Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA112. Penghalang di jalan


__ADS_3

"Udah nih, besok orangnya ke sini ambil data Izza. Ayah kasih lima puluh juta dulu ya untuk pegangan kau? Ayah transfer sekarang." Ayah menunjukkan nominal dalam aplikasi perbankannya. 


"Iya, Yah." Aku tidak akan menuntut jumlah yang terlalu besar, karena aku nanti pun membayarnya pasti akan kesulitan. 


Jika aku mengatakan pada Izza agar ia berhemat, yang ada nanti ia tambah stress karena keinginannya tak terpenuhi. Aku harus bersikap biasa saja, agar Izza tidak mengetahui bahwa aku tengah kesulitan ekonomi. Bukan aku tak ingin ia tahu siapa yang membantuku saat kesusahan begini, tapi aku tak mau ia stress memikirkan jumlah hutangku yang tidak sedikit. 


"Gih ke kamar kau, Ayah udah transfer uangnya. Ayah masih ada sedikit kerjaan," Ayah berjalan ke arah meja kerjanya. 


"Oke siap, Yah. Makasih ya, Yah?" Aku tersenyum lebar, kemudian keluar dari ruang kerja ayah. 


Syukurnya, ketika aku masuk ke kamar Izza masih terlelap. Jadi tidak sampai ada drama menangis, karena aku meninggalkannya yang tengah terlelap. 


Dua hari berlalu, Izza mengajakku berhubungan badan karena nantinya akan libur lama karena ia haid. Bukan aku tidak ingin, aku tidak bisa tegang sama sekali karena aku kasihan padanya. Rasa ibaku, dengan apa yang ia idap sekarang. Membuat minatku hilang seketika, karena takut ia kesakitan dan segala macam. 


"Apa mau coba aku masukin ke mulut dulu?" Izza seperti menunggu jawaban dariku. 


"Tak usah, Sayang. Sini aku peluk aja." Aku menarik tangannya untuk merebahkan tubuhnya kembali. 


"Abang jijik sama aku? Abang jijik sama penyakit aku? Abang takut ketularan penyakit aku?" Seketika ia langsung berkaca-kaca. 


Ya ampun, aku tidak tahu hal itu menyinggungnya. 


"Tak, Sayang. Aku takut nyakitin kau masa melakukan itu, aku takut kau tak nyaman dengan gerakan aku yang kadang lepas kontrol." Dikira-kira aku melakukan halus, tapi jika aku sudah keenakan ya tak terkendali juga. Aku akan berubah seperti kucing liar yang buas dan lapar. Aku tidak tahu kenapa, tapi mesti saja seperti itu. 


"Ya kan tak apa-apa, Bang. Memang aku kenapa sih? Aku tak kenapa-napa juga. Aku pun kalau mau keluar minta dicepatkan terus." 


Izza sepertinya ingin. 


"Ya udah sok masukin mulut." Ini adalah jalan keluar agar cepat tegang. 


Penuh kesabaran, akhirnya aku bisa menggagahinya juga. Aku selalu iba, membuat mempengaruhi minatku pada istri sendiri. Apa ada yang sama dengan perasaanku juga? 


Aku pernah mendengar kalimat dari laki-laki di sosial media, katanya istri pingsan pun akan tetap dilanjutkan. Jangankan istri pingsan, istri ngos-ngosan di atas pun, aku langsung tukar posisi. Ya, seiba dan setidak tega itu aku pada istriku. 


"Bang, sini dulu." Zio mencegatku yang akan membuka pagar rumah. 


"Apa? Mau kerja Abang." Aku mendekatinya dan duduk di teras rumahnya. 

__ADS_1


Ia mendekati telingaku. "Pinjam uang," busiknya kemudian. 


Ini lagi. 


"Ayah tuh, Abang lagi kosong." Aku saja sampai membawa bekal dari rumah, berharap pengeluaran tidak begitu banyak. 


Kalau bisa, untuk makan sebulan hanya lima juta saja lah. Ya semoga bisa, karena sayang sekali lima belas juta tidak ada barang apapun. Hanya pakaian dan sekitar fashion juga skincare saja. 


"Serius kah, Bang? Abang kan tak resepsi, masa iya habis banyak?"


Ish, meledek ini anak. 


"Sini duduk, Abang ceritain." Aku duduk di teras rumahnya. 


"Apa, Bang?" Ia membenahi sarungnya dulu, kemudian baru duduk di sampingku. 


"Setelah menikah itu, pengeluaran di luar dugaan. Kau mungkin tak percaya, kalau pengeluaran Abang sampai lima belas juta sebulan. Ditambah, kakak ipar kau lagi rutin berobat rumah sakit. Uang pegangan Abang benar-benar habis, sampai dikasih cover sama ayah dulu. Nanti Abang stabil, bakal Abang ganti semua." Aku tersinggung jika ada yang memilih uang saat aku tidak punya uang. 


"Serius, Bang? Sakit apa?" Ia seolah tidak percaya. 


Padahal wajahku tidak mengada-ngada. 


"Oh, iya-iya. Semoga dilancarkan pemeriksaannya, diberi kesembuhan segera. Jadi itu kah penyebabnya tak isi-isi, Bang?"


Apa ia menyinggungku kembali? 


"Abang tak tau. Tapi kata dokter, tak mengganggu kesuburan dan pertumbuhan janin kalau letaknya tak di pinggiran." Ah, sulitnya menjelaskan hal seperti ini. 


"Semoga tak ganggu kesuburan, Bang." Ia menepuk-nepuk punggungku. 


"Aamiin." Aku melirik jam tanganku. "Abang berangkat dulu, banyak kerjaan." Aku meninggalkan Zio di teras rumahnya. 


Aku berangkat kerja, dengan menggunakan mobil milik Izza. Aku pun sudah memastikannya untuk makan nasi lebur dulu dan meminum obat asam lambungnya. Aku harus ekstra menjaganya seperti berlian, karena ia bisa saja sengaja meninggalkan makan dan membuat kacau kesehatannya. Aku tak mau ia kenapa-napa, berkat petuah dan sudut pandang yang ayah berikan. 


Namun, ujian menghadang. Aku tidak mungkin pura-pura tidak melihat perempuan yang meminta mobilku berhenti. Masalahnya, aku akan tidak enak hati karena aku mengenal perempuan itu. 


Bunga.

__ADS_1


Brughhhh….


Ia langsung membanting pintu mobil, setelah duduk di sampingku. Aku diam, aku tidak berniat bertanya dan ingin tahu tentang tujuannya. 


"Udah tunggu taksi online, tak dapat-dapat. Kadangkala dapat, minta cancel karena bocor ban. Duh, sialnya aku." Bunga membuka pembicaraan lebih dulu. 


Pantasnya memang aku bertanya dirinya akan ke mana. Tapi jika aku bertanya demikian, pasti ia memintaku untuk mengantarnya. 


"Abang mau kerja, Dek." Ia harus tahu bahwa aku sibuk. 


"Ya tak apa, aku tak akan merepotkan." Hawa mulutnya menerpa pelipisku. 


Ini perempuan makan apa sih? Kok mulutnya bau wangi sekali? Apa ia memakan kembang tujuh rupa? Atau berkumur dengan minyak wangi? Atau bisa jadi, sela-sela giginya dipakaikan deodoran. 


Sensasi wangi dan segar dari mulutnya. Sepertinya seru, jika beradu mulut dengan aksi yang sebenarnya. 


Ehh…. 


"Ya kau mau ke mana? Mau nebeng sampai mana?" Aku mencoba ketus agar ia segan. 


"Ck, ke mana ya?" Ia mengusap bahuku dengan gerakan perlahan. 


Physical touchnya tak ada obat. 


Aku langsung meremang, dengan aksi sederhananya. Apa sih susuknya, kenapa tangannya candu sekali? 


"Ish! Ya kau mau ke mana?!" Aku mendelik tajam dengan nada suara naik satu oktav. 


Ia jangan sampai tahu, jika yang semalam dipakai untuk menebar benih di rahim istriku, kini sudah tegang setengah tiang. 


"Ya ampun, ketus betul anak yayah Ipan. Kek tak dikasih jatah sama istrinya." Ia tertawa renyah dan menepuk pahaku 


Alamak. 


"Mau ke tempat kuliah kah? Aku turunkan di jalan raya aja ya? Aku mau kerja, kita tak searah." Aku ingin langsung pada intinya saja. 


"Aku dibawa pun tak apa lagi, Bang." Ia merangkulku dan kepalanya bersandar pada lenganku. 

__ADS_1


Ya Tuhan, istriku saja tak aku bawa ke tempat kerja. Ini lagi adik asuh minta dibawa ke tempat kerja. 


...****************...


__ADS_2