
"Sampai apa, Bang?" Tante Nina terlihat tegang.
Aku mengobrak-abrik plastik minimarket bekas ayah membeli air mineral, aku mencari cemilan dan aku mendapatkannya. Aku duduk di lantai, di dekat ranjang yang paling dekat dengan tempat ayah duduk. Kemudian, mulai memakan cemilan dalam diam sembari mendengar obrolan orang tua itu dan cara ayah menengahi masalah ini.
"Sampai ayah mertua Vendra bilang, kalau Vendra tak becus didik anak. Ditambah, banyak makian yang buat dia berkecil hati. Pikirannya muncul, dia bisa didik anak kalau anaknya dekat dengan dia. Sebelum dia benar-benar naruh benihnya din rahim Caitlin, dia katanya bujuk kau dan anak-anak untuk pindah ke Sulawesi katanya. Tapi hasilnya nihil, tetap dengan alasan yang sama. Ini bukan pembenaran menurut Abang, tapi dari situ dia ingin membuktikan bahwa dia bisa mendidik anak-anaknya. Dia ingin menunjukan, ini hasil didikan aku, coba bandingkan dengan hasil didikan bapak kau itu. Sekali lagi, itu bukan pembenaran menurut Abang juga. Tapi, hati laki-lakinya tergores. Bagaimana pun dirinya, dia ingin memimpin keluarga kecilnya. Sesederhana itu keinginannya, tapi sulit untuk direalisasikan dengan alasan anak kepala suku." Ayah menunjuk tante Nina, kemudian menundukkan kepalanya.
Tante Nina terdiam, mulutnya sedikit terbuka. Namun, matanya yang mengeluarkan air mata.
Woih, ya jelas. Kalau mulutnya yang mengeluarkan air, itu namanya Chandra di tahap tiga pulas hampir mati suri.
Sudah, sudah. Ayo kembali ke topik utama.
"Sampai saat ini, tetap kau ranjang favoritnya. Karena apa, ada cintanya di kau. Laki-laki kau itu ibarat orang dalam kendaraan mudik, dia pulang dari rantau dari pekerjaannya, dengan tujuannya ingin pulang ke rumah, ke keluarganya. Rumah ini, bisa dikatakan istrinya. Dalam perjalanannya, dia rehat di warung, makan dulu, beli minum, isi bensin, ngerokok dan istirahat sebentar, tapi tujuannya pulang kan tetap kau. Terus kau nanya, kalau tujuannya aku kenapa anaknya sampai tiga sekarang. Karena sampai saat ini, dia tak bisa bangun rumah baru di perantauannya, karena tujuannya tetap di kau, tapi ada perempuan yang jadi tempatnya singgah dari perjalanannya gotong rumahnya ke perantauan meski mustahil. Ya gimana gitu kan? Gotong rumah kan mustahil, buat rumah baru, ternyata tak senyaman rumahnya pulang. Ini ibarat aja, gambaran seorang Vendra." Penyampaian ayah masuk di akalku.
Tante Nina menutup wajahnya dengan kedua tangannya, suara isakannya terdengar lirih. "Interaksi mereka nyakitin aku, Bang."
Ya Allah, kenapa kaumku jahat?
__ADS_1
Makan keripik ubi jadi serasa makan ubi rebus, karena sesaknya drama begini.
"Karena Vendra mencoba mencari kenyamanan dalam interaksinya dan Caitlin itu. Caitlin pun sama, dia merasa ditipu, dibohongin dan dimanfaatkan. Kau bayangkan aja, anak enam belas tahunan ketemu suami orang yang kek ikan ****** ketemu cermin gitu. Bualan Vendra, janji Vendra, pasti muak betul di telinga Caitlin sekarang. Nah, intinya begitu cerita awalnya mereka ini. Kau bayangkan aja, kalau masa itu kau di sana, mungkin Caitlin ini jadi pengasuh anak kau. Dia dibawa Vendra ke rumah kalian, tapi dengan tugas yang berbeda. Masanya pun udah terlewat, udah kejadian begini, selama ini pun kau berbagi, jadi keputusan terserah sama kau." Ayah membuka botol air mineral, kemudian meneguknya.
"Aku mau urus perceraian di pengadilan aja. Aku selama ini berbagi pun, karena memang tak tau. Aku tak tau kalau Vendra dapurnya dua, aku kira dia tinggal di tempat tugasnya aja. Aku pun sama, aku muak sama dia, aku merasa ditipu dan dibohongi sama adik Abang itu." Wajah tante Nina tengah menangis bercampur emosi.
"Saran dari Abang, selaku ipar yang memikirkan nasib perempuan ini. Kau dengarkan baik-baik, Nin." Ayah mengacungkan jarinya dan menekan suaranya.
Tante Nina mengangguk cepat, kemudian mengusap air matanya.
"Vendra ini komandan, kau gugat dia di pengadilan langsung? Tanpa bantuan pengacara dan bukti yang kuat? Hei, Caitlin yang pulang ke kakaknya di Belanda aja bisa dibawa pulang lagi. Jangankan kau, yang cuma di satu pulau aja. Tapi bisa sih, kalau kau pindah ke Saranjana. Kan katanya Saranjana ada di pulau tempat kau tinggal juga kan?"
"Terus gimana aku, Bang?" tanya tante Nina kemudian.
"Kalau cerai, buat Vendra yang muak sama kau. Buat dia yang ceraikan kau, buat dia yang benci sama kau. Karena kalau dia masih ingin kau, dia tak akan lepasin kau. Dengan semua cerita keduanya, tapi dengan Caitlin dijemput kembali, Abang sih tak percaya betul dengan pengakuan keduanya." Ayah meninggikan bahunya dan melentikkan bibirnya.
Sudah seperti ghibah mode on dengan biyung.
__ADS_1
"Nah, apa pendapat Abang tentang pengakuan keduanya?" Tante Nina sampai condong ke depan dan menopang dagunya.
Keripik ubi L******o memang ringan tanpa micin.
Eh, begitu kah iklannya? Yang penting sambil ngemil sajalah.
"Ceritanya mungkin benar, ya benar tentang Caitlin yang dinikahi Vendra di bawah umur. Logika tentang dia tak bisa gotong rumahnya ke perantauan pun betul, karena macam mustahil bawa kau keluar dari keluarga kau. Tapi selebihnya, mungkin karena kebutuhan laki-laki saja. Maksudnya, ya entah-entah betul atau taknya kalau Caitlin cuma persinggahan di perjalanannya aja. Laki-laki ketahuan bohong tuh udah malu betul soalnya, Nin. Mereka yang nangis-nangis karena ketahuan pun, bukan karena menyesal, tapi karena malu udah ketahuan. Lebih-lebihnya kan sikap kau ke dia jadi beda karena ketahuan bohong. Serius, Nin. Abang nih, dari pada sikap istri Abang berubah ke Abang, lebih baik tak disapa sama orang sekampung rasanya. Jadi dia kek berkamuflase, cari belas kasih. Tapi ada kemungkinan itu tulus juga, kek Abang dulu pas disidang orang tua, karena orang tua pulang merantau, ternyata Abang sama kakak ipar kau itu udah cerai. Abang buka semua tentang uang, pandangan masa depan, rumah khayalan dan segala macam. Ditanya nih kan Abang, kenapa tak jujur dibicarakan dengan Canda. Mau Abang bicarakan kek mana, kadang pertanyaan aja butuh penjabaran kalau sama dia. Waktu itu kesabaran Abang belum terlatih karena banyak anak gini, jadi lebih milih diam daripada banyak omong banyak cerita, eh berakhir ribut dan diem-dieman. Pokoknya debat apapun, pasti akhirnya ribut besar dan saling mendiamkan. Jadi lebih baik dipendam sendiri, pikir Abang begitu tentang planning Abang. Jadi laki-laki bisa cari iba, bisa tulus juga. Itu sih pendapat Abang sebagai laki-laki." Ayah manggut-manggut dengan merapihkan bulu dagunya dengan tangan.
"Logika sih, Bang. Tapi perasaan kadang tak masuk logika. Bisa jadi Vendra getol sama dia, karena dia enak kan?"
Ihh, pertanyaan tante Nina membuatku hampir tersedak keripik ubi.
"Kata siapa enak? Abang pernah rasain bule, kulit hitam manis kah, putih pucat, putih kemerahan kah, yang kulit hitam legam aja memang tak pernah merasakan, karena tak pernah nemu. Dari sekian banyak icip-icip, yang di rumah tetap menang karena boleh nambah."
Bukan aku saja yang seketika terbahak, tante Nina pun sampai memukul-mukul lantai. "Ya itu kan Abang beli, kalau mau nambah ya nambah uang," tukas tante Nina.
Ayah terkekeh kecil. "Coba ya tengok film dewasa, kan biasanya munculnya bule semua tuh. Di pencarian, tambahkan close up. Jadi kau bisa lihat lebih dekat gimana bentukan dan perbedaannya, yang punya laki-lakinya pun sama, Nin. Lepas ini ambil kamar sendiri, terus nonton film itu ya? Gini deh, Abang carikan filmnya, nanti kirim link ke kau." Ayah menaikan satu alisnya.
__ADS_1
Ya ampun biyung, suamimu mau share link.
...****************...