Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA223. KK KTP


__ADS_3

"Bukan maksud Saya begitu, Pak. Hema kan lagi begini kondisinya, Saya cuma ingin dia tau diri gitu, bukannya malah bertingkah. Ngusir pun, aku tak serius. Hanya sebagai efek jera aja," jelas bang Wildan dengan tenang. 


"Efek jera gimana? Kejadian itu udah terjadi, Hema udah terlanjur melakukan. Kau gimana sih?! Kalau Hema tawuran, usir sebagai efek jera itu wajar. Bukan begini cara kasih efek jera, untuk anak laki-laki yang butuh keluarganya." Pakwa dan ayah itu satu dua galaknya. 


"Ada apa, Bang? Ramai sekali." Perempuan berperut besar datang menghampiri kami. 


"Ehh, ada tamu." Ia tersenyum ramah, ketika melihat kami semua. 


"Udah, Hema diurus aja. Kalau memang tak boleh tinggal di sini lagi, Saya bawa dia sekalian. Saya tak tenang-tenang, permasalahan ini tak selesai-selesai." Pakwa terkesan buru-buru. 


"Bukan gitu juga, Pak. Iya kita urus tentang bagiannya, itu pasti. Tapi masalah pernikahan kan, kita tak bisa buru-buru begini." Bang Wildan terlihat mencoba tetap tenang, dengan menarik istrinya untuk duduk di sampingnya. 


"Kalau mereka berzina lagi gimana?!" Pakwa meninggikan suaranya. 


Jangankan ibu hamil itu, aku pun tersentak kaget meski sedang tidak hamil. Mengagetkan sekali suara pakwa ini. 


Bang Wildan terdiam, ia memandang adik iparnya itu. Pasti bang Wildan tidak menyangka jika perempuan yang digauli adik iparnya adalah anak dokter terpandang di sini. 


"Gini aja, Pak. Saya bicarakan kembali dengan Hema hari ini, Saya pun urus tentang bagiannya dari orang tuanya. Paling lambat, Minggu depan Saya dan Hema ke sana. Saya sekeluarga akan datang ke rumah Bapak, dengan berniat sebagai lamaran untuk Hema." Bang Wildan terlihat tertekan. 


Siapa orangnya yang tidak shock melihat monster yang memiliki wajahnya mengagumkan itu? 


"Terlalu lama! Saya udah nunggu dari kemarin-kemarin, masalah ini bukannya baru datang. Saya udah inisiatif ke sini sendiri, tapi Hema nolak dengan alasan menghargai kakaknya dan membicarakan dengan kakaknya lebih dulu. Saya sabar loh, tapi malah disepelekan." Mungkin begini perasaan ayah dari seorang anak perempuan. 

__ADS_1


"Tiga hari lagi kami ke sana, Pak," putus kakak perempuan Hema yang tengah mengandung tersebut. 


Pakwa menoleh ke arahku. "Baik, Saya tunggu kedatangannya."


Pembicaraan selesai, kami pamit dengan Hema mengantar kami kembali pulang. Aku menceritakan tentang Hema yang mendapatkan luka dari kakak iparnya, Hema hanya diam ketika aku bercerita. Sedangkan pakwa, ia terus mengamati wajah Hema. 


"Ayah sama kau terus terang aja, Hem. Ayah yakin kejadian ini berulang, karena Bunga butuh laki-laki. Butuh laki-laki untuk kebutuhan biologisnya, bukan tentang teman hidupnya yang sebenarnya. Ayah yakin kau bakal kewalahan urus dan didik dia, Ayah minta kau perlu terbuka sama keluarga, biar kita sama-sama pahami dan merubah Bunga agar menjadi pribadi yang lebih baik. Apapun tentang Bunga yang sulit kau selesaikan, kau perlu minta saran dan bantuan Ayah. Ayah sadar gimana anak perempuan Ayah. Tapi kalau kau yang macam-macam, jangankan luka fisik kek Wildan beri, kau pasti dapat kehancuran kau masa itu juga." Ngeri sekali cara main pakwa. 


"Aku siap nerima konsekuensinya dalam kesalahan sadar atau yang tak sadar aku lakuin, Yah. Mohon bimbingan dan tuntutannya, karena aku belum paham caranya membina rumah tangga." Hema tersenyum ke arah pakwa. 


"Pasti, pasti itu sih. Hubungi Ayah, semisal ada tindakan Wildan yang keterlaluan lagi. Bukan begitu caranya menuntun, itu caranya meluapkan emosi aja." Pawa menepuk-nepuk punggung Hema. 


Karena jarak rumahku lebih dekat, aku diantarkan lebih dulu untuk pulang. Setelah itu entah ada obrolan apalagi, karena aku sudah sampai di rumahku. 


Rumah masih sepi, hanya ada anak-anak yang bermain di ruangan tengah. Ada Ra yang menjaga mereka, sedangkan asisten rumah tangga beraktivitas seperti biasa. 


Acara makan yang ditontonnya saat ini. 


Waduh, aku memiliki kecurigaan bahwa mereka ke rumah sebelah. Pasti tengah terjadi kesepakatan di sana, pasti tengah terjadi perdebatan dan negosiasi dari kesalahpahaman yang terjadi. Entah kesalahan yang aku perbuat, seperti contohnya Hema. Pasti aku menyadari dan akan menerima dengan lapang dada kesalahanku sendiri, lah ini kan hanya kesalahpahaman yang tidak pernah aku lakukan untuk membuat Nahda merugi. 


Aku tidak menodainya, aku tidak melakukan kesalahan apapun, aku tidak memaksakan kehendakku, aku tidak melukai Nahda. 


"Abang mau tidur ya, Dek?" Aku bangkit dari dudukku. 

__ADS_1


"Heem, Bang." Ra masih fokus dengan tontonan makanan itu. 


Aku ingin mengistirahatkan pikiran dan tubuhku dulu, agar lebih siap menghadapi segala ujian ini. Entah bagaimana endingnya nanti, aku merasa sesak juga karena pengakuanku tidak didengar. Aku sedikit marah pada papa Ghifar, karena seolah paling tersakiti padahal dirinya hanya salah paham. 


Tidak jelas apa yang dilihatnya, bukannya ia memastikan dulu, tapi malah mengambil kesimpulan yang salah. Ia tahu aku, harusnya ia tidak berpikir aku melakukan kesalahan itu. Izza yang lamanya sepuluh tahun saja, tidak sampai aku cabuli seperti itu. 


Aku memang duda, tapi aku tidak haus perempuan. Jika memang keadaanku tengah butuh pun, aku tidak akan merusak seseorang yang aku anggap adik. 


Aku dibangunkan saat makan malam. Ayah diam saja, biyung mengoceh dan melayaniku seperti biasa. Apa ayah juga beranggapan bahwa aku benar-benar menodai Nahda? Kenapa kebenaran tentang aku yang hanya pura-pura pacaran dengan Nahda tidak terungkap sedikitpun? 


Sampai kapan aku diam? Sampai kapan orang tuaku memintaku untuk bungkam? Kenapa aku tidak dapat hak untuk bersuara? 


"Minta KK sama KTP kau nanti, Bang." Ayah baru bersuara, setelah makanan kami habis dan adik-adik sudah kabur dari tempat makan. 


"Untuk apa?" Aku tahu kemana arah larinya dokumen itu nanti, tapi aku ingin tahu sendiri rencana para orang tua. 


"Kau tau jawabannya, Bang. Ayah pun mumet betul, mau nolak ini tapi bagaimana? Ayah tak mau jadi besan mereka, tapi Ayah tak berdaya. Serba tak enak, mau egois nanti dipandang bengis. Nahda keponakan sendiri, masa iya Ayah begitu teganya ke dia. Papa Ghifar sama mama Aca pasti kecewa, kalau Ayah tak dukung keputusan mereka. Ayah di pihak laki-laki yang bersalah." Ayah memandangku datar. 


Aku laki-laki yang bersalah begitu? 


"Udah tanya Nahda, udah dengar cerita Nahda?" Aku tidak boleh bersuara, mana tahu Nahda diberi waktu menjelaskan sesuatu ke mereka. 


"Kau tau, kenapa kau tanyakan? Udahlah, Ayah tak mau bahas. Ayah sadar diri seberapa buruknya Ayah dulu, mulut sampai berbusa ngakuin kalau kau anak Biyung pun, nyatanya dalam diri kau ada darah daging Ayah." Ayah meraup wajahnya dan bertopang dagu. 

__ADS_1


Begitu ya? Ayah mempercayai bahwa aku sejahat dirinya? Jika tahu aku dipercaya jahat, kenapa pula aku menjadi laki-laki baik selama ini? Rasanya aku menyesal telah menjaga diri dan menjaga kepercayaan orang tua. 


...****************...


__ADS_2