
"Abangnya ngorok aja itu, Yah."
Suara nyaring Nahda, mengganggu lelapku di teras rumah biyung.
"Biarin, Dek. Sini makan, biyung abis order makanan tadi."
Aku sedikit membuka mata yang terasa amat berat ini. Kaki ayah ada di depan mataku ayah membelakangiku, ia tengah berbicara dengan Nahda yang tengah menutup rumah kami.
Enak sekali tidur di teras rumah begini, karena angin sepoi-sepoinya terasa alami. Entah sudah berapa lama aku tertidur di sini, jika tidak salah ya selepas sholat Dzuhur. Karena saat sampai di rumah itu tengah malam, kami bangun tidur kisaran jam sepuluh menjelang siang. Eh tidak tahunya aku malah tidur lagi saat Nahda beres-beres oleh-oleh.
"Pengen gangguin Bang Chandra, Ayah," rengek Nahda manja sekali.
"Jangan, dari kecil tak pernah suka kalau tidur digangguin. Sini ke dalam, ayah punya coklat krispi."
Aku memejamkan mata lagi, anginnya lebih sejuk sepertinya sudah mulai sore hari. Entahlah jam berapa, paling enak tidur lagi. Aku membiarkan ada beberapa langkah kaki yang masuk, karena aku mulai menikmati kenyamanan tidur di kampung sendiri.
Aku terbangun karena gelak tawa semua umur. Ada suara anak yang tertawa, ada suara kaki berlarian, ada suara alat makan yang berdenting.
Aku menggeliat, membuka mata perlahan dan menyesuaikan dengan keadaan sekitar. Ternyata, keluargaku tengah menikmati sore hari. Yap, ini masih sore. Aku belum tahu jam berapa, tapi aku yakin ini belum Maghrib.
"Dek…." Aku mencolek pinggang Ra.
"Hm?" Ra menoleh ke arahku.
Aku hafal ini badan besar Ra. Ia duduk membelakangi wajahku, jangan-jangan aku sempat dikentuti olehnya.
"Ambilin air putih agak banyak, Dek." Aku memutar posisiku membelakangi keluargaku yang semuanya membelakangiku.
Nahda entah di sebelah mana, tapi ada suaranya. Aku mendengar gelak tawanya, tapi entah dari mana arahnya.
"Ini, Bang." Ra menggoyangkan punggungku.
"Ya, Dek. Makasih." Aku berusaha bangkit, kemudian bersandar pada tembok.
Air dari Ra segera aku ambil dan aku minum. Mataku menyesuaikan dengan cahaya dan kehebohan sekitar. Benar-benar ramai anak kecil, sepertinya bukan dari keluarga intern saja.
Aku merasa tenggorokanku kering sekali, seperti akan panas dalam. Ya semoga saja aku sehat terus, karena tenagaku diperlukan untuk mengecek semua usaha di sini. Ditambah lagi, Nahda juga selesai haid.
"Abang sayang." Nahda melambaikan tangannya dari jauh.
Lihatlah, kami jadi ditertawakan.
"Makan." Aku membuat isyarat dengan membuka mulutku dan seolah menyuapkan sendok ke mulutku.
__ADS_1
Nahda mengangguk samar. Ia memberikan sebuah permainan pada Cani, kemudian ia berjalan ke arahku.
"Ada sate taichan itu, Dek," ujar biyung saat Nahda melewati biyung dengan sopan.
"Iya, Biyung." Nahda memandangku, aku tujuannya berjalan.
"Sini masuk, Bang." Nahda membantuku untuk bangun.
"Makan di sini aja, ambilin dong." Aku memandangnya penuh harap.
"Yakin? Nanti satenya habis dicemilin loh." Nahda melirik ke arah Ra.
Menyindir kah? Ia tahu kah jika Nahda maruk dengan sate?
"Tak, Kakak Ipar," sewot Ra dengan tatapan tajam.
Nahda terkekeh geli, kemudian masuk ke dalam rumah. Ayah masih sibuk dengan anak-anaknya yang lain, tapi ia sempat menoleh ke arahku yang baru bangun tidur ini.
"Ini, Bang." Nanda membawa senampan makanan untukku.
Ia sudah wangi sekali, pasti sudah mandi.
"Ini dulu, Bang." Nahda mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
"Apa itu?" Aku memandang barang tersebut.
Aku menerima dan berkumur. Sesaat setelah sensasi meledak, aku membuang ke arah pekarangan rumah sebelah kiri yang paling dekat dengan posisiku.
Aku mengembalikan tutup, kemudian memperhatikan makanan.
"Makan yang banyak, dokumen udah numpuk," bisiknya diimbuhi dengan kecupan kilas di pipiku.
Ia berani bukan? Seluruh anggota keluarga hampir berkumpul di sini semua loh.
"Kek pengen sakit." Aku mengambil sepiring nasi yang sudah Nahda siapkan.
"Pengen aku aja, sakit enak." Matanya mengerling genit.
"Linu-linu, Dek. Pengen pijat dulu keknya ya?" Mungkin aku kelelahan.
"Kecapean tuh, ngapain tuh???" sindir kak Key dengan kekehan.
Mulai, Nahda nyerocos bersama bestienya itu. Ia banyak bicara dengan orang lain, tapi bisa mengimbangiku yang sering pusing ketika orang banyak bicara.
__ADS_1
Selepas Maghrib, aku mengajak papa Ghifar untuk pijat di tempat biasa. Papa Ghifar mau, katanya hanya ingin menemaniku saja, karena dirinya sudah pijat saat baru pulang dari perjalanan kemarin. Mengobrol dan diberi rebusan, akhirnya pulang kembali ke rumah pukul sembilan malam.
Ayah sudah memberikan perintahnya pada Nahda. Selepas memberikan daun untuk rebusan pada Nahda, untuk segera direbus. Aku langsung masuk ke rumah biyung, untuk menemui ayah.
Kehadiran Cani di rumah ini, nyatanya tak membuat mereka mengurangi kemesraan mereka. Malunya aku, ketika melihat biyung bersandar pada dada suaminya yang fokus menonton televisi dan duduk di sofa keluarga. Ditambah, tangan biyung yang merajalela masuk ke dalam baju ayah.
"Udah mendingan badannya?" Ayah melihat kedatanganku, ia menahan tangan biyung dan mengeluarkan tangan biyung.
Biyung yang alim saja, ternyata tangannya lihai menyentuh suaminya.
"Ngantuk, Mas. Enak ngusap-ngusap, kek n**meng." Biyung masih bersandar mesra di dada suaminya.
"Ada sulung kau." Ayah menekan suaranya, ia menahan tangan biyung yang mencoba masuk ke dalam kaosnya kembali.
"Biarin, tak ngapa-ngapain ini." Biyung memeluk erat suaminya.
"Tidur, Biyung. Udah malam." Menahan rasa maluku, aku melangkah dan duduk di salah satu sofa di ruang keluarga tersebut.
"Ayah kau sibuk, Biyung pengen sama Ayah terus." Biyung masih keket di dada ayah.
"Tunggu di ruang kerja, Bang. Bentar, Ayah kelonin Biyung kau dulu. Kasian, matanya udah lima watt." Ayah bangkit dengan mengangkat tubuh bundar biyung.
Kuat juga ayahku.
"Mas, jangan keluyuran aja." Suara manja biyung mengingatkanku pada Nahda.
"Tak, Canda. Di rumah, cuma belum ngantuk."
Aku melihat ayah menutup pintu kamar dengan kakinya.
Aku mematikan televisi, kemudian berjalan ke dapur sebelum ke ruang kerja ayah. Aku hendak membuat teh manis terlebih dahulu, agar rokokku ada temannya.
Tak lupa juga merampok ciki-cikian stok adik-adikku. Pasti besok ada yang menangis, karena ada stok ciki yang tinggal satu dan aku rampas.
Aku memindahkan teh manis dan cemilan ke ruang kerja ayah, setelah itu menyalakan exhaust dan menikmati rokok dengan kesendirian ini. Ayah tidak kunjung muncul, mungkin tengah menuntaskan kebutuhan biyung dulu. Entahlah, yang terpenting jangan terlalu lama karena aku akan lelap duluan nantinya.
Aku gagal fokus, karena Nahda mengirimkan foto dirinya yang hanya memakai pakaian renang saja. Ya pakaian renang ala luar negeri.
Aku sedang fokus pada ponsel, menganggugumi keindahan istriku yang mengaku banyak menguntit uang belanja itu. Heran juga, uang segitu tapi bisa lebih di tangannya.
"Waduh, udah stok makanan aja."
Ponselku terbang, karena aku reflek kaget mendengar suara ayah.
__ADS_1
"Kapan Ayah datang?" tanyaku setelah berhasil menangkap ponselku.
...****************...