
"Pak Chandra, silahkan ikut dengan dokter Fardan lebih dulu." Seorang perawat datang dari luar dan menghampiriku.
"Baik, Sus." Aku mengekori perawat tersebut. "Di mana ruangan dokter Fardan?" tanyaku kemudian.
"Biar Saya tunjukkan, Pak." Perawat tersebut mengarahkanku ke lift.
Setelah sampai di depan sebuah pintu, aku dipersilahkan masuk dan perawat tersebut kembali pergi. Ia tidak ikut masuk denganku, ke ruangan yang tidak memiliki nametag apapun.
"Permisi." Saya mendorong ruangan tersebut.
"Sini masuk, Bang." Ada pakwa juga di dalam.
"Pakwa…." Aku melangkah masuk dan menutup pintu ruangan tersebut kembali.
"Silahkan duduk." Ternyata ada dokter Fardan juga.
"Minum, Bang." Pakwa memberikan sebuah air mineral kemasan gelas padaku.
"Ya, Pakwa." Aku melihat beberapa gelas air mineral telah kosong.
Mungkin mereka sangat lelah sekali, sampai meneguk banyak air minum begitu.
"Bang, jangan kaget ya? Pakwa kan pernah cerita, kalau fibroid submukosa ini tumbuh dari luar rahim hingga menembus ke jaringan dalam rahim. Nah, gambarannya kek bisul pecah itu gimana? Kan cekungannya sampai ke dalam betul kan? Sedangkan Izza, bukan ke dalam lagi. Tapi memang udah nembus ke dalam, jadi begitu fibroid diangkat itu rahimnya jadi bolong. Kita langsung usahain semaksimal mungkin, karena detik itu juga Izza langsung ngalamin pendarahan. Sekarang pendarahannya udah diusahakan untuk distop, donor pun mulai dilakukan. Jadi lagi nunggu hasil gimana keadaan Izza setelah pulih. Kalau memang belum ada hasil, kita akan lakukan operasi lanjutan untuk mengakali lebih lanjut rahim yang bolong tersebut. Karena meski udah dijahit, udah di lem segala macam, tapi di sana penuh dengan urat-urat kecil yang menyalurkan darah. Sabar ya? Tunggu hasil, kita pun lagi berusaha."
Lututku langsung lemas mendengar penjelasan pakwa. Kenapa kondisi Izza sampai sefatal itu? Andaikan, Izza bisa diobati lebih dini. Pasti sekarang ia tidak memiliki fibroid yang separah itu.
"Untuk total berat fibroidnya, sampai nyentuh angka dua setengah kilo. Bisa dibawa pulang untuk dikuburkan sendiri, nanti tinggal tanyakan sama perawat aja," tambah dokter Fardan.
Loh?
"Kok sampai seberat itu, Dok?" tanyaku cepat.
__ADS_1
"Ya karena memang tak cuma satu letaknya, juga ukuran lumayan besar-besar. Apalagi, sampai yang membuat rahim jadi seperti bolong itu.".
Astaghfirullah.
Yang artinya, l***** tersebut cukup besar di rahim Izza? Pantas saja, Izza langsung mengalami pendarahan hebat.
"Terus gimana nanti, Pakwa? Apa dia bisa sembuh lagi? Apa dia bisa selamat?" Suaraku sudah bergetar parah.
Ya Allah, Izza. Bagaimana nasibmu?
"Kita do'ain sama-sama, kita usahakan dan kau bantu do'a."
Kenapa pakwa menanggapi seperti ini? Beliau seperti tidak yakin, beliau seperti tidak tahu bagaimana akhirnya.
Apa aku pantas menyalahkannya juga? Sedangkan, ia mengusahakan dan memperjuangkan Izza juga.
"Menurut Pakwa, berapa persen tingkat keberhasilannya?" Aku bertanya dengan perlahan, karena aku takut diriku tidak siap mendengar presentasinya.
Lima puluh persen kemungkinan Izza sembuh? Lima puluh persen juga, kemungkinan Izza tidak bisa diselamatkan? Apa aku patut bahagia mendengarnya, karena masih ada harapan Izza hidup?
"Pakwa…." Aku tertunduk dan banjir air mata.
Siapakah yang mengerti kesedihanku? Apa aku harus pasrah dengan kabar ini? Apa yang bisa aku lakukan untuk merubah keadaan ini? Aku pun ingin mendengar, jika presentasi hidup Izza tujuh puluh persen dan kemungkinan gagalnya hanya tiga puluh persen. Tapi nyatanya, Izza sudah di kondisi antara hidup dan mati.
Aku merasakan tepukan di bahuku, aku yakin hanya orang terdekatku yang mampu melakukannya. Tangisku tak bersuara, tapi air mataku mengalir tanpa tahu harga diriku.
Terdengar alarm seperti simulasi pemadam kebakaran, kedua dokter ini langsung lari dengan cepat dan membiarkan ponselnya tergeletak di ruangan ini. Aku terdiam sejenak, kemudian memandang meja dokter tersebut yang memiliki sebuah nametag bertuliskan Dr. Fardan Salahuddin, SpOG. Ini adalah ruangan dokter Fardan.
Ponselku bergetar, aku pun segera mengangkat telepon tersebut. Dari Kaf ternyata, mungkin ia mencari keberadaanku.
"Hallo…." Aku menerima panggilan telepon tersebut.
__ADS_1
"Cepat ke ruang ICU, Bang. Kak Izza kolaps."
Aku tidak memperdulikan ponselku masih tersambung panggilan atau tidak, aku tidak memperdulikan air mataku yang deras mengalir, aku tidak memperdulikan banyak pasang mata yang melihatku dengan heran. Aku berlari kencang, bahkan memilih tangga darurat saat lift tak kunjung terbuka.
Ayah dan Kaf berdiri dengan gelisah di depan pintu ICU. Aku tidak tahu diizinkan atau tidak, tapi aku menerobos masuk tanpa memperdulikan jika harus menggunakan baju steril terlebih dahulu.
Darahnya membanjiri brankarnya, tapi ia tersenyum saat beberapa pertanyaan dilontarkan oleh perawat. Senyum lebar itu, senyum sialan! Aku kini tahu arti senyum lebar dan tulus itu, aku tersakiti melihatnya memasang senyum saat melihat ke arahku. Rupanya ia bahagia, melihatku begitu kacau seperti ini.
Mungkin ia merasa begitu senang, melihat suaminya yang selalu menginginkannya menjadi seperti yang diinginkan ini terpuruk dan begitu histeris melihat kondisinya ya separah itu. Bunyi mesin medis, membuatku trauma untuk datang ke rumah sakit lagi.
Beberapa suntikan dan alat seperti fotocopy besar, dengan dua benda seperti setrikaan terhubung ketika pandangan Izza mulai naik ke atas. Tangisku sudah lepas, terakhir aku menangis sekencang ini saat jatuh dari pohon jambu kelas dua SD. Kemudian, tanpa malu di usia dua puluh dua tahun ini aku meraung-raung hebat seperti anak yang kesakitan karena terjatuh dari pohon jambu sampai dua gigiku patah.
Dadanya tertarik ke atas, saat alat tersebut ditempelkan di dadanya. Dokter saling memberi perintah pada perawat dan beberapa tenaga medis yang berada di dekatnya, mereka bahu membahu memberikan tindakan yang mampu menarik Izza untuk kembali.
Tangannya bergerak kembali, ia melepaskan sebuah selang yang menempel di hidungnya. Ia berbicara dengan orang yang berada di dekatnya, dengan aku berjalan mendekat untuk mendengar apa yang ia sampaikan.
Matanya berputar ke atas, hanya putih-putihnya saja yang terlihat. Kemudian bola matanya kembali, dengan ia menggigit bibirnya begitu kuat. Darah segar keluar dari bibirnya seketika, kemudian Izza tersenyum padaku dengan darah yang mengalir di garis bibirnya.
Ia tersiksa menemaniku selama ini. Ia memberikan senyum sakitnya untukku, karena aku tak bisa sedikitpun membahagiakannya.
Matanya mencilak ke atas kembali, dengan suara tarikan napasnya yang begitu dalam. Lalu, tubuhnya tiba-tiba melemah dan terlukai lemas.
Suara mesin panjang, mengikuti pelepasan napasnya yang terakhir. Dokter Fardan dan para perawat geleng-geleng kepala, dengan pakwa yang langsung memukul tembok ruangan ini sampai terasa getaran sedikit pada bagian jendela.
Izza benar-benar lelah denganku, dengan sifatku, dengan tuntutanku, dengan keinginanku, dengan harapanku dan dengan impianku yang terlampau tinggi. Aku sosok menyakitkan untuknya, untuk hatinya dan untuk fisiknya.
Aku gagal menjadi laki-laki baik untuk dirinya dan untuk masa depannya. Yang Kuasa lebih rela mengambil Izza, daripada Izza harus menemani laki-laki egois ini di masa mendatang.
Aku merusak apa Yang Kuasa titipkan padaku.
...****************...
__ADS_1