
"Papa mau berangkat jam sembilan, Dek." Aku menarik kepalaku, menyudahi kegiatan di bibirnya.
"Nanti lanjut ya, Bang?" Nahda mengusap leherku.
"Iya." Kadangkala kangen, malah minta dikuras.
Aku mengambil posisi duduk, mengusap keringat di badan dengan kaosku. Aku mengatur napasku, agar mencoba mengusir rasa lelah ini. Jika direbahkan, mungkin aku akan tertidur.
"Barangkali papa lapar, Bang." Nahda bangun dan memunguti pakaiannya.
"Rapi-rapi kamar dulu sebelum keluar, Dek. Tak enak sama papa, kalau penampilan kita acak-acakan juga." Aku bangun dan berjalan ke arah lemari.
Aku memang tidak membawa banyak baju, tapi di sini banyak pasang baju. Aku yakin ini milik ayah, karena aroma khasnya masih melekat meski sudah lama tidak dipakai. Aku mengenakan baju yang ada, mengenakan celana harian yang ada juga. Kemudian aku melirik Nahda yang tengah merapikan hijabnya, sebelum aku membuka pintu dan keluar kamar.
Aku berpapasan dengan papa di depan pintu kamar mandi. Papa sepertinya baru selesai wudhu, ia tengah berdoa di depan kamar mandi dengan wajah yang basah. Itu pasti doa selepas wudhu.
"Nanti aku anterin ke stasiun, Pa," ucapku sebelum masuk ke kamar mandi.
"Jangan, Bang. Kau di rumah aja, kasian Nahda kalau ditinggal sendirian di rumah. Nanti Papa pesan taksi online aja." Papa Ghifar melangkah pergi.
Sesayang itu pada anaknya, sampai tidak mau anaknya sendirian di rumah. Atau memang papa merasa tidak enak hati padaku, atau merasa menggangguku.
"Nanti Nahda ikut aja, Pa," sahutku sebelum benar-benar masuk ke dalam kamar mandi.
"Dia tak biasa keluyuran malam, Bang. Dia harus di rumah dan kau temani," tegas papa Ghifar sebelum menghilang karena ia berbelok ke ruangan lain.
Hmmm, ini sih sayang anak namanya.
Untungnya papa Ghifar tak menyindir kegiatan kami yang berisik itu. Jika ayah, ya sudah habis aku diledeknya. Mungkin papa Ghifar pura-pura tidak mengerti kali ya?
Aku diminta Nahda membeli telur dan minyak goreng satu kilo ke toko sembako terdekat. Aku menurut, karena memang aku tidak mau ia keluar malam ke toko sembako. Padahal, aku tidak pernah disuruh membeli semacam telur begini di toko terdekat. Paling seringnya menemani biyung atau mengantarkan biyung ke toko sembako.
Tidak hanya telur dan minyak, aku berinisiatif untuk membeli mie rebus dan mie goreng masing-masing tiga bungkus. Aku juga memberi penyedap rasa kaldu sapi, agar telur mata sapinya nanti tidak gambar. Rokok pun tidak lupa, untuk cuci mulutku. Beberapa permen pun aku beli, karena itu cuci mulut untuk Nahda. Kopi, gula dan teh menjadi pelengkap pesananku di toko sembako ini. Karena teringat akan diajak begadang oleh Nahda, aku harus sedia rokok dan wedang juga.
__ADS_1
"Tinggal di 05 ya, Mas?" tanya ibu pemilik toko sembako ini.
"Iya, Bu. Liburan aja beberapa hari." Aku tersenyum ramah dengan menunggu kembaliannya.
"Ohh, liburan. Ada setannya gak lama gak ditempati itu, Mas?" Ibu tersebut memberikan kembalian dan tertawa kecil.
"Tiga hari di sini sih tak ada setan, Bu." Aku menyambung tawa.
Iya sih rumah kosong lama, tapi terpelihara dan bersih kok. Kamper dan pewangi ruangan saja masih efektif kok, bahkan token listriknya banyak. Ya benar, memang ayah menitipkan rumah ke tetangga terdekat dengan memberi upahnya untuk mengurus rumah tersebut. Untungnya, tetangga tersebut amanah.
"Anaknya pak Givan ya? Atau pak Ghifar ya? Siapa sih pemilik rumah itu?" Sepertinya ibu-ibu ini mengenal kedua laki-laki matang panutanku itu.
"Rumah punya pak Givan, ayah Saya. Tapi sekarang yang datang itu pak Ghifar, adik ayah Saya," Jelasku kemudian.
Beliau manggut-manggut. "Oh iya-iya, ya yang sering pulang ke sini dan ngecek usaha di sini juga pak Ghifar. Gimana kabar pak Givan, beliau sehat? Kenapa gak pernah datang ya?"
Waduh, benarkah? Aku tidak tahu jika yang biasa diutus datang ke sini adalah papa Ghifar, pantas saja dirinya tahu di mana letak rumah mebel ayah di sini. Aku berpikir, ini ada hubungannya dengan skandal Jepara itu. Sehingga ayah tidak mau turun tangan sendiri, untuk mengurus dan mengecek usaha ini. Toh buktinya usaha ini bermasalah saja, aku yang diminta datang.
"Alhamdulillah sehat, Bu. Lagi banyak kesibukan, anaknya juga banyak, jadi repot bantu urus anak." Aku menggabungkan dengan candaan ringan.
Waduh, kurang tahu juga nih aku. Tapi sepertinya yang bungsu-bungsu ini deh, soalnya usaha di Jepara ini sepertinya belum lama.
"Dua lagi, Bu. Perempuan semua." Cali dihitung juga anak ayah.
Ia anak susuan biyung.
"Alhamdulillah, pulang-pulang hamil. Mas pun pulang-pulang nanti istrinya hamil juga kaya pak Givan."
Pernyataan seperti itu, seolah memancingku untuk mengatakan apa statusku. Bisa saja aku menjawab 'wah belum punya istri', bisa saja nanti ibu ini akan mengenalkan dengan anaknya. Tapi aku tidak mau membuat kerepotan seperti itu, aku bangga sudah beristri karena tak semua laki-laki siap menanggung tanggung jawab di usia muda sepertiku.
Aamiin. Batinku penuh kekhawatiran dengan rahim Nahda, semoga istriku rahimnya tidak bermasalah seperti pujaanku yang pertama itu.
"Kebetulan, istrinya dibawa juga, Bu." Aku tertawa ringan.
__ADS_1
"Wah, ya suruh main ke sini, Mas. Bu Canda pun dulu sering main, karena pak Givan sibuk urus usaha itu awal-awal. Sampai jam sepuluh malam pak Givan belum pulang, bu Canda kabur ke sini karena takut katanya. Nanti pak Givan pulang-pulang panik nyariin bu Canda tuh, lucu kalau pak Givan marahin bu Canda kaya marahin anaknya." Ibu tersebut sampai tertawa geli, pasti ia masih teringat bagaimana interaksi ayah dan biyung.
"Oh, iya kah, Bu? Iya nanti istri Saya disuruh main." Padahal hanya basa-basi menanggapi ucapannya saja.
"Iya, biar gak kesepian sendiri di rumah."
"Iya, Bu. Mari, Bu. Udah ditungguin telurnya," pamitku kemudian.
"Ya, Mas." Ibu tersebut membalas senyum rumahku.
Di kota orang juga, biyung selalu menjadi barang berharga untuk ayah. Aku membayangkan paniknya ayah mencari biyung yang tidak ada di rumah. Apalagi, jika biyung sudah mengobrol itu tidak menghiraukan ponsel. Dihubungi sulit, sudah pasti ayah kalang kabut mencari istrinya itu.
"Nih, Dek." Aku menyodorkan kantong kresek hitam pada Nahda.
"Makan dulu ya, Pa? Aku buatin telur dulu nih." Nahda dengan sigap mengambil tentengan dariku.
"Ya udah gih cepet." Papa Ghifar mengangguk.
"Dek, buat teh. Buatkan juga untuk Papa tuh, Abang belikan gula sama tehnya." Tiga hari tinggal di sini, makanan dan segala macam minuman aku membelinya.
Ya seperti teh manis atau kopi, aku akan pergi keluar mencari warung kopi terdekat daripada membuatnya sendiri dan menikmati minuman hangat itu sendiri. Mending diminum di tempatnya, karena ramai dan banyak orang.
"Tak usah, Dek. Papa nanti mau langsung berangkat." Ucapan papa Ghifar membuat langkah Nahda tertahan.
"Oh, iya, Pa." Nahda mengangguk, kemudian lanjut melangkah.
"Ibu-ibu toko kenal nama Papa." Aku menunjuk letak toko sembako tadi berada.
"Ohh, iya." Papa Ghifar memandang ke arah jemariku menunjuk.
Toko tersebut terletak di rumah kedua di depan rumah ini.
"Papa katanya yang sering datang, untuk apa, Pa?" Aku hanya memastikan saja.
__ADS_1
Papa Ghifar memandangku. "Untuk….
...****************...