"Iya, abis Ashar aja." Nahda menoleh sekilas dan mengangguk beberapa kali.
"Kau banyak kerjaan, Bang?" Mama Aca memutar posisi duduknya ke belakang, karena aku dan Nahda duduk di bangku tengah.
"Tak sih, Ma. Cuma hari ini laporan harus selesai jam sepuluh malam, gajian hari ini." Aku terkekeh kecil.
Gajian dari perusahaan yang di Singapore, aku masih memegang kendali di satu posisi. Lumayan, aku mendapat bayaran kurang lebihnya lima belas jutaan dari pekerjaan itu.
Kerjanya daring, tapi pusing jika waktunya mendapat setoran laporan dari divisi lain. Karena aku seperti pusat laporan, yang akan mentransferkan laporan ke orang pertamanya.
"Wow rejeki, Dek. Baru nikah, langsung gajian nih." Mama tersenyum pada Nahda dengan menaikturunkan alisnya.
__ADS_1
"Iya aku dijanjikan beli baju, sepatu dan lain-lain. Abang lupa bawa parcel, Ma."
Aduh, jujurnya Nahda membuatku malu.
"Waduh, jadi bawa tisu magic aja kah, Bang?"
Sial! Papa Ghifar meledekku.
Mama Aca tertawa lepas, tidak dengan Nahda yang malah terlihat bingung. Biarkan saja ia bingung seorang diri, sampai tahu rupa aslinya dari 'barang' yang ia maksud saat mengatakannya depan meja ijab kabul tadi.
"Yaitu lah, tak ada konfirmasi." Aku mendapatkan kejutan akad nikah dadakan.
"Ah masa? Nahda tak bilang?" Mama Aca mengerutkan dahinya.
"Harus bilang apa aku, Ma?" Nahda nampak kekanak-kanakan di depan orang tuanya.
Aduh, semoga sabarku diluaskan.
"Eh, ya Mama kemarin ada nanya tentang tema dan segala macam itu. Kau tak cerita ke Bang Chandra?" Mama Aca saja nampak heran, jangankan aku yang sebagai mempelai laki-lakinya.
Kocak.
Aku hanya bisa menghela napas. Mama Aca mengatakan hal yang wajar, tapi jika Nahda mengertikan harusnya ia mencari kesepakatan denganku. Kan kami berdua yang menikah, bukan dirinya saja.
Tak apa, nanti aku akan menasehatinya di kamar. Ia bisa malu, jika aku mulai menceramahinya di depan kedua orang tuanya.
"Tadi video call pas akad itu sama siapa, Ma?" Aku mengalihkan pembicaraan, dengan mencari pegangan karena jalanan banyak polisi tidur.
Pajero juga seperti mobil pada umumnya, ya tetap terasa melewati polisi tidur juga.
"Itu keluarga dari ayah kandungnya Nahda, pakcik dia, pakwa dia gitu lah. Nanti kalau udah tak capek dikenalkan, kau pun katanya mau sibuk urus laporan."
Bersyukurnya aku di sini, keluarga mertuaku memahami kesibukanku. Bukan malah memaksaku menikmati waktu dengan anak mereka, dengan alasan pengantin baru.
Oh, satu lagi aku lupa. Mama Aca itu realistis, wajar ia mengerti laki-laki harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.
__ADS_1
"Komunikasi masih baik ya, Ma?" Biasanya kan jika sudah tidak ada hubungan, komunikasi bahkan tali persaudaraan bisa terputus.
"Alhamdulillah, mereka dulu bantu support nafkah untuk Nahda meski seratus dua ratus ribu. Karena keadaan mereka pun dari kalangan biasa juga, gaji UMR daerah sana."
Pasti kejadian ini saat Nahda masih kecil. Katanya sih, ayahnya meninggal kala Nahda masih berusia dua tahunan.
"Sampai lari ke sini ya? Seratus dua ratus tak cukup ya?" Papa Ghifar tertawa geli dengan melirik istrinya.
Mama Aca menepuk lengan suaminya. Ia menghadap ke depan dan fokusnya ke depan kembali. "Ya kan Saya tak ada yang menafkahi, kan dulu pengangguran, cuma ibu rumah tangga." Mama Aca seenjoy itu dengan suaminya.
Aku jadi teringat dengan ayah, sifat mereka hampir mirip.
"Sekarang memang berpenghasilan kah? Pengangguran juga kan tetap?" Mulut papa Ghifar asyik juga dengan istrinya.
Seperti klop lah begitu.
"Kan dinafkahi!" Mama Aca mencubit perut papa Ghifar, dirinya pun terkekeh geli sendiri.
"Pa, tentang kuliah Nahda. Insya Allah, aku sanggup handle itu." Aku mengganggu mereka, karena canggung sendiri melihat kemesraan cubit-cubitan itu.
"Papa bantu, Bang. Mending kau alokasikan ke usaha lain, atau belajar saham sama Nahda. Dia dulu start modal cuma dua jutaan, itu pun minta dari Papa. Sekarang banyak yang goal, entah uangnya jadi beranak berapa kali." Papa Ghifar melihat kami dari spion tengah mobilnya.
Oh, jadi nilai saldo M-banking itu dari pekerjaan Nahda bermain saham online?
"Pelan-pelan, Pah. Porang aku baru naik benih, masih butuh banyak biaya untuk kedepannya." Aku akui bahwa aku ini masih merintis.
"Nah tuh, dari pada untuk biaya kuliah Nahda sih mending fokus ke biaya produksi dulu aja. Tapi sekiranya yang bisa bagi waktu tuh, Bang. Karena kan sekarang kau beristri lagi, jadi kalau bisa ya tengah malam itu udah di rumah."
Begini ya rasanya punya mertua? Belum apa-apa, sudah diberi wejangan dan semacam peringatan juga. Aku ambil positifnya sih, aku tidak ambil hati. Memang benar ucapannya.
"Belajar sama ayah, dia pandai bagi waktu dan disiplin waktu. Jangan sama Papa, laporan pekerjaan aja kalau belum selesai ya Papa bawa pulang dikerjain sama Mama bareng," aku papa Ghifar dengan terkekeh geli.
Ayahku memang panutanku, terlepas dari bagaimana buruknya dia dulu. Ia tetap ayah yang terbaik, meski mengambil keputusan sepihak seperti ini. Aku yakin, saat aku bertanya setelah sampai di rumah nanti, pasti ayah memiliki alasan karena mengambil opsi ini tanpa pertimbangan dariku.
...****************...
__ADS_1