Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA256. Amplop


__ADS_3

"Nih, amplop nikahan itu." Nahda muncul di kamarku yang berada di rumah biyung. 


Setelah ia makan siang, ia keluyuran ke rumah mama Aca. Aku membiarkan, karena ia pun izin. Aku yakin, banyak nasehat dari mama Aca yang diberikan pada Nahda. 


"Ngobrol apa sama mama?" Aku menyingkirkan laptopku di pangkuanku. 


Aku tengah mencari wacana, tentang pengolahan ekstrak jahe itu. Intinya, aku harus memiliki keberanian akan resikonya. 


"Ya biasa, tentang aturan rumah tangga. Aku sekalian bawa baju juga. Aku doyan salin soalnya, Bang."


Pahamlah, sekarang saja ia melepas bajunya dan menggantinya dengan daster pendek. 


"Adek tuh bener kah udah tak ngepod lagi?" Sejak menikah, aku tak pernah mendapatinya melakukan ritual cuci mulut. Tapi barangkali, ia melakukan hal tersebut di belakangku. 


"Heem, jajan aja makanya BB aku naik. Abang kan tau sendiri, Abang malah antar aku ke minimarket lagi." Ia duduk di hadapanku dan membuka tasnya. 


Untung amplopnya tak berjamur. 


Benar-benar di luar nalar, isi amplop tersebut kebanyakannya adalah sarung kontrasepsi dan tisu magic. Yang paling membuatku melongo, ada juga alat tes kehamilan dan suplemen tubuh bermerek Pil****.


Nahda terperangah, sebelum akhirnya ia berkedip cepat. Kemudian, ia menyatukan rambutnya menjadi ekor kuda. 


"Mana uangnya? Mana namanya juga?" Nahda membolak-balikan amplop yang tengah kosong itu. 


Alat tes kehamilan, sampai terdapat dari lima amplop. Yang artinya, bukan satu orang saja yang memberikan testpack. 


Mengerikan sekali, aku tak dapat uang. Ya setidaknya, transferan gitu. Mentang-mentang pernikahan kedua, aku tidak diberi apa-apa. 


"Tak ada yang kasih uang ke Adek?" tanyaku kemudian, dengan meringkus semua barang berbau dewasa tersebut. 


Aku memasukkan seluruhnya ke dalam laci nakas. Kan tidak enak, jika orang tua tiba-tiba masuk dan melihat hal yang beginian. 


"Uang apa? Uang kondangan?" Nahda beralih membuka kado dari teman-teman kuliahnya. 


Sprei, memang sudah dibuka sejak di mobil. Tapi ada beberapa kotak kado kecil dan sedang, yang belum ia buka. 


"Iya, Dek." Bukan berharap juga, tapi umumnya kan seperti itu. 

__ADS_1


"Ya aku kira itu isinya uang kondangan. Macamnya tante Ria, sebelum kita nikah, dia ada kasih gelang emas, itu kado pernikahan juga kah kek sprei gini?" Nahda memunguti bekas amplop tersebut. 


"Iya, Sayang. Siapa aja yang kasih? Adek pakai kah simpan?" Begini pun, harus dijelaskan dan ditanyakan. 


"Tante Ria, ma Giska, tante Winda, tante Tika, tante Maryam, kak Key, kak Jasmine, Ceysa, kak Kal, Bunga, mereka kasih emas. Ada yang cincin, antam, seperangkat perhiasan, ada juga yang kasih sendok dan garpu emas asli katanya, ada sertifikatnya juga. Bang Kaf, pakwa dan saudara yang lain, pada minta rekening aku. Ya lumayan sih, ada transferan masuk total tujuh puluh jutaan. Tapi belum aku pakai, aku bingung mau beli apa. Uang jatah aku dari Abang, aku masukin ke saham tiga juta, skincare aku dua juta perkiraan, tapi belum kepakai. Aku serba stok, habis satu paket, di lemari ada dua paket lagi. Paling beli lipstik aja delapan belas ribu tadi di temen."


Nah, kenapa tidak bilang? 


"Cerita, Dek. Lain kali cerita semuanya ke Abang, Abang tak bakal minta, tapi biar tau siapa yang kasih ke kita. Biar suatu saat, kita bisa kasih lebih ke mereka." Aku kira istriku sudah terus terang dan terbuka semuanya, ternyata belum juga. 


"Memang hal sepele begitu, suami harus tau juga? Abang pun uangnya banyak sendiri kan?" 


Pasti pikiran Nahda jelek tentang aku. 


"Ya Abang harus tau, biar Abang bisa menunjukkan rasa terima kasih Abang ke mereka gitu loh. Biar kalau mereka punya hajat, Abang bisa kasih yang lebih dari mereka kasih pas kita nikahan. Memang itu hadiah, bukan hutang. Tapi sebaik-baiknya orang itu, yang bisa menghargai orang lain. Jangan maunya dikasih aja gitu, pas giliran ngasih malah lebih kecil, kan mempermalukan diri sendiri," ungkapku perlahan, dengan menaruh laptopku di laci nakas kembali. 


"Ohh, ini mutasinya. Sehari sebelum nikah, banyak transferan masuk." Nahda memberikan ponselnya. 


Aku melihat satu persatu mutasi di tanggal tersebut. Bukan hanya yang ia sebutkan, tapi transferan dari semua keluarga besar masuk ke rekeningnya. Bahkan, tante Ahya pun memberi transferan juga. 


Rata-rata dari mereka memberi tiga sampai lima juta. Umum, seperti saat pernikahan pertamaku dengan Izza. 


"Biyung." Nahda mendekatiku. 


Aku takut, mak. 


"Bobo yuk? Malam nanti begadang lagi." Ia merebahkan tubuhnya lebih dulu. 


Apa katanya? Begadang lagi? Kapan sih ia haid? Agar aku bisa mempersiapkan diriku, stamina dan kontrolku. Aku kurang kontrol keknya, jadinya cepat K.O. begini. 


"Iya." Aku akan menyelipkan doaku agar ia haid sepertinya.


Aku merebahkan tubuhku di sampingnya. Tangannya langsung memelukku, wajahnya begitu dekat dengan ketiakku. 


Syukur alhamdulillah, Akhirnya ia haid. Malam setelah Isya, aku dibawa keluyuran oleh papa Ghifar. Kagetnya aku saat sampai di tabib pijat tersebut, ia mengatakan bahwa aku kurang olahraga. 


Satu nasehatnya saat ia memijatku yaitu, jangan goyang terlalu kencang agar tidak cepat keluar. 

__ADS_1


Bagaimana ya? Itu enak masalahnya. 


Meski Nahda manyun saja ketika akan terlelap, aku tidak ambil pusing karena aku pun tengah mempersiapkan diri. Aku lebih mendisiplinkan diri, agar bisa olahraga pagi. Futsal malam-malam pun, aku bela-belain mampu, meski ada drama dilarang Nahda karena sudah malam. Ia ikut sih, tetap anteng juga seperti saat Bunga diajak. 


Namun, permasalahannya istriku adalah anak papa Ghifar dan mama Aca. Setelah diajak main futsal di malam minggu sampai jam satu malam, paginya Nahda sakit. Siapa lagi yang disalahkan, kalau bukan aku suaminya. 


Rasanya, aku ingin pindah sedikit jauh agar tenang dari mulut orang tua. Nahda sakit pun, bukan yang parah juga. Hanya pilek ringan, kemudian dua hari kemudian ia langsung sembuh kembali. 


"Udah seminggu di sana, udah seminggu di sini, sekarang di mana, Bang?" Istriku duduk di sampingku, di teras rumah ini. 


Aku tengah menjaga Cala dan Cali bermain di halaman rumah, karena pengasuhnya tengah gantian membersihkan diri. Biyung juga kebetulan tengah sholat, jadi tidak ada yang mengawasi mereka. 


"Tak tau. Siap kah di rumah sendiri?" Aku memandang rumah sebelah kiri yang paling dekat dengan rumah ayah ini. 


"Kan sama Abang, aku tak sendirian. Ayo-ayo aja, aku pun udah selesai haid. Nanti kita coba berhubungan di ruang tamu, di ruang keluarga, di kamar mandi, di dapur." Ia tersenyum lebar dan memandang tak tentu arah. 


Ia sedang membayangkan enaknya anu. 


"Memang udah suci?" Aku pun ingin menjajal stok stamina yang sudah terlatih olahraga rutin dan dua kali mencoba rebusan dari tabib. 


"Sore ini suci." Ia menoleh dan tersenyum padaku. "Nanti malam Abang jangan keluyuran malam-malam ya?" Ia langsung memeluk lenganku. 


Seenak itu anu untuknya. 


"Keluyuran pun ke mana sih, Dek? Paling ke pakcik, ngobrol sama ayah." Perencanaan tentang pabrik pengolahan minuman herbal ekstrak jahe itu semakin matang. 


Mobil baru ayah pun sudah datang, hanya sopir pribadi yang belum ayah dapat.


"Iya, kan aku minta malam ini jangan dulu." Ia masih memeluk lenganku. 


Izza dulu malu sekali jika harus bermesraan di depan teras, apalagi di tengah keluarga. 


"Cobain sarung-sarung yang Abang punya," tambahnya kemudian. 


Permintaannya sudah tidak lagi tentang 'jangan hamili aku', tapi sudah merambah memperdalam wawasannya tentang s**s. Istriku benar-benar bahaya, jika sampai kekurangan dariku. Ia sudah aktif kuliah, khawatir ia mencari yang lebih mampu dariku, jika aku tak mampu memberi yang cukup untuk batinnya. 


"Iya, nanti dicobain." Masa dulu, Izza menolak lantaran sakit katanya. 

__ADS_1


"Dek, jajan yuk? Minta Abang temani." Nahda melepaskan pelukannya di lenganku, kemudian ia turun memanggil kedua adikku yang tengah mengejar kucing itu. 


...****************...


__ADS_2