
"Aku kangen betul sama Abang." Izza tidak sungkan memelukku di depan Biyung dan Bunga.
"Biyung…. Aku juga kangen betul sama Biyung." Bunga mendekati biyung dan memeluk biyung dari samping.
"Udah setengah sebelas. Masuk kamar, kelonan." Ayah masuk dan langsung mengunci pintu.
"Ayah, aku kolonan sama siapa?" Wajah Bunga memelas sekali.
"Heh, Bocah!" Ayah terbahak-bahak.
Bunga adalah bocah yang bisa membuat bocah.
"Makan belum, Dek?" Aku bangun dan merangkul Izza masuk ke dalam kamar.
Ayah, biyung dan Bunga pun sudah pindah ke ruangan lain.
"Udah, aku ngantuk pengen peluk Abang." Izza memelukku kembali, ketika sudah sampai di kamar.
Sepertinya, ia benar-benar kurang tidur. Baru sebentar menempel di bantal dan menghirup aroma ketiakku, ia sudah mendengkur halus saja. Mungkin aku adalah ketenangan untuknya.
Entah nasehat apa yang diberikan paman dan bibinya, karena sekarang memang Izza banyak perubahan. Seminggu kemudian ia ikut aku, ia bersikap lebih baik dan lebih banyak mengertikan aku. Namun, ia juga lebih banyak diam dan menjawab seperlunya saja ketika ditanya.
Aku yang terlalu bawel? Atau memang Izza yang banyak berubah, hingga aku kurang mengenali dirinya yang sebenarnya.
"Makan, Dek." Aku menarik tangannya, kala ia lewat di dekat meja makan.
Ia hanya menyunggingkan senyum, kemudian mengangguk samar. Ia sering meringis, tapi tidak pernah mengatakan apa sakitnya.
"Makan, Dek. Terus ayo ikut ke sidang." Biyung mengajak Izza untuk duduk.
Hal ini sering terjadi, di mana Izza tidak pernah terlihat tengah makan. Saat aku makan pun, ia hanya menyajikan untukku saja. Sesekali, ia terlihat hanya tengah memakan makanan ringan dan buah saja. Entah apa yang terjadi dalam dirinya, sehingga ia nampak menghindari makanan berat.
"Udah gampang nanti, Biyung." Izza tersenyum dan menolak ajakan makan dari biyung.
"Kenapa? Tak cocok kah?" Biyung terlihat bingung dengan menantunya itu.
__ADS_1
"Cocok kok sama lauknya, cuma nanti aja." Izza tersenyum lebar.
Aku tidak mengerti, ia hanya tersenyum saja. Aku takut kesehatannya memburuk, meski memang sepertinya demikian.
"Makan, Dek. Nurut, Dek," pinta ayah tak terbantahkan.
Saat suapan pertama yang terlihat ragu-ragu, detik itu juga Izza mual-mual hebat. Aku menuntunnya ke kamar mandi. Bukan hanya sesuap nasi saja yang keluar, tapi buah pisang yang dimakannya pagi tadi pun keluar.
"Hamil kah? Coba cek rumah sakit, Bang. Kau tak perlu ikut lihat sidang Vano deh, biar Ayah sama biyung aja." Ayah berdiri di pintu kamar mandi.
Benarkah hamil? Belum tentu pasti, tapi aku sudah senang dulu. Aku akan sangat bersyukur untuk itu, dengan semangat aku pun membawa Izza cek up ke rumah sakit.
"Tak hamil keknya, Bang. Empat hari lagi jadwal haid aku, sedangkan sekarang aku udah ngerasain nyeri dada dan pegal-pegal, tegang panggul, pipisan terus," jelas Izza kesekian kalinya.
Aku kurang percaya, sebelum mengetahuinya sendiri. Hingga saatnya giliran Izza di USG, aku yang malah mendapat kejutan tak terduga.
"Fibroid rahim," ucap dokter yang membuat senyumku lenyap.
Izza tidak hamil.
"Mari, Pak. Silahkan duduk dulu." Dokter laki-laki tersebut menepuk punggungku, dengan dirinya yang mendahului duduk di kursinya.
Aku belum tahu apa itu fibroid rahim. Tapi, yang jelas itu sebuah penyakit yang ada di rahim istriku.
"Gejalanya itu tak mau makan nasi, ia mual-mual setiap makan." Aku duduk di depan mejanya.
"Memang gejalanya mirip kehamilan, Pak. Contohnya seperti, tegang pada bagian panggul yang parah, sering buang air kecil, sembelit, nyeri punggung, nyeri selama hubungan suami istri, dan nyeri panggul."
Loh? Bukannya Izza tadi di ruang tunggu mengatakan bahwa dirinya tegang panggul dan pipisan terus? Apa itu termasuk gejalanya?
"Penyebabnya apa ini, Dok? Kami baru sebulan lebih menikah, apa penyebabnya karena berhubungan suami istri?" Maafkan jika otakku terlalu polos. Aku hanya mencoba mencari keterangan sendiri.
"Genetik. Jika ibu atau saudara perempuan memiliki fibroid, seseorang memiliki risiko tinggi terhadap kemungkinan terserang penyakit ini. Usia, wanita yang berusia lebih dari 40-50 tahun umumnya memiliki fibrosis. Setelah menopause, tumor akan menyusut. Ras, wanita berkulit hitam memiliki risiko lebih tinggi terhadap penyakit ini di usia muda, dengan ukuran tumor atau fibroid yang lebih besar.
Faktor lainnya, seperti menstruasi dini, lebih banyak mengkonsumsi daging merah, kurang makan sayuran, buah, serta sering meminum bir." Dokter tersebut menggerakkan pena yang ada di tangannya.
__ADS_1
Izza muncul dengan asisten dokter. Kemudian, ia duduk di sebelahku.
"Fibroid itu apa?" tanya Izza kemudian.
Ah, aku pun tidak tahu. Tapi aku malah bertanya gejalanya dan penyebabnya.
"Fibroid rahim, adalah kondisi ketika terdapat tumor jinak pada bagian atas atau di dalam otot rahim. Tumor ini dapat berkembang menjadi sebuah atau beberapa blok dengan ukuran yang berbeda-beda."
Astaghfirullah, tumor jinak. Aku pernah mendengar cerita biyung yang memiliki tumor jinak saat mengandung Cala, lalu tumor tersebut berubah menjadi ganas dan mengkapsulisasi salah satu saudara Cala di rahim biyung.
"Apa ini fibroid rahim, Dok?" Izza langsung mendapat perhatian penuh dari dokter tersebut. Izza terkesan meragukan diagnosis dokter tersebut, mungkin karena hanya pemeriksaan singkat saja membuat Izza menjadi ragu.
"Maksud Saya, apa itu benar-benar fibroid rahim tanpa pengecekan lebih." Izza gelagapan memperjelas pertanyaannya.
"Oh, baik. Memang pemeriksaan yang paling utama adalah USG. Setelah ini, Saya bantu arahkan ke laboratorium untuk melakukan tes darah. Kemudian, magnetic resonance imaging atau MRI. Metode ini dapat menunjukkan ukuran, lokasi fibroid, mengenali jenis tumor yang berbeda, dan memilih perawatan yang tepat. Lalu, mengangkat saluran uterus. Prosedur ini dilakukan dengan menggunakan pewarna untuk menyoroti rahim dan saluran telur pada film X-ray. Dokter tidak dapat melakukan ini jika masalah berkaitan dengan ketidaksuburan. Selain mendeteksi fibroid, metode ini juga membantu dokter melihat apakah tuba fallopi terhalang atau tidak. Yang terakhir, histeroskopi. Dengan teknik ini, dokter akan menempatkan sebuah tabung kecil yang berisi detektor cahaya melalui serviks dan masuk ke uterus. Kemudian, dokter akan menyuntikkan garam ke dalam rahim untuk memperbesar rongga uterus, memungkinkan pengamatan ke dalam rahim dan tuba fallopi."
Ya Allah, sepanjang itu prosesnya. Semoga Izza diberikan kekuatan dan ketabahan dengan semua pemeriksaan yang harus ia jalani. Semoga aku bisa menjadi suami hebat, yang selalu menemaninya menjalani masa sulitnya.
"Jadi ini semua ada hubungannya dengan kesuburan, Dok?" Suara Izza sudah bergetar.
Aku hanya bisa mengusap-usap punggungnya. Akh tidak mungkin memeluknya di depan dokter, yang ada tangis Izza masih menggema karena pelukanku.
"Tergantung jenis fibroidnya, Bu. Kalau, fibroid submucosa bisa menyebabkan kemandulan atau keguguran, munculnya risiko solusio plasenta dan hambatan pertumbuhan janin. Nah, untuk mengetahui itu semua. Saya arahkan untuk pemeriksaan lebih lanjut, yang diawali dengan tes darah dahulu. Ini surat pengantar ke laboratoriumnya, bisa langsung datang ke sana dan dilakukan tes darah segera." Dokter memberikan secarik kertas padaku.
Izza menggenggam tanganku, tangannya sudah amat dingin dan gemetar. Aku tahu, tangisnya akan tumpah jika tidak di depan dokter dan tidak di depan umum.
"Makasih, Dok." Aku tersenyum ramah pada dokter laki-laki tersebut.
Mungkin usianya sama dengan pak cek Gavin. Masih muda, tidak begitu tua seperti ayah.
"Sama-sama, Pak. Setelah dapat hasil dari laboratoriumnya, bisa kembali ke sini ya, Pak? Nanti Saya bantu bacakan hasilnya." Ia tersenyum ramah pada kami.
Aku dan Izza bangkit dari duduk, kemudian pintu ruangan dibukakan oleh asisten dokter tersebut.
...****************...
__ADS_1