
"Paham lah, kewalahan ya? Tapi, jangan pakai obat k**t ya, nanti jantung kau yang meletup. Jangan pakai obat oles juga, prcuma juga berhubungan tapi kau ngerasanya bahal. Jangan juga kau kasih obat semprot yang buat dia makin meledak, dia tak terkendali, bisa-bisa milik kau patah karena gerakannya." Pakcik Gavin merendahkan suaranya.
"Terus sarannya aku harus gimana?" Aku melirik ke arah Gabriel, aku khawatir anak kecil itu mendengar pembicaraan kami.
"Buat dia capek, jadi fisiknya udah keburu capek karena kerjaan. Pas naik ke ranjang, rasa minatnya kalah karena lelah. Lagian kau tak pilih-pilih dulu kalau ngerasa tak sanggup."
Memang kapan aku mendapat kesempatan untuk memilih?
"Suruh ngerjain kerjaan rumah, gitu?" Membuatnya capek, apa kita tidak menyiksa?
"Iya, masak, nyuci, berbenah. Bawalah tinggal di rumah sendiri, kalau kau susah atur dia karena orang tuanya tak terima, ya kau bawa dia ke rumah kau sendiri. Ra tak akan tersinggung, kalau kau suruh dia pindah. Toh, dia kan dari awal maunya rumah yang ditempati biyung kau."
Ya jadi seperti itulah proses bagi rumahnya. Zio dan kak Key mendapatkan rumah bersebelahan, di sisi kanan halaman rumah ayah. Aku dan Cani mendapatkan rumah di sisi kiri halaman rumah ayah, rumah kami pun bersebelahan. Hanya saja, milikku sudah lantai dua karena ayah memberikan renovasi sebagai hadiah pernikahanku dan Izza.
Rumah Ceysa dan kak Jasmine, ada di belakang rumahku dan Cani. Sedangkan Cala dan Cali belum ada gambaran akan dibangunkan rumah di mana, inginnya ayah masih di area rumahnya. Biyung memberi saran untuk dibangunkan rumah di halaman belakang.
Rumah juga bukan bangunan satu kamar. Rumah utuh, dengan dua kamar biasanya dan ruangan lainnya yang komplit. Jika memang akan dibangun di halaman belakang, pasti rumah biyung akan dipotong untuk akses jalan keluar masuknya.
"Belum punya barang-barang, Pakcik." Aku tidak mau Nahda pulang pergi ke rumah orang tuanya, hanya ingin menumpang giling baju.
"Ya cicil, beli yang kau butuh dulu sekarang. Kek magicom, terus dispenser, galon, kompor sama gas, kasur, kuali sama sutil dan panci, sapu dan alat pel, TV untuk hiburan. Udah, itu dulu aja beli langsung. Yang lain nyicil aja. Ada lah uang kau untuk beli itu aja sih."
Masalahnya, aku ingin perkakas impian. Aku ingin alat sapu dan pel menggunakan piringan robot, lampu yang bisa dinyalakan jarak jauh. Mesin cuci yang bisa mengering sendiri.
"Mungkin nanti dua mingguan lagi, sekalian latihan untuk Nahda berbenah rumah. Dia tak bisa apa-apa soalnya, dia diperlakukan bak tuan putri di rumahnya." Aku yakin dengan penilaianku ini.
"Wah, ya siap-siap drama. Tante kau yang mandiri aja, mesti aja ada dramanya." Pakcik Gavin menangkap anaknya yang berlari ke arahnya.
Panggilan untuk menjemput nih.
__ADS_1
"Pakcik, aku jemput adik-adik dulu ya?" Aku bangkit dari bangku panjang.
"Iya, Pakcik lagi nunggu pupuk datang." Pakcik mengangguk, ia berinteraksi dengan anaknya tanpa melihatku berlalu pergi.
Aku kira pakcik Gavin hanya iseng duduk di sini, ternyata menunggu pupuk datang dan bongkar. Aku yang punya pun, sampai lupa jika memang jadwalnya hari ini pupuk datang.
Antar jemput Cani dan Ra sudah berjalan seminggu, meski statusku sudah menjadi suami orang. Yang jadi masalahku empat hari belakangan adalah, karena istriku mogok untuk kuliah. Sehari setelah cuti, ia mengatakan miliknya sakit. Dengan alasan itu ia tidak berangkat kuliah, dengan alasan itu juga aku menahannya untuk tidak melakukan hubungan badan dahulu.
Namun, efeknya sampai empat hari sekarang ia malah uring-uringan. Aku tidak mau miliknya iritasi, karena dipaksakan dipakai terus menerus. Sedangkan, dirinya saja merengek sakit. Herannya lagi, aku punya waktu senggang ia tetap menagih.
Jadi, bagaimana konsep sakitnya?
"Di biyung, aku ngerjain tugas kek biasa juga?" Nanda menggandengku pagi ini, aku mengajaknya menginap di sini satu minggu.
Isi rumah sudah aku cicil, meski baru tiga puluh persen dari barang yang diperlukan saja. Kenapa sampai aku mencicil? Karena barangnya mahal, aku membeli peralatan rumah tangga impianku dengan Izza dulu.
Aku tidak pernah terbayang-bayang atau masih membayangkan hidup dengan Izza. Lukaku sembuh sendiri, traumaku pulih sendiri dan hatiku seimbang kembali dengan waktu yang sudah aku lewati. Intinya, aku ikhlas dan aku menerima kejadian yang sudah terjadi.
"Iya, biasa aja. Terus ngobrol sama biyung, kek biasa aja. Kalau bisa juga, besok berangkat kuliah." Aku memilih untuk merangkulnya.
"Hmm, jadi istri udah enak padahal. Aku tak usah kuliah lagi, nanti jadi istri bertitel pun aku istri Abang juga."
Wah, pikirannya sudah tercemar.
"Mama Aca S1 loh, guru dia. Kau apa nih? S teh?" Aku terkekeh kecil dan mengajaknya naik ke teras rumah biyung.
"Ya kan tak apa, udah punya suami juga loh. Apa gitu yang aku cari?"
Wah, wah, wah. Aku sudah menjadi tujuan hidupnya.
__ADS_1
"Tak apa, empat tahun aja kuliahnya." Aku menahan tawa, sebelum membuka pintu rumah.
"Ya memang!" Nahda langsung manyun saja.
Aih, ada tamu ternyata.
"Sarapan gih," pinta biyung ketika melihat kami masuk.
"Aku mau beresin lemari dulu, Biyung. Baju aku banyak." Nahda menurunkan ransel yang berada di bahuku.
Ia mengatakan bahwa baju yang aku simpan saat itu kurang, belum lagi sekarang aku membawa skincare, bodycare, haircare dan care rahasia lainnya. Berat karena care-carean saja ransel ini sebetulnya, ia banyak menggunakan produk kecantikan dari ujung kaki sampai rambut.
"Udah sarapan juga tadi. Cani sama Ra pun udah aku antar juga, Biyung." Mungkin karena aku menggunakan mobilku sendiri dan parkir di rumah papa, jadi biyung tidak tahu aktivitasku pagi ini.
"Kamarnya di mana, Bang?" Nahda celingukan.
"Ini nih, sok beres-beres. Abang mau ngeteh sambil ngerokok dulu ya?" Aku membukakan pintu kamarku untuknya.
"Oke, Bang. Kalau mau pergi bilang-bilang ya, Bang?" Nahda tersenyum dengan membawa masuk ranselku.
Dia perempuan yang suka kerapian. Bajunya setrikaan semua, bahkan pakaian dalamnya juga. Cuma yaaa, itu hasil asisten rumah tangga. Nahda masih belum mampu mengusahakan sendiri, tapi bajuku katanya pasti ia urus dengan tangannya sendiri.
"Siap." Aku menutup kembali pintu kamarku.
"Kok main tak bawa bungsu sih, Tan?" Tante Ria pagi-pagi begini sudah berghibah dengan biyung.
Yap, tamunya adalah tante Ria. Tapi ngomong-ngomong, ada apa ya tante Ria berkunjung sepagi ini? Karena biasanya, berkunjung sambil menyuapi anaknya dan sore hari. Sekarang, anaknya pun tak diajak.
...****************...
__ADS_1