
"Aku tak ada kawan perempuan yang akrab, Biyung."
Aku nervous melihat keberanian Mala datang ke rumahku. Aku sampai ikut ke belakang dan membantu biyung membuat minuman.
"Masa iya? Dia siapa? Cantik loh." Biyung menoleh dan tersenyum samar.
"Dia penjaga tempat futsal," jawabku yang memang aku tahunya itu.
"Dia anaknya bu Niken, istri sirinya pak Darmaji," timpal ayah mengagetkanku.
"Siapa pak Darmaji?" Aku memperhatikan ayah yang tengah mengambil nasi dari magic com.
"Yang punya futsal dan rumah makan ayam pedas itu. Geprek, penyet, nyet-nyet lainnya pun ada di tempat makannya. Dia anak dari mantan suaminya bu Niken, anak tirinya pak Darmaji berarti." Ayah menutup kembali magic com tersebut.
"Aku tak tau." Aku mengedikan bahuku.
"Kau mana tau orang, kau lama di Singapore." Ayah membuka rak makanan.
"Dia bilang, dia orang Minang." Kalau pak Darmaji sepertinya orang asli sini deh.
"Ya betul, dia baru pulang juga dari Jakarta. Baru wisuda, beda satu tahun sama kau berarti. Dia kuliahnya di Jakarta, Jakarta efek." Ayah menaikan satu alisnya dan berkedip seolah memberikan tanda kutip kenakalan di sana.
"Bukan berpatok dari asal daerahnya sih, Mas. Iblis yang awalnya penjaga surga aja kan, nyatanya jadi musuh manusia. Ini tentang pribadi masing-masing, iman dan watak." Biyung hendak membawakan teh tersebut dengan nampan.
"Pergaulan yang paling utama. Kek halnya, di mana-mana pun pasti ada aja yang hamil duluan. Entah di dunia nyata, atau pernovelan dan tidak memandang agama atau asal daerah masing-masing." Ayah duduk di kursi dan langsung melahap makanannya.
Benar, seperti Bunga juga. Pasti pergaulannya di sana mempengaruhinya juga.
"Gih bawa, Biyung bingung mau akrab gimana kalau dia bukan siapa-siapa kau." Biyung memberikan nampan teh tersebut padaku.
"Aduh, mau ngobrol apa aku? Agresif betul perempuan jaman sekarang, ngeri sendiri aku." Aku melangkah gemetar ke luar dapur.
Mala cantik sekali, wajahnya kebule-bulean. Kulitnya kuning cerah seperti ayah dan biyung juga aku, bersih dan wangi juga itu perempuan. Tingginya mungkin sekitar seratus enam puluh lima saja, dengan berat badan yang pas dengan tingginya. Bulu matanya lentik dan alisnya lebat hitam, terlihat sekali itu alami bawaan lahir.
Setelah aku sampai di ruang tamu dan menaruh teh di atas meja, ternyata ia pun berdada mangkal juga. Dagunya tidak panjang seperti Bunga, normal saja. Hidungnya tinggi, mancung dan sedikit besar di depan. Mungkin filler, tapi terlihat alami.
"Bunga mana, Bang?" Ia baru mengalihkan perhatiannya dari ponselnya.
Basa-basi rupanya.
__ADS_1
"Bunga di rumah nenek aku, di rumah megah cat putih." Aku menunjuk bangunan yang terlihat dari pintu rumah yang terbuka lebar ini.
Ia mengenakan celana cutbray jeans berwarna biru tua, dengan baju berwarna mocca sepertinya. Mungkin ia pun mengenakan inner hitam, karena mengintip dari kancing kemeja atasnya yang tidak tertutup semua. Hijabnya sederhana dan modis, berwarna senada dengan bajunya dan melilit di lehernya.
Ia pantas sekali menggunakan baju apa saja sepertinya. Semalam pun ia hanya memakai sejenis daster polos berwarna putih dan corak kembang berwarna emas kecil-kecil, tapi pantas juga meski bajunya semalam tidak ada potongannya. Lurus saja, tidak ada kerutan atau semacam kancing.
"Jalan yuk, Bang?" Ia mengambil segelas teh hangat itu.
Hah?
Aku diam mengamatinya. Ia pun memandangku dan mengulas senyum, sebelum akhirnya ia menyeruput teh hangatnya.
"Ke mana?" Aku tidak membaca jika serangannya seberani ini.
Semalam baru kenalan, pagi jam sepuluh ia sudah datang. Untungnya, aku sudah mandi dan sudah sarapan. Jadi tidak panik-panik sekali aku melihatnya di sini menjadi tamu yang mencariku.
"Ke mall boleh, split bill boleh atau aku bayarin pun tak masalah. Menerima mokondo kok, asal mau berteman aja. Aku tak punya teman di sini." Ia menaruh kembali minuman di atas piring kecil.
Berani sekali anak kota, mak.
"Aku punya penghasilan." Itu harga diriku.
Ia tertawa kecil. "Percaya kok, Bang. Aku mau ajak keluar, karena seminggu di sini aku bosan. Semalam Bunga udah save nomor aku, tapi dia belum hubungi aku juga, jadi aku bingung sendiri mau ngabarin dia juga."
"Bunga masih tidur keknya, dia baru tidur Subuh." Ia kuat begadang sampai pagi.
"Abang lagi sibuk tak? Aku mau ajak keluar jalan-jalan."
Dilihat dari kegiatanku, terkesannya ini aku nganggur sebenarnya. Tapi aku yang mencari kegiatan sendiri di ladang, karena tak mungkin aku menggarap ladang sendiri, paling hanya memantau. Di tambak pun sesekali aku harus mengecek saja, karena yang bertanggung jawab di sana sudah ada.
"Tak sih, tapi sebentar ya?" Aku ragu untuk pergi, tapi aku tidak enak untuk menolak.
"Oke, apa belum mandi?" Ia bertanya perlahan, mungkin ia tidak enak hati untuk menanyakan itu.
"Tak sih, tapi kalau hari Minggu itu waktunya sama keluarga. Aku tanya keluarga aku dulu, barangkali mereka butuh aku antar gitu." Tidak juga, aku hanya beralasan.
"Ohh, iya. Aku tak keberatan kok Abang bawa keluarga juga, kan bisa aku yang ikut acara keluarga Abang."
Kok ia terkesan seperti ingin masuk dalam keluargaku? Perasaan, keluargaku tidak memiliki musuh. Semoga ia bukan penyusup, yang hendak mengacak-acak usaha keluargaku.
__ADS_1
"Bentar ya? Aku tanya dulu." Aku meninggalkannya kembali di ruang tamu.
"Yah, bantu alasan. Dia ajak aku keluar." Aku langsung mengganggu ayah yang tengah makan.
"Jangan di dalam." Ayah memasukkan tahu ukuran kecil ke dalam mulutnya.
"Namanya keluar ya di luar, Mas. Jalan-jalan gitu maksudnya, makan, belanja." Biyung menyandingkan kerang masak bumbu merah.
Pasti bumbunya dapat dari iparnya, aku sudah hafal dengan biyung. Biyung paling malas meracik bumbu untuk diblender atau diulek, lebih enak minta ke mama Aca, meme Tika, atau ke ipar yang lain pastinya.
Ayah tersenyum miring dengan melirik biyung.
Oh, aku baru mengerti. Ayah rese sekali memang, masa mikirnya ke arah mesum.
"Bawalah keluar, nanti Ayah cari tau tentang anaknya pak Darmaji ini. Jangan tukeran air liur, jangan ada main fisik. Jangan keluarkan uang banyak-banyak dulu." Ayah mengambil menu kerang itu.
Dibolehkan begitu?
"Yah, maksudnya itu aku minta Ayah bantu alasan untuk aku tak usah pergi sama dia. Aku tak mau pergi, Yah. Dia siapa? Aku tak kenal." Hanya tahu nama, bukan berarti kenal menurutku.
"Udah waktunya kau sebatas kenal perempuan, Bang. Sebatas aja, untuk sosialisasi dan cara pandang kau ke perempuan. Ayah tak minta kau cepat-cepat nikah, tapi tak mau kau terlalu jauh dengan perempuan juga. Tak apa, jaga diri aja. Bawa motor aja, jangan bawa mobil." Ayah mulai makan nasinya kembali.
"Enak, Canda. Bumbu dari siapa?" Ayah memperhatikan biyung yang tengah repot.
Tuh kan, benar? Bukan hasil biyung sendiri bumbunya.
"Dari Ria, Mas. Gavin sih kalau istrinya bikin bumbu tuh, dia ada bantu ngupas bawang. Mas sih cuma ngomong, kalau tak mampu jangan sok buat bumbu, beli aja sana, minta aja sana." Biyung sampai berekspresi marah.
"Ya biar jangan ribet, Cendol. Aku tak mau kau capek, nanti Gue yang lelah." Ayah memasang awajah sombongnya.
"Jadi aku pergi nih, Yah?" Aku menunjuk diriku sendiri.
"Iya, Bang. Jaga diri aja, ke tempat ramai. Jangan ke OYO, jangan ke pantai yang banyak saung, nanti mesum lagi kau." Ayah memicingkan matanya.
"Ayah kalau curigai aku, lebih baik larang aku pergi. Aku tak mau loh dicurigai orang tua sendiri, kek yang aku ini anak dajjal aja." Seolah aku pernah mengecewakan mereka, karena ayah tak sekali saja menuduhku.
"Gih, ati-ati ya, Bang? Bismillah, jangan lupa berdoa." Biyung tersenyum padaku.
"Ya, Biyung." Aku melangkah pergi dengan gemetaran.
__ADS_1
Aduh, aku diajak jalan sama perempuan.
...****************...