
Alhamdulillah, Izza tidak lama-lama di rumah sakit. Hanya tiga hari, dengan total administrasi mencapai sepuluh juta. Ayah yang maju untuk itu, ayah juga yang mengurus tentang asuransi. Katanya, hanya ter-cover setengah. Yang artinya, aku memiliki hutang lima juta untuk biaya rumah sakit Izza pada ayah. Belum uang pegangan, yang sudah ditransferkan lima puluh juta sebanyak dua kali.
"Dek, jemurin baju. Udah Abang taruh di teras belakang," pintaku pada Ceysa.
Aku langsung bersih-bersih, begitu kami pulang dari rumah sakit. Izza aku biarkan beristirahat dan bersantai, ia mengatakan bekas infusnya masih sakit.
"Iya, Bang. Ini Dayyannya." Ceysa memberikan Dayyan padaku.
"Sore-sore jemur baju, naikin ke teras aja jemurannya. Takut malamnya hujan," ujar ayah dengan mengganti channel televisi.
"Iya, Yah," sahut Ceysa lamat-lamat.
"Kau tambah jelek, Dayyan." Aku meraup wajah bayi Ceysa ini.
Ia sudah cukup besar, dengan kulit yang tetap berwarna hitam manis.
"Sini, Bang. Mau dimandikan." Biyung mengambil Dayyan dariku.
Biyung urus terhadap bayi, bayi siapapun yang penting keluarga sendiri. Padanya, bayi akan bersih. Mulai dari kuku, telinga, hitam-hitam di kepala juga. Yang seperti daki, tapi bukan daki.
"Yang wangi ya, Manis." Aku menyempatkan untuk mencubit pipinya.
"Iya, Ayah Ganteng." Biyung membawa pergi Dayyan.
Aku mendekati ayahku, aku teringat akan pesan Hari yang meminta tolong padaku untuk menyampaikan pada ayah perihal ia meminta pekerjaan. Mungkin ini waktu yang tepat, karena beliau tengah bersantai menonton televisi.
"Yah, Hadi ada ngomong belum?" Aku basa-basi ringan dulu.
"Udah." Ayah tetap fokus pada televisi.
"Ngomong apa, Yah?" tanyaku memastikan.
__ADS_1
Bagaimana sih Hadi ini? Katanya meminta tolong untuk menyampaikan pada ayah, tentang ia membutuhkan pekerjaan paruh waktu.
"Ceysa tak mau berhubungan ranjang."
Aih, kok yang itu dia berani menyampaikan. Iya sih, jika tentang pekerjaan laki-laki merasa itu adalah hal yang menyangkut harga diri mereka. Jika tentang ranjang, apalagi perempuannya yang jelas tak mau, kan bukan salahnya.
"Terus, Ayah bilang apa?" Aku memperhatikan ayah yang menonton televisi. Ayah yang malah tak menoleh padaku sekalipun.
"R****sang." Singkat sekali jawabannya.
"Terus?" Aku menunggu kalimat selanjutnya.
"Dia minta persetujuan, makanya ditolak terus. Ya jangan minta persetujuan kata Ayah, tapi dibujuk dan dir****sang." Baru ayah menoleh ke arahku sekilas.
"Dia tak ada bilang tentang pekerjaan?" Menurutku, masalah Hadi tentang itu sudah impas.
"Pekerjaan?" Ayah menoleh kembali dengan menaikan satu alisnya.
"Iya." Aku mengangguk.
"Dia mau minta kerjaan paruh waktu sama ayah. Soalnya, dia sering ribut sama Ceysa tentang keuangan. Terus, Hadi disuruh-suruh aja karena nampak nganggur. Jadi, dia merasa kek tak dihargai gitu. Padahal, Hadi ngerasa udah bantu Ceysa tapi masih disuruh-suruh aja." Aku menjelaskan pokok masalahnya, agar ayah memahami alasan di balik pekerjaan yang diminta ini.
"Bisa jadi Ceysa udah bergantung sama Hadi gitu, jadi dia manja. Ya tapi beda porsinya juga, kalau manja itu untuk melakukan hal yang sepele aja. Kek ambil barang yang jaraknya tinggi, biasanya dengan nada yang manja juga. Tapi kalau minta tolong sambil marah, ya mungkin memang dia tak suka lihat suami di rumah. Ceysa sama Hadi dari kecil kan ribut akur terus, rumah tangga sedikit berwarna gitu kan wajar aja. Kalau memang Hadinya pengen kerja sih, ya Ayah adanya butuh kalau paruh waktu. Kek antar mebel jadi ke rumah pembeli, paling itu aja. Pekerjaan yang lain kan nyita waktu semua, itu kan tak nyita waktu karena cuma antar aja. Jadi paling Hadi gantian sama sopir yang di sana, karena sopirnya tak selalu ada sekarang tuh. Jadi kek ngedadak terus, makanya Ayah sering antar sendiri, atau nyuruh Zio. Nanti Ayah bilang langsung, kalau butuh sopir untuk antar. Cuma nyetir aja, gampang lah." Ayah menarik sebuah toples untuk di dekatkan padanya, kemudian ia menikmati isinya.
"Tak tiap hari berarti, Yah?" tanyaku kemudian.
"Tiap hari ada, paling sedikit dua. Kalau Hadi sibuk kuliah kan, bisa cari sopir lain. Kalau dia lagi bisa kan, ya dia disuruh." Ayah menjawab setelah selesai mengunyah.
Alhamdulillah, beres masalah tentang rumah tangga adikku. Semoga setelah saran dan sedikit bantuanku untuk menyampaikan itu, mereka bisa menjadi keluarga yang hangat kembali. Jangan sampai Ceysa dan Hadi bentang bercerai, karena mereka sejak kecil itu bersama, nanti malah berjarak jadinya.
Sebulan kemudian, aku selalu mencoba menahan untuk tidak mengatakan kondisi Izza sebenarnya. Aku selalu mengalihkan, jika Izza menanyakan tentang hasil MRI miliknya. Sampai suatu ketika, ia mengajakku ke rumah sakit kembali untuk meminta hasilnya pada dokter Fardan.
__ADS_1
Aku bingung untuk menjawabnya, karena hasil memang sudah keluar sejak lama. Juga, hasil tersebut berada di tangan pakwa. Rekam medis Izza sudah dicopy oleh pakwa, jika suatu saat Izza menginginkan untuk melakukan tindakan di rumah sakit pakwa.
Terus terang saja, aku terpentok biaya. Bukan aku tidak sayang nyawa istriku, aku sayang dan ingin yang terbaik untuknya. Pikirku, di sana atau di sini sama saja ia diberi tindakan sesuai prosedur. Namun, aku tidak mengatakan tentang pikiranku padanya. Aku diam saja, aku khawatir ia bertambah pusing jika membahas tentang biaya. Takutnya, ia malah stress lagi.
"Ayo nih, Bang." Ia menggoyangkan lenganku kembali.
"Besok ya?" Aku berpikir untuk mengambil sendiri dulu pada pakwa.
"Besok? Oke deh. Abang sibuk kah hari ini?" Ia ceria sekarang.
Butuh waktu dua minggu, ia benar-benar pulih dari tukak lambungnya itu. Masalahnya satu, ia belum bisa me-manage pikirannya.
"Kek biasa aja, mau ikut?" Aku sering mengajaknya ke tambak.
Tidak ada yang ia lakukan di sana, tapi terlihat ia lebih banyak tersenyum jika berada di sana. Ia banyak berinteraksi dengan beberapa orang, berfoto selfie sendiri, juga menikmati keindahan alam yang masih alami di sana.
"Boleh." Ia tersenyum lebar.
Satu minggu, ia bisa tiga kali ikut denganku.
Aku tidak keberatan, selagi ia tidak menggangguku. Jelas aku sering memperhatikan kegiatannya dan aktivitasnya, karena tentu aku khawatir karena aku tidak menjaganya secara dekat. Aku hanya memantaunya dari jauh.
"Gih, siap-siap. Aku panasi mobil dulu." Aku turun dari teras rumah.
Ke mana-mana, aku menggunakan mobil milik Izza. Karena ayah menjual mobil yang terkena reruntuhan.
"Oke." Ia masuk ke dalam rumah.
Ia biasa membawa skincare, air minum dan alat sholat. Di sana ada rumah apung, yang terbuat dari kayu. Rumah itu dibuat di tepian danau, untuk tempat berteduhku dan para pekerja. Rumah apung tersebut memiliki beberapa sekat dan pintu sendiri-sendiri, seperti kost-kostan tapi berukuran kecil. Hanya berukuran dua kali tiga meter saja, dengan kamar mandi terpisah. Kamar mandinya ada satu dan biasa digunakan bersama. Itu tidak masalah, karena aku tidak pernah menginap di sini.
Kesenangannya sama seperti biyung, yaitu belanja online. Hal sederhana yang lama-lama menguras dompet, tapi membuatnya happy setiap saat. Tak apa, aku masih gajian dari perusahaan di Singapore untuk itu. Tapi dari gaji tersebut, aku tidak bisa membayar hutang ke ayah.
__ADS_1
Inilah beban pikiranku sekarang, masalah hutang dan biaya rumah sakit. Karena tambak benar-benar dari nol, belum menghasilkan sama sekali.
...****************...